SANG BOSS MAFIA JATUH CINTA

SANG BOSS MAFIA JATUH CINTA
Episode 305


“Apa….. boleh?” tanya Eva menaikkan salah satu alis nya, menunggu jawaban dari Adam.


“Kalau dia mau tinggal bersama kita, bisa saja.” Jawab Lucifer.


“Dia pasti mau. Aku yakin sekali itu.” Eva memeluk Lucifer erat.


********


Pagi hari, Ina bangun lebih awal. Dia berada di dapur untuk membantu pelayan.


“Nona, apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya Ina menawarkan bantuan nya.


Pelayan yang ada di situ merasa heran, mereka saling melihat dengan rekan nya.


“Nona kecil, jangan panggil kami ‘nona’, nanti tuan Adam dan tuan Revand marah pada kami.” Jawab pelayan itu berjongkok di depan Ina.


“Maafkan saya, saya ingin membantu kalian. Saya bisa mencuci piring, menyapu. Katakan saja apa yang harus saya lakukan, saya pasti bisa.” Ucap nya dengan wajah polos dan tulus itu.


“Nona jangan begini. Nona adalah tamu di sini yang harus kami hormati. Anda tidak usah melakukan apapun. Anda sebaiknya kembali kekamar saja.” Ucap pelayan yang lain.


“Tapi….


“Ina, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Revand.


“Apa pelayan ini mengganggu mu?” tanya Revand menunjuk pelayan-pelayan.


“Kalian ya, berani sekali menindas anak kecil. Apa mau aku bunuh kalian?” tanya Revand dengan wajah menakutkan.


Pelayan-pelayan itu malah menghembuskan nafas sambil menggelengkan kepala nya.


“Tidak tuan, tolong jangan bunuh mereka, mereka tidak menyakiti saya. Tolong tuan, saya mohon…….


“Hahahaha…. Tenang saja Ina, aku hanya bercanda saja tadi. Lagi pula mereka tidak akan takut dengan ancaman ku. Iya kan Tia?” tanya Revand menunjuk Tia.


“Iya tuan Revand. Anda kan suka bercanda, walaupun canda nya menakutkan.” Jawab Tia.


“Ina, kau belum menjawab pertanyaan ku, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Revand mengambil air minum dingin dalam kulkas.


“Saya ingin membantu mereka. Saya tidak bisa tidak melakukan apapun tuan.” Jawab Ina.


“Jangan panggil aku tuan lah, panggil paman saja. Oke….” Suruh nya meminum air mineral kemasan botol.


“Oh ya, kau tidak usah melakukan apa-apa. Mereka sudah memiliki pekerjaan nya masing-masing. Kalau kau membantu mereka, itu sama nya kau mencuri pekerjaan mereka. Paman bisa saja mengeluarkan mereka. Bagaimana?” canda Revand lagi berjongkok di depan Ina.


“Jangan tuan jangan….


“Tuh kan, masih manggil tuan lagi. Muka yang seram itu saja kau bisa memanggil nya paman.” Sindir nya pada Lucifer.


“Maafkan saya…. Paman.” Ucap Ina menundukkan wajah nya.


“Begitu dong. Ya udah kalau begitu, ayo kita ke depan. Biarkan mereka melakukan pekerjaan nya.” Revand mengulurkan tangan nya agar berjalan bergandengan pada Ina, dan Ina menyambut tangan itu. mereka berjalan seperti papa dan anak gadis kecil nya.


Pelayan-pelayan merasa lega, akhir nya dua orang yang merepotkan sudah pergi.


Di barisan sofa sudah ada Isabella yang sedang menggendong Rafhael, Eva yang sedang mengkuncir rambut Arshinta. Abraham Evano sedang sibuk dengan gadget nya. Mahesha pun ikut berkumpul duduk dengan teh hangat dan koran.


“Va, di mana Lucifer?” tanya Revand yang baru datang bersama Ina.


“Seperti nya di teras depan. Dia sedang menerima panggilan telepon dari Ceons.” Jawab nya.


“Sekarang Ina duduk di sini ya.” Revand melepaskan tangan dan pergi menyusul Lucifer.


Ina duduk sendiri, melihat Eva yang sangat serius menata rambut putri nya.


“Ina, kamu mau yambut nya di ikat?” tanya Shinta melihat Ina.


“Hah?” Ina tersadar dari lamunan nya.


“Ayo sini.” Panggil nya lagi.


Ina perlahan datang dan langsung duduk di pangkuan Eva, setelah Shinta turun dan duduk di sebelah Vano. Tubuh Ina dan Shinta tidak berbeda jauh. Hampir sama hanya beda usia saja.


**********


“Sudah kalian lakukan semua?” tanya Lucifer dari ponsel nya.


“Sudah tuan. Dan rumah sakit nya juga sudah di hancur kan.” Jawab Ceons.


“Bagus, tidak ada korban kan? Lalu dokter-dokter palsu itu bagaimana?” tanya Lucifer berbicara sambil berdiri.


“Sesuai dengan perintah anda, saya menyuruh anak buah kita membuang mereka ke afrika selatan, dan yang lain nya juga mendapatkan hukuman nya.” Ucap Ceons.


“Tuan, aku heran, kenapa anda paling suka memotong lidah dan mencongkel mata musuh anda?” tanya Ceons.


“Karena aku paling tidak suka orang yang terlalu banyak bicara basa-basi, dan aku tidak mau mereka mengingat wajah ku. Hanya itu.”


jawab Lucifer dengan tenang.


“Apa ada pergerakan dari musuh lain nya? Atau dari Shadow?” tanya Lucifer.


“Tidak ada tuan. Saya mendapat informasi kalau Shadow pergi keluar negeri.” Jawab Ceons.


“Baiklah kalau begitu. Kalau ada yang mencurigakan, hubungi aku.” Ucap nya lalu menutup panggilan mereka.


“Apa masalah rumah sakit itu sudah beres Lucifer?” tanya Revand dari belakang.


Lucifer melihat Revand yang berdiri di belakang nya.


“Sudah.” Jawab nya menyimpan ponsel nya.


“Lucifer, aku dengar kau sedang memberikan makanan pada peliharaan mu ya?” tanya Revand.


“Maksud nya?” tanya Lucifer melihat Revand yang sudah duduk.


“Ya itu, beruang, buaya.”


“Itu bukan peliharaan ku. Aku hanya membantu mereka untuk mencari makanan. Kebetulan ada ‘makanan’ dadakan, jadi aku kasih saja buat mereka.” Jawab nya santai.


Revand melihat Lucifer serius.


“Lucifer, apa kau tidak takut dosa dan masuk neraka? Dari dulu aku sudah pernah dengar kalau kau tidak pernah melepaskan musuh mu, kau membunuh mereka dengan cara yang kejam. Kau bisa di siksa di neraka loh.” Ucap Revand.


“Hahahahahahaha……..Revand…. Revand…dosa? Neraka? Mungkin kita akan bertemu nanti di sana.” Ucap Lucifer tertawa sindir.


“Aku tahu aku kejam dan sadis. Aku lebih puas mencincang mereka dari pada menyesal membiarkan mereka lepas dan mereka mengulangi lagi kesalahan yang sama. Aku bukan tipe orang yang gampang memaafkan, bahkan tidak pernah memaafkan… siapapun, bahkan pada saat aku tahu kau dan papa mu menculik Eva yang masih hamil, aku sudah merencakan untuk mengiris kulit luar mu….


Memotong kecil-kecil daging bagian paha mu, kedua bola mata mu akan aku remas


sampai pecah, lalu aku membelah bagian tengah kepala mu hingga otak nya keluar,


dan aku injak-injak sampai meleh dan masuk ke tanah. Aku……


“Cukup!” Revand berdiri, tidak sanggup mendengar cerita sadis dan extrim dari Lucifer. Dia menahan diri untuk tidak muntah.


“Kau tidak serius kan?” tanya nya.


Lucifer melihat Revand dengan sinis.


“Menurut mu?” tanya balik Lucifer.


“Hanya karena Eva… hanya karena dia memohon pada ku untuk melepaskan kalian. Kau tahu kan seberapa besar rasa cintaku pada nya. Maka nya aku melepaskan kalian.” Ucap Lucifer.


“Memang dia orang yang sangat sadis. Aku tahu dia tidak pernah bercanda.” Gumam Revand melihat Lucifer.