
Lucifer melihat semua orang yang ada di dalam ruangan itu satu persatu. Lucifer sangat ahli menilai seseorang dari raut wajah nya.
Tiba-tiba dia tersenyum sinis, masih berdiri belum duduk. Melihat senyuman yang
seperti itu, semua semakin khawatir.
“Kenapa diam? Siapa yang ingin bertemu dengan ku?” Tanya nya menyindir.
“Tuan, silahkan anda duduk dulu.” Pinta William.
Dia duduk di kursi yang sudah di siapkan.
Fajar dan Haris saling menatap, seakan mereka memberi kode tidak ingin berbicara dengan pria pemilik perusahaan yang sudah datang itu.
Lucifer melihat ruangan meeting nya yang sudah hampir setengah berantakan. Ketukan jari telunjuk nya di atas meja membuat suasana semakin menegang.
Semua masih berdiri, hanya Lucifer yang duduk.
“Kenapa kalian berdiri? Apa masih ingin menantang ku?” Tanya Lucifer.
Semua serentak duduk bersama. Lucifer tersenyum kecil menggelengkan kepala.
“Siapa yang ingin bicara dengan ku? Silahkan…
Dia menunggu siapa dari mereka yang akan berbicara.
Tidak ada! Entah kemana sifat berani yang sebelum nya mereka miliki.
Lagi, jari telunjuk Lucifer masih memberi irama di atas meja. Semakin lama ketukan nya semakin cepat. Seperti tidak bisa menunggu lama lagi.
William dan Lisna senang Lucifer datang, tapi mereka juga khawatir dianggap tidak becus bekerja.
BRRAAAAGGGGGHHH……….
Pria itu marah, di pukul nya meja dengan keras sambil berdiri. Semua semakin terkejut. Kemeja mereka sudah basah dari tubuh nya.
“Mana yang ingin bicara dengan kuuuuuuuuuuu?????” Tanya Lucifer masih berusaha bersabar. Nada bicara yang panjang.
Bukan nya menjawab, sambil menelan ludah melempar tatapan dengan rekan nya.
“Dengan cepat aku datang dari Singapura, meninggalkan isteri tercinta ku, hanya untuk memenuhi panggilan kalian. Dan sampai di sini kalian diam saling tatap-tatapan?” Tanya nya.
Pria yang menakutkan itu mulai jenuh, beberapa kali menghela nafas dengan berat. Seperti tidak sabar lagi menunggu, berjalan mengitari satu persatu mereka yang sudah kesulitan bernafas.
“Aku akan menceritakan suatu cerita yang saat ini sesuai dengan kondisi sekarang.” Lucifer berjalan dengan perlahan.
“Ada sekumpulan anj**g yang mengonggong di dalam kandang singa yang kosong. Berebutan ingin mengambil wilayah si singa, padahal anji**g-anji**g itu adalah pendatang yang menumpang tempat dengan si singa. Di depan singa, an**ng itu menurunkan telinga dan memasang wajah kasihan nya. Berharap agar si singa kasihan dan tidak memakan nya. Dan ketika si singa sedang pergi, kumpulan anjing itu mengonggong, mengangkat tegak sepasang telinga dan menunjukkan gigi taring nya.
Seakan mereka adalah penguasa dan pemilik baru, agar mendapatkan jatah makanan
dan pelayanan yang seharus nya untuk si singa. …
“Tapi saat si pemilik datang, anjing-anjing itu diam, kembali memasang wajah melas dan menurunkan telinga nya. Sayang nya, singa itu tidak bisa menahan lapar nya lagi karena habis dari perjalanan yang melelahkan
bagi nya…….
“Dan kalian tahu kan apa yang terjadi?” Lucifer memegang bahu Haris, membuat pria itu terkejut.
“Anjing-anjing bodoh itu di makan, bahkan sampai tulang-tulang nya pun di gigiti.” Ucap Lucifer.
“Hhhooouuppp…” Lucifer mempraktekkan cara singa menggigit mangsa nya, dia meletakkan tangan di leher Haris.
Haris dan yang lain nya menelan ludah, mengusap keringat yang sudah tidak bisa mereka bendung lagi.
“Hahahahahahahah……” Terdengar suara tawa Lucifer yang sangat keras.
“Haaadduuuwww….. anjing bodoh, tapi aku tidak berhenti membenci anjing kok, aku masih suka untuk memelihara nya.” Ucap nya tersenyum.
Pria yang memiliki aura pembunuh itu kembali duduk ke kursi nya. Membuat yang lain merasa sedikit lega.
“William, kau menyuruh ku datang ke Jakarta hanya untuk menyaksikan mereka yang diam saja?” Tanya Lucifer.
“Tidak tuan, mereka ingin bertemu dan berbicara dengan anda.” Jawab William.
“Lalu kenapa mereka tidak ada yang berbicara? Apa jangan –jangan roh nya sudah tidak ada di tubuh mereka?” sindir nya.
“Siapa yang ingin berbicara pada ku?” Tanya nya tapi memberikan lirikan sinis pada Haris dan Jafar.
“Tuan Haris dan tuan Jafar.” William memberikan nama dua orang yang membuat perselisihan itu.
Yang punya nama langsung gugup.
“Apa yang ingin kalian bicarakan Haris dan Fajar?” Tanya Lucifer.
Sebenar nya Lucifer sudah tahu dua orang yang sebagai provokator itu. Tapi bukan Lucifer nama nya kalau tidak bermain tebak-tebakkan dulu dengan lawan nya.
“Be….begini tuan Adam…..
“Tuan? Sebelum nya kau teriak-teriak memanggil ku dengan tanpa kata ‘tuan', atau aku salah dengar?” Tanya Lucifer.
Haris mengusap kening nya.
“Ma….maafkan......
“Aku bosan mendengar kalimat itu. Tidak percaya dengan kalimat yang gampang di ucap kan.” Potong nya.
“Ehheemm…. Jadi begini, tuan…. Kami sebenar nya tidak ingin melakukan tindakan ini, hanya saja……
BBBRRRRAAAGGHHHH…
Lucifer memukul meja sedikit keras.
Fajar berhenti berbicara.
“Kenapa berhenti Fajar? Lanjutkan.” Suruh Lucifer.
Fajar melihat rekan-rekan nya yang juga sedang ketakutan.
“Ehheemm… kami mendengar bahwa anda ada hubungan nya dengankelompok mafia, yang sudah melakukan banyak kejahatan, seperti membunuh, merampok, memperkosa dan penyiksaan. ” ucap Fajar.
Lucifer masih diam, mendengar.
“Kami….kami juga mendengar kalau anda sekarang sedang dalam pencarian pihak kepolisian.” Ucap Haris yang tiba-tiba berbicara.
Lucifer melihat Haris. Masih diam ingin melihat sampai di mana mereka akan bicara.
“Benar tuan Adam, banyak karyawan kita yang tidak mendapatkan bayaran gaji nya. Mereka tidak terima dan di pecat secara kasar.”
Ucap Fajar lagi.
“Tuan Adam, kami tahu anda sedang dalam kesulitan financial. Maka dari itu kami berdiskusi untuk memberikan jalan keluar untuk anda dan perusahaan ini.” Tambah Haris.
Lucifer mencoba menahan senyum nya. Dia tahu apa yang ada dalam pikiran dan rencana mereka.
Dua orang yang memimpin unjuk rasa itu sepeti merasa menang.
Karena tidak ada jawaban atau respon dari Lucifer.
Mereka memberikan senyum sebagai kode.
“Jalan keluar?” Tanya Lucifer.
“Iya tuan. Jalan keluar.” Jawab Fajar.
“Apa jalan keluar nya?” Lucifer mengangkat wajah dan melihat Fajar.
“Jadi begini tuan, kami menawarkan bantuan masukkan untuk anda. Bagaimana kalau perusahaan anda di lelang atau di jual? Aku yakin akan ada yang mau membeli nya. Hanya saja, harga nya tidak bisa tinggi seperti yang anda bayangkan.” Haris menjelaskan secara semangat.
Lucifer menganggukkan kepala nya, sehingga yang lain merasa kalau pria itu setuju dan sepakat.
“Ternyata kau setuju juga, aku akan membuat perusahaan ini beralih menjadi milikku.” Ucap Haris di dalam hati nya.
Lucifer melihat tajam wajah Haris.
“Kenapa dia melihat ku seperti itu? apa dia tahu ucapan dalam pikiran ku?” gumam Haris gugup.
Sebenar nya Lucifer melihat Haris bukan karena dia tahu apa yang di bicarakan nya dalam hati, tapi dia memang sudah tahu maksud dan tujuan
si Haris.