
"Hen, menurut mu kenapa tuan Lucifer menyuruh mu melakukan pekerjaan ini?" tanya Aris.
Hendra yang sedang menghisap rokok nya sejenak berpikir.
"Aku rasa, akan ada lagi yang mencoba mencari masalah dengan nya. Kau tahu kan, kalau tuan kita sangat peka dengan ancaman bahaya." ucap nya.
"Yang paling di khawatir kan tuan saat ini adalah keselamatan Eva. Maka nya aku di suruh untuk berjaga-jaga." ucap Hendra lagi.
"Pantas saja tuan Lucifer mengerahkan banyak anak buah untuk mengawasi nya." ucap Aris yang menyalakan rokok nya.
"Iya. Sebenarnya tuan tidak khawatir dengan diri nya sendiri, karena dia yakin bisa di atasi. Hanya saja, musuh nya lebih pintar, mencari kelemahan tuan Lucifer." ucap Hendra.
"Seperti sebelum-sebelum nya." tambah nya lagi.
"Tapi apa menurut mu Vicky ada niat jahat terhadap Eva dan tuan Lucifer?" tanya Aris.
"Aku rasa tidak. Dari dulu Vicky tidak pernah mencoba menyakiti tuan. Hubungan mereka sangat baik." ucap Hendra.
"Menurut ku juga begitu." komentar Aris.
"Tapi beberapa hari yang lalu ketika acara pernikahan Miranda, ada seseorang yang diam-diam mengambil gambar Eva dan tuan Lucifer. Hanya saja aku tidak memiliki bukti." ucap Aris.
"Benar kah? tapi aku dengar Vicky juga menghadiri acara itu. Apa mungkin itu suruhan Vicky?" tanya Hendra.
"Bukan. Buat apa Vicky mengambil gambar mereka? kalau firasat ku mengatakan orang itu suruhan orang lain." ucap Aris.
"Tapi siapa?" tanya Hendra.
Aris mengangkat bahu. Dia juga tidak mengerti.
************************
"Hhooaammm...." Eva bangun dari tidur nya, di lihat sudah pagi, pukul 06.00 wib.
"Eh....sayang...kamu udah bangun ya?" tanya Eva terkejut melihat Lucifer yang sudah bangun dan menatap nya.
"Sudah dari tadi sayang." jawab Lucifer tersenyum.
"Kenapa kau tidak membangunkan ku?" tanya Eva.
"Sengaja. Aku ingin melihat bagaimana isteri ku ini tidur." goda Lucifer mentoel ujung hidung isteri nya.
"Apa tadi aku... ada iler nya?" Eva merasa malu dan salah tingkah.
"Hhmmm....sebenar nya sih...ada, tapi sedikit, hehehehehe." ucap Lucifer tersenyum.
Eva malu, segera di usap ujung bibir nya.
"Gak apa-apa, cinta ku pada mu tidak akan luntur hanya karena iler mu, hahahaha." ledek Lucifer.
Lucifer mengusap-usap rambut Eva beberapa kali. Eva hanya diam pasrah di perlakukan seperti itu.
Tidak berapa lama, di ambil nya bantal untuk membalas perlakuan suami nya.
BBUUUUGGGHHH.....
Pukulan pertama berhasil di arahkan pada bahu suami nya.
"Oohhhh.....kau udah berani balas ya...." ledek Lucifer.
Lucifer tidak mau kalah. Di ambil kan nya bantal. Membalas pukulan isteri nya.
BBUUUGGGHHHH.....
"Aduuhhh...." Eva memegang kepala nya.
"Sorry....sorry...sakit?" tanya Lucifer merasa bersalah.
Dia menyentuh kepala isteri nya.
Eva tidak tinggal diam, di ambil nya bantal itu dan memukul kembali suami nya.
Mereka berdua melakukan perang bantal di atas tempat tidur mereka.
Tidak keras, dan tidak serius.
********************
Seperti biasa, Steven selalu mengantar dan menjemput Lisna kerja.
Orang tua Lisna tidak keberatan. Karena mereka tahu kalau anak nya dan Steven saling menyukai.
"Ooohhh....jadi pagi-pagi begini Steven datang kesini hanya untuk menjemput wanita itu?" ucap Julie.
Julie ternyata diam-diam mengikuti Steven saat berada di depan rumah Stev.
"Baik lah. Mereka sudah pergi. Stev, jangan salah kan aku. Kalau aku tidak bisa memiliki mu lagi, jangan harap ada orang lain yang bisa memiliki mu. Jadi kita sama-sama menderita." ucap sinis Julie.
Julie menghampiri rumah keluarga Lisna.
Memarkirkan mobil nya.
"Permisi, selamat pagi." sapa nya sok ramah.
Mama Lisna keluar, menyambut orang yang mengucap salam.
"Iya, ada apa?" tanya mama Lisna dengan ramah.
"Maaf kan saya mengganggu tante. Saya ingin berbicara sebentar dengan anak tante, Lisna." ucap Julie.
"Tapi anak saya baru aja berangkat bekerja." jawab nya.
"Oh ya, dengan siapa tante?" tanya Julie pura-pura tidak tahu.
"Dengan pacar nya, Steven." jawab mama Lisna jujur.
"Steven? dokter Steven tante?" tanya Julie.
"Iya, apa kamu mengenal nya?" tanya calon mertua Steven penasaran.
Julie memasang wajah sedih dan serius. Membuat mama Lisna lebih penasaran lagi.
"Maafkan saya tante, tapi saya harus mengatakan ini sebelum nya. Saya adalah tunangan nya Steven, hanya saja Stev bilang dia ingin memutuskan pertunangan ini karena dia menyukai wanita lain. Jujur saja, saya merasa sangat kecewa tante. Tapi........" Julie pura- pura menangis.
"Tunggu dulu..kamu nama nya siapa?" tanya mama Lisna.
"Saya Julie tante." jawab Julie.
"Julie? seperti nya saya pernah dengar nama itu sebelum nya. " ucap mama Lisna.
"Apa? apa Steven sudah bicara sebelum nya?" gumam Julie.
Tampak mama nya Lisna sedikit berpikir dengan sesekali memperhatikan wanita yang ada di hadapan nya mulai dari bawah hingga ke ujung kepala nya.
"Ooohhh....tante baru ingat sekarang. Dulu nak Steven pernah bilang kalau dia pernah bertunangan dengan seorang wanita bernama Julie. Tapi kata Stev, wanita yang bernama Julie itu juga menggoda sahabat nya, si Lucifer. Eh...maksud nya nak Adam, yang sekarang jadi suami nya nak Eva." ucap mama Lisna serius dan jujur.
"Gawat..." gumam Julie khawatir.
"Oo..ooohhh...ternyata...ternyata Steven sudah bicara seperti itu." Julie gelisah.
"Dan kau...eh..maksud nya nona Julie ini yang kabur dan menikah dengan pria lain yang lebih kaya dari nak Stev." tambah mama Lisna lagi.
"Tapi Jul, kenapa kamu juga ikut menggoda nak Adam, kamu membuat hubungan persahabatan jadi renggang. Gak baik loh." ledek nya.
"Bu...bukan seperti itu sih tante, semua hanya ada kesalah pahaman." bela Julie.
"Oohhh...tapi ya sudah lah. Semua kan hanya masa lalu. Jadi gak usah di ungkit lagi. Selama nak Steven jujur sama kami dan Lisna, kami bisa menerima nya." ucap mama Lisna yang memasang wajah serius namun melirik Julie.
"Sia**n...gagal rencana ku." gumam Julie meremas kunci mobil nya.
" Jul, tante lagi masak nih di dapur, kamu mau duduk di sini dulu atau gimana?" tanya mama Lisna.
"Mmm....gak usah tante, saya pulang saja dulu. Gak mau ganggu kesibukan tante." ucap nya.
"Ya...udah. Silahkan Julie pulang aja." usir nya pelan.
"Kalau begitu saya permisi dulu tante." ijin Julie.
Perlahan dia meninggalkan mama Lisna yang masih menunggu kepergian nya.
Flashback on.....
"Om..tante, sebelum nya saya ingin bicara jujur dengan om dan tante." ucap Steven.
"Ada apa nak Stev?" tanya papa Lisna.
Steven ingin berbicara, di tatap nya lebih dulu wajah calon mertua nya yang sudah menunggu omongan Stev.
.
.
.
.
.
HAI.....JANGAN LUPA LIKE N VOTE YA...
TERIMAKASIH...