
Milla dan rekan nya yang ikut mengeroyok Eva langsung di pecat di tempat, begitu juga dengan security nya.
"Tuan Lucifer tidak pernah memukul wanita loh. " gumam Aris.
"Bukan kah tuan Lucifer tidak memukul wanita? apa karena isteri nya di sakiti? " gumam William.
"Aris, bawa Lisna kerumah sakit." suruh Lucifer.
"Tidak usah tuan, pake obat merah juga sudah sembuh. " tolak Lisna pelan.
Lucifer melempar tatapan tidak senang pada Lisna.
"Ah.... baik lah tuan saya akan menuruti nya." Lisna menyerah juga.
"Ayo Lisna. " ajak Aris menahan tawa.
Lisna menganggukkan kepala nya.
"William, apa kau tidak ada pekerjaan? " tanya Lucifer.
"Tidak ada tuan, semua sudah saya selesaikan. " jawab William yakin dan santai.
Sekarang giliran William yang mendapatkan tatapan dingin dari atasan nya.
"Eehhh... seperti nya ada sisa pekerjaan yang belum saya selesaikan. " William pun langsung keluar ruangan Lucifer.
Tinggal lah Eva dan Lucifer.
Mereka saling bertatapan.
"Jangan marah, mereka yang duluan. " ucap Eva merasa gugup.
"Apa yang mereka lakukan? " tanya Lucifer duduk di hadapan Eva.
"Mereka bilang aku tuh lon*e. Jual tubuh ke om-om lah. " jawab Eva jujur.
"Lon*e? apa itu? " Lucifer tidak pernah mendengar kalimat itu.
"Lon*e itu sebutan untuk jab**y, pel***r. " ucap Eva.
"Apa, mereka berani bilang seperti itu? " Lucifer semakin marah. Dia langsung berdiri hendak menemui tersangkanya.
"Kau mau kemana Adam? " Eva menahan tangan Lucifer.
"Aku mau merobek mulut mereka. " jawab Lucifer.
"Jangan, apa kau mau masuk penjara? kalau kau masuk penjara siapa yang akan menjaga ku? Aris? Hendra? atau anak buah mu? lagi pula kau sudah memecat nya. Sudah lah.. ya? " ucap Eva membujuk suami nya.
"Tapi mereka sudah berani mencakar wajah isteri ku ini. " Lucifer menyentuh pipi Eva yang terdapat goresan.
"Apa kau mencintai ku karena wajah cantik ku ini? " ledek Eva.
"Wajah mu di nomor kesekian, nomor satu nya adalah hati mu. " jawab Lucifer menunjuk dada Eva.
"Sebentar aku ambil kan dulu kotak obat. " Lucifer berdiri mengambil tempat persediaan kotak obat nya.
"Adam, bekal makan siang nya sudah hancur. " ucap Eva menunjuk kotak makan yang retak dengan isi berantakan.
"Dari pada kamu yang hancur, lebih baik tumbalkan saja bekal makan siang nya. " Lucifer mendapatkan kotak obat, membawa menuju Eva.
"Sayang, kenapa kau tidak naik Lift yang biasa aku pakai?" Lucifer mengambil kapas dan obat krim.
"Sudah, tapi security bilang, itu bukan untuk umum. " jawab nya.
"Kau bilang saja kalau kau isteri ku. " ucap Lucifer lagi.
"Aku gak mau orang menganggap ku mengandalkan kedudukan suami ku untuk pamer. " jawab Eva.
"Kecuali.... terpaksa, hehehehe. " ucap Eva.
"Kecuali terpaksa ya... hhheemmm. " Lucifer menganggukkan kepala nya seperti meledek.
Lucifer mengoleskan krim untuk luka di atas kapas, di kedua pipi Eva. Tangan dan jari-jari nya.
"Sayang, tadi waktu kalian bertempur siapa yang menang? " tanya Lucifer menggoda.
"Awal nya sih aku, tapi teman nya ikut menyerang. Terus di bantu Lisna. Jadi kami memenangkan pertandingan nya. " jawab Eva senang.
KKKKRRRRRRYYYYUUUKKK........ KKKKRRRRYYYUUUUKKKKK.....
Adam melihat dan mendengar asal suara, yaitu perut Eva yang sudah kelaparan.
"Kau sudah lapar? " tanya Lucifer.
KKKKRRRRRRYYYYUUUKKK........ KKKKRRRRYYYUUUUKKKKK.....
Suara perut berasal dari Lucifer.
"Apa kau sudah lapar? " balas Eva sambil menaikkan sebelah alis nya.
Lucifer berdiri dan menggandeng tangan isteri nya.
Saat Eva dan Lucifer keluar dari ruangan Presdir...
Semua mata karyawan menatap nya.
Lucifer berhenti di tengah-tengah karyawan nya yang 20 menit lagi akan istirahat makan siang.
"Dengarkan semua nya. Wanita yang ada di samping ku ini adalah isteri ku. " ucap Lucifer menunjuk Eva.
Karyawan tampak kaget dan ada yang diam-diam berbisik.
"Jika ada yang menyakiti atau mengusik nya, bersiap lah. Aku akan menghancurkan masa depan kalian. " ancam Lucifer.
"Kalian mengerti? " tanya Lucifer.
"Mengerti tuan. " jawab mereka serentak.
Tanpa pamit, Lucifer melanjutkan langkah nya membawa Eva turun lantai dasar melalui lift yang biasa di gunakan Lucifer.
Saat berada di dalam lift.
"Adam, apa kau ingat ketika kita berada dalam satu lift di sini? " tanya Eva nostalgia.
"Ingat. " jawab Lucifer singkat.
"Saat itu aku selalu gugup dan deg-deg an setiap dekat dengan mu. " ucap Eva.
"Kenapa? apa karena wajah ku yang tampan dan kau menyukai nya? " ucap Lucifer percaya diri.
Eva memonyongkan diri nya, menatap sedikit sinis pada suami nya.
"Bukan... tapi karena aku ketakutan dengan mu. Kau kan hanya marah dan bentak-bentak terus. Seperti perempuan yang sedang datang bulan. " jawab Eva.
"Ppuuffttthhh." Lucifer menahan tawa nya.
"Sejujur nya, saat itu aku memang tidak menyukai mu. Aku berusaha membuat mu untuk menjauhi ku, dan menyerah dengan misi mu untuk melunasi hutang mu, bukan.. tapi hutang orang tua angkat mu. " ucap Lucifer.
"Tapi aku tidak menyangka malah aku yang lebih dulu jatuh cinta dengan mu." Lucifer menarik tubuh Eva dalam pelukan nya.
"Maka nya, jangan terlalu membenci seseorang. Jadi bucin kan. " ucap Eva.
"Bucin? aku seperti nya pernah dengar dari Steven. Tapi aku lupa.. apa arti nya. " Lucifer mencoba untuk mengingat nya.
"Budak cinta. Itu arti nya. " jawab Eva.
"Ooouuu.... iya, aku adalah budak cinta mu nyonya.. jangan buang aku nyonya, aku tidak bisa hidup tanpa mu nyonya. " goda Lucifer mencium leher Eva.
"Aku juga tidak bisa hidup tanpa mu tuan, jangan buang aku tuan, hiks... hiks... hiks.. " Eva membalas kalimat Lucifer.
Kemudian mereka tertawa bersama.
"Sudah.. sudah... sebentar lagi kita udah mau sampai nih. " Eva melepas pelukan dengan pelan.
**********
"Kenapa bisa terjadi seperti ini Lis? " tanya Steven saat mengobati luka Lisna di lutut.
"Sebenar nya mereka tuh menyerang Eva. Aku tidak senang sahabat ku di keroyok. " jawab Lisna.
"Ck... sakit.. pelan-pelan. " Lisna memukul bahu Steven.
"Sakit? apa kau pernah memikir kan resiko sebelum bertindak? " tanya Steven.
"Ini masih mendingan. Aku dan Eva pernah mengalami lebih parah dari ini. " ucap Lisna.
"Hah? wah... ternyata kalian perempuan beringas juga ya? " ucap Steven.
"Bukan beringas, tapi strong... kami wanita strong.. okey! " Lisna mengepalkan tangan nya di hadapan Steven. Menandakan mereka kuat.
"Hhmm... okey... okey..., sekarang diam lah, biar aku bisa tenang mengobati luka mu. " suruh Steven.
Steven meniup-niup luka Lisna agar tidak terasa perih.
Wajah Lisna memerah. Merasa sangat nyaman.
"Lisna, jangan curi-curi pandang dengan ku. Aku tahu kau menatap ku dari tadi. " ledek Steven.
Lisna langsung salah tingkah, mengalihkan pandangan nya. Steven tersenyum.
.
.
.
.
BANTU DUKUNG AUTHOR NYA, DENGAN VOTE N LIKE...
TERIMAKASIH..