
Setelah selesai makan, Lucifer membaringkan tubuh nya di samping Eva yang masih tertidur.
Sebelum nya dia mencium kening Eva. Dan memeluk nya sambil tidur.
Mereka berdua tidur bersama.
.
.
.
.
"Akhir nya sampai juga. " ucap Lisna.
Steven mengantar nya pulang. Setelah mereka jalan seharian.
"Lisna tunggu." Steven menahan Lisna dengan menarik tangan nya pelan.
"Ada apa Stev? " tanya Lisna.
"Bagaimana dengan lamaran ku? " tanya Steven.
"La... lamaran? " Lisna terkejut.
Steven menganggukkan kepala nya.
"A... aku masih belum memikirkan itu. Apa... apa kau serius? " tanya Lisna memberanikan diri untuk bertanya.
Steven menganggukkan kepala nya serius.
"Aku serius... sangat serius. " jawab nya.
"Tapi... kita baru beberapa kali bertemu. Lagi pula....
"Bukan kah Eva dan Lucifer juga sama? dan sekarang mereka bahagia. " ucap Steven.
"Beda... itu tetap berbeda. " sanggah Lisna.
"Apa beda nya? " Steven semakin serius.
Lisna tidak bisa menjawab.
"Aku... aku hanya ragu saja dengan mu. " jawab Lisna.
"Bagaimana kalau kita pacaran dulu. Saling mengenal. Yang pasti aku tidak akan merubah keputusan ku untuk menikahi mu. " ucap Steven.
Lisna menatap Steven.
Mereka masih berada di dalam mobil.
"Bagaimana? " tanya Steven menunggu jawaban Lisna.
"Hhmm.... baik lah. Kita jalanin dulu saja. Tapi kau jangan memaksakan dirimu. Kalau kau sudah berubah pikiran, kau harus jujur, dan mengakhiri hubungan ini. " ucap Lisna.
Steven mengangguk sambil tersenyum senang.
Dia mencium kening Lisna. Lisna kaget dan terkejut. Tentu saja wajah nya memerah.
"Se.... sebaik nya aku keluar dulu. " ucap Lisna gugup.
Steven keluar dari mobil lebih dulu lalu di susul Lisna.
"Sebaik nya kau pulang lah. Aku akan masuk sendiri. " ucap Lisna.
"Tidak. Aku ingin masuk, bertemu dengan calon mertua. " ucap Steven percaya diri.
"Hah?" Lisna kaget.
"Siapa calon mertua mu nak Steven? " tanya mama Lisna yang tiba-tiba muncul dari belakang mereka.
Lisna kaget lagi. Sementara Steven hanya senyum santai.
"Ayo... sebaik nya kalian masuk dulu. " ajak mama Lisna.
Steven lebih dulu mengikuti calon ibu mertua nya. Lalu Lisna mengikuti dengan wajah kebingungan nya.
.
.
.
.
Eva terbangun dari tidur nya. Di rasa ada sesuatu di atas perut nya.
"Adam tidur juga? " gumam nya saat melihat ke samping nya.
"Biarkan saja dia tidur. Dia sangat lelah. " gumam nya lagi.
Eva bangkit dari ranjang nya. Mau kekamar mandi. Sebelum nya dia membawa pembalut berukuran besar yang di beli suami nya.
"Sebaik nya aku ganti dulu. " gumam nya.
15 Menit Eva berada di kamar mandi. Lucifer pun terbangun. Menyandarkan diri nya. Tatapan mata mencari sosok isteri nya.
"Di mana dia? " gumam nya.
Turun dari ranjang.
TOKK... TOK... TOK....
"Sayang... apa kau ada di dalam? " tanya Lucifer di depan pintu kamar mandi.
"Sayang? " tanya nya lagi.
"Ah... iya... aku... aku di dalam." jawab Eva gugup.
"Apa kau baik-baik saja? " tanya Lucifer.
"Iya... sebentar lagi aku akan keluar. " jawab Eva.
"Apa kau membutuhkan sesuatu? " tanya nya lagi.
"Gak. " jawab nya cepat.
Lucifer diam. Hanya menunggu nya di depan pintu kamar mandi.
"Kenapa masih belum keluar? " gumam Lucifer setelah menunggu 5 menit.
"Sayang... kenapa masih belum keluar? apa kau ada masalah? " tanya Lucifer khawatir.
"Apa aku masuk saja? " tanya nya lagi.
"Baik. Kalau kau belum keluar juga, aku akan masuk paksa ya. " ucap Lucifer.
"Iya." jawab Eva.
Lucifer masih setia menunggu nya di depan pintu.
CCEEKKLLLEEKK...
"Sayang, kenapa lama sekali? " tanya Lucifer menyambut Eva.
"Apa kau sakit lagi? " tanya nya lagi.
"Gak kok. Aku gak apa-apa. " jawab nya dengan senyum.
Lucifer menuntun Eva untuk kembali berbaring di ranjang.
"Adam... aku bosan berbaring terus. Seperti orang berpenyakitan. " protes Eva.
"Kau kan sedang sakit." jawab nya duduk di samping Eva.
"Ini... ini hanya efek itu saja. " ucap Eva malu.
"Aku tahu. Tapi aku juga suami mu yang khawatir dengan mu. " ucap Lucifer.
"Jadi biar kan aku menjaga mu. Okey?" ucap Lucifer.
Eva tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya pasrah.
.
.
.
" Apa kalian tahu siapa isteri nya? " tanya Vicky.
"Tidak tuan. Hanya saja wanita itu bukan dari kalangan pengusaha atau kaya. Hanya wanita sederhana. " ucap anak buah Vicky.
"Apa Eva tahu? atau suami nya mungkin kenal. Secara suami nya yang bekerja di situ." gumam Vicky.
"Sebaik nya aku coba tanyakan pada nya. " gumam nya lagi.
Senin pagi. Kembali melakukan aktifitas pekerjaan nya.
"Aku akan menyuruh Lisna kesini." ucap Lucifer saat memasang dasi nya.
"Untuk apa? " tanya Lisna.
"Untuk menjaga dan mengurus mu. " jawab nya.
"Gak usah Adam. Lagi pula aku udah baikkan kok. Gak sakit lagi. " ucap Eva.
"Kau yakin? " tanya Lucifer.
Eva menganggukkan kepala nya.
"Hheemmm.... baiklah. Tapi kau harus menghubungi ku kalau kau butuh sesuatu. " ucap Lucifer sambil membelai kepala Eva.
Eva menganggukkan lagi kepala nya.
"Baiklah sayang, aku akan pergi dulu." ucap nya.
"Hati-hati ya. " Eva melambaikan tangan nya.
Lucifer menghentikan langkah nya. Berbalik menghampiri isteri nya yang masih berdiri.
"Ada apa? " tanya Eva.
"Apa kau melupakan sesuatu? " tanya Eva lagi.
"Iya." jawab Lucifer.
"Apa?" tanya Eva penasaran.
Lucifer menunjuk bibir nya dengan genit.
"Hah? " Eva kaget dan gugup.
"Ayolah. " pinta Lucifer.
Eva mendekati Lucifer dengan gugup dan malu.
"Eheemm.. " Eva berdehem.
"Mmuuaacchh." dengan cepat dia mencium bibir Lucifer.
"Udah kan? " ucap Eva.
Lucifer masih diam berdiri dengan tatapan menggoda.
"Harus yang seperti ini. " Lucifer mencium bibir Eva dengan lembut.
"Okey... sudah tidak ada yang lupa lagi. Jadi aku berangkat dulu. " ucap nya.
Eva hanya mengangguk. Masih merasa malu sambil tersenyum.
Sementara Aris dan Hendra sudah menunggu nya di bawah.
Begitu juga Lisna. Tiap hari Steven mengantar dan menjemput Lisna bekerja.
"Steven? " panggil Lucifer saat melihat Steven mengantar Lisna.
"Pagi tuan Lucifer. " sapa Lisna.
"Pagi Lisna. Kenapa Steven mengantar mu? " tanya Lucifer.
"Fer, sekarang aku dan Lisna sudah berpacaran. Dan gak lama lagi kami akan menikah. " ucap Steven dengan bangga.
"Hah? " Lisna merasa kaget.
"Ooh... bagus lah. Sebaik nya kau jangan main-main dengan nya. " nasehat Lucifer.
"Tentu saja aku tidak main-main. Aku sangat serius. Siapa tahu nanti anak mu dan anak kami bisa menjadi teman. Atau mungkin bisa menjadi sepasang kekasih. Hehehehe. " ucap Steven.
"Ck.. ck.. ck.. ck.. terserah kau saja. " ucap Lucifer menuju kantor nya.
"Aku pergi dulu." ucap Lisna.
"Hati-hati ya. Kau jangan bekerja terlalu berat. " ucap Steven melambaikan tangan nya.
Lisna hanya menggelengkan kepala nya.