
"Semua nya tidak becus." teriak Marvel di kediaman nya.
Marvel sangat kecewa dengan salah satu anak buah nya, Novelina.
"Tuan, apa sebaik nya kita tarik semua anak buah untuk mundur? aku rasa Lucifer sudah tahu tentang penyamaran." usul asisten nya Biyan.
"Tidak usah. Ini adalah kesempatan bagus untuk menyelinap dalam perusahaan nya." ucap Marvel.
"Tapi tuan....
"Biyan, kau diam lah. Bukan kau yang mengatur dan memberi perintah pada ku." ucap Marvel marah.
"Baik tuan." jawab Biyan.
"Setelah mendapat informasi dari Heri, segera habisi dia, menghilangkan jejak." suruh Marvel.
Biyan memperhatikan atasan nya dengan tatapan sadis.
"Baik tuan." jawab nya lagi.
*******************
"Hend, kalian segera masuk perlahan" suruh Aris.
"Baik Aris." ucap Hendra.
Heriawan memperhatikan tubuh Novel, pandangan nya terganggu dengan sebuah benda kecil yang berada di baju Novel.
"Benda apa ini?" tanya nya hendak mengambil.
"Bross? kenapa seperti...." tanya nya lagi.
"Hah??? ini...ini kan....sebaik nya aku beritahu tuan...
BBBRRRUUUGGGHHH.......
Heriawan pingsan di samping tubuh Novelina.
"Kenapa Heri pingsan, siapa yang memukul nya. Apa dia suruhan orang lain?" gumam Novel.
Hendra memukul Heri dengan kayu besar.
"Hey nona, bangun." suruh Hendra.
Novelina tidak mau bangun. Dia masih berpura-pura pingsan. Takut.
"Ck....nona, bangun..woy....bangun woy..." Hendra menggoncang-goncang bahu Novel.
"Kalau dia tahu aku pura-pura, tuan Lucifer akan marah dan tidak bisa menyelamatkan keluarga ku." gumam Novel.
"Hhmm...." Hendra mengamati tubuh Novel.
"Ku kerjain juga nih." gumam Hendra.
Hendra menutup hidung Novel, sehingga Novel tidak bisa bernafas.
"Hehehehehe......siapa suruh kau tidak bangun." gumam Hendra menahan tawa masih menutup hidung wanita itu.
"Apa-apaan mereka? apa mereka sedang bermain?" ucap Lisna.
William dan Aris menahan tawa. Sementara Lucifer sibuk dengan Hp nya.
*************
"Sayang...sedang apa kamu?" isi pesan WA Lucifer.
"Sedang mikirin kamu." ucap Eva menahan tawa.
"Mikirin aku? mikirin tentang apa?" balas Lucifer menggoda.
"Hhmmm.....mikirin kamu nanti mau makan apa." jawab Eva gugup.
"Hahahahaha....bagaimana kalau kita makan malam bersama di luar?" tanya Lucifer.
"Kau mau?" tanya Eva.
"Kalau kau mau, kenapa tidak." balas Lucifer.
"Okey....tapi mau makan apa dan di mana?" balas Eva.
"Terserah mu saja." balas Lucifer.
"Aku lagi pengen makan bebek goreng, tapi yang di pinggir jalan. Kamu mau?" tanya Eva.
"Pinggir jalan? kenapa harus di pinggir jalan sayang? kan ada tempat yang lebih bersih lagi." balas Lucifer.
"Mahal. Kalau di pinggir jalan kan bisa merasakan angin malam. Gimana? mau ya?" bujuk Eva.
"Okey, sebentar lagi aku akan pulang. Kau bersiap-siap dulu ya." ucap Lucifer.
"Aku tunggu ya." balas Eva mengakhiri obrolan mereka.
Lucifer tersenyum sendiri, menatap foto pernikahan mereka yang di jadikan sebagai wallpaper Hp nya.
Sementara itu, Aris, William dan Lisna sedari tadi juga menatap dan mengikuti reaksi Lucifer secara bersamaan.
Lucifer tersadar di perhatikan teman-teman nya.
"Eehheemm...ada apa?" tanya Lucifer kembali serius.
"Ikuti terus perkembangan mereka ! kenapa kalian malah menatap ku." ucap Lucifer.
" Karena tuan dari tadi senyum-senyum sendiri. Pasti sedang ngobrol dengan Eva ya?" ledek Lisna.
Lucifer jadi salah tingkah.
"Lis, apa kau sudah bosan bekerja dengan ku?" ancam Lucifer.
"Eeehhhh tidak tuan. Saya masih pengen panjang. Saya akan menatap layar sekarang." Lisna dengan sigap mengalihkan pandangan nya.
Lucifer melemparkan pandangan ke dua pria yang ada bersama Lisna.
*******************
"Mau bertahan sampai berapa lama lagi kau." gumam Hendra.
Tiba-tiba Novel terbangun, menggerakan tangan nya menarik tangan Hendra yang menutupi hidung nya.
"Si...siapa kau?" tanya Novel mengatur pernafasan nya.
"Akhir nya bangun juga kau. Aku? kau tanya aku?" ucap Hendra.
"Aku adalah malaikat pelindung sekaligus pangeran mu." canda Hendra.
"Ngawur nih si Hendra." ucap Lisna yang masih memperhatikan aksi mereka.
"Malaikat pelindung dan...pangeran ku?" ucap Novel gugup karena malu.
"Ayo bangun. Mau sampai kapan kau berbaring di sini. Kotor, banyak *** tikus di sini." ucap Hendra menunjuk salah satu contoh.
"Pppffuutthhh." Novel menahan tawa.
Hendra mengulurkan tangan nya untuk di raih Novel yang sedikit susah berdiri.
"Terimakasih." ucap Novel dengan wajah memerah.
"Dia tampan dan ramah." gumam Novel.
"Aris, selanjutnya bagaimana?" tanya Hendra via panggilan telepon.
"Bawa pria itu ke markas." ucap Aris.
"Dan wanita ini? apa mau di buang ke sungai Ciliwung?" canda Hendra.
"Apa? di buang?" gumam Novel ketakutan.
"Oohhh....jadi wanita ini di potong-potong dulu ya?" lanjut canda Hendra.
"Kenapa Aris sangat jahat. Bukan kah tuan Lucifer berjanji akan menyelamatkan ku?" gumam Novel menahan tangis.
"Hendra hentikan omong kosong mu." ucap Aris.
"Apa? perut nya mau di kosong kan?" canda Hendra menahan tawa.
"Aakkhhh..." Novel menutup mulut nya. Tubuh nya sudah mulai gemetaran.
Sementara Lisna, Wiilam dan Aris menahan tawa.
"Ris, lihat wajah nya Novel, dia sangat ketakutan sekali." tunjuk Lisna.
Aris melihat.
"Kalian bawa laki-laki ini ke markas." suruh Hendra.
Anak buah nya mengikat dan menutup mulut Heri sebelum di bawa. Sementara Hendra mengambil telepon genggam milik Heri.
"Hend, bawa wanita itu ke sini." suruh Aris.
"Baik Ris, aku mengerti. Aku akan melakukan pekerjaan ini lancar tanpa ada yang mengetahui." ucap Hendra.
Obrolan pun berakhir.
"Hhmm.....masih bercanda lagi tuh orang." ucap Aris geleng kepala.
"Ris, aku harus pulang. Steven udah ada di bawah sekarang." ucap Lisna melihat jam yang ada di tangan nya.
"Aku juga nih. " ucap William juga.
Tinggal Aris dan Lucifer.
"Tuan Lu........
"Kau urus saja wanita itu. Aku juga mau pulang. Mau dinner dengan wife ku." ucap Lucifer santai.
"Tapi tuan......
Lucifer menatap marah Aris.
"Baik tuan, saya mengerti." ucap Aris menganggukkan kepala nya.
"Hhmm....padahal aku kan ingin massage hari ini. Ahhh....sudah lah." gumam Aris pasrah.
***********
"Ayo ikut aku." ajak Hendra.
Novelina ketakutan.
"Kau....kau bilang tadi kau adalah malaikat pelindung dan pangeran ku. Tapi kenapa kau ingin memotong-motong diri ku?" tanya Novel gugup.
"Hhmm....kasihan juga sih, tapi tanggung...." gumam Hendra.
"Yang tadi itu aku bercanda." ucap Hendra.
"Yang mana? malaikat pelindung atau memotong-motong diri ku?" tanya Novel.
"Memotong diri mu." gumam Hendra.
"Aku bercanda sebagai malaikat pelindung mu, sebenar nya aku malaikat maut mu." ucap Hendra menahan tawa.
Novelina ketakutan. Tubuh nya gemetaran.
"Kata Aris, isi perut mu harus di kosong kan. Lalu organ dalam yang penting akan di jual. Lumayan buat nambah gaji. Dan mayat mu.... hhmmm..... di bakar aja kali ya. Jadi tidak ada yang mengetahui nya." ucap Hendra.
GGUUBBRRAAKKK........
"Yyaahhh.....malah pingsan....bagaimana ini?" ucap Hendra.
.
.
.
.