
“Otot tendon, pembuluh darah, dan saraf di perbaiki agar dapat di sambung kembali. Nanti kami akan membuat jaringan cangkok dari tulang, kulit, dan jaringan lain nya bila di perlukan.” Ucap Isabella serius.
Eva dan Revand pun sangat serius mendengar nya.
“Proses pemulihan pascaoperasi akan cukup memakan waktu dan anda harus menjalani nya dengan cermat. Untuk menunjang proses pemulihan, anda juga harus menghindari hal-hal yang dapat mengganggu sirkulasi darah. Anda harus menjauhi kebiasaan merokok karena hal ini dapat mengurangi aliran darah menuju area yang di operasi. Anda juga perlu menjaga tangan tetap berada lebih tinggi
dari jantung untuk meningkatkan aliran darah ke bagian tersebut. Sampai di sini anda masih mengerti?” Tanya Isabella.
“Sedikit dok.” Jawab Eva.
Revand hanya diam.
“Setelah menjalani proses operasi, nanti anda akan menjalani proses rehabilitasi. Ini penting untuk mengembalikan fungsi tangan seperti
sedia kala. Melatih pergerakan otot-otot tangan sambil tetap mengurangi kemungkinan timbul nya jaringan luka. Tapi anda juga harus tahu fungsi jaringan
saraf pada tangan anda tidak akan kembali hingga seratus persen. Selain itu jaringan memerlukan waktu yang lama untuk pulih. Bisa sampai berbulan-bulan supaya anda bisa merasakan sesuatu dengan ujung-ujung jari anda. Dan karena ini adalah tangan milik orang lain, pasti ada efek samping nya. Resiko nya bisa infeksi atau menimbulkan penyakit. Anda harus rutin selama hampir 1 tahun untuk pengecekkan.
“Bagaimana? Apa anda sudah yakin untuk melakukan operasi penyambungan tangan?” Tanya Isabella serius.
Eva terkejut tidak menyangka hasil nya akan seperti itu.
“Kak, lebih baik tidak usah deh. Aku khawatir bukan nya bagus malah lebih parah nanti.” Ucap Eva memberi saran.
Revand mendengar pendapat dari adik nya yang khawatir pada nya.
“Saya juga menyaran kan tidak usah. Anda sudah bisa menjalani aktifitas anda selama ini kan? Lagi pula bekas luka anda sudah
tertutup, takut nya kalau di buka lagi malah akan lebih buruk.” Ucap Isabella.
Setelah berpikir beberapa saat, Revand membuang nafas nya.
“Sebenar nya aku juga tidak mau, aku harus berhenti merokok ya? Aku tidak bisa jauh dari rokok.” Jawab Revand santai.
Eva dan Isabella malah terkejut dengan jawaban Revand yang lebih mementingkan rokok nya.
“Jadi, bagaimana keputusan nya?” Tanya Isabella serius.
“Bagaimana Va?” Tanya Revand.
“Tidak usah.” Jawab Eva dengan yakin dan singkat.
“Kata adik ku tidak usah. Jadi aku membatalkan nya.” Jawab Revand.
Eva dan Isabella senang dengan jawaban yang di berikan.
“Baiklah kalau begitu.”
“Dokter Isabel, apa saya bisa meminta nomor ponsel anda?” Tanya Eva.
Isabella mengernyitkan dahi nya, merasa heran dengan permintaan wanita itu.
“Siapa tahu kakak ku ini ingin berkonsultasi lagi.” Eva menjelaskan nya lagi.
“Ooohhh…. Baik lah. Ini kartu nama saya, silahkan di simpan.” Isabella memberikan sebuah kartu nama pada Eva dan menyimpan nya.
“Kalau begitu kami permisi dulu.” Revand pamit ingin kembali.
“Iya, tuan Revand.” Jawab Isabella.
Eva dan Revand pergi meninggalkan ruangan Isabella, sementara dokter itu masih mengamati kepergian mereka.
“Ternyata adik nya ya. Aku pikir isteri nya.” Ucap Isabella.
*******
“Kak, kalian jodoh loh…” ledek Eva.
“Maksud nya?” Tanya Revand yang tidak mengerti.
“Ingat gak apa yang aku katakan sebelum nya? Kalau kalian bertemu lagi, berarti kalian berjodoh.” Ucap Eva tersenyum.
“Lucu sekali.” Revand cuek.
“Aku bukan lagi ngelucu.” Gerutu adik nya.
********
Steven sedang mengobati luka Rihana. Dan masih di temani Aris.
“Tidak ada luka serius sih. Hanya memar saja. Di kompres dengan es batu nanti akan pulih sendiri.” Ucap Steven.
“Apa dia tidak memiliki luka dalam?” Tanya Aris.
Steven melihat Aris.
“Luka dalam? Mungkin seperti sakit hati, seperti perasaan sedih, malu.” Jawab Steven santai.
Steven membereskan alat kedokteran nya.
“Kau tidak ke kantor Ris?” Tanya Steven.
“Aku akan ke sana.” Jawab nya.
“Aku dengar Lucifer akan kembali ke Singapura?” Tanya Stev.
“Lucifer?” ucap Rihana dengan suara pelan, merasa aneh dengan nama itu.
“Iya, dia ingin menemani Eva selama masa kehamilan dan melahirkan.”
“Ooohh… kapan?” Tanya Stev lagi.
“Besok. Semua nya sudah di persiapkan. Urusan pekerjaan yang membutuhkan diri nya juga sudah selesai.” Jawab Aris.
“Kau sekarang mau ke mana Rihana?” Tanya Aris serius pada Rihana.
Wanita itu diam.
“Kalau kau tidak keberatan sebaik nya tinggal di tempat ku dulu. Mungkin mantan mu itu akan mencari dan balas dendam pada mu.” Saran Aris.
“Benar itu. Pria psikopat seperti itu tidak akan puas sampai korban nya sekarat sampai mati loh. Beruntung saja Aris lewat, kalau tidak….”
Tambah Steven.
“Kalau kau tidak masalah, aku akan menumpang sebentar di tempat mu.” Ucap Rihana.
“Aku tidak masalah. Kalau begitu aku akan mengantar mu pulang, karena aku akan ke kantor lagi.” Ucap Aris.
Setelah pamit dengan Steven, mereka pergi.
Aris berjalan sendiri di depan Rihana. Rihana melihat postur tubuh pria itu dari bawah sampai keatas.
“Ya Hen?” Aris menerima panggilan telepon dari Hendra.
“Ris, kata tuan Lucifer kau sekarang harus datang ke kantor.” Ucap Hendra.
“Iya, aku akan ke sana.” Jawab Aris dan menutup panggilan nya.
“Rihana, seperti nya aku mau langsung ke kantor, apa kau bisa pulang sendiri?” Tanya Aris berbalik melihat Rihana yang ada di berlakang nya.
“Iya, aku bisa.” Jawab Rihana gugup.
“Kalau begitu kau pulang lah, aku akan pergi dulu.” Ucap Aris.
Rihana menganggukkan kepala nya. Melihat pria yang sudah dua kali menyelamatkan nya itu pergi meninggalkan nya.
Aris segera memanggil taksi, di susul Rihana.
Sebenar nya ada rasa khawatir di dalam hati Rihana untuk bisa pulang sendiri. Tapi dia tidak ingin membebani Aris lagi.
************
“Jadi Revand membatalkan rencana operasi penyambungan tangan Va?” Tanya Cleo yang sedang berada di tempat Eva.
“Iya, aku juga tidak menyetujui nya. Resiko nya besar loh. Tapi tahu gak? Sebelum nya kakak ku sedang berebutan sepatu bayi dengan wanita yang ternyata adalah seorang dokter bedah di rumah sakit.” Eva menceritakan pengalaman nya pada Cleo.
“Apa menurut mu kakak mu atau dokter itu saling menyukai?” Tanya Cleo.
“Aku sih tidak tahu ya. Tapi apa salah nya kalau aku mencoba membantu mereka.” Eva tertawa kecil.
Pelayan datang membawa cemilan dan minuman dingin untuk dua orang wanita yang sedang mengobrol itu.
“Kapan kalian menikah?” Tanya Eva.
“Setelah kau melahirkan. Lagi pula kami tidak terlalu terburu-buru kok. Vicky punya banyak pekerjaan. Apalagi pengambil alih kembali
perusahaan nya yang di rebut paman nya dulu. Aku tidak bisa mengganggu dengan
hal itu.” jawab Cleo.
“Aku mengerti.”