PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Janji di bawah Senja


Hamparan padang rumput hijau yang dikelilingi oleh pohon-pohon besar rindang dan bermacam-macam bunga menari tertiup angin sepoi. Matahari malu-malu dibalik awan putih. Burung-burung berlomba-lomba bernyanyi saling sahutan. Kelinci-kelinci berwarna putih, coklat, hitam, abu saling berkejaran-kejaran. Ada yang bersenda gurau dengan sesamanya. Di bawah pohon mangga yang besar dan rindang, tidurlah seorang gadis muda yang cantik bertubuh mungil. Angin sepoi-sepoi ditambah cuaca yang cerah dengan hawa sejuk, membuat gadis ini terlelap dalam tidurnya. Bahkan suara jejak langkah seseorang yang berjalan mendekatinya, seolah tidak bisa mengusik ketenangan tidurnya. Sepatu hitam dengan perawakan pria tinggi besar dan jubah berwarna ungu dengan model elegan, membuat penampilannya semakin gagah dan berwibawa. Orang itu tak lain adalah ayah kandung Lili.


"Anak ini! Lili... Lili... ayo bangun!" teriak Ayahnya sambil menggoncangkan tubuh anak gadisnya yang masih tidur nyenyak di bawah pohon.


"Hmm. Eh, Ayah!"


"Apa yang sudah kau pelajari seharian ini?!"


"Tentu saja belajar sihir. Memangnya apalagi Ayah?!"


"Humph! Kau belajar dalam mimpimu?!"


"Ayah, tidak bisa kah kau mempercayaiku?"


"Bagaimana aku bisa mempercayaimu, kalau kau saja tidur-tiduran di sini?! Dan ini yang kau sebut dengan belajar sihir?!"


"Aku lelah Ayah. Tentu saja itu di luar kemampuanku bila aku tertidur karena kelelahan."?


"Pandai kau beralasan. Lebih baik kau jemput adikmu di sekolah sekarang juga!"


"Kenapa? Dia kan bisa pulang sendiri, kenapa harus aku yang menjemputnya?!"


"Apa kau tidak membaca berita baru-baru ini?!"


"Berita apa Ayah?"


"Sudahlah. Kau cepat jemput adikmu."


"Iya... iya."


Dengan malas, Lili terbang menggunakan burung kertas miliknya. Dari atas ia melihat segerombolan anak seusia adiknya sedang berkumpul di depan gerbang sekolah menunggu jemputan. Lili pun mengarahkan burung kertasnya untuk mendarat ke bawah. Sesuai perintahnya, burung kertas itu mendarat tepat di depan pintu gerbang. Melihat kakaknya datang menjemputnya, ia tertawa girang. Segera petugas penjaga gerbang sekolah membukakan pintu untuknya. Seorang anak laki-laki berumur tujuh tahun berlari menuju Lili. Dia berambut hitam pendek, bola matanya berwarna coklat dan sangat tampan meski di usianya yang masih belia. Dengan jubah yang berwarna ungu sama dengan kakaknya, ia menyapa kakaknya dengan penuh manja.


"Kakak, kenapa kau terlambat?"


"Aku baru selesai latihan. Ayo pulang. Ayah sudah menunggu di rumah."


"Tunggu dulu. Aku ingin pergi ke pasar."


"Untuk apa?"


"Guru memberiku tugas. Jadi aku harus pergi ke pasar."


"Memangnya tugas apa sampai harus pergi ke pasar? Apa kau ingin membeli kain untuk kau gunting-gunting tidak jelas?!"


"Benar sekali. Kakak memang pandai."


"Hah?!"


"Ayo kakak, cepat!" teriak anak itu kegirangan sambil menarik tangan kanan kakinya.


Setelah lama berjalan, akhirnya mereka sampai di pasar. Lili pun mencari tempat duduk di depan kios yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia menghela nafas sambil mengipas-ipas dirinya dengan tangan kanannya. Ia melihat adiknya sedang berlari menuju toko permen dan melihat-lihat permen yang dijual di sana.


"Ini anak, katanya mau beli kain, malah mampir ke toko permen." keluh Lili dalam hati.


Setelah membeli permen yang diinginkan, anak itu berlari hendak menyeberang ke toko seberang jalan tempat di mana kakaknya sedang beristirahat setelah lama ia berjalan. Saat ia sedang menyeberang, tiba-tiba Lili merasakan ada sesuatu yang bergerak cepat menuju ke arah adiknya. Ia melihat pusaran aura jahat mendekati adiknya. Dengan secepat kilat, Lili beranjak dari tempat duduknya dan berlari seperti kilat dan menggendong adiknya. Aura hitam itu tiba-tiba lenyap seketika saat Lili sedang menggendong adiknya dalam pelukannya. Adiknya yang terkejut, tanpa sadar menjatuhkan permen di bawah kaki sang kakak. Lili mengamati sekitarnya. Ia tidak melihat dan merasakan aura hitam mendekat. Aura itu sudah lenyap begitu saja. Yang ia lihat hanyalah ribuan mata yang memandangnya dengan tatapan kosong. Ia melihat ribuan orang yang sedang lalu lalang, berhenti dan menatap ke arahnya. Seolah ia sedang melakukan kesalahan. Di sekitar tubuh ribuan orang itu, ada aura hitam menyelimutinya.


"Ada apa dengan orang-orang ini? Mereka seperti bukan manusia?"


"Kakak, ada apa? Kenapa semua orang memandangi kita?!"


"Sudah. Aku ingin memberitahukannya kepada kakak. Tapi kakak tiba-tiba datang menghampiriku dan memelukku. Apa ada sesuatu yang aneh kakak?"


"Tidak ada. Ayo aku antar kau. Agar kita bisa sampai di rumah tepat waktu."


"Baik."


Keduanya pun berjalan menuju toko kain di seberang jalan. Saat hendak masuk ke dalam toko, Lili berbalik ke belakang. Dilihatnya semua orang yang tadinya menatapnya dengan tatapan kosong sudah menghilang. Seolah mereka hanyalah halusinasinya. Ia hanya melihat segelintir orang biasa yang lalu lalang di sekitar pasar. Lalu, pergi kemana orang-orang aneh itu?! Lalu siapa mereka? Darimana mereka berasal? Mengapa orang-orang itu menatapnya? Itulah pertanyaan yang ada di dalam benak Lili.


Lili melihat adik laki-laki kecilnya itu sedang memilih-milih sebuah kain, hingga tertuju pada kain berwarna ungu muda. Ia mencoba meraihnya, namun tubuhnya masih kecil dan pendek. Hingga akhirnya, Lili yang turun tangan mengambilnya. Ia memberikan lembaran kain berwarna itu kepada adiknya.


"Ini yang kau cari?!"


"Iya. Terima kasih kakak."


Setelah membayar belanjaan, mereka berdua pergi meninggalkan toko. Sepanjang perjalanan, ia melihat adiknya memeluk kain itu dengan erat sambil tersenyum.


"Kau suka kain itu?!"


"Tidak."


"Lalu kenapa kau membelinya jika tidak suka? Kau tahu bukan, berapa harga kain itu?!"


"Tahu. Lalu kenapa kakak membelinya?"


"Bukannya kau yang menginginkan kain itu?!"


"Aku hanya ingin melihatnya. Tapi kakak mengambilkannya untukku dan membayarnya. Jadi, itu semua bukan salahku kan?!"


"Kau! Huff, lalu bagaimana dengan tugas sekolahmu?"


"Kakak tenang saja."


"Terserah kau saja. Aku harap kau tidak membohongiku lagi."


"Aku tidak membohongi kakak."


"Mempermainkan?!"


"Tidak juga."


"Kau pandai berbicara. Semoga kau tidak tumbuh menjadi pria playboy, buaya darat, garangan. Ouh tidak, pria pemberi harapan palsu!"


"Apa itu kakak?!"


"Sudahlah, ayo kita pulang. Ingat jadilah anak yang baik ya jika sudah besar nanti."


"Tentu. Aku pasti akan tumbuh menjadi anak yang baik. Aku akan melindungi ayah, ibu, teman-teman juga kakak. Kakak juga harus berjanji, tidak akan meninggalkan aku sendiri."


"Ya. Kakak janji."


"Janji jari kelingking ya?!"


"Ya!"


Keduanya pun mengikat janji jari kelingking di bawah sinar senja yang merah, di jalanan pinggir kota.