
Melihat perubahan penampilan Lili yang sangat luar biasa menakutkan namun masih terlihat indah dipandang, membuat Raja Feng tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Tap... Tap.... Tap...
Lili berjalan menghampiri Feng yang berdiri di depan putri Cariz. Ia pun berhenti dan keduanya saling berpandangan satu sama lain dalam waktu yang cukup lama. Tak lama kemudian, Lili melirik ke arah Putri Cariz lalu mengalihkan pandangannya ke arah Feng.
"Minggir Yang Mulia!" ucap Lili dengan ekspresi dingin di wajahnya.
Suaranya terdengar sedikit kasar dengan ekspresi dingin di wajahnya.
"Apa yang ingin kau lakukan?! Jangan kotori tanganmu!"
"Humph! Kau anggap dirimu siapa?! Minggir!" bentak Lili sambil mengacungkan belati kecil yang berwarna hitam, yang diselimuti aura kebencian yang sangat pekat ke arah mantan suaminya.
"Kau berani membunuhku?!"
"Kenapa tidak?!" ucap Lili sambil mengerahkan belatinya untuk menggores leher Raja Feng, namun berhasil di tepis olehnya.
Melihat Raja Feng menepis serangannya, Lili pun melompat mundur ke belakang. Terjadi pertempuran di antara keduanya. Keduanya saling melempar serangan satu sama lain. Ledakan terjadi dimana-mana. Lili yang terbang di udara melepaskan jurus andalannya untuk melawan raja Feng. Ia berusaha untuk mengecoh Raja Feng dengan jurus ilusi miliknya, agar menjauh dari putri Cariz. Butuh kekuatan sihir yang sangat besar untuk menggunakan kekuatan ini. Tapi Lili seolah tak mau memperdulikannya. Ia memaksa menggunakan jurus itu meski tahu bahwa kekuatannya melemah. Pertarungan keduanya terjadi di darat dan di udara. Sama-sama tak mau mengalah. Sangat sulit menentukan siapa yang menang. Melihat Raja Feng menjauh dari Putri Cariz, dengan cepat Lili terbang menuju ke arahnya, sambil melemparkan ribuan jarum yang keluar dari telapak tangan kanannya.
Melihat Lili terbang menuju Putri Cariz sambil melemparkan ribuan jarum dari telapak tangan kanannya, Raja Feng segera terbang menyusul Lili. Namun sayangnya di tengah pengejarannya, ia dihadang oleh sosok pria dengan jubah hitam misterius dengan masker yang menutup sebagian wajahnya. Pria itu berdiri menatap ke arah Raja Feng dengan tatapan tajam di kedua matanya. Saat ini baik Raja Feng dan pria misterius itu, sama-sama melayang di udara. Melihat postur tubuh pria misterius yang berada di hadapannya sekarang, Raja Feng merasa sangat familiar dengannya.
"Siapa kau?!"
Pria misterius itu tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Raja Feng. Ia malah menyerang Raja Feng dengan sangat cepat. Gerakannya sangat gesit hingga membuatnya Raja Feng merasa sedikit kesulitan menghadapinya. Keduanya beradu pedang dengan kekuatan dan kecepatan tinggi. Lili yang berada di bawah mendengar suara pedang yang beradu di atas langit. Ia melihat Raja Feng sedang bertarung dengan seseorang yang Lili sendiri tidak dapat melihat dengan jelas seperti apa penampilannya. Melihat pandangan Lili sedang tidak tertuju kepadanya, Putri Cariz diam-diam melangkah mundur, hendak ingin melarikan diri. Tanpa sadar, putri Cariz menginjak ranting pohon dan hal itu membuat Lili langsung teringat akan tujuannya. Ia segera menoleh ke arah Putri Cariz.
"Kau ingin kabur dariku?!"
"Kabur?! Cuih, kau pikir aku takut melawanmu?! Lili, kau yang sekarang tidak ada bedanya dengan para murid-murid yang ada di Zwart School!"
"Benarkah?! Jangan terlalu meninggikan dirimu?!"
"Hahaha, Lili... kau pikir kau sudah menang?! Sebentar lagi, kau akan kalah!"
"Apa maksudmu?!"
"Aku telah menyuruh seseorang untuk menghancurkan tempat dimana suamimu tercinta telah menyegel kekuatanmu. Dan
seharusnya, tempat itu sudah hancur! Hahaha!" teriak Putri Cariz sambil mengeluarkan bubuk racun yang tersembunyi di balik jubahnya dan melemparkannya ke arah Lili.
Seketika itu, Lili langsung memejamkan kedua matanya sambil menutupi mulutnya dengan menggunakan tangan kirinya. Bubuk racun itu, dengan cepat dinetralisir olehnya. Dilihatnya putri Cariz telah mengambil langkah seribu untuk menjauh darinya. Melihat hal itu Lili pun tersenyum dan segera berlari mengejarnya.
Saat berlari mengejar putri Cariz, Namun, langkahnya terhenti saat sebuah pedang berwarna silver melesat melewatinya dengan sangat cepat dan menusuk ke punggung putri Cariz yang tengah berlari. Seketika itu putri Cariz langsung jatuh tersungkur di atas tanah tak sadarkan diri. Lili pun menoleh ke belakang. Dilihatnya Raja Feng berjalan menuju ke arahnya dengan luka di sekujur tubuhnya. Lili pun kaget melihat mantan suaminya yang terkenal sangat kuat dan tak tertandingi disaat ia memilih meninggalkan istana dan menjadi Ratu Iblis di hutan kematian, harus menerima kenyataan bahwa pria yang ada di hadapannya ini telah terluka oleh pria asing misterius yang sedang berdiri di belakangnya. Raja Feng lalu ambruk di hadapan Lili, namun dengan cepat Lili menangkapnya. Ia melihat luka di sekujur tubuh mantan suaminya. Suami yang dulu sangat tampan dan gagah, kini terlihat sangat menyedihkan.
"Yang Mulia, apa yang sebenarnya terjadi?! Kenapa kau menjadi seperti ini?!" tanya Lili sambil mengusap mulutnya yang penuh darah dengan tangan kanannya.
"Uhuk... uhuk... Lili, tolong... tolong... se...selamatkan..."
"Se... selamatkan...
Jlebbbbb!
"Mmphh... uhukkk..."
Raja Feng muntah darah saat jantungnya ditusuk oleh pedang silver milik pria misterius itu. Lili yang melihat pedang silver itu menusuk tepat di jantung mantan suaminya, langsung mengalihkan pandangannya ke arah pemilik pedang. Melihat Lili menatapnya, pemilik pedang itu segera menarik pedangnya. Darah segar menetes pada bilah pedang silver itu.
"Si... siapa kau?! Kenapa kau membunuh dia?!" teriak Lili.
"Lili, uhuk... jangan memprovokasinya lagi... uhuk... uhuk..."
"Apa maksudmu Yang Mulia?! Aku tidak mengerti?! Apa kau mengenal orang itu?!"
"Dia..."
"Menjauh darinya!"
Mendengar suara yang sangat familiar di telinganya, Lili pun menoleh ke arah sumber suara yang tak lain berasal dari pria misterius yang berdiri dihadapannya. Pria misterius itu langsung membuka jubah yang dikenakannya dan melemparnya ke tanah. Tak lupa, ia juga membuka masker yang sudah menutupi sebagian wajahnya. Betapa kagetnya Lili dengan apa yang telah ia lihat barusan. Pria yang sekarang berdiri di hadapannya adalah pria yang selama ini ia kenal sangat dekat. Dia adalah pangeran Sirzechs, mantan kakak iparnya yang juga sahabatnya. Ia melihat penampilan Pangeran Sirzechs jauh berbeda dari yang dulu. Ia terlihat sangat dingin dan kejam. Lalu pria itu melambaikan tangan kanannya ke atas. Dan muncullah dua orang pengawal yang berada di belakangnya. Dua pengawal itu memberi hormat kepadanya.
"Bawa pria itu! Sekalian bawa mayat wanita itu!" perintahnya kepada pengawalnya yang berada di belakang, sambil tangannya menunjuk ke arah Feng yang berada dalam pelukan Lili.
Lili yang melihat kedua pengawal itu berjalan mendekat ke arahnya, langsung menghentikannya.
"Jangan mendekat!"
"Maaf Yang Mulia, ini sudah perintah dari Raja."
Mendengar salah satu perkataan dari pengawal itu, Lili pun terdiam dan menoleh ke arah Pangeran Sirzechs yang menatapnya dengan tatapan cemburu yang tergambar jelas di wajahnya.
"Apa yang ingin kau lakukan kepadanya?!"
"Menghukumnya!"
"Hukuman apa?!"
"Mati!"
"Apa kau sudah gila?! Dia itu adikmu?!"
"Benar yang kau ucapkan. Aku memang sudah gila sejak dulu!"
"Apa?!"
"Aku gila karena kau bukan milikku!"