
"Aku..."
Belum sempat melanjutkan perkataannya, Putri Cariz memotong pembicaraannya.
"Ah... maaf Yang Mulia. Aku yang meminta dia menemaniku di sini."
Mendengar pernyataan Putri Cariz, Lili merasa bahwa kehadirannya tidak diperlukan lagi. Dan kebetulan, Shion datang bersama kelima pelayan yang membawa beberapa makanan di atas nampan mereka.
"Yang Mulia. Jamuan sudah siap. Mau diletakkan dimana?"
"Letakkan saja disana." Kata Pangeran Sirzechs sambil menunjuk meja bundar yang terbuat dari batu giok putih.
Kelima pelayan itu mengangguk dan berjalan bergantian menata makanan yang mereka bawa masing-masing di atas meja. Kelima pelayan itu pamit di hadapan pangeran Sirzechs. Pangeran Sirzechs membalasnya dengan anggukan lembut.
"Jamuan makan sudah dihidangkan. Mari kita makan bersama. Lili, maaf merepotkanmu lagi. Bisakah kau membantuku mendorong kursi rodaku kesana?"
"Ya Yang Mulia."
Lili pun mendorong kursi roda pangeran Sirzechs ke meja makan. Pangeran Sirzechs dibantu berdiri dan berjalan ke tempat duduknya oleh Shion. Putra mahkota Feng dan Putri Cariz langsung mengambil tempat duduk yang berdampingan. Melihat Lili yang masih berdiri di sebelah kursi rodanya, Pangeran Sirzechs menegurnya.
"Lili, kenapa kau masih berdiri di sana? Duduklah bersama kami." pinta Pangeran Sirzechs.
Melihat hanya ada satu kursi di sebelah pangeran Sirzechs, Lili merasa ragu-ragu untuk mendudukinya. Ia melihat putra mahkota Feng dan putri Cariz duduk berdampingan. Seolah tidak ingin suasana menjadi canggung, Lili pun berpamitan kepada pangeran Sirzechs.
"Yang Mulia, aku minta maaf. Aku tidak bisa menikmati jamuan yang sudah kau persiapkan untuk kami."
"Kenapa? Apa kau tidak menyukainya? Jika kau tidak menyukainya, aku akan meminta pelayan dapur untuk menggantikannya sesuai seleramu. Atau mungkin kau menginginkan yang lain, katakanlah."
"Tidak Yang Mulia. Terima kasih. Aku hanya ingin pamit undur diri."
"Kenapa?"
"Maafkan aku Yang Mulia. Aku ingin beristirahat. Aku terasa badanku sedikit tidak enak."
"Kalau kau merasa tidak enak badan, istirahatlah di kamar tamu. Aku yakin, di kediaman kakakku ini, pasti ada kamar untuk tamu bukan?"
"Ahaha... tentu saja ada. Bagaimana Lili? Apa kau ingin beristirahat di kamar tamuku?"
"Terima kasih Yang Mulia atas tawarannya. Mohon maafkan aku Yang Mulia. Aku ingin beristirahat di rumah."
"Kau!!!"
"Tenangkan dirimu Feng. Lagipula sebentar lagi kalian berdua akan menikah bukan. Jadi wajar jika Lili ingin menghabiskan waktunya bersama keluarganya, sebelum dia menikah."
"Terima kasih atas pengertian Yang Mulia."
Pangeran Sirzechs membalasnya dengan anggukan kepala.
"Humph!" sahut putra mahkota Feng dengan wajah cemberut.
"Baiklah jika kau menginginkan hal itu. Aku tidak akan memaksamu untuk tinggal disini. Tapi, akan terlihatlah sangat tidak pantas jika aku tidak mengantarkan tamuku pulang dengan selamat. Aku akan memerintahkan pengawal pribadiku untuk mengantarkan kau kembali ke rumahmu."
"Kakak tidak perlu repot-repot. Aku yang akan mengantarkannya pulang ke rumah."
"Tidak perlu merepotkan Yang Mulia Pangeran Sirzechs dan putra mahkota. Aku bisa pulang sendiri."
"Apa maksudmu?!"
"Aiyaa... Feng. Tidakkah kau mendengarnya dengan jelas. Jika LIli tidak ingin diantarkan oleh siapapun?"
"Kau memanggilku apa?!" tanya putra mahkota Feng dengan nada sinis ditambah dengan ekspresi wajahnya yang sangat menakutkan.
"Ya... Yang Mulia putra mahkota Feng."
Seketika suasana tiba-tiba menjadi hening. Putra mahkota Feng menatap Lili dengan tatapan yang sangat tajam, seolah ia ingin meluapkan emosi kepadanya.
"Yang Mulia, aku pamit undur diri."
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati dijalan."
"Apa yang kau tertawakan kak?"
"Tidak ada. Makanlah."
"Ayo Yang Mulia Putra mahkota Feng, kita makan. Sayang sekali jika tidak dimakan. Kakakmu sudah menyiapkannya untuk kita. Kita sebagai tamu, harus menghormatinya."
"Terima kasih atas perhatiannya Putri Cariz."
"Sama-sama Yang Mulia."
"Putri Cariz, kenapa kau tidak memberitahuku jika kau datang kemari?"
"Maaf, aku lupa Yang Mulia."
"Oh."
"Kakak, aku dengar dari ayah... kau ingin membatalkan pernikahanmu. Apa itu benar?"
Bagai disambar petir di siang bolong. Baik pangeran Sirzechs dan Putri Cariz terkejut mendengar perkataan diucapkan oleh Putra mahkota Feng. Dengan tenang, pangeran Sirzechs menjawabnya sambil tersenyum.
"Kau memang anak kesayangan ayah."
"Kau juga."
"Ehem, Yang Mulia Pangeran Sirzechs... apa aku boleh bertanya sesuatu kepadamu?"
"Katakan."
"Apa benar yang dikatakan oleh putra mahkota Feng itu? Kau ingin membatalkan pernikahanmu?"
"Bukankah kau juga senang mendengarnya?"
Mendengar jawaban pangeran Sirzechs, putri Cariz tidak bisa berkata apa-apa. Ia tertunduk malu sambil memainkan garpu yang ada ditangan kanannya.
"Cariz, apa yang dikatakan kakakku itu benar?"
"..."
"Cariz, kenapa kau diam saja?! Jadi kau juga setuju, kalau pernikahanmu dibatalkan sepihak?!"
Brakkk!!! (suara Cariz membanting garpu ditangannya diatas meja)
"Kalau aku setuju pernikahanku dibatalkan, apa yang akan kau lakukan?!"
Mendengar Putri Cariz mempertanyakan tindakannya itu, pangeran Sirzechs terlihat sangat tenang.
"Itu kan keputusanmu. Lagipula kakak, apa kau begitu yakin jika ayahanda akan menyetujui permintaanmu itu?!"
"Kau tunggu saja. Lagipula, putri Cariz sudah menyetujuinya. Bukan begitu tuan putri?!"
Mendengar pangeran Sirzechs berbalik bertanya tentang pendapatnya, putri Cariz tidak bisa berkata apa-apa. Di sisi lain, ia sangat senang jika pangeran Sirzechs membatalkan pernikahannya dengannya. Dan di sisi lain, ia masih punya kesempatan untuk mendekati putra mahkota Feng. Namun, melihat sikap putra mahkota Feng yang sangat tenang, ketika mendengar kakaknya ingin membatalkan pernikahannya, membuat putri Cariz merasa jika dia terlalu banyak berharap pada sesuatu yang tidak pasti. Suasana yang seharusnya menjadi hangat, harus berubah menjadi keheningan yang dingin mencekam. Melihat suasana hari ini sangat buruk, pangeran Sirzechs mulai berkata untuk mencairkan suasana.
"Sudah... sudah. Kita akhiri saja pembahasan ini. Feng, jika kau merasa kurang puas tentang ini, kau bisa mendiskusikannya kepadaku."
"Tidak perlu. Kakak, apa aku boleh menambah lobster ini untuk aku bawa pulang?" tanya putra mahkota Feng sambil menunjukkan piring yang berisi lobster besar yang dimasak saos asam manis pedas.
Melihat tingkah konyol adiknya, Pangeran Sirzechs mengangguk sambil tersenyum.
"Ambillah jika kau mau. Tapi, ada beberapa hal yang tidak akan pernah aku berikan kepadamu." jelas pangeran Sirzechs.
Mendengar perkataan kakaknya yang bernada sedikit mengancam, putra mahkota Feng menanggapinya dengan senyuman sinis di wajahnya.
"Aku tahu itu. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja!"
Mendengar jawaban adik tirinya, pangeran Sirzechs membalasnya dengan senyuman dingin di wajahnya. Kedua kakak beradik itu saling menatap satu sama lain seperti ada kekuatan yang saling menekan diantara mereka. Sebuah pertikaian yang hanya bisa dirasakan oleh mereka berdua.