
Perasaan penasaran dan takut menerima kenyataan semua ada dalam Lucifer. Biasa nya dia tidak perduli dengan mayat, bahkan tidak takut untuk melihat nya. Tapi saat ini
membuat tubuh nya gemetaran.
“Lucifer, apa kamu berani membuka nya? Kalau kamu tidak bisa aku….
“
Diam, aku bisa membuka nya.”
“Bukan kamu ya nak, bukan kamu. Kamu harus tunggu papa. Jadi ini bukan kamu.” Harap Lucifer di dalam hati.
Kain putih yang panjang sudah di buka, dan terlihat tubuh anak perempuan yang sudah kaku. Keadaan nya yang telanjang, rambut panjang, kulit putih. Semua nya mirip dengan Arshinta, hanya saja wajah nya tidak bisa
di kenali karena sengaja di hancurkan dengan cairan beracun.
Lucifer tampak tenang.
“Lucifer, bagaimana? Dia mirip sekali dengan….
“Bukan dia. Ini bukan puteri ku, bukan Arshinta ku.” Lucifer dengan yakin.
“Tapi ciri-ciri nya….
“Revand, apa kamu tidak mengenali keponakan mu? Paman macam apa kau ini.” Lucifer menutup kembali mayat yang wanita kecil yang malang itu.
“jadi dia bukan anak anda tuan Adam?” polisi meyakinkan nya lagi.
“Bukan, anakku masih hidup.” Jawab Lucifer dengan tegas.
“Tapi kenapa mayat nya seperti ini?” Revand bertanya dengan penasaran.
“Saat ini lagi marak kasus penculikan anak-anak kecil, dari usia 1 hingga 7 tahun. Organ dalam mereka di ambil dan di jual secara terlarang atau illegal. Korban mereka kebanyakan anak-anak dari kalangan atas, tapi tidak menutup kemungkinan untuk anak-anak yang miskin dan kurang mampu. Biasa nya mereka membuat anak-anak miskin cacat dan menjadi pengemis untuk menghasilkan
mereka uang.” Ucap polisi tersebut.
“Jahat banget mereka.” Revand merasa geram dengan pemberitaan itu.
Lucifer berpikir dalam diam. Mengatur rencana untuk mengungkap kasus itu.
**********
Tengah malam seorang anak kecil laki-laki menjerit kesakitan.
“Aaaaaakkhhhh….. ampun om….. aaaaakkkkhhhh….” Teriakkan anak
itu membuat semua nya ketakutan.
“Ada apa? Apa yang teyjadi?” tanya Arshinta yang terbangun dari tidur nya.
“Seperti nya anak itu di sakiti lagi.” Bisik Natha.
“Kenapa?” Arshinta yang penasaran dan melihat kejadian.
“kamu mau kemana? Apa kau mau membuat penculik itu menyiksa kita?” Natha menahan tangan Arshinta agar tetap di tempat.
“Tenang saja, aku hanya ingin melihat nya. Kenapa dia menangis.” Dengan santai Shinta pergi.
“Hey, kembali kau kesini.” Bisik Natha dengan tekanan.
Arshinta tidak perduli. Dia melihat apa yang terjadi dengan rekan nya yang sama-sama di culik.
Anak itu sedang mengalami kekerasan se*ual.
“Diam…. Kalau tidak aku akan membunuh mu. Ssssshhhh…… aaaaahhhh….” Seorang pria yang melakukan hubungan intim melalui lubang ***** pria kecil itu.
“Ooommmmm….. sakit omm…. Jangan ……oommm….” Mohon anak kecil yang mengalami luka memar di sekujur tubuh nya.
PPPLLAAAKKK….PPPLALLLAAKKK…..
“Aku bilang kau diam…” teriak pria gila kelainan se* itu.
“Om, apa yang kau lakukan?” tanya Arshinta tanpa ragu.
Pria yang sedang bernafsu itu melihat Arshinta yang sudah berdiri di belakang nya.
“Kenapa dia menangis? Apa kau menyakiti nya? Kata papa ku, tidak boleh menyakiti sesama manusia, kecuali setan.” Jawab Arshinta jujur.
“Adduuuhh…. Anak kecil ini..” Natha menepuk jidat nya.
Pria itu menghentikan aksi nya. Menghampiri Arshinta yang berdiri dengan tatapan sayup, namun tidak ada ketakutan di mata nya.
“Kenapa kau belum tidur nona manis.” Tanya pria itu memegang pipi Arshinta.
“Om, tangan mu bau dan joyok. Nanti aku kasih tahu sama om besay biay dia mayah sama om.” Ancam Arshinta santai.
“Sialan, kalau bos tidak perduli sama anak ini, udah habis ku perkosa dia. Aku harus mengalah, sabar.” Ucap nya di dalam hati.
“Om, aku mau om bawa dia tiduy beysama kami di sana. Kalau om enggak mau nanti aku….
“Iya, om bawa ya.” Masih berusaha bersabar.
Anak kecil yang masih merasakan kesakitan di bagian belakang nya, merintih. Arshinta berdiri di belakang pria penculik dengan perlahan.
****
Sekarang Lucifer dan Revand dalam perjalanan pulang. Hanya mereka berdua.
“Apa yang akan kita lakukan Lucifer?” tanya Revand.
“Tidak bisa mengandalkan kepolisian. Aku harus bertindak sendiri.” Jawab Lucifer yakin.
“Apa menurut mu ini ulah dari sisa-sisa musuh kita?”
“Tidak. Dari MaLee dan Deadly Poison tidak pernah melakukan tindakan ini. Seperti nya ada yang baru.” Tebakkan Lucifer dengan yakin.
“Tapi apa mereka tidak tahu siapa kita?” tanya Revand yang merasa ada keanehan.
“Siapa kau memang nya?” Lucifer menyindir Revand yang merasa sombong.
Revand merasa kesal dengan pertanyaan Lucifer.
*****
“Shinta, kenapa kau berani sekali membuat om itu marah? Kalau nanti kau di bunuh bagaimana?” tanya Natha yang khawatir.
“Ishh…ish….ishh… ” Arshinta menggelengkan kepala nya dengan menggoyangkan jari telunjuk di hadapan Natha.
“Kau berlagak seperti papa mu bos mafia saja.” Sindir Natha.
“Papa ku oyang baik. Cuma aku tidak tahu, paman ku mungkin yang mafia. Sudah lah, aku punya…………taaadddaaaaa…….
Arshinta mengeluarkan sebuah ponsel dari belakang tangan nya.
“Apa itu?” tanya Natha yang terkejut.
“Ini ponsel loh, masa kamu enggak tahu ini apa.” Arshinta dengan jujur nya menjawab pertanyaan Natha.
“Aku tahu itu ponsel, tapi kenapa ada pada mu dan bagaimana bisa ada padamu?”
“Sabay….sabay….. nanti aku jelayskan. Aku mau panggil papa ku.” Arshinta segera membuka ponsel yang tidak ada kata kunci nya.
“Cepat lah, nanti mereka datang.” Natha celingak-celinguk menjaga keamanan.
“Ish diam lah. Peytama kita siilleeent duulu…
“Beyapa ya nomoy papa ku, mmmmm…. Biay di ingat dulu. Eh Natha, kamu ingat nomoy papa mu?” tanya Arshinta.
Natha hanya menggelengkan kepala nya.
“Ck… siapapun?” tanya Arshinta lagi.
Natha menggelengkan kepala nya lagi.
Arshinta menepuk jidat nya.
*******
“Bagaimana Revand, Lucifer? Papa harap bukan cucu papa.” Mahesha yang masih menunggu kedatangan anak dan menantu nya.
“Tidak pa. itu bukan Arshinta.” Jawab Lucifer duduk di sofa beristirahat.
“Hhhaaahh…. Bagus lah. Berarti masih ada peluang untuk menemukan Arshinta dalam keadaan hidup.” Mahesha menghela nafas nya.
“Sebaik nya kalian beristirahat lah, khusus nya kamu Lucifer. Tenangkan pikiran mu.” Mahesha merasa khawatir dengan menantu nya yang kelelahan.
DDDDRRTTTDDDD……DDDDRRRTTDDDD….
“Siapa ini?” tanya Lucifer melihat nomor telepon yang memiliki nama.
“Angkat, siapa tahu itu dari si penculik.” Suruh Revand.
“Ppppaaaaappaaaaaaa……..
“Shinta… kamu di mana nak?” Lucifer menerima panggilan yang ternyata dari puteri nya itu.
“Papa tenang dulu, di sini Shinta punya banyak teman. Papa jangan takut ya….” Dengan santai dan polos nya Arshinta menenangkan papa nya.
“Iya, papa gak takut. Papa tahu, Shinta kan hebat dan jagoan.” Puji Lucifer.
“Papa, aku sudah akifin lokasi nya, papa tinggal ikutin aja ya. Shinta matiin dulu ponsel nya, takut kalau pulsa nya abis. Bilang sama mama dan kakak Evano, aku baik-baik saja.” Ucap Arshinta dan menutup panggilan.