
Pria pemilik ponsel terus mengejar Shinta yang berlarian ke sana dan kemari. Sambil berteriak agar Shinta berhenti berlari dan
mengembalikan ponsel nya.
Akibat dari suara penculik itu, semua anak buah Shadow yang bertugas menjaga, mulai berdatangan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
“Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau berteiak-teriak?” tanya rekan nya yang ada di lokasi.
“Anak itu, anak itu menghubungi keluarga nya. Cepat tangkap dia.” Pria yang mengejar Arshinta dengan nafas ngos-ngos an.
“Apa? Kenapa bisa begitu?
“Sudah, cepat tangkap dulu dia, dia sedang berbicara dari ponsel ku.” Pria itu berlari menuju Arshinta.
Arshinta yang masih muda dan enerjik, berlari dengan sangat kencang, apalagi tubuh nya yang masih kecil, bisa masuk keruang atau bawah meja yang rongsok.
“Papa cepat, meyeka udah banyak. Shinta….hah…..hah…. Shinta udah….capek…” Shinta yang bersembunyi di bawah meja.
Pria yang keluar membeli makanan yang di pesan Arshinta pun sudah datang.
“Ada apa ini? Kenapa kalian berlari?” tanya pria yang tidak terlalu suka melihat Arshinta.
“Bro, gadis kecil itu yang mencuri hp ku, dan sekarang dia sudah memberitahukan lokasi kita dengan keluarga nya. Cepat bro, kita harus tangkap.” Ucap rekan nya.
“Apa? Breng**k….. sudah aku bilang sebelum nya kan, kalau anak itu licik.” Pria itu membuang makanan yang baru saja dia beli, dan mengejar Arshinta yang masih sembunyi walaupun mereka tahu di mana dia.
Semua sibuk mengejar Arshinta. Anak-anak lain ketakutan, saling berpelukan.
“Dapat kau sekarang kan…. Dasar anak si*l…. berani sekali kau, kau harus mati.” Salah satu diantara mereka sudah berhasil mendapat kan Arshinta yang sudah sangat kelelahan.
Hp segera di rampas, dan di lempar, di injak hingga rusak.
Rambut arshinta di tarik dengan keras.
“Aaaahhkkkhhh….
Gadis kecil itu menjerit kesakitan memegang kepala nya.
“Apa nanti bos kita marah? Dia sangat menyukai anak ini.” Tanya salah satu rekan nya.
“Justru kita akan di bunuh kalau tidak membunuh anak ini. Dia sudah berani membocorkan lokasi kita. Kalau bos tahu, habis kita.” Jawab rekan nya.
Shinta menggigit tangan yang ada memegang bahu nya, hingga orang itu melepaskan genggaman nya.
Arshinta terlepas sebentar, saat ingin berlari lagi, malah di tangkap lagi oleh rekan nya yang lain.
PPPLLLAAAKKKK….. PPPLLLAAAKKKKK…
Gadis kecil itu mendapatkan tamparan yang sangat keras.
“Ini adalah hukuman bagi orang yang sok berani. Jangan pernah kalian berpikir untuk bisa lepas dari sini!” teriak mereka.
Anak-anak itu ketakutan dan menangis.
Walaupun begitu, arshinta tidak menangis.
“Lebih baik kita bunuh saja dia.” Ucap mereka dengan keras.
“Benar, anak ini harus kita bunuh.” Dia pun mengeluarkan pisau.
Natha, mengambil potongan kayu berukuran panjang.
BBBRRRUUUGGGHHH…… BBBRRRRUUUGGHHH…..
Dengan sisa keberanian, di pukul nya mereka yang ingin membunuh Arshinta.
Arshinta yang sudah terlepas, segera memutar otak, apa yang akan di lakukan.
Sekarang para penculik itu menangkap Natha dan Arshinta.
Arshinta berlari lagi, hingga mengambil segenggam pasir yang bercampur dengan tanah, dan melemparkan ke mata pria yang mengejar nya.
“Aaakkhhhh…..
Dia memegang mata sambil mengucek nya.
Kemudian dia berjongkok lagi, mengambil pasir dan melemparkan lagi kemata penculik itu, tidak masuk semua tapi paling tidak ada
yang masuk dan membuat pandangan mereka sedikit terganggu.
“Teman-teman ayo seyang…. Kita kan banyak, papa ku bentayl lagi akan datang.” Teriak Arshinta mencari bantuan dukungan.
“Ayo, kita bantu, kita pukul mereka.” Ajak natha.
“Ayo, kalau kalian mau pulang, ayo kita lawan mereka.” Ina mengambil batu walaupun tidak berukuran besar.
Anak-anak pun mulai berani untuk ikut menyerang musuh nya.
Ada yang mengambil kayu bekas, batu dan pasir seperti yang di lakukan Arshinta.
Sekarang beberapa orang dewasa itu mulai kebingungan untuk melakukan perlawanan. Walaupun pukulan yang tidak terlalu keras karena berasal dari anak-anak kecil. Tapi mereka kelabakan juga.
Pria yang sudah sangat tidak sabar lagi, menarget kan untuk membunuh Arshinta, dia tidak perduli dengan gangguan kecil lain nya.
“Mau kemana kau……..
“Kau sangat licik sekali ternyata ya….
“Tidak akan ada yang bisa menolong mu sekarang…
“Cepat….. bunuh dia….. bunuh setan kecil itu!!” teriak rekan nya.
Arshinta bukan nya takut, malah melihat terus pada orang yang menangkap nya.
BBBBRRRRRRRAAGGGGGHHHH…….
BBBRRRUUUGGGHHHH……
“Siapa….. yang…. Kau…. Bilang… setan kecil??” Lucifer yang datang tepat waktu, membawa kapak dengan dua sisi yang tajam.
Semua melihat, suara laki-laki yang sangat keras dan terdengar sangat menakutkan itu.
Tidak hanya Lucifer, bahkan kedua paman nya juga sudah datang berikut anak buah nya.
“Papa…..” teriak Arshinta.
“LEPASKAN TANGAN MU ITU!!!!” teriak Lucifer yang melihat anak nya yang masih di tahan.
“Sialan, siapa kalian?” tanya salah satu dari mereka dengan suara yang gemetaran.
DDDOORRR…….
Revand memberikan peluru panas nya tepat di tangan si penculik yang memegang Arshinta. Revand sangat ahli menembak dengan tepat.
“Papa…. Papa ahyil nya sudah datang…” Arshinta berlari menuju Lucifer.
Arshinta memeluk paha Lucifer, mengangkat wajah nya untuk melihat wajah papa nya. Lucifer yang masih sangat marah, berusaha di redam, walau sedikit.
Tapi kemarahan nya semakin memuncak saat melihat wajah bagian pipi puteri nya yang merah seperti habis di pukul.
“Revand, bawa Arshinta dan anak-anak lain nya keluar dari sini…” suruh Lucifer.
“Lalu bagaimana dengan….
Lucifer berbalik melihat Revand yang tidak langsung melakukan apa yang di suruh nya.
Tatapan nya sangat tajam, seperti tidak suka kalau ada yang bertanya lagi.
“Eehheemm…. Baik, aku mengerti.” hingga akhir nya Revand pun menuruti.
Revand dan lain nya segera membebaskan dan membawa anak-anak itu keluar.
“Apa yang kalian lakukan…. Kalian berani…..Aaaaakkhhhhh……..aaaaaaahhhhh…..”
salah satu dari anak buah Shadow merasa kesakitan, saat salah satu tangan nya
di tebas Lucifer dengan kapak yang ada di tangan nya.
Revand segera menutup mata Arshinta agar tidak bisa melihat apa yang di lakukan papa nya.
Mereka khawatir anak itu akan trauma.
“Paman, kenapa hayus di tutup sih, Shinta mau lihat… papa keyeeeennn….” Arshinta malah memberikan semangat pada papa nya.
“REEVVAANNDDD…..” Lucifer berteriak agar Revand segera membawa anak nya keluar dari lokasi.
“Sayang… sayang, ayo kita keluar dulu ya. Takut nya papa mu malah salah tebas nanti.” Revand segera menggendong Arshinta dan membawa nya keluar.
Vicky dan Ceons, dengan anak buah nya yang lain, hanya bertugas membawa anak-anak keluar.
Lucifer yang masih berdiri, dengan kapak yang sedikit terkena darah, memberikan tatapan pembunuh pada siapa pun yang berani menghalangi apa yang di lakukan tim nya. Nafas nya yang sangat kencang, tangan
yang di kepalkan