
"Jadi mereka berdua sedang ada masalah ya? " tanya William setelah di jelaskan Lisna.
"Iya, memang kami juga takut melihat kejadian itu, tapi kami mengerti kenapa tuan Lucifer melakukan nya. " ucap Lisna.
"Sebenar nya tuan Lucifer tidak bekerja seperti mafia pada umum nya, tidak seperti musuh-musuh nya yang yang melakukan pekerjaan yang mengerikan, seperti perdagangan manusia, obat-obatan atau senjata." ucap William.
"Tapi kenapa dia memiliki banyak musuh? " tanya Lisna.
"Sebagian musuh nya adalah anak buah nya yang menghianati nya, mereka mengajak tuan untuk bekerja sama, tapi tuan Lucifer tidak mau. " jelas William.
"Ooohhhh... kau tahu ternyata ya, sudah berapa lama kenal dengan nya? " tanya Lisna.
"Aku kenal dia dari sekolah, ayah ku adalah anak buah nya yang tewas saat menolong tuan Lucifer. Karena aku menyukai nya, aku ingin ikut menjadi anak buah nya, hehehehe. " cerita William.
"Dia sangat baik, dia akan melakukan apapun pada orang-orang yang di anggap berharga. Dia membiayai pendidikan sekolah ku sampai kuliah keluar negeri, juga mempercayakan ku untuk menjalan kan perusahaan nya. " jelas William lagi.
Lisna menganggukkan kepala nya.
"Oh ya... sebentar lagi mau jam istirahat nih, nanti kita makan bareng ya?" ajak William.
"Boleh, tapi teraktir ya, hehehehehe" pinta Lisna.
"Okey... " jawab William mengakhiri obrolan.
.
.
.
.
Beberapa hari berlalu tanpa ada pertemuan langsung antara Eva dan Lucifer, tapi Lucifer hanya mampu melihat dan mengikuti nya tanpa Eva tahu.
Lucifer mencoba menghubungi Eva, tapi tetap di abaikan.
"Hey.... berapa lama kau akan mengabaikan tuan Lucifer? " tanya Lisna melihat Eva mengabaikan panggilan dari Lucifer.
Eva tidak menjawab.
"Apa kau tahu, tuan Lucifer sudah beberapa hari ini tidak masuk kantor, apa kau tidak khawatir? " tanya Lisna.
"Kemana dia? " tanya Eva membuka mulut nya.
"Entahlah, Aris dan Hendra juga tidak tahu. " jawab Lisna.
"Eva, coba hubungi tuan Lucifer, apa kamu tidak penasaran dia masih hidup atau sudah mati. " ledek Lisna.
Eva melirik sinis pada Lisna.
"Jangan terlalu lama marah nya, entar tuan Lucifer nya ilfill loh sama kamu. " ucap Lisna.
"Kamu udah mengabaikan nya hampir tiga minggu loh, gak kasihan? aku lihat dia beberapa kali mencoba menghubungi mu, tapi kamu gak merespon nya. " ucap Lisna.
Eva tidak menjawab, dia mencoba berpikir.
Lisna meninggalkan Eva sendiri di kamar.
.
.
.
.
Eva tidak mengangkat panggilan dari Aris.
"Eva, tuan Lucifer di rawat di rumah sakit, kalau kau tidak keberatan, tolong jenguk tuan, dia ingin bertemu dengan mu." isi pesan WA dari Aris untuk Eva.
Eva kaget membaca pesan dari Aris.
"Adam di rumah sakit? " gumam Eva.
Eva segera menggantikan pakaian nya, lalu berangkat ke rumah sakit tempat Lucifer di rawat.
"Semua nya sudah siap kan? ingat, lakukan seperti yang aku katakan. " ucap Steven memberi arahan pada Lucifer yang pura-pura terbaring lemah.
"Apa kau yakin ini berhasil? bagaimana kalau dia semakin marah? " tanya Lucifer ragu.
"Tenang saja, dia pasti akan luluh. " ucap Steven.
Tanpa mereka sadari, Eva mendengar obrolan mereka dari luar, saat dia mau masuk.
"Eva, kenapa masih di luar, apa kau tidak masuk? " tanya Aris.
Eva merasa ingin marah dan kesal.
Sementara Lucifer dan Steven mendengar suara obrolan Eva dan Aris di luar.
CEEEKKLLEEKKK.....
Eva membuka pintu ruangan, dan langsung di lihat Steven dan Lucifer. Eva sedikit menahan emosi nya.
Sementara Lucifer memakai pakaian pasien dengan jarum infus yang pura-pura terpasang.
"Eehheemm.... Va, kamu udah sampai ya. " tanya Steven salah tingkah.
Eva tidak menjawab, hanya menatap Lucifer.
"Sebenar nya Lucifer benaran sedang sakit, tapi dia gak mau di rawat, jadi....
"Kau menyusun rencana untuk membohongi ku? " tanya Eva pada Steven.
"Kalian semua itu memang pembohong... sama saja. " ucap Eva dengan kesal.
Eva pergi meninggalkan ruangan itu.
"Eva.. tunggu. " Lucifer turun dari ranjang, berlari mengejar Eva.
"Eva... " teriak Lucifer sambil mengejar.
Eva mengabaikan dan terus berlari.
Sebenar nya Eva sangat khawatir dengan Lucifer, tapi dia tidak menyangka kalau dia di bohongi.
Eva terus berlari sampai halaman parkir.
"Eva... " Lucifer menarik tangan Eva.
"Dengar kan penjelasan ku dulu. " ucap Lucifer mengatur pernafasan nya.
Eva menarik tangan nya.
"Tolong jangan marah, apa yang di katakan Steven itu....
"Gak usah di jelaskan tuan Lucifer, saya yang bodoh, be*o, gampang untuk di bohongi. " ucap Eva menahan sedih memotong kalimat Lucifer.
"Bukan... bukan itu maksud ku. " ucap Lucifer.
"Cukup tuan... saya harap anda jangan terlalu suka berbohong seperti ini, saya sempat merasa bersalah pada anda, saya pikir anda masuk rumah sakit karena saya, tapi ternyata.... anda menganggap ini semua lelucon yang lucu bagi anda. " ucap Eva yang mencoba menahan air mata nya.
"Eva, aku tidak membuat lelucon, aku hanya... hanya ingin kau datang pada ku. " ucap Lucifer.
"Maaf, saya harus pergi... permisi. " ucap Eva meninggalkan Lucifer.
"Va... " panggil Lucifer.
Eva mengabaikan.
Lucifer pun mencoba menahan kekesalan nya.
"Kenapa jadi seperti ini? " gumam Lucifer memegang kening nya.
.
.
.
" Dia membohongi ku, dia sengaja ngerjain aku, dia gak tahu kalau aku sangat mengkhawatirkan nya, tapi dia malah mempermainkan ku." gumam Eva menghapus air mata nya.
.
.
.
.
"Apa? tuan Lucifer pura-pura sakit dan masuk rumah sakit? " tanya Lisna.
"Iya." jawab Eva menganggukkan kepala nya.
"Hahahahahaha, sebegitu nya tuan Lucifer ingin bertemu dengan mu. " tawa Lisna.
"Kau menertawaiku, karena aku bodoh dan gampang di tipu, iya kan? " tanya Eva kesal.
"bukan Va, hanya kaget aja, tuan melakukan itu." jawab Lisna mencoba berhenti tertawa.
"Berarti tuan Lucifer tidak main-main Va, dia ingin memperbaiki hubungan kalian. " jelas Lisna.
"Coba kau pikir, buat apa dia menghabiskan waktu nya hanya untuk mencari perhatian dari mu. " tanya Lisna.
"Justru aku salut dengan usaha tuan Lucifer, sebagai bos mafia, dia menurunkan harga diri nya untuk membuat mu kembali ke sisi nya. " jelas Lisna lagi.
"Walaupun menurut mu itu salah. " ucap nya lagi.
Eva tidak membalas perkataan Lisna, dia hanya diam sambil mendengar perkataan sahabat nya.
.
.
.
" Maaf kan aku Lucifer, aku malah membuat masalah mu semakin besar. " ucap Steven.
"Hhhmmm.... tidak apa-apa Stev, dia berhak marah karena memang aku yang salah. " jawab Lucifer.
"Tapi, aku yakin, dia sebenar nya masih perduli dengan mu, bukti nya dia masih mau menemui mu. " ucap Steven.
"Apa aku harus benar-benar terluka dulu, dan benaran masuk rumah sakit, biar dia datang menjenguk ku? " tanya Lucifer.
"Gila kamu... sampai segitu nya. " Steven menolak ide gila Lucifer.
Sejenak mereka berdua diam, tidak ada kalimat yang keluar dari mereka lagi.
"Atau...... harus kah aku melepaskan nya? " tanya Lucifer.
Steven kaget dengan perkataan Lucifer yang terlihat serius.