
Lucifer menemani Eva yang masih tertidur sehabis minum obat. Dia menggenggam tangan Eva sambil mencium beberapa kali.
"Va, cepat lah sembuh. Ini sudah ketiga kali nya kau masuk rumah sakit. " ucap Lucifer mengelus kening Eva.
Beberapa saat kemudian, Eva membuka mata nya. Menatap Lucifer yang setia menunggu di samping.
"Sayang, kau sudah bangun? " ucap Lucifer mengelus pipi Eva.
Eva menganggukkan kepala nya.
"Adam sayang ku, apa kau di sini semalaman. Kau tidak lelah? " tanya Eva menyentuh pipi suami nya.
"Eva sayang nya Adam, aku tidak lelah kok. " jawab Lucifer membalas.
Eva menahan tawa.
"Bagaimana keadaan mu, masih sakit? " tanya Lucifer.
"Udah enggak kok. Kamu gak usah khawatir ya. Ini cuma penyakit kecil. " Eva menenangkan perasaan Lucifer.
"Yang nama nya penyakit tetap harus waspada sayang. " balas Lucifer.
Eva membalas dengan senyuman.
"Suami ku, kapan aku bisa pulang dari sini? kau tahu kan, aku tidak suka berada di rumah sakit. " rengek Eva.
"Kata Steven sore ini kau bisa pulang, itu pun kalau keadaan mu mendingan. " ucap Lucifer.
"Aku udah mendingan kok, aku lebih baik di rumah saja. Kan ada kamu, hehehehe. " ucap Eva.
"Iya.. iya.. sore ini kamu akan pulang. " ucap Lucifer.
"Apa kau memerlukan sesuatu? " tanya Lucifer.
"Aku haus, aku mau minum. " pinta nya.
"Sebentar aku ambil kan ya." Lucifer berdiri mengisi gelas kosong dengan air minum yang ada di samping nya.
"Minum lah pelan-pelan. " Lucifer memberikan pada Eva, sebelum nya dia merubah posisi isteri nya agar tidak kesulitan minum.
"Sudah. " Eva menghentikan minum nya, dan memberikan gelas pada Lucifer.
"Adam, aku mau kekamar mandi. Tapi jangan gendong, aku mau jalan sendiri. " pinta Eva.
Awal nya Lucifer keberatan. Akhir nya menyetujui permintaan isteri nya.
Eva di bantu turun dari ranjang menuju kamar mandi.
"Biar kan aku sendiri masuk kamar mandi nya ya. " Eva menahan Lucifer agar tidak mengikuti nya.
Lucifer menunggu nya di depan pintu.
Tidak lama Eva keluar dari dalam. Dan Lucifer langsung membantu nya berjalan dan berbaring.
"Kau istirahat lah. " suruh Lucifer.
"Sayang, aku hanya sedikit demam kok. Aku juga merasa lelah kalau harus berbaring terus. " ucap Eva.
"Aku tahu. Tapi ini demi kebaikan mu. " balas Lucifer.
"Aku hanya ingin duduk saja. Kau istirahat lah. Aku yakin kau sudah sangat lelah. " pinta Eva.
"Tidak, aku tidak lelah. Aku akan di sini menemani mu. " ucap suami nya.
"Baik lah. Tapi kalau kau mau memejam kan mata juga tidak apa-apa kok. " ucap Eva.
Mereka berdua diam, Eva duduk membuka mata, begitu juga dengan Lucifer.
Seseorang mengetuk pintu dari luar, tampak Steven dan Aris masuk.
"Tuan, apa anda mau saya gantikan? anda istirahat saja dulu. " ucap Aris.
"Tidak usah. Sore nanti Eva akan pulang. Jadi biar aku saja di sini. " jawab Lucifer santai.
"Apa ada kabar dari Hendra? " tanya Lucifer.
"Tidak ada pergerakan dari nya tuan. Masih aman." jawab Aris.
Lucifer menganggukkan kepala nya.
"Apa yang mereka bicarakan? " gumam Eva melihat Lucifer dan Aris berbicara serius.
Lucifer menatap Eva dan tersenyum.
"Ada apa sayang? seperti nya kau ingin bertanya sesuatu? " tanya Lucifer.
"Aku hanya penasaran saja, apa yang kalian bicarakan. " jawab Eva.
"Tentang pekerjaan kok. " jawab Lucifer.
"Va, kau tahu, Lucifer sangat khawatir dengan mu tadi malam." ucap Steven.
"Aku tahu kok. " jawab Eva.
"Nanti kalau kau menikah dengan Lisna, kau juga mungkin sama seperti suami ku. " ucap Eva.
"Tapi ngomong-ngomong, bagaimana kelanjutan hubungan kalian? " tanya Eva.
"Dia masih berpikir dulu kata nya." jawab Steven.
"Memang nya waktu Lucifer mengajak mu menikah, apa dia menunggu keputusan mu? " tanya Steven melirik Lucifer.
"Boro-boro. " ucap Eva melirik Lucifer juga.
"Kalau begitu, ayo kita menikah, itu lah yang di ucapkan Adam. " Eva meniru kalimat Lucifer ketika mengajak Eva menikah.
Lucifer menatap Eva dan Steven.
"Aku tidak sempat berpikir. Awal nya ku pikir dia sedang bercanda. Ehhh... ternyata benaran. " ucap nya lagi.
"Apa kau sekarang menyesal? " tanya Steven, sengaja bertanya seperti itu di hadapan Lucifer.
"Tidak kok, justru aku sekarang senang dan bahagia. " Eva menjawab dengan tersenyum.
"Apa aku harus seperti itu pada Lisna? " tanya nya.
"Coba saja. " ucap Eva.
"Lisna itu baik kok. Pengertian dan mandiri." ucap Eva.
"Apa kau mendukung ku dengan Lisna? " tanya Steven.
"Kalau kau serius dan tidak main-main dengan nya, aku mendukung mu." ucap Eva.
"Tentu saja aku serius. Kalau tidak, Lucifer akan mencincang ku nanti. Karena dia kan sahabat mu. " Steven melirik Lucifer yang hanya sebagai pendengar saja.
Lucifer memberikan jempol tanda setuju dengan perkataan Steven.
*******************
"Ayo kita bertemu. Aku di depan rumah mu. " Vicky memberi pesan melalui WA untuk Cleo.
Vicky menunggu di depan gerbang rumah Cleo. Menunggu di dalam mobil nya.
Sekitar 10 menit tidak ada balasan.
"Ck... kenapa belum di balas? " gumam Vicky.
Dia mencoba menghubungi Cleo. Beberapa kali, tidak di angkat.
"Kalau kau tidak mengangkat atau membalas pesan ku, aku akan masuk secara paksa ke rumah mu." Vicky mengirim pesan lagi.
Lima menit tidak ada balasan lagi.
Dia mencoba menghubungi kembali.
"Apaan sih, mengganggu terus. " Cleo menjawab panggilan Vicky.
"Akhir nya kau angkat juga. Padahal aku sudah lagi manjat pagar nya loh. " ucap Vicky.
"Jangan bodoh ya, aku akan menghubungi security untuk mengusir mu. " ancam Cleo.
"Jangan sayang, aku mau mengajak mu keluar. " pinta Vicky.
"Tidak mau. " tolak Cleo.
"Uuuhuuukkk.... Uuuhhhuuukkk.... Uuuhhhuuukkk.. " Cleo batuk beberapa kali.
"Cleo, apa kau sakit? " tanya Vicky merasa khawatir.
" Bukan urusan mu. " jawab Cleo mengabaikan.
"Aku akan mengantar mu kerumah sakit. " Vicky mematikan telepon nya.
"Hey?? " Cleo tidak melanjutkan kalimat nya karena telepon sudah di tutup.
Vicky mencoba masuk secara paksa.
"Permisi tuan, sebaik nya anda segera pergi dari sini. " ucap sekurity nya.
"Pak, bos kalian sedang sakit. Aku harus membawa nya kerumah sakit. " ucap Vicky.
Kedua security itu saling menatap. Seperti tidak percaya.
"Cepat buka kan. Apa kalian tidak mengenal ku? aku kan juga sering kesini. " pinta Vicky.
"Tapi nona Cleo bilang dia tidak mau menerima tamu siapa pun. " jawab sekurity.
Vicky melemparkan tatapan tajam. Seakan amarah yang di coba di tahan.
"Ijin kan aku masuk atau aku akan merusak pagar ini? " ancam Vicky dengan tatapan tajam.
Mereka ketakutan mendengar ancaman Vicky.
"Bagaimana ini?" bisik mereka.
Vicky menendang pagar besi yang menghalangi nya. Mencoba membuka paksa.
.
.
.
.