
"Hah...hah..."
Sirzechs terbangun dari tidurnya. Keringat bercucuran didahinya. Ia menghela nafas dengan berat. Ia teringat akan mimpinya yang berteriak seolah ingin menghentikan pertarungan sengit itu.
"Ternyata cuman mimpi." sambil memijat pelipisnya
Ia pun turun dari tempat tidurnya lalu berjalan membuka korden warna emas dengan kedua tangannya. Dari balik jendela kaca, ia bisa melihat pemandangan mentari yang bersinar cerah dibalik awan dan suara kicauan burung-burung bertengger di pohon besar rimbun yang berada di sebelah kamarnya. Ia melihat sepasang burung kenari sedang bermadu kasih sambil sesekali berkicau. Kicauannya sangat merdu menambah suasana hangat di pagi hari. Tiba-tiba siluet bayangan muncul dari belakang punggung Sirzechs. Bayangan tersebut adalah pria berjubah hitam dengan corak matahari bersinar berwarna merah di punggungnya. Sirzechs yang mengetahui kedatangannya, hanya terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata. Seolah dirinya sudah menantikan sebuah kata yang keluar dari orang lain. Ia pun berlutut sambil memberi hormat kepada tuannnya.
"Yang Mulia, anda sudah bangun?"
"Bagaimana investigasinya?"
"Menjawab Yang mulia. Gadis itu... dia..."
"Dia kenapa?"
"Hmm... dia mirip dengan Yang Mulia Ratu."
"Apa kau tidak salah lihat?"
"Tidak, Yang Mulia. Hamba tidak salah lihat. Dia benar-benar mirip dengan Ratu."
"Apa kau ingat wajah Ratu yang kita cari?!"
"Ya! Hamba mengingatnya. Menurut informasi yang hamba terima, gadis itu akan mengikuti ujian di Hutan Kematian satu minggu ke depan."
"Hutan kematian?!"
"Ya Yang Mulia. Tidak hanya itu, Raja Iblis pun turun tangan secara diam-diam mengirimkan pengawal rahasia untuk melindunginya."
Mendengar nama itu disebut, darah dalam diri Sirzechs bergejolak. Jantungnya berdegup kencang. Hatinya memanas, kedua alisnya mengernyit, tangan kanannya mengepal kuat, seolah ada kebencian yang tumbuh mengakar selama bertahun-tahun. Perlahan ia melonggarkan kepalan tangannya.
"Tunggu perintahku selanjutnya. Kau boleh pergi sekarang!"
"Terima kasih Yang Mulia."
Dengan secepat kilat, pengawal itu menghilang seperti kilatan cahaya. Merasa kamarnya menjadi sunyi karena kepergian pengawal misterius itu, Sirzechs mengalihkan pandangan ke langit biru yang cerah.
"Raja Iblis?! Tsk, kau dengar itu Ratu? Pria yang kau cintai sekaligus yang menyakitimu mengganti nama dan gelarnya hanya demi dirimu. Konyol! Hahaha!"
Mendengar Raja mereka tertawa keras dari dalam kamarnya, semua pengawal yang berjaga disekitar area istana atau di luar istana, bisa mendengar suara tertawa yang menakutkan dari Raja mereka. Suara tawa itu bukan karena gembira maupun sedih. Lebih dari kebencian yang mendalam.
"Kau dengar itu, Yang Mulia tertawa begitu keras. Apa dia baik-baik saja?!" pengawal 1
"Hustttt...jaga mulutmu! Jika ketahuan hal ini pada Yang Mulia, kau bisa bayangkan apa yang akan terjadi padamu?!" pengawal 2
"Aku tidak...!" pengawal 1
"Cukup! Lebih baik kita diam saja." pengawal 2
...***...
Pagi Hari Di Zwart School
Semua murid berkumpul didepan papan pengumuman. Mereka saling berdesakan satu sama lain untuk melihat berita terbaru hari ini.
"Kenapa ramai sekali di sana Krisan?!"
"Mungkin ada pengumuman penting. Ayo kita kesana Lili!"
"Oke."
Keduanya pun saling dorong mendorong untuk bisa masuk ke dalam kerumunan murid-murid yang masih berdesakan di depan papan pengumuman. Krisan yang berhasil menyerobot masuk barisan murid langsung membaca kertas yang di tempel di papan pengumuman itu. Dengan cepat ia membaca isi pengumuman tersebut sampai pada barisan nama-nama murid yang mengikuti ujian. Betapa kagetnya dia melihat nama Lili dengan nomor urutnya tercetak tebal ada pada barisan nama murid yang paling bawah dan terakhir.
"Aduhhh!" teriak Krisan kesakitan karena dirinya didorong oleh salah satu murid yang masih berdesakan hingga dia terlempar keluar dari barisan.
"Krisan!" teriak Lili sambil berusaha mendorong dirinya untuk keluar dari kerumunan murid yang masih berdesakan. Dengan sigap, ia memapah Krisan yang jatuh tersungkur di atas lantai.
"Iya. Aku baik-baik saja."
"Bagaimana Krisan? Apa yang kau lihat di sana?"
"Pengumuman. Pengumuman Ujian Seleksi Penyihir Berbakat di sekolah kita yang akan diadakan satu minggu ke depan."
"Hah? Ujian Seleksi Penyihir Berbakat?"
"Iya. Setiap tahun sekolah kita mengadakan ujian tersebut untuk mencari murid-murid disini yang mempunyai bakat sekaligus menguji kemampuan sihir yang dimilikinya. Hanya saja..."
"Hanya apa?"
"Hanya saja ujian ini di adakan di Hutan Kematian."
"Hutan Kematian?! Tempat seperti apa itu?!"
"Bagi orang biasa itu hanya hutan belantara biasa seperti pada umumnya. Tapi di negeri ini, hutan itu sangat misterius dan berbeda dengan hutan lain. Konon, hutan itu dulunya di jaga oleh seorang Ratu yang sangat kejam, berdarah dingin. Ia tak segan-segan membunuh siapapun yang melewati hutan itu."
"Benarkah?!"
"Entahlah. Aku hanya mendengar itu dari cerita almarhum kedua orangtuaku."
"Krisan, kau bilang... almarhum kedua orangtuamu?!"
"Iya. Mereka meningal karena melindungiku."
"Apa dulu terjadi pernah terjadi perang?"
"Itu..."
Sejenak ingatan masa lalunya saat dia masih anak-anak sekilas terbayang dalam benaknya. Ingatan dimana dia menangis saat melihat kedua orang tuanya mati di tangan seorang wanita. Wajah wanita itu terlihat samar-samar dalam ingatannya. Namun, ada sesuatu yang masih bisa dia lihat dan ingat dengan jelas saat itu. Yaitu cincin batu berlian berwarna merah berbentuk hati yang di ada di jari manis wanita itu. Tak lama kemudian ingatan tentang masa lalunya sirna saat dia mendengar suara Lili meneriaki namanya sambil menggoncangkan tubuhnya.
"Kau melamun?!"
"Tidak. Hanya teringat kenangan masa lalu. Oh ya Lili, minggu depan kau dan aku juga ikut serta dalam ujian ini."
"Apa?!"
Ruang Guru
"Brakkkk!!!!"
"Apa maksudmu Tuan Leaf?!" tanya Edward
Semua guru yang hadir di ruang guru terdiam melihat Tuan Edward sedang marah.
"Tenangkan dirimu, Tuan Edward." Guru Rey
"Bagaimana aku bisa tenang Guru Rey?! Tuan Leaf membuat pengaturan seperti ini tanpa mendiskusikan dengan kita semua."
"Sudah diputuskan! Aku harap kalian semua mematuhinya!"
"Tuan Leaf, kau tidak bisa melakukan ini?!"
"Kenapa?! Apa karena aku memasukkan murid baru ke dalam daftar nama peserta ujian?!"
"Ya! Tidak hanya permasalahan kau memasukkan Lili ke dalam daftar peserta ujian. Tapi tempatnya?! Tidak bisakah kita mengganti tempat ujiannya? Ditambah, Lili adalah gadis yang dibawa Yang Mulia Raja untuk belajar disekolah kita. Tidak hanya itu, dia baru tiga bulan berada disini. Apa hal ini tidak akan membuat Yang Mulia Raja curiga kepada kita?!"
"Dia tidak akan curiga! Lagipula dia alumni murid berbakat terbaik dari sekolah ini. Sudah sewajarnya jika dia tau prosedur sekolahnya."
"Tapi... Tuan...."
"Cukup! Rapat selesai. Segera persiapkan diri kalian untuk menghadapinya. Bubar semua!"