PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Jaga jarak


"Apa dia marah?" gumam Lili


Melihat langit mendung, Lili segera menutup dan mengunci jendela kamarnya. Ia berjalan dan berbaring di atas tempat tidurnya. Dalam benaknya ia berpikir, apakah perkataannya ada yang salah? Ia merasa tidak ada yang salah dengan perkataannya. Tapi kenapa Pangeran Sirzechs bersikap tak seperti biasanya. Lili sangat resah memikirkan hal itu. Tiba-tiba ia teringat bahwa Pangeran Sirzechs menanyakan kepadanya, tentang hadiah perpisahan apa yang akan ia berikan kepadanya. Akhirnya Lili mendapatkan ide dan ia berharap bisa bertemu dengan pangeran Sirzechs, untuk memastikan satu hal.


"Aku tidak tahu apa ada yang salah dengan perkataanku? Aku merasa tidak ada yang salah. Tapi kenapa aku merasa dia marah padaku? "Ahhhh... sudahlah besok pagi aku akan pergi ke istananya dan sekalian memberikan hadiah perpisahan kepadanya. Aku harap, diantara aku dan dia tidak ada celah dimasa depan."


Lili pun mulai memejamkan kedua matanya. Di sisi lain, putra mahkota Feng yang sedang bersembunyi di balik pohon, menatap jendela kamar Lili yang sudah tertutup rapat.


"Hemph, tidak kusangka... kakakku suka menyelinap di kamar gadis yang sebentar lagi akan kunikahi. Aku ingin tahu bagaimana reaksimu Lili, ketika kau tahu orang yang menyelinap di kamarmu bukanlah kakakku?" gumam putra mahkota Feng dengan senyum iblis di wajahnya.


Ia lalu melompat terbang ke atas dan mendarat di tepat di depan jendela kamar Lili. Putra mahkota Feng mulai mengetuk jendela kamarnya sebanyak tiga kali. Lili yang baru saja tertidur, mendengar suara ketukan yang berasal dari jendela kamarnya segera bangun. Ia langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke jendela kamarnya.


"Sirzechs, aku tahu... kau pasti kembali." batin Lili sambil membuka jendela kamarnya.


Saat ia membuka jendela kamarnya, betapa kagetnya ia bahwa yang mengetuk jendela kamarnya bukanlah Pangeran Sirzechs, melainkan adik tirinya (putra mahkota Feng). Melihat ekspresi Lili yang kaget setelah melihatnya, putra mahkota Feng tersenyum dingin kepadanya.


"Ada apa? Apa kau kaget setelah melihatku? Atau... apakah kau kecewa bahwa yang mengetuk jendela kamarmu adalah aku, bukan orang lain?" tanya putra mahkota Feng dengan tatapan mengintimidasi.


"Maaf Yang Mulia, kau salah paham. Aku... aku hanya kaget, Yang Mulia datang kemari tengah malam mengetuk jendela kamarku. Kenapa tidak lewat pintu depan saja?"


"Aku tidak ingin membangunkan orang rumahmu. Bicara soal itu, apa kau akan membiarkan aku berdiri disini dan mati kedinginan karena angin malam?"


"Ah maaf Yang Mulia. Silahkan masuk."


Putra mahkota Feng lalu melompat masuk di jendelanya.


"Yang Mulia, untuk apa kau melompat. Kau bisa jalan lewat ini?" kata Lili sambil menutup jendela kamarnya.


Melihat jendela kamarnya yang berbentuk menyerupai pintu, membuat putra mahkota Feng kagum.


"Jendelamu unik juga."


"Terima kasih Yang Mulia atas pujiannya."


Putra mahkota Feng mengamati seluruh isi ruangan kamar milik Lili. Semuanya sangat rapi dan perabotannya terlihat sederhana. Ia pun berbalik dan menatap Lili. Ia melihat Lili dari atas ke bawah. Melihat Yang Mulia menatapnya dari atas ke bawah, wajah Lili menjadi memerah. Ia tak berani menatap balik putra mahkota Feng.


"Wanita ini... apakah dia selalu memakai baju yang tipis?" batin Putra mahkota Feng.


"Apakah pelayan pribadimu sudah menyampaikan pesanku kepadamu?"


"Sudah Yang Mulia."


" Bagus. Aku harap kau mengingatnya. Karena hanya tinggal satu bulan lagi, kita akan menikah."


"..."


"Hari ini cukup sampai disini dulu. Oh ya, ada satu hal lagi."


"Apa Yang Mulia?"


"Kedepannya jangan pernah membiarkan orang lain masuk melalui jendela kamarmu."


"Termasuk Yang Mulia."


"Ehem, ya...eh tentu saja tidak. Aku adalah calon suamimu! Bukan orang lain! Baiklah, selamat tidur dan selamat malam." kata putra mahkota Feng sambil melompat dari jendela kamar Lili dan terbang ke langit."


Melihat putra mahkota Feng sudah tidak ada, Lili segera menutup dan mengunci jendela kamarnya. Ia bersandar dan menghela nafas.


"Apa dia tahu, jika ada orang lain yang pernah masuk ke dalam kamarku melalui jendela ini? Atau... apakah aku ketahuan? Ah sudahlah, aku mau tidur."


Lili pun berjalan menuju tempat tidurnya dan mulai berbaring sambil memejamkan kedua matanya.


"Kau tidur disana!" kata putra mahkota Feng sambil menunjuk ke arah sofa yang tak jauh dari tempat tidurnya.


Lili mengikuti arah jari telunjuk putra mahkota Feng yang mengarah ke arah sofa yabg berwarna merah.


"Tidak masalah." jawab Lili sambil berjalan dan mulai berbaring di atas sofa.


Melihat Lili yang berbaring di atas sofa,dan tak mengeluh kepadanya, membuat putra mahkota Feng merasa jengkel dibuatnya. Ini adalah malam pernikahan mereka. Dan untuk pertama kalinya, Lili mendapatkan perlakuan yang sangat jauh berbeda dengan pasangan pengantin lainnya. Ia disuruh oleh suaminya sendiri untuk tidur di sofa. Tapi, ia tak mengeluh sedikitpun. Malahan ia sangat bersemangat dan berbaring di atas sofa.


"Oh ya, kedepannya... kau dan aku harus bersikap layaknya sepasang suami istri."


"Lalu?"


"Lalu apa?"


"Maksudku, ada lagi?"


"Tidak. Selamat malam." kata putra mahkota Feng sambil melemparkan selimut kepada Lili.


"Terima kasih."


"Humph." sahut putra mahkota Feng sambil berbalik dan berjalan ke arah tempat tidurnya.


Lili melihat putra mahkota Feng sedang berbaring di tempat tidurnya. Lili yang merasa gerah dengan gaun pengantinnya, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan membuka ruang penyimpanan rahasia miliknya. Ia mengambil gaun tidur yang telah ia bawa dari rumahnya. Segera ia mengganti gaun pengantinnya dengan baju tidur miliknya. Setelah berganti, ia segera melipat gaun pengantin itu dan meletakkannya di atas meja yang dekat dengan sofa yang ia dudukki sekarang.


"Huff, jika saja putra mahkota membatalkan pernikahan ini... aku bisa menikmati hidupku dengan bebas." batin Lili


Sebelum tidur, Lili teringat tentang kenangan saat Raja menemuinya secara pribadi di rumahnya.


...Memori...


"Karena hari pernikahan kalian berdua sudah ditentukan, aku meminta kau untuk berhenti bersekolah."


"Kenapa Yang Mulia? Kenapa kau memintaku berhenti bersekolah? Apa alasannya?"


"Mengingat usiamu yang sudah matang untuk menikah, untuk apa kau masih bersekolah? Terlebih, kau akan menyandang gelar sebagai putri mahkota. Kelak suamimu akan menjadi raja dan kau ratunya. Apa pendapat rakyat tentang ratu mereka yang belajar sihir hitam?"


"Yang Mulia, sekalipun aku belajar sihir hitam, aku tidak pernah melukai siapapun. Apa salahnya dengan sihir hitam? Semua tergantung penggunanya, bagaimana pedang itu akan ia gunakan sebagai melindungi atau menyakiti."


"Cukup! Aku tidak mau mendengar alasanmu. Jika kau ingin keluargamu selamat, setidaknya kau mengerti ucapanku!"


"Apa Yang Mulia mengancamku?!"


"Menurutmu?!!!"


"Yang Mulia, jangan kau berpikir aku tidak berani melawanmu!"


"Humph, aku tahu kau pasti akan melawan perintahku. Tapi, apa kau bisa menyelamatkan keluargamu dariku?!"


"Apa maksudmu?!"


"Aku rasa kau cukup pintar untuk mengerti maksudku."


Lili sangat kaget mendengar ucapan raja. Ia tahu bahwa raja memiliki sejuta cara licik untuk menghabisi keluarganya. Dengan berat hati, Lili mengiyakan permintaannya.


"Baiklah, jika itu permintaan Yang Mulia... aku akan melakukannya. Tapi, kau harus memegang janjimu untuk tidak menyakiti keluargaku!"


"Hehhh... tentu saja!"