SANG BOSS MAFIA JATUH CINTA

SANG BOSS MAFIA JATUH CINTA
Episode 277


Eva dan Lucifer dalam perjalanan pulang.


“Sayang, karena kita sudah tahu jenis kelamin anak kita, bagaimana kalau kita beli keperluan nya, seperti pakaian, gendongan, popok,


celana, sepatu….. dan lain nya?” Tanya Eva sambil tersenyum dengan semangat.


“Boleh sayang, tapi jangan hari ini ya. Besok saja. Kamu istirahat dulu.” Jawab Lucifer.


“Besok? Bener nih besok?” Tanya Eva.


“Iya, besok. Besok aku akan menemani mu berbelanja.” Ucap Lucifer lagi.


“Baik. Sekarang aku mau makan bubur ayam buatan mu lagi.” Pinta Eva manja pada suami nya.


“Siap isteri ku tercinta, suami mu ini akan memasak untuk mu.” Ucap Lucifer yang membuat Eva senang dan tertawa kecil melihat sikap dan perhatian suami nya.


“Semua wanita akan bahagia memiliki suami seperti mu. Dan itu adalah aku.” Ucap Eva bangga.


“Benar sayang. Dan aku juga sangat bahagia dan beruntung bisa memiliki mu.” Puji Lucifer.


Eva menguap, menutup mulut nya.


Lucifer melihat.


“Sayang kamu tidur aja dulu, nanti kalau sudah sampai aku akan menggendong mu kedalam.” Lucifer mengelus punggung tangan Eva.


Eva menganggukkan kepala nya. Karena memang dia sudah sangat mengantuk.


Tidak lama dia akhir nya tertidur.


“Kau sudah lelah begini tapi masih mau jalan-jalan lagi, Eva….Eva..” ucap nya tersenyum menggelengkan kepala.


*************


“Aa, bantuin giling cabe donk.” Pinta Citra yang memotong kangkung.


“Aduh Cinta ku, Aa gak bisa giling cabe, entar tangan nya panas. Lagian kan ada blender di situ, pake itu aja.” Suruh Hendra yang memang tidak suka menggiling cabe.


“Mending aku megang senjata daripada ulekan. Nyerah…” gumam Hendra merasa ngeri.


“Ih..Aa… gak enak kalau di blender. Biji nya gak halus. Gilingin napa. Aa gak cinta lagi sama neng Citra?” ucap nya memonyongkan bibir.


“Ya ampun neng, apa hubungan cinta dengan gilingin cabe? Apapun yang eneng minta Aa kasih, asal jangan gilingin cabe, itu blender harga nya mahal loh, merek terkenal. Jangan kan biji cabe, batu pun bisa di giling


sampai halus.” Balas Hendra.


“Jadi gak mau nih? Citra mau pulang aja deh. Mau ke rumah emak.” Citra memonyongkan bibir nya lagi.


“Ck….. ya udah…ya udah… biar Aa gilingin cabe nya, ambekan mulu ya. Untung cinta, kalau gak, udah di balikin ke kampung rambutan.” Gerutu Hendra.


Citra tersenyum melihat Hendra.


“Kalau tahu gini, dari kemarin-kemarin nih ulekan dah di buang aja.” Ucapnya suara pelan.


“Napa A?” Tanya Citra.


“Gak apa-apa Honey Sweaty ku.” Hendra memaksa tersenyum.


Citra meletakkan cabai yang akan di giling. Langsung di dalam ulekan.


“Buussseetttt…. Sayang, cabai nya banyak banget ini…” keluh Hendra terkejut melihat jumlah cabai yang di letakkan.


“Biar pedas A.” Citra menaikkan salah satu alis nya.


Hendra melihat Citra dengan tatapan rasa ingin memakan nya, tapi berusaha bersabar.


“Aa gak mau giling?” Tanya Citra lagi.


“Iya…iya sayang.” Hendra mulai menggiling.


Citra tidak takut dengan tatapan Hendra. Justru dia merasa sangat nyaman. Dan tunangan nya itu tidak tahu jati diri calon suami nya itu.


TTAAAKKK……TAK…….TTAAAKKK…..TTAAAKKK…..


Suara hentakkan gilingan cabai.


“Ya ampun A, giling nya pake perasaan, jangan pake emosi, itu cabe nya lompat-lompat tuh.” Tunjuk Citra.


“Ya kan ini udah pakai perasaan sayang,.... perasaan kesal.” Ucap nya dengan suara pelan.


“Giling nya walaupun pelan, tapi halus A, biar gak terlalu capek.” Ucap Citra.


Hendra kembali menggiling sesuai dengan arahan Citra.


“Aris pasti akan menertawakan ku kalau aku melakukan ini. Memang lah cinta bisa mengalahkan segala nya. Pantas saja tuan Lucifer begitu tergila-gila pada Eva. Hhhuuuhhhuuu….hhuuuhhuuuhhuu…” ucap Hendra di dalam hati menangis.


************


Lucifer memarkirkan mobil nya di halaman parker rumah Mahesha yang memiliki gerbang besi yang tinggi.


Dia tidak membangunkan Eva, di gendong nya dengan pelan agar tidak bangun.


“Terasa berat juga sayang, heheheheh…” ucap Lucifer pelan.


“Terimakasih pak.” Ucap Lucifer.


“Iya tuan.” Jawab pengurus taman dengan senyum.


Tidak ada seorang pun di dalam rumah. Hanya ada pelayan.


“Selamat datang tuan.” Sapa pelayan.


“Kemana yang lain nya? Sepi sekali?” Tanya Lucifer.


“Tuan Mahesha dan tuan Maurier sedang pergi bermain golf tuan. Dan tuan Revand…..


“Wah, kalian dari mana saja adik ipar. Ada apa dengan adik ku itu? apa dia pingsan?” Tanya Revand yang tiba-tiba muncul keluar dari kamar. Berbicara saat hendak turun tangga.


Tampak Lucifer menghela nafas, membuang wajah nya.


“Kenapa harus melihat wajah nya sih.” Ucap nya pelan.


“Apa yang kau bicarakan adik ipar?” Revand melihat Eva dari samping Lucifer.


“Pelankan suara mu, isteri ku sedang tidur.” Lucifer masih menggendong berjalan ke kamar yang ada di bawah.


“Galak amat sih.” Ucap Revand.


“Nanti kamu keluar lah, aku ingin mengobrol dengan mu. Sambil minum kopi dan merokok.” Ajak Revand.


“Aku sudah berhenti merokok.” Jawab nya pelan.


“Kalau begitu minum kopi.” Tawar nya lagi.


“Aku tidak bisa. Aku mau istirahat.” Jawab ketus Lucifer.


“Ck.. ayolah Lucifer..” bujuk Revand dengan suara yang sedikit keras.


“Diam….” Ucap Lucifer pelan namun mata nya di lihat sangat marah.


Revand diam. Sangat kasihan sekali di abaikan seorang diri. Biasa nya kalau tidak ada Lucifer, Eva yang sering menemani nya ngobrol dan jalan keluar.


Tapi semenjak Lucifer datang, ruang dan waktu sudah nihil kesempatan. Setiap ingin bertemu, Lucifer selalu bilang Eva harus istirahat. Tidak boleh keluar atau alasan lain nya.


Sekarang dia duduk seorang diri di sofa. Hanya rokok dan kopi yang setia menemani nya.


Lucifer meletakkan Eva berbaring di atas ranjang perlahan, lalu di selimuti.


Merasa dia memang juga lelah, dia pun ikut berbaring di samping isteri nya. Memeluk nya erat. Tidak lama dia pun bisa memejam kan mata nya.


**********


Lisna beberapa kali sudah bolak-balik dari kamar mandi. Mengeluarkan cairan dalam perut nya.


Lisna di rumah dengan beberapa pelayan , sementara Steven mengurus pasien di rumah sakit.


Saat ini Lisna Sedang hamil 2 bulan.


“Uuuuwweekkk……uuuwweeekkk….” Beberapa kali muntah.


Steven ingin menemani Lisna tapi dia lagi memiliki pasien penting yang harus di tangani.


“Bi, tolong minta air hangat donk bi.” Pinta Lisna keluar dari kamar.


“Iya bu.” Jawab bibi yang bekerja di rumah nya.


Lisna mengoles minyak angin di atas perut dan sekalian di usap.


Pekerja rumah datang dengan membawa segelas air hangat yang di minta Lisna.


“Makasih ya bi.” Ucap Lisna menerima gelas tersebut.


“Iya Bu.” Si bibi langsung keluar kamar.


.


.


.


Mawar (Readers) : “ Kok belum up?”


Author : “ Ini udah up yo..”


Windi gulo (Readers)  : “Kapan tamat nya sih kak?”


Author : “ Setelah mereka semua nikah ya.”


Wiwin Sugiati (Readers ) : “ Gak salah tuh babang Hendra


milih gadis pujaan nya menih geliiss pisssaaaannnn haduh ini mah kembang desa.”


Author : “ cocok lah dengan Hendra, hehehhe