PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Hilangnya Segel Kutukan Cinta 3


Istana Pangeran


Sesampainya di kediaman Istana Pangeran Arches, dokter kerajaan mulai memeriksa kondisi Alviercha yang sedang terluka parah di dadanya akibat tusukan bilah pedang milik Arches. Setelah selesai memeriksa luka dan mengobatinya, dokter kerajaan menuliskan sebuah resep dan diberikan kepada Arches.


"Yang Mulia, ini resep obatnya." ucap dokter kerajaan itu sambil memberikannya secarik kertas yang telah ia tulis kepada Arches.


Arches pun menerimanya dan membacanya. Setelah ia membacanya, Arches memberikan resep itu kepada Rickie. Rickie pun menerimanya dan membacanya.


"Terima kasih dokter Ran."


"Sama-sama Yang Mulia. Kalau begitu, hamba mohon undur diri."


"Silahkan."


Dokter kerajaan itu bernama dokter Ran. Ia adalah dokter terpercaya milik kerajaan. Dia berasal dari keluarga bangsawan, dan kemampuan serta kemahirannya dalam ilmu pengobatan sudah tidak diragukan lagi. Karena itu, ia sangat dipercaya oleh keluarga kerajaan untuk mengobati keluarga kerajaan yang sedang sakit ataupun terluka parah sekalipun. Setelah dokter Ran pergi meninggalkan mereka bertiga, tak lama kemudian Alviercha siuman. Melihat Alviercha sudah sadar, Arches segera menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Ia tidak menyadari kalau Alviercha sudah membencinya dan ingin menjauhinya.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?!" tanya Arches dengan nada sedikit khawatir sambil menggenggam tangan Alviercha yang sedang dibalut oleh kain perban.


"Pergi! Jangan sentuh aku!" teriak Alviercha sambil menghempaskan genggaman tangan Arches.


Melihat sikap kasar Alviercha kepadanya, Arches hanya bisa terdiam. Ekspresi wajahnya berubah menjadi muram. Alviercha yang mengetahui perubahan ekspresi di wajahnya itu, hanya memalingkan wajahnya ke arah Rickie.


"Rickie, tolong bantu aku berdiri!" pinta Alviercha sambil mengulurkan tangannya.


"Kau mau kemana?!" tanya Arches kepada Alviercha yang beranjak dari tempat duduknya yang dibantu oleh Rickie.


"Pergi dari tempat ini!" jawab Alviercha dengan nada ketus.


"Tapi lukamu belum sembuh." ucap Arches sambil menarik tangan kanan Alviercha.


Melihat Arches menarik tangannya, Alviercha dengan cepat menarik tangannya kembali.


"Terima kasih sudah menolong dan merawatku. Kelak aku akan membalas budi baikmu. Mungkin tidak sekarang, tapi di kemudian hari."


"Aku tidak butuh kau membalas budiku."


"Terserah kau saja. Oh ya, aku pasti akan menempati janjiku kepadamu. Semoga kau bahagia."


"Sayang, kau salah paham. Tolong dengarkan aku dulu!" teriak Arches kepada Alviercha yang berjalan menjauh darinya.


Mendengar Arches memanggilnya dengan sebutan "sayang", Alviercha tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Ia pun menoleh ke arah Arches yang masih berdiri menatapnya di belakang.


"Yang Mulia, tolong jangan panggil aku dengan sebutan itu. Hubungan kita sudah berakhir, sejak kau mengkhianatiku." ucap Alviercha dengan ekspresi dingin di wajahnya.


Kemudian ia pergi meninggalkan Arches di sana seorang diri. Arches yang kaget mendengar Alviercha, memanggilnya dengan sebutan "Yang Mulia" cukup membuat hatinya merasa sakit yang luar biasa. Alviercha telah salah paham kepadanya. Tapi kenapa, Rickie juga mengkhianatinya dengan alasan bahwa, ia telah melukai dan mengkhianati Alviercha. Sungguh alasan yang cukup aneh bagi Arches untuk menerima alasan itu.


Beberapa bulan kemudian, Arches menerima undangan pernikahan Alviercha dengan Rickie (sahabatnya), dari salah satu pengawal pribadinya. Pengawal itu memberikan undangan pernikahan itu kepada Arches, karena saat Alviercha datang sendiri mengantarkan undangan pernikahannya, Arches sedang tidak ada di dalam Istana. Karena itu, Alviercha menitipkan undangan pernikahan itu kepada salah satu pengawal pribadinya. Arches pun menerima undangan pernikahan tersebut dan membaca. Terlihat ekspresi wajahnya berubah menjadi marah dan kecewa. Semua para pengawal yang berada di dalam Kediaman Pangeran, merasa merinding ketakutan karena ekspresi tuannya telah berubah menjadi sangat menyeramkan. Undangan pernikahan yang ia pegang, kemudian ia lempar ke atas lantai. Melihat adegan itu, semua para pengawal diam ketakutan. Arches pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan tempat itu menuju kamarnya, tanpa sepatah kata pun.


Hari pernikahan Alviercha dan Rickie telah tiba. Semua tamu undangan telah menghadiri acara pernikahannya. Namun, Alviercha tidak menemukan Arches (mantan sahabat dan kekasihnya.) Sampai acara pernikahannya telah selesai, ia masih tidak melihat batang hidung Arches. Hal itu membuat Rickie yang berada di sampingnya mulai bertanya kepadanya.


"Kau sedang mencari siapa?!"


"Sepertinya... dia tidak datang."


"Apa kau masih mengharapkan kedatangannya?!"


"Ya. Aku hanya ingin melihat wajahnya untuk terakhir kalinya."


"Tapi dia tidak ingin melihat wajahmu yang sedang berbahagia menikah dengan orang lain yang juga menjadi sahabatnya. Mungkin baginya, itu terlalu menyakitkan untuk dirinya. Melihat wanita yang ia cintai, memilih untuk menikahi sahabatnya sendiri."


Mendengar hal itu, Alviercha tidak bisa berkata apa-apa. Dalam hatinya, ia ingin sekali menikah dengan Arches, orang yang ia cintai. Namun, Arches telah mengkhianati janji yang telah mereka berdua buat, saat mereka berdua masih remaja. Di dalam keramaian para tamu undangan, ada salah satu sosok misterius berjubah hitam yang bersembunyi di tengah-tengah keramaian para tamu undangan yang berlalu-lalang. Ia melihat ekspresi bahagia di wajah wanita yang ia cintai juga sahabatnya. Keduanya saling bergandengan tangan sambil menatap penuh cinta.


"Seharusnya, yang berada di sana adalah aku. Bukan dia." batin Arches.


Hari demi hari telah berlalu. Upacara penobatan pangeran Arches sebagai Raja, hanya tinggal tiga hari lagi. Di usianya yang teh menginjak dua puluh tahun, ia telah dinobatkan, sebagai Raja sesuai dengan impiannya. Namun, hal itu bukan membuatnya bahagia. Ia malah justru merasa sedih dan kesepian. Tiba-tiba muncullah bayangan salah satu pengawal pribadinya dari dalam kamarnya. Ia segera berlutut dan memberi hormat kepadanya.


"Salam Yang Mulia."


"Bangunlah!"


"Terima kasih Yang Mulia."


"Bagaimana hasilnya?!"


"Menjawab Yang Mulia. Dari informasi yang telah hamba dengar, nona Alviercha telah hamil. Dan usia kehamilannya sekitar lima bulan."


Degg!!! (Jantung Arches berdegup kencang.)


"Jadi dia hamil?!" tanya Arches kepada pengawalnya itu sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Ya Yang Mulia!"


"Kau boleh pergi dan beristirahat."


"Terima kasih Yang Mulia."


Pengawal itu pun berpamitan dan menghilang. Arches yang mendengar kabar kehamilan Alviercha dari pengawal, seketika itu ia menghancurkan benda-benda yang ada di dalam kamarnya. Ia melampiaskan amarahnya dengan menghancurkan seluruh benda yang ada di dalam kamarnya, hingga kamarnya menjadi sangat berantakan.


Hari yang dinantikan telah tiba. Upacara penobatan telah dimulai. Seluruh tamu undangan telah hadir menyaksikan upacara penobatan Raja baru di negara itu. Raja yang lama menyerahkan mahkotanya kepada Raja yang baru dan memasangkan di atas kepala anaknya sendiri, yaitu pangeran Arches. Dan tak lupa memberikan tongkat Raja sebagai bukti, bahwa ia telah mewarisi tahta ayahandanya sebagai Raja baru di Zwart Land. Raja yang lama (Ayahandanya) telah mengumumkan bahwa, hari ini ia telah mewariskan tahtanya dan menobatkan Pangeran Arches sebagai Raja baru di Zwart Land. Seluruh para tamu undangan yang hadir mendengar hal itu, segera memberikan tepuk tangan yang meriah. Para penduduk ikut memeriahkan acara upacara penobatan Raja baru mereka dengan ikut bersorak dan memberikan tepuk tangan yang sangat meriah, saat melihat Raja baru mereka keluar dari Istana dengan menaikki kereta kuda Istana.


Melihat pesona ketampanan dan kharisma Raja baru mereka, tak henti-hentinya para penduduk bersorak gembira sambil melemparkan bermacam-macam bunga ke arahnya. Tiba-tiba kereta kuda yang membawa Raja baru mereka, berhenti di tengah jalan saat seorang wanita muda hamil berdiri di tengah jalan untuk menghentikan kereta kuda Istana itu. Hal itu membuat seluruh penduduk berhenti melempari bunga dan melihat ke arah wanita muda yang tengah hamil besar, yang berdiri menghalangi kereta kuda Istana itu. Raja Arches mengenali sosok wanita muda yang tengah hamil besar itu. Sosok itu adalah Alviercha, wanita yang ia cintai. Ia pun segera turun dari atas kereta kuda itu dan menghampirinya.


"Ternyata itu kau?! Hampir saja kereta kudaku menabrak seorang wanita muda yang tengah hamil besar di hari pentingku ini!"


"Maaf atas ketidak sopananku Yang Mulia."


"Katakan, apa maumu?!"


Alviercha mengeluarkan sebuah kotak yang berukuran sedang, berwarna biru muda kepada Raja Arches. Raja Arches yang melihat kotak itu, segera mengalihkan pandangannya ke arah Alviercha.


"Apa itu?!"


"Sesuai janjiku dulu Yang Mulia. Saat anda berusia dua puluh tahun dan dinobatkan sebagai Raja, aku akan membuatkan jubah untukmu dengan tanganku sendiri. Dan maaf, aku memberikannya dengan cara tidak sopan seperti ini. Karena sangat sulit untukku bisa memasukki Istanamu."


"Karena istanaku tidak bisa dimasukki oleh sembarang orang."


"Aku mengerti. Jadi, tolong terimalah hadiah ini dariku. Sesuai keinginanmu, aku membuatnya dan menjahitnya sendiri dengan tanganku."


"Bahkan saat kau hamil seperti ini, kau menjahitnya sendiri."


"Iya Yang Mulia." jawab Alviercha dengan senyum manis di wajahnya sambil menyodorkan kotak berwarna biru muda itu kepada Raja Arches.


Raja Arches memberi isyarat tangan kepada pengawal pribadinya untuk mengambil dan menerima hadiah itu. Pengawal pribadi itu mengambil kotak itu dari tangan Alviercha. Alviercha yang melihat Raja Arches memerintahkan pengawal pribadinya untuk mengambil dan menerima hadiah darinya, sedikit merasa kecewa. Setelah hadiah diterima, Raja Arches berterima kasih kepadanya dan berpamitan kepadanya.


"Terima kasih atas hadiahnya. Dan terima kasih, kau sudah mengingatnya. Semoga persalinanmu berjalan dengan lancar."


"Terima kasih atas do'amu Yang Mulia."


"Sama-sama. Sekarang tolong menyingkirlah, agar keretaku bisa berjalan kembali. Karena waktuku tidak banyak."


"Iya Yang Mulia. Maafkan aku." ucap Alviercha sambil sedikit membungkukkan badannya dan berjalan ke tepi jalan.


Melihat Alviercha sudah berada di tepi jalan, Raja Arches kembali menaikki kereta kudanya dan melanjutkan perjalanannya. Alviercha yang melihat rombongan kereta kuda dan deretan pasukan kuda Istana, hanya bisa menghela nafasnya.


"Ini... sudah kedua kalinya, ia tidak mau menerima pemberianku secara langsung dengan kedua tangannya sendiri. Sepertinya dia sangat membenciku?! Apa aku terlalu kejam karena telah menyakitinya?! Ya sudahlah, semoga hari-harimu menjadi Raja yang baru, kedepannya akan selalu berbahagia." batin Alviercha dengan sedikit senyum yang terpancar di wajahnya.