
Feng pergi meninggalkan Lili, diikuti oleh Putri Cariz di belakangnya. Lili melihat putri Cariz dengan mesranya memegang lengan suaminya. Segera tanpa pikir panjang, Lili berteriak ke arahnya.
"Berhenti!"
Keduanya yang mendengar teriakan Lili langsung menghentikan langkah kakinya. Feng melirik ke lengan kanannya. Ia melihat putri Cariz memegang lengan kanannya.
"Lepaskan tanganmu dariku!"
"Kenapa?!"
"Aku bilang lepaskan! Apa kau tidak mengerti?!" bentak Feng dengan mata yang melotot ke arah putri Cariz.
Melihat ekspresi menakutkan itu, Putri Cariz segera melepaskan genggamannya. Ia sangat kesal dan kecewa dengan perubahan sikap Feng akhir-akhir ini setelah ia menikah dengan Lili, saingan terberatnya dalam menaklukkan hati putra mahkota Feng. Feng membalikkan badannya menatap ke arah Lili.
"Ada apa?!"
Lili segera berjalan menuju ke arah mereka berdua.
"Suamiku, kenapa kau membiarkan orang lain memegang lenganmu di depan istrimu?!"
"Bukankah kau sudah melihatnya sendiri. Dia sudah melepaskannya. Adalagi yang ingin kau sampaikan?!"
"Tidak ada."
"Tsk. Dasar cemburuan!"
"Jaga mulutmu putri Cariz! Ini istanaku! Jika kau bersikap seenaknya di sini, segera kau angkat kaki dari sini!"
Putra mahkota Feng pergi meninggalkan putri Cariz dan Lili yang masih berada di tempat itu. Melihat Feng Yu sudah pergi meninggalkan mereka, putri Cariz membalikkan badannya dan berjalan menghampiri Lili. Dengan raut wajah yang penuh amarah, ia melayangkan tamparan ke arahnya. Namun, berhasil ditahan oleh Lili. Dengan sekuat tenaga putri Cariz berusaha lepas dari genggaman tangan Lili.
"Kau!?! Berani sekali menahan seranganku?!"
"Kenapa tidak?! Apa aku harus rela menerima tamparanmu itu?!" ucap Lili sambil mencengkram keras tangannya.
"Dasar j*lang! Jika bukan karena dekrit pernikahan yang dikeluarkan oleh raja, aku dari dulu sudah menikah dengannya. Kau hanya beruntung saja!"
"Kau benar. Aku hanya beruntung saja. Jika kau menginginkan dia kembali kepadamu, kenapa tidak kau bujuk saja dia. Siapa tahu dia tertarik kepadamu?!" ucap Lili sambil melepaskan tangan putri Cariz dari cengkeramannya.
"Kau!! Brengsek, tidak kusangka kau masih bisa menggunakan sedikit kekuatanmu!" ejek Putri Cariz.
"Apa maksudmu?!"
"Apa maksudku?! Kau ini bodoh atau sengaja mengujiku?!"
"Apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti."
"Hahaha. Ternyata begitu rupanya. Jadi selama ini kau tidak tahu, kalau kekuatanmu sedang ditekan saat kau sedang berada di dalam istana?!"
"Apa??!"
"Jadi benar dugaanku selama ini. Kekuatan di segel saat aku sedang berada di dalam istana?! Lalu siapa yang menekan kekuatanku dan menyegelnya di dalam istana?!" batin Lili.
"Kenapa diam saja?! Kau kaget ya mendengar hal ini?!"
"Humph. Sepertinya kau tahu banyak tentangku?!"
"Aku?! Cuih, siapa juga yang ingin mengetahui dirimu?!"
"Benarkah?! Lalu darimana kau tahu informasi mengenaiku?!"
"Hahaha! Itu karena aku sangat mengenal dekat suamimu daripada kau, yang menjadi istrinya!" sindir putri Cariz.
"Kalau begitu, kenapa bukan kau saja yang menjadi istrinya?!"
"Kau?! Humph!"
Putri Cariz segera meninggalkan Lili. Ia pergi dengan perasaan penuh amarah diwajahnya. Ia ingin mencakar wajahnya, namun ia teringat akan perkataan yang diucapkan oleh putra mahkota Feng. Melihat putri Cariz pergi meninggalkan dirinya, Lili merasakan tubuhnya sangat lemas dan jatuh duduk di atas tanah. Ia tak menyangka, ada seseorang di dalam istana yang tega menekan kekuatannya. Ia teringat akan nasihat sahabatnya, pangeran Sirzechs. Ia mengingat sangat jelas perkataannya yang diucapkan di telinganya. Pangeran Sirzechs mengatakan kepadanya, untuk berhati-hati kepada adik tirinya. Lili awalnya tidak mempercayai perkataan yang diucapkan oleh pangeran Sirzechs kepadanya. Ia terus mengabaikan hal itu. Hingga kali ini, dia ingin mencoba membuktikan perkataan yang diucapkan oleh sahabatnya, pangeran Sirzechs kepadanya. Ia segera berusaha bangkit, memapah dirinya sendiri. Melihat Lili yang berusaha untuk bangun, Hana yang kebetulan lewat, langsung membantunya berdiri.
"Hana, apa yang kau lakukan di sini?!"
"Aku sedang mencarimu, putri. Dan kebetulan melewati tempat ini, dan tanpa sengaja melihatmu duduk bersimpuh di atas tanah. Jadi aku segera berlari kemari untuk membantumu."
"Mencariku? Ada apa?!"
"Begitu ya."
"Putri, sekarang kau ingin pergi kemana? Biar aku yang mengantarmu."
"Terima kasih Hana. Maaf sedikit merepotkanmu lagi. Bantu aku kembali ke dalam kamarku."
"Baik putri."
Hana segera membantu memapah Lili sampai ke dalam kamarnya. Beberapa saat kemudian, keduanya sampai di dalam kamar. Hana membantu Lili duduk di atas ranjang kasurnya. Setelah itu, ia segera menutup pintu kamar Lili dan kembali menuju ke arah Lili. Ia melihat Lili yang sedang membaringkan tubuhnya di atas kasurnya, sedikit pucat dari biasanya.
"Ada apa kau menatapku seperti itu, Hana?" tanya Lili kepada Hana yang terus menatapnya.
"Putri, kau terlihat sedikit pucat dari biasanya." jawab Hana dengan nada lirih.
"Pucat? Aku hanya kurang tidur saja dalam beberapa hari ini."
"Putri, apa kau yakin... kau hanya kurang tidur saja? Apa tidak ada yang lainnya?!"
"Hana. Berhenti memanggilku dengan sebutan putri."
"Maaf putri, tapi ini perintah yang mulia pangeran Sirzechs."
"Apa? Dia sendiri yang memerintahkan kau untuk memanggilku dengan sebutan putri?!"
" Iya benar putri."
"Apa alasannya?!"
"Karena sebentar lagi, beliau akan segera dinobatkan menjadi raja. Jadi, beliau memintaku memanggilmu dengan sebutan putri. Untuk membiasakan diri memanggilmu putri atau ratu di masa depan." terang Hana kepada Lili.
"Humph, begitu ya."
"Hana, aku butuh sedikit bantuanmu."
"Apa itu putri?!"
"Tolong bantu aku untuk mencari tahu, siapa yang menekan kekuatanku di dalam istana ini?"
"Apa??!! Kekuatan putri, ditekan oleh seseorang yang berada di dalam istana ini?! Itu artinya, kau tidak bisa menggunakan kekuatanmu di dalam istana?!"
"Ya. Tidak hanya itu. Bahkan diluar istana pun, kekuatanku semakin melemah. Menurutmu, bukankah itu hal yang sangat aneh?!"
"Ya. Sangat aneh dan mencurigakan. Apa?! Keterlaluan sekali! Tapi, siapa yang tega melakukan hal itu kepadamu putri."
"Aku tidak tahu. Satu hal yang pasti, orang itu... pasti sangat membenciku!!!"
"Putri." kata Hana dengan ekspresi sedih di wajahnya.
"Huff. Hana, tolong rahasiakan ini dari siapapun, keluargaku termasuk Yang Mulia putra mahkota Feng.
"Kenapa putra mahkota Feng tidak boleh mengetahui hal ini putri? Bukankah dia suamimu?!"
"Aku tidak ingin merepotkan dia. Lagipula, ada banyak musuh di dalam selimut. Jadi kita harus waspada jika ingin kita hidup. Kau harus mengingat ini Hana!"
"Baik putri."
"Satu lagi Hana."
"Iya putri."
"Maaf, kedepannya... aku sedikit merepotkanmu. Tolong, tetaplah berada di sampingku. Aku sekarang sangat menyedihkan."
"Tidak putri. Kau tidak terlihat seperti itu. Aku akan selalu menemanimu, putri."
"Terima kasih Hana. Kau boleh pergi beristirahat.
"Baik putri."
Hana segera pergi meninggalkan Lili yang sedang berbaring di atas kasurnya. Kini, ia sendirian di dalam kamar. Lili sejenak berpikir, siapa yang tega melakukan hal ini kepadanya.
"Sebenarnya, apa salahku? Dan kenapa dia melakukan hal ini kepadaku? Aku penasaran, siapa orangnya yang tega melakukan hal ini kepadaku!" batin Lili sambil mengepalkan kedua tangannya