
Siang hari, Eva dan Lisna bersiap-siap meninggalkan rumah sakit.
Lucifer datang di ikuti Aris dan Hendra.
Eva melihat kedatangan Lucifer.
"Apa kau sudah siap? " tanya Lucifer.
Eva tidak menjawab.
Lucifer mendekat, membantu Eva duduk di kursi roda yang sudah di bawa nya sebelum nya.
"Tidak usah tuan, saya bisa berjalan sendiri. " ucap Eva.
Lucifer terdiam.
"Kalau begitu ayo aku bantu ke mobil. " ajak Lucifer.
"Tuan... tolong biar kan saya sendiri, saya bisa mengurus nya. " jawab Eva.
"Tapi... "
"Tolong tuan. " ucap Eva tegas.
"Saya tidak bisa ikut dengan anda, saya akan pulang dengan Lisna. " ucap Eva.
Lucifer dan Steven saling memandang dengan tatapan kaget.
"Kenapa? " tanya Lucifer.
Eva tidak menjawab.
"Baik lah, aku akan mengantarkan kalian pulang. " ucap Lucifer.
"Tidak perlu, kami bisa pulang sendiri. " tolak Eva.
"Stev, terimakasih, aku pamit dulu. " ijin Eva meninggalkan ruangan nya.
"Tunggu. " Lucifer menarik tangan Eva perlahan.
"Tolong lepaskan tangan saya. " ucap Eva.
"Aku akan mengantar mu, kalau kau tidak mau, aku tetap akan memaksa mu. " ucap Lucifer tegas.
Eva kembali merasa takut.
"Aku gak boleh bikin dia marah, aku harus berusaha menghindari nya. " gumam Eva.
.
.
.
.
Aris dan Hendra mengantar Lisna dan keluarga nya. Sementara Eva dengan Lucifer.
"Lis, Eva akan tinggal dengan kalian ya? " tanya Hendra.
"Iya, kami khawatir kalau dia tinggal sendiri. " jawab Lisna.
"Benar, sebaik nya seperti itu. " ucap Hendra.
"Aku kasihan dengan mereka berdua." ucap Lisna.
"Sebenar nya, tuan Lucifer itu bukan orang jahat, dia juga tidak mau menjadi mafia, tapi dia di besarkan dengan didikan yang keras dan kasar. " ucap Aris.
"Dia hanya menghukum orang-orang yang menghianati nya dan mengganggu nya, walaupun terlihat sadis, tapi mereka pantas mendapat kan nya." tambah Aris.
"Aris, apakah Lucifer menyukai Eva? " tanya mama Lisna.
"Aku rasa seperti itu tante, hanya saja tuan belum menyadari nya, atau mungkin mengabaikan perasaan nya. " jawab Aris.
.
.
.
.
"Apa kau akan lama tinggal dengan Lisna? " tanya Lucifer membuka obrolan.
Eva diam.
"Apa kau masih marah dengan ku? " tanya Lucifer lagi.
Eva masih diam.
"Eva, apa aku pernah menyakiti mu? " tanya Lucifer lagi.
Eva kembali diam.
"Hhhmmm.... " Lucifer membuang nafas nya berat.
Tampak Lucifer sangat sedih dengan sikap Eva. Eva melirik perlahan laki-laki yang berada di samping nya.
.
.
.
.
Mereka tiba di kediaman Lisna.
Aris dan Hendra membantu Lisna dan keluarga nya turun.
"Om dan tante, biar kami bantu. " ucap Hendra.
Lisna dan keluarga nya mengalami luka. Adik Lisna, Santi juga ikut dengan mereka.
Tidak lama, mobil yang di bawa Lucifer juga sudah memasuki halaman rumah Lisna.
Lucifer turun lebih dulu, ingin membuka pintu mobil Eva, tapi sudah lebih dulu Eva membuka nya.
Lucifer menggenggam tangan Eva, membantu nya untuk berjalan, tapi Eva menolak nya.
Lisna dan semua yang ada di situ merasa kasihan dengan Lucifer.
"Tuan, biar Eva tinggal dengan kami saja dulu. " ucap Lisna.
"Iya tuan Lucifer, kami bisa menjaga Eva kalau dia tinggal dengan kami di sini." ucap papa Lisna.
"Tolong panggil saya Adam, pa. " pinta Lucifer.
"Baik lah nak Adam. " ucap papa Lisna.
Tanpa ragu, Eva melangkah masuk menuju rumah Lisna. Sementara Lucifer hanya menatap punggung isteri nya yang menjauh dari nya.
"Tuan... " panggil Aris.
Lucifer melihat Aris dengan tatapan menahan sedih.
.
.
.
.
"Va, apa kau masih marah dengan Lucifer? " tanya Lisna pada sahabat nya.
"Jujur saja, aku marah, tapi aku juga takut dengan nya. " jawab Eva yang masih diam duduk di atas ranjang.
"Kenapa? " tanya Lisna.
"Aku marah, karena dia membohongi ku, tapi aku takut, takut kalau dia akan membunuh ku. " jawab Eva.
"Va, emang nya selama ini dia pernah jahat dengan mu? kalau kau marah karena dia tidak memberitahu mu siapa dia, itu wajar, tapi coba lah untuk lebih memikirkan sebelum nya. " ucap Lisna.
"Aku yang salah Lis, dulu, tuan Lucifer sudah melarang ku untuk tidak dekat dengan nya, seandai nya aku tidak ngotot membayar kan hutang ku, kami tidak akan lebih sering bertemu. " cerita Eva.
"Semua itu bukan salah mu atau tuan Lucifer, gak ada yang salah di sini, semua sudah jalan takdir kalian yang harus begini. " jawab Lisna.
.
.
.
.
Lucifer berada di apartemen seorang diri. Duduk sambil merokok.
Sesekali memijit kening nya.
Bayangan wajah Eva melintas di pikiran nya.
.
.
.
.
.
"Ayo makan dulu. " ajak mama Lisna.
"Ayo Va." ajak Lisna.
"Iya, nanti aku nyusul. " jawab Eva.
Lisna lebih dulu berkumpul dengan keluarga nya.
"Mana Eva? " tanya mama nya.
"Masih di kamar ma, bentar lagi datang. " jawab Lisna.
.
.
.
TTTUUUTTT.... TTTUUUTTT...... TTTTUUUTTTT.....
Eva melihat layar Hp nya, di lihat suami nya memanggil.
Dia tidak mengangkat nya, membiar kan begitu saja.
"Hhhmmm..... kenapa dia tidak mengangkat Hp nya? apa dia baik-baik saja? " gumam Lucifer.
Beberapa kali Lucifer melakukan panggilan, tapi selalu di abaikan Eva.
"Kenapa masih tidak di angkat? " gumam nya lagi.
"Hallo tuan? ada apa? " tanya Lisna menerima panggilan telepon dari Lucifer.
"Lis, Eva di mana? apa kah semua nya baik-baik saja? " tanya Lucifer.
"Eva ada di sini kok, dan semua nya baik-baik saja, apa ada masalah tuan? " tanya Lisna.
"Di mana dia sekarang? " tanya Lucifer lagi.
"Dia ada di kamar, apa mau saya kasih ke Eva saja? " tanya Lisna.
"Tidak usah, biarkan saja, yang penting semua baik-baik saja. " jawab Lucifer.
"Baik tuan. " jawab Lisna.
Mereka mengakhiri panggilan telepon.
Tidak berapa lama Eva muncul. Dan duduk di meja makan.
"Va, kamu gak angkat telepon dari tuan Lucifer? " tanya Lisna.
Eva menggelengkan kepala nya.
"Kenapa Va? dia sangat khawatir pada mu, tadi dia barusan menghubungi ku, menanyakan kabar mu. " ucap Lisna.
"Biar kan saja Lis." ucap Eva memakan makan malam nya.
"Eva, mama harap kamu jangan membenci Adam, mama rasa dia orang nya baik, bukan cuma hanya pada mu saja, sama Lisna dan kami juga dia baik. " ucap nasehat mama Lisna.
"Betul nak, waktu kejadian juga kan bukan cuma hanya ada kamu saja di sana, kami juga ada, bahkan kita sama-sama lihat bagaimana perlakuan Adam " tambah papa Lisna.
"Kami juga takut, bahkan ngeri lihat nya, tapi coba kita pikir, kenapa dia melakukan itu? " ucap mama nya.
"Aku tahu ma, dan aku hanya perlu waktu untuk memikirkan semua yang terjadi. " jawab Eva.
Mereka melanjutkan makan malam, sementara Eva masih ragu dalam perasaan nya.
.
.
.
.