SANG BOSS MAFIA JATUH CINTA

SANG BOSS MAFIA JATUH CINTA
Episode 255


“Kak.” Panggil Eva.


“Hmm..?” Revand menjawab singkat sambil fokus pada pekerjaan nya.


“Apa kakak sudah memutuskan kapan harus operasi tangan nya?” ucap Eva yang duduk di sambil membaca buku.


Revand diam sesaat.


“Seperti nya kakak gak butuh itu lagi. Sudah terbiasa dengan satu tangan ini saja.” Revand mengangkat tangan kiri yang masih utuh.


“Iya memang. Tapi kalau ada kesempatan, gak ada salah nya kan? Nanti kakak gak kuat loh gendong dua keponakan sekaligus.” Bujuk adik nya.


Sekilas Revand tersenyum kecil mendengar ucapan adik nya.


“Baik lah, kalau kau sudah memberi semangat seperti ini, alasan apa lagi aku menolak nya.” Dia tersenyum pada adik nya.


Eva pun bahagia mendengar hasil keputusan Revand.


Setelah pembicaraan itu, mereka diam. Fokus dengan apa yang sedang mereka kerjakan.


Terlihat Revand sangat serius, dan Eva senang melihat nya.


Eva ingat dengan apa yang di katakan papa nya, Mahesha. Kalau kakak nya itu penuh dengan emosi, marah dan dendam, bahkan untuk papa nya sendiri memiliki dendam dan kesalahpahaman yang besar.


Hingga bertemu kembali dengan Eva, adik kandung nya Revand.


Eva Tasyalona Chirathivat sebelum menjadi nyonya Adam.


Tapi setelah beberapa bulan bertemu dengan adik nya, Revand menjadi lebih bertanggung jawab dan kembali hidup normal. Hanya saja untuk urusan pernikahan dia masih harus mendunda dulu.


“Va, apa kamu menginginkan sesuatu? Misal nya mau makan apa atau minum apa gitu?” Tanya Revand.


“Tidak usah kak. Nanti saja barengan sama kakak aja.” Tolak pelan dari Eva yang fokus membaca buku.


“Baik lah, tapi kalau ada yang kau ingin kan, tolong bilang ya.” Revand kembali fokus.


Eva hanya membalas dengan menganggukkan kepala dan tersenyum.


Ponsel Eva berdering, panggilan dari suami nya. Kelihatan sekali Eva sangat senang melihat nama suami nya tertulis di layar ponsel nya.


“Hallo sayyyyaaannngggg…” Eva menjawab panggilan.


Revand melihat hanya menggelengkan kepala dan tersenyum melihat tingkah adik nya yang senang mendapat panggilan telepon dari suami nya.


“Hallo sayang. Kau sedang di mana? Dengan siapa dan sedang apa?” Tanya Lucifer yang semangat.


“Pertanyaan mu seperti lirik lagu.” Eva tertawa kecil.


“Aku dengan kak Revand di kantor, dan sedang baca buku.” Jawab nya singkat.


“Oooo… apa kau sudah makan?” Lucifer bertanya lagi.


“Sudah. Tadi makan dulu sebelum ke sini.” Jawab nya.


“Kamu?” sekarang Eva yang bertanya balik.


“Di mana? Sedang apa? Dengan siapa? Dan apa kamu sudah makan suami ku?” Tanya Eva yang beruntun.


“Hahahaha….balas dendam nih. Aku di kantor, lagi urus pekerjaan dengan Aris, William dan Lisna.” Jawab Lucifer.


“Kau lupa jawaban dari satu pertanyaan lagi.” Eva ingat dengan pertanyaan yang belum di jawab.


“Mmmmmm… belum. Aku belum makan. Tapi ini sebentar lagi kami akan keluar.” Jawab nya yang awal nya sengaja untuk tidak di jawab agar tidak khawatir.


“Benar ya. Jangan lupa makan dan beristirahat. Ingat, kamu tidak tinggal sendiri lagi, sudah ada isteri dan anak-anak.” Eva memberi nasehat serius pada suami nya.


Terdengar suara tawa kecil dari Lucifer.


“Iya sayang, aku akan ingat.”


“Iya, hati-hati di sana. Cepat kembali kesini dengan selamat dan sehat.” Pinta nya.


Mereka mengakhiri panggilan. Eva senang bisa berbicara dengan suami nya.


Di lihat nya Revand yang fokus pada pekerjaan nya, walaupun begitu, dia bisa mendengar dengan jelas pembicaraan antara adik dan adik ipar nya.


“Kak.” Panggil Eva yang tidak ragu mengganggu pekerjaan Revand.


“Ya Va?” respon Revand tanpa melihat wajah adik nya yang sedang memanggil.


“Apa….apa kakak tidak lelah dan bosan hidup sendiri?” Tanya Eva.


“Maksud nya?” Tanya Revand yang tidak mengerti.


“Kakak tidak ada niat gitu untuk menikah, punya isteri dan keturunan?” Tanya Eva secara pelan dan halus.


Revand merasa obrolan dan pertanyaan adik nya sangat serius. Di hentikan kegiatan nya sementara untuk menjawab dan fokus pada adik nya.


“Gimana ya? Sebenar nya kakak hanya merasa iri dan kesepian saat kau dan suami mu sedang bersama. Setelah itu, biasa saja sih. Kakak merasa tingkah Lucifer seperti terlalu berlebihan, over protective, tidak malu dengan ucapan-ucapan yang romantic, padahal wajah nya sangat menyeram kan……


“Siapa bilang wajah nya menyeram kan?” Eva tidak terima suami nya di jelek-jelekkan.


Revand tersenyum dengan reaksi Eva.


“Bagi orang yang tidak tahu dan tidak mengenal nya, pasti sama dengan apa yang kakak sebut kan. Jadi jangan marah. Kakak hanya mewakilkan apa yang orang luar sana nilai.” Jawab nya.


“Tapi yang kakak suka dari nya adalah dia tidak malu dengan harga diri nya ketika berbicara dengan mu, ketika kalian bersama. Apa yang kau ucap kan akan dia dengar dan turuti, tapi aku atau yang lain nya di abaikan


seperti angin. Aku sudah mendengar tentang hubungan nya dengan Vicky, tidak sedekat kau.” Ucap Revand serius.


“Ya jelas lah, aku kan orang yang di cintai dan isteri nya juga.” Eva memberi jawaban.


“Maka nya kak, coba cari kekasih. Tidak usah mengobral kan diri atau merubah penampilan mu. Hanya saja kakak harus membuka pikiran yang lebih luas, terima respon dari luar untuk mu.” Eva memberi saran.


“Kalau kakak memiliki kekasih, pasti mengerti kenapa Adam bisa seprotektive begitu pada ku. Dan kakak juga ada yang menemani.” Ucap nya lagi.


“menemani? Kan sudah ada kalian dan papa yang menemani ku.” Jawab Revand singkat.


“Hahaha…. Kakak ku yang tampan, beda loh kak. Kakak kalau tidur siapa yang menemani? Papa? Maurer? Aku? ”Tanya Eva serius.


Tidak ada jawaban dari Revand.


“Tidak ada kan? Kecuali bantal dan guling. Arti menemani itu banyak, tergantung kakak ingin dengan siapa yang menemani mu.”


Revand tidak memberi jawaban dan perkataan lagi. Dia masih diam dan mendengar ucapan nasihat dari adik nya.


Eva kembali fokus membaca buku nya, sementara Revand berpikir keras untuk mengubah pola pikir.


*******************


Di Indonesia kota Jakarta, Lucifer masih sibuk dengan pekerjaan. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.


“Aris.” Lucifer memanggil Aris yang duduk di ruangan nya tidak jauh dari Lucifer.


Aris berdiri dan menghampiri bos nya.


“Iya tuan.”


“Suruh kesini Lisna,William,Novel, Hendra sekarang.” Perintah Lucifer.


“Dan kau tolong beli makanan untuk kita, untuk ku, aku ingin ayam geprek yang pedas, juga es jeruk.” Pinta nya serius.


Aris merasa salah dengar.


“Apa kau dengar?” Tanya Lucifer lagi.


“Iya tuan, saya dengar. Saya akan keluar sekarang.” Aris meninggalkan ruangan Lucifer yan kembali fokus pada pekerjaan nya.