
Boom!!! Blam!!!
Suara ledakan dan petir menggema menjadi satu di udara. Berusaha memecahkan pelindung yang dibuat oleh Lili. Melihat kerumunan orang yang berusaha menghancurkan pelindung itu, membuat tangan Raja Elf menjadi gatal ingin meremas dan mengoyak tubuh mereka.
"Yang Mulia, orang-orang ini sangat keras kepala! Bagaimana jika aku menyingkirkan mereka?!"
"Tidak perlu."
"Kenapa? Bukankah pemandangan ini hanya akan merusak matamu, Yang Mulia?!"
"Memang. Tapi kau tak perlu untuk turun tangan sendiri. Aku tidak ingin kau mengotori tanganmu sendiri, karena makhluk-makhluk sampah ini!"
Mendengar Lili mengatakan perkataan yang sangat kasar, hati Krisan menolak percaya. Ia tak menyangka bahwa orang yang berada di depannya ini masihlah Lili yang ia kenal dulu. Ia merasa asing dengan sikap Lili yang sekarang. Seolah itu bukan dirinya.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Yang Mulia?!"
"Menonton pertunjukkan. Aku ingin tahu, sampai mana kegigihan mereka."
"Yang Mulia, ini hanya akan memakan waktumu saja. Bukankah hanya dengan membereskan mereka, itu akan mempersingkat waktu kita. Lagipula, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepadamu, Yang Mulia."
"Tentang apa?!"
Mendengar pertanyaan Lili, Raja Elf terdiam sambil melirik ke arah Krisan. Melihat Raja Elf tidak mengatakan apapun kepadanya karena kehadiran seseorang, Lili mengerti dan tidak menanyakan kembali.
"Baiklah. Aku mengerti. Jika kau sanggup membereskan mereka dan menyisakan satu diantara mereka untuk aku intrograsi secara pribadi, aku akan melakukan apapun yang kau inginkan."
"Lili! Kau itu bodoh ya?! Kenapa kau mengatakan hal itu?! Kita bahkan tidak tahu apa yang akan dia lakukan kepada kita?!"
"Jaga sopan santunmu berbicara dengan Yang Mulia!!!"
Mendengar Raja Elf membentaknya, Krisan langsung terdiam tanpa kata. Lili yang melihat kejadian itu, langsung mencairkan suasana yang tegang ini.
"Krisan, tidak ada yang perlu untuk ditakutti. Mereka secara fisik memang sangat unik, tapi mereka sangat baik dan tulus. Ingat, jangan memandang mereka dengan sebelah mata. Terlebih fisik dan penampilannya. Sebagian orang hanya melihat dari fisik dan penampilannya saja. Tapi tidak dengan hatinya. Ada yang penampilannya polos, kalem, sok-sokan. Tapi, hatinya tidak jauh beda seperti iblis!"
Krisan mengangguk pelan.
"Apa kau mengerti sekarang?!"
"Ya. Aku mengerti. Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?!"
"Tentu saja membereskan serangga yang ada di depan mata!!!" teriak Raja Elf dengan penuh semangat sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Serangga?!"
Krisan menoleh dan melihat beberapa kerumunan orang yang berada di luar sedang sibuk mengerahkan seluruh tenaga, dan kemampuan sihirnya hanya untuk ingin menghancurkan pelindung itu. Namun sayangnya, usaha mereka sia-sia. Tak ada keretakan di dalamnya. Hal ini semakin membuat Krisan semakin penasaran dengan identitas Lili sebenarnya. Ia mengalihkan pandangannya dan menatap Lili dengan penuh perhatian. Merasa ada seseorang yang menatapnya, Lili pun menoleh dan tersenyum kepada Krisan.
"Ada apa?"
"Tidak. Tidak ada apa-apa?"
"Lalu kenapa kau terus menatapku , Krisan?!"
"Anu... sebenarnya aku..."
"Stop! Kita lanjutkan nanti setelah kita mengakhiri pertarungan yang membosankan ini. Raja Elf, apa kau sudah siap?!"
"Tentu saja Yang Mulia. Hamba sudah siap."
"Bagus! Segera lakukan. Dan ingat, jangan mengecewakan seluruh rakyatmu!" kata Lili sambil menunjuk ke arah para elf yang berdiri di sisi lain.
Tampak jelas ekspresi di wajah mereka, bahwa mereka berharap raja mereka kembali dengan selamat.
"Rakyatku, aku sangat menghargai dan beruntung memiliki kalian disisiku. Akan teapi, kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku. Bantu aku dengan do'a dari kalian semua. Agar kita semua bisa menolong teman-teman kita yang diculik dan pulang bersama-sama dengan selamat!"
"Ya!!? Hidup Raja!!! Hidup Raja!!"
"Hati-hati."
"Terima kasih Yang Mulia."
Raja Elf langsung terbang ke atas dan menembus keluar dari pelindung yang dibuat oleh Lili. Begitu keluar, ia dihujani ribuan sihir, dan mantra yang ditujukan kepadanya untuk melukai tubuhnya. Ia sudah menduganya bahwa hal ini akan terjadi, begitu ia keluar menembus pelindung yang dibuat oleh Lili. Ia sudah menyiapkan antisipasi akan hal ini. Dengan cepat ia melesat maju seperti kilatan cahaya ke arah pria yang memimpin orang-orang ini untuk menghancurkan pelindung itu. Gerakan yang sangat cepat dan tanpa disadari oleh pria yang memimpin orang-orang itu, langsung terdiam melihat lehernya di cekik dari belakang oleh seseorang.
"Suruh mereka berhenti sekarang?! Jika tidak!" ancam Raja Elf sambil mencekik leher pria itu dengan keras. Sehingga membuat pria itu berteriak kesakitan, dan membuat kerumunan orang-orang yang ia pimpin langsung kaget dan menoleh ke arahnya.
"Hentikan! Berhenti!!!" teriak pria itu kepada kerumunan orang-orang itu.
Mendengar perintah itu, semua kerumunan orang-orang yang berada di bawah perintahnya, langsung berhenti seketika. Mereka semua tidak lagi menyerang pelindung itu. Melihat hal ini, Raja Elf memberi isyarat kepada Lili untuk menghilangkan pelindungnya. Lili yang melihatnya, langsung menghilangkan pelindungnya. Ia tersenyum kepada Raja Elf.
"Memang pantas dia menjadi seorang Raja." batin Lili.
..."Jangan bergerak!" teriak Tang kepada pria itu sambil mencekik lehernya dengan keras....
"Uhuk... uhuk… uhuk... to...tolong aku!"
"Raja. Jangan mencekiknya terlalu keras. Kalau dia mati, aku tidak bisa bertanya kepadanya." kata Lili sambil berjalan mendekatinya.
Raja Elf melonggarkan cengkeramannya pelan-pelan kemudian ia lepaskan. Ia mendorong pria itu hingga jatuh tersungkur di atas tanah. Pria itu masih terbatuk-batuk sambil memegang lehernya yang masih terasa sakit.
"Kau...!
"Ada apa? Apa kau kaget melihatku?!"
"Dasar wanita j*lang?! Beraninya kau memperlakukan aku seperti ini?!"
"Memangnya siapa kau?!"
"Aku... aku adalah orang kepercayaan raja! Aku pastikan kau akan mati membusuk, kesepian!"
Mendengar pria itu mengejek Lili dengan seenaknya, Raja Elf langsung menghajar pria itu hingga wajahnya tak berbentuk lagi. Melihat tindakan brutal Raja Elf, Lili memintanya untuk berhenti.
"Raja, berhenti memukulinya. Aku belum selesai bertanya kepadanya."
"Maaf Yang Mulia, aku terlalu emosi melihat dia menghinamu dengan seenaknya!"
"Terima kasih sudah membelaku. Kau menyingkirlah dari sana!"
Raja Elf mengangguk pelan. Ia mengambil beberapa langkah mundur kebelakang.
"Sekarang aku ingin bertanya kepadamu. Tolong jawab dengan jujur. Dimana kau menyembunyikan mereka semua?!"
"Aku tidak tahu!"
"Benarkah?!"
"Ya."
"Yakin??"
"Tentu saja!"
"Apa kau tidak takut aku bertindak kejam, karena kau berani membohongiku?!"
"Tidak! Lakukan saja metode apa saja yang kau punya, aku tidak terkejut. Kau tidak akan mendapatkan informasi yang kau inginkan!!"
"Sungguh anjing yang setia! Aku salut padamu!!"
"Sudah! Jangan bertele-tele. Lakukan saja. Kenapa masih diam saja."
"Diam?! Konyol, hahaha! Kau pikir aku tidak bisa memaksamu untuk mengatakan hal yang sebenarnya?! Kau terlalu memandang rendah lawanmu!!"
Hanya dengan menjentikkan jari kanannya, muncullah dua wanita dari belakang Lili. Mereka berdua adalah hantu wanita muda yang meninggal akibat mengalami kecelakaan saat ia masih muda.
"Kau lihat! Kau tahu bukan, mereka bukan manusia? Tapi hantu. Aku memanggil mereka kesini untuk membantuku. Membantu mengkebiri kau! Bagaimana? Apa kau siap dengan adegan pemutusan garis keturunan??!"
"Kau pikir aku takut?!"
Melihat wajah sombong pria itu, Lili langsung memberi isyarat kepada kedua hantu wanita itu untuk menjatuhkannya dan memegang kedua kakinya dan meluruskannya. Kedua hantu wanita itu langsung melaksanakan perintah yang diberikan oleh Lili. Merasa dirinya terpojok, pria itu berteriak meminta tolong!
"Ja... jangan... jangan!!! Baik-baik aku akan beritahu!! Tolong, suruh mereka pergi dari hadapanku?!?"
"Seharusnya dari awal kau mengatakannya! Buang-buang waktuku saja!" kata Lili sambil memberi isyarat kepada kedua hantu wanita itu untuk berhenti dan mundur. Kedua hantu wanita itu kembali ke sisi Lili. Lili menyayat pisau ke telapak tangannya. Darah mengalir dari telapak tangan Lili menuju sela-sela jari tangan Lili. Lili mengunci darahnya yang mengalir dengan kekuatannya. Ia mengucapkan mantra dan memberikan setetes darahnya yang sudah berubah menjadi sebutir pil obat kepada kedua hantu wanita itu. Kedua hantu wanita menerimanya dengan senang hati.
"Ambillah. Terima kasih kerjasamanya. Kalian boleh istirahat."
Kedua hantu wanita itu mengangguk pelan secara bersamaan. Lalu keduanya pergi dan menghilang dengan sendirinya. Melihat hal itu, Krisan semakin percaya bahwa Lili yang ia lihat sekarang, bukanlah Lili yang ia kenal dulu.
"Cepat katakan! Dimana mereka!"
"Mereka ada di penjara kota."
"Penjara kota?!"
"Ya "
"Kalau begitu, antarkan kami kesana!"
"Yang benar saja! Jika hanya 2 - 3 orang aku bisa maklumi. Kalau semuanya? Apa kau ingin membuat kekacauan?!"
"Benar!!! Raja, aku serahkan dia kepadamu. Aku ingin istrahat."
"Terima kasih Yang Mulia. Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan membiarkan orang ini melarikan diri."
"Bagus. Jika dia berani melarikan diri dan membohongimu. Bunuh dia, kuras darah dan dagingnya. Kau tahu Raja, dia masih perjaka. Darah dan dagingnya akan membuatmu awet muda."
"Kau benar Yang Mulia.. Terima kasih."
"Tidak! Tidak! Aku sudah jujur. Aku tidak akan membohongimu! Sumpah!"
"Biar Raja Elf sendiri yang akan menentukan kau jujur atau tidak." kata Lili sambil berlalu pergi dan diikuti Krisan dari belakang.
Melihat Lili dan Krisan pergi, pria itu menatap ke arah Raja Elf. Ekspresi wajahnya sangat menyedihkan dan ketakutan.
"Kau dengar apa yang dikatakan oleh Lili barusan?! Sekarang antar aku pergi ke tempat dimana kalian menyembunyikan wargaku!"