PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
200 Tahun (Benci Dan Cinta 5)


Di Hutan Kematian


"Kau yakin Lili?"


"Aku yakin ayah. Kau dan ibu cukup berdo'a dan tenang saja. Oke?"


"Mana bisa aku tenang!"


"Ibu..."


"Sayang, kita harus percaya dengan anak gadis kita. Semuanya akan baik-baik saja. Kita hanya perlu berdo'a dan percaya padanya."


"Iya ibu. Kakak pasti pulang dan berkumpul dengan kita semua, ya kan kak?"


"Tentu saja adikku."


"Hihihi."


"Baiklah. Tolong jaga dirimu nak. Kami disini mendo'akan keselamatanmu."


"Terima kasih ayah, ibu, adik. Aku pasti kembali."


Lili pun mencium kedua tangan orang tuanya secara bergantian dan sekaligus berpamitan kepada mereka. Tak lupa ia juga berpamitan kepada adik laki-lakinya, sambil mencium keningnya.


"Kau jangan nakal ya. Jaga ayah dan ibu untukku."


"Baik kakak. Kakak juga, jaga dirimu dan cepat pulang."


"Iya."


Lili pun berbalik dan berjalan meninggalkan mereka. Ia berjalan menghampiri Raja beserta Permaisurinya, Putra mahkota dan Tetua Menzy. Tak lupa juga ia mengucapkan salam sambil memberi hormat. Lili tak menyangka bahwa hari ini akan dihadiri oleh Raja beserta keluarga kerajaan, Para Guru dan juga teman-temannya. Lili berpikir, bahwa ini hanyalah sebuah tantangan biasa yang hanya akan dihadiri oleh Tetua Menzy dan Putra mahkota. Siapa sangka bahwa Raja juga ikut andil untuk menjadi saksi pada tantangan kali ini. Ini bukanlah ujian, tapi sebuah tantangan. Tantangan dari seorang murid kepada Guru besar yang dimatanya sudah tidak dianggap sebagai guru karena tidak bisa memberi keadilan baginya. Entah ini untuk mempermalukannya atau trik jahat lainnya yang diperankan oleh dalang yang bersembunyi di balik adegan.


"Salam Yang Mulia Raja dan Ratu. Salam Yang Mulia putra mahkota. Salam Guru besar." ucap Lili sambil membungkuk memberi hormat


"Bangunlah."


"Terima kasih Yang Mulia."


"Baru kali pertama, ada seseorang yang memberanikan dirinya masuk ke dalam Hutan Kematian ini. Seperti yang kita semua ketahui, bahwa Hutan Kematian ini terkenal memakan orang. Bahkan, penyihir berbakat dan terkuat di negeri ini, tidak ada satupun yang berhasil menerobos masuk ke dalamnya. Dan kau, berani melakukannya. Apa kau tidak takut nyawamu menjadi taruhannya?!"


"Menjawab Yang Mulia. Maaf atas kelancangan hamba. Hamba melakukan ini, karena guru besar tidak bisa memberikan keadilan bagi saya."


"Keadilan?"


"Iya Yang Mulia."


"Keadilan macam apa yang kau maksud?"


"Beliau membela Putri Cariz yang jelas-jelas melakukan kesalahan terlebih dahulu kepadaku. Putri Cariz memprovokasi aku untuk bertindak kasar kepadanya. Sayangnya, tindakan dia tidak berhasil. Karena itu, ia menghancurkan mejaku dan berbalik menuduh aku menganiayanya. Tidakkah tindakan itu tidak adil Yang Mulia?"


"Hmm..."


"Yang Mulia, mohon ampun. Tetap tindakan dia sebagai murid juga salah. Dia dengan berani menantang hamba yang tidak lain adalah gurunya."


"Cukup! Nasi sudah menjadi bubur. Kau juga salah, Lili. Kau tahu Tetua Menzy adalah guru besarmu. Seharusnya kau menghormatinya!"


"Hamba sudah menghormati beliau, Yang Mulia. Tapi, beliau tidak memberiku keadilan. Hamba merasa perilaku ini tidak adil. Apa hamba salah?"


"Sudahlah. Tak perlu berdebat lagi. Sekarang karena kau sudah menantang Tetua Menzy dan menginginkan hak otoriter hukumannya berada di tanganmu, jika kau berhasil keluar dari hutan kematian ini, kenapa tidak langsung saja kita mulai? Aku juga tidak sabar melihat, apakah kau... yang seorang gadis kecil ini, mampu menaklukkan hutan yang sangat terkenal ini?! Bahkan, tetua terdahulu tidak mampu menaklukkan hutan ini. Apa kau yakin bisa melakukanya?!"


"Bagus! Jika kau berhasil keluar dengan selamat, tidak hanya hak otoriter hukuman milik Tetua Menzy saja yang bisa kau milikki. Tetapi, aku juga akan memberikanmu sebuah hadiah. Tapi, jika kau gagal, kau akan ku beri hukuman. Yaitu, pergi mengasingkan diri dan jangan pernah kembali. Kau tidak diizinkan menginjakkan kakimu di negeri ini dan kau juga dikeluarkan dari sekolah ini!"


"Yang Mulia!" teriak ayah Lili


Mendengar sang anak akan diberi hukuman mengasingkan diri dan tidak diizinkan menginjakkan kakinya di negeri ini, sebagai ayah, ia tidak terima anaknya diperlakukan tidak adil. Ia pun berlutut di barisan depan, membelakangi Lili, anaknya.


"Ampun, Yang Mulia. Maaf atas kelancangan hamba. Tidakkah ini terlalu berlebihan?"


"Berlebihan katamu? Apa kau sedang mengguruiku?!"


"Hamba tidak berani."


"Kalau begitu, kau terima saja kenyataan ini. Lagipula, aku lihat... anakmu menerima hal ini dengan ikhlas. Benarkan, Lili?"


"Lili!" bisik ayah sambil menoleh ke belakang melihat ekspresi anak gadisnya.


"Ayah, aku baik-baik saja. Aku tidak akan mengecewakanmu. Terima kasih sudah memohon untukku."


"Anak yang manis. Sungguh beruntung kau memilik seorang anak gadis yang sangat manis dan penurut. Bagaimana menurutmu, anakku? Tidakkah kau tertarik menjadikan dia sebagai selirmu?!" tanya Raja sambil melirik ke arah Putra kesayangannya, Putra mahkota.


"Selir?" batin Lili


Dengan wajah angkuhnya, ia melihat ke arah Lili dan berpaling saling berkata, "Gadis seperti ini apa pantas untuk aku jadikan selir ayah?!"


"Hahahaha... jangan diambil hati Lili. Dia hanya bercanda."


"Hamba mengerti, Yang Mulia."


"Bagus-bagus. Aku semakin menyukaimu!"


"Ayah, tidakkah kau berpikir bagaimana perasaan ibu?"


"Hahahaha... aku hanya menyukainya sebagai anakku saja tidak lebih. Sayangnya, kau tidak menyukainya. Dasar anak bodoh!"


"Sayang, jika ananda tidak menyukainya, kau tidak boleh memaksanya."


"Ya... ya... aku mengerti. Lili, kau boleh pergi sekarang. Aku menantikan kepulanganmu."


"Raja ini, apa dia sengaja menghinaku di depan umum!" batin Lili


"Sebelum hamba undur diri, bolehkah hamba berpamitan kepada keluarga hamba, Yang Mulia?"


"Tentu saja. Silahkan."


Lili pun berdiri dan berjalan menghampiri ayahnya. Ia mencium tangan kanannya ayahnya dan berpamitan, kemudian dilanjut berpamitan ke ibunya dan adiknya. Karena di sekolah, Lili tidak mempunyai teman, maka ia tak perlu berpamitan kepada teman-teman sekelasnya yang hadir sekarang. Setelah berpamitan dengan keluarganya, Lili berpamitan undur diri kepada Raja beserta permaisurinya juga putra mahkota. Lili pun berbalik dan berjalan menuju hutan kematian. Bulu kuduknya mulai berdiri saat ia berhenti di depannya. Lili memejamkan kedua matanya lalu membukanya secara perlahan. Entah ini baik atau buruk pilihan yang ia pilih, tapi ia tak bisa mundur kembali lagi. Ia tak ingin mencoreng nama baik keluarganya. Ia tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Namun, apa yang bisa ia lakukan sekarang. Meridiannya telah dirusak oleh seseorang yang dianggap agung dan hormat, yang tak lain adalah guru besarnya, Tetua Menzy. Ia merasa, bahwa tak ada satupun orang yang mempercayainya. Hanya keluarganya yang mempercayainya. Sampai ia mendengar seseorang memanggil namanya dari belakang. Ia menoleh dan dilihatnya Guru Rey tersenyum kepadanya. Guru Rey berjalan menghampirinya dan memberikan sekantung obat herbal kepadanya.


"Lili, bawa ini. Mungkin hanya ini yang bisa aku berikan kepadamu. Tapi, guru yakin... kau akan membutuhkannya."


"Terima kasih guru Rey."


"Satu lagi, hati-hati dan segera kembali. Jika, sekolah ini tidak menerimamu lagi, aku akan menjadi tempat untukmu belajar. Dan jika negeri ini tidak menerimamu lagi, akan ada tempat yang indah yang mau menerimamu. Tapi ketahuilah bahwa tempat itu hanyalah keluargamu dan aku, gurumu."


"Terima kasih guru Rey. Terima kasih." kata Lili sambil mencium punggung tangan kanan guru Rey dan berpamitan kepadanya.


Lili pun berbalik dan melangkah masuk ke hutan kematian. Beban di hatinya perlahan sirna. Ternyata bukan hanya keluarganya saja yang mempercayainya, tapi gurunya, guru Rey. Guru terbaik dan tak pernah terganti di hatinya. Lili melangkah masuk seolah tak memikirkan bahaya yang mengintainya. Hutan kematian seolah tertawa menantikan sebuah mangsa masuk dengan sendirinnya. Punggung Lili perlahan menghilang seolah di telan sesuatu. Guru Rey mencoba mendekat masuk ke hutan kematian, tapi ia terpental menjauh, seolah ada dinding pembatas yang tak terlihat.


"Lili, semoga kau baik-baik saja." batin Guru Rey