PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Perpisahan Ratu Iblis


Lili mulai menceritakan tentang pertempuran yang terjadi dua ratus tahun lalu kepada Kak Vincent dan Elsa. Karena luka yang dia dapatkan dari pertempurannya dengan mantan suaminya-lah, yang memaksanya melakukan teleportasi ke dunia modern, dan bertemu dengan kak Vincent dan Elsa.


Flashback


Saat itu, aku tidak tahu jika ternyata diriku sedang hamil. Aku bertarung dengan mantan suamiku. Aku tidak peduli dia masih menganggapku sebagai istrinya atau pembunuh ayahnya. Yang aku lakukan hanyalah membalaskan dendamku saja. Tapi siapa sangka, ia bersikeras bahwa aku pembunuh ayahnya yang seorang raja. Jadi, aku bertarung dengannya tentu saja untuk membela diriku saja. Meskipun aku tahu kekuatanku saat itu melemah.


Kenangan akan pertarungannya dengan putra mahkota Feng muncul kembali. Dan disaat detik-detik ia akan dibunuh oleh mantan suaminya, datanglah Pangeran Sirzechs yang menolongnya. Namun, rasa sakit dari pendarahan yang keluar terus menerus dalam dirinya, membuat Lili tidak kuat menahannya dan berteriak kesakitan. Karena tidak ingin mati atau ditangkap oleh salah satu dari keduanya, Lili pun memaksakan dirinya untuk melakukan mantra teleportasi ke dunia lain. Karena mantra teleportasi membutuhkan kekuatan sihir yang sangat besar untuk digunakan, Lili memaksakan dirinya dengan semua kekuatan sihir yang tersisa. Dan itu mengakibatkan dirinya jatuh pingsan tak sadarkan diri di dunia lain. Tidak hanya itu, ia mengalami hilang ingatan sementara. Dan saat itulah untuk pertama kalinya, ia bertemu dengan Vincent dan Elsa di tepi danau.


"Kak Vincent, siapa wanita ini? Pakaiannya aneh sekali? Seperti gaun pengantin. Tapi kenapa gaunnya berwarna hitam?! Ahhh kakak, lihat! Dia berdarah!" teriak Elsa histeris.


Vincent pun mengamati seluruh tubuh wanita misterius itu yang sedang pingsan di hadapannya. Tanpa banyak basa basi, Vincent segera membalikkan tubuh wanita itu, yang tak lain adalah Lili. Vincent pun menggendong Lili dan membawanya masuk ke dalam mobil. Sesampainya di rumah, Vincent segera membaringkan tubuh Lili di atas tempat tidurnya.


"Elsa, tolong kau telepon dokter pribadi kakak, dokter Cole."


"Baik kak."


Elsa segera mengambil ponsel miliknya dan mencari kontak dokter Cole, dan segera meneleponnya.


"Halo dokter Cole. Bisalah kau datang kemari? Kakakku meminta kau untuk datang ke rumah sekarang. Dia butuh bantuanmu. Baik. Terima kasih." ucap Elsa sambil menutup panggilannya.


"Kakak, aku sudah menelepon dokter Cole. Beliau berkata, akan segera datang kemari."


"Ya."


Keduanya secara bersamaan menatap Lili yang sedang berbaring tak sadarkan diri. Tak lama kemudian, dokter Cole datang dan segera memeriksa kondisi Lili. Setelah memeriksa kondisi Lili, beliau segera memberitahukan kepada Vincent dan Elsa tentang kondisi Lili.


"Jadi begitu. Lalu, bagaimana caranya agar dia bisa mendapatkan ingatannya kembali dok?" tanya Vincent.


"Ini hanya bersifat sementara. Kau tidak perlu khawatir. Pasien hanya perlu datang ke tempat dimana, tempat itu memiliki kenangan tentang masa lalunya."


"Jadi begitu. Baiklah, terima kasih atas bantuanmu dokter Cole."


"Sama-sama. Kalau begitu, aku pamit dulu.'


"Elsa, tolong jaga wanita ini. Aku akan pergi mengantarkan dokter Cole ke depan."


"Baik Kak."


Vincent pun pergi meninggalkan Elsa untuk mengantarkan dokter Cole ke depan. Elsa pun berbalik mengalihkan pandangannya ke arah Lili yang masih tertidur. Satu jam kemudian, Lili akhirnya sudah sadar. Perlahan-lahan ia membuka kedua matanya. Ia mengamati seluruh langit-langit atap. Pandangan matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Ruangan yang sedikit luas dengan desain minimalis dan furniture yang terlihat elegan, membuat Lili beranjak dari tidurnya.


"Kau sudah bangun?"


Suara seorang wanita yang duduk di sebelahnya telah mengejutkan Lili.


"Siapa kau?!" tanya Lili.


"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu. Siapa kau? Darimana kau berasal? Kenapa pakaianmu aneh? Apa kau ingin bercosplay? Kira-kira karakter apa yang kau mainkan?!"


"Elsa, berhenti mengintrogasi orang."


"Eh kakak. Kau sudah kembali."


Lili melihat seorang pria yang berjalan menuju ke arahnya. Jika dilihat dari postur badannya dan wajahnya, ia seumuran dengan mantan suaminya, putra mahkota Feng. Pria itu mengambil kursi yang kosong , yang berada di sebelah adiknya. Lili melihat pria itu duduk di sebelah gadis yang bernama Elsa.


"Ini kakakku. Namanya kak Vincent. Dia yang membawamu kemari, karena melihat kau mengalami luka yang cukup parah. Dan namaku Elsa Roxanna. Panggil aku Elsa." terang Elsa sambil mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan Lili.


"Lili. Namaku Lili." ucap Lili sambil menyambut uluran tangan Elsa.


Keduanya saling berjabat tangan.


"Lili, dari kota mana kau berasal?" tanya Vincent kepada Lili.


Lili pun menarik tangannya kembali dan mengalihkan pandangannya ke arah Vincent.


"Kalau aku boleh tahu, ini dimana? Tempat apa ini?"


Vincent dan Elsa saling berpandangan satu sama lain.


"Ini di Negara Y. Kota M. Perkenalkan namaku, Vincent Valenntino. Jika melihat penampilanmu, kau terlihat sedikit tua dariku. Berapa umurmu?!"


"Seribu tahun."


"Hahhhhhh?!!!! Seribu tahun?!!!" teriak Vincent dan Elsa secara bersamaan.


Tiba-tiba keduanya tertawa terbahak-bahak. Lili bingung melihat kedua orang yang berada di depannya sedang tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa kalian berdua tertawa?!" tanya Lili dengan wajah polos.


"Kau ini lucu Lili. Jika kau ingin menjadi pelawak, kenapa tidak mendaftar di talent show saja?" ejek Elsa sambil tertawa.


"Lili, kami bertanya serius kepadamu. Dan kau malah... hahaha!"


"Aku serius. Umurku memang seribu tahun. Dan aku bukan berasal dari sini."


Mendengar hal itu, Vincent dan Elsa langsung berhenti tertawa. Keduanya saling bertukar pandang satu sama lain dalam waktu yang cukup lama.


"Apa maksudmu? Kau berkata, bahwa kau bukan berasal dari sini? Lalu, kau berasal dari mana?" tanya Elsa dengan wajah penasaran.


"Aku... aku tidak tahu. Aku tidak ingat apa-apa."


"Kau yakin, kau tidak mengingat apa-apa?!" tanya Vincent.


"Ya."


"Apa kau tidak ingat, bagaimana kau bisa mengalami pendarahan?"


"Pendarahan?!"


"Ya. Dokter mengatakan, kau mengalami pendarahan akibat keguguran. Dan ditambah, kau mengalami hilang ingatan secara sementara."


"Sudahlah kak. Jangan memaksanya untuk mengingat masa lalunya."


"Maaf. Aku minta maaf. Aku tidak ingat apa-apa."


...****************...


"Lalu, bagaimana ingatanmu bisa kembali Lili?" tanya Elsa.


Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Elsa, Lili terdiam sejenak. Melihat Lili yang terdiam, Vincent menatapnya dan mulai buka suara.


"Kenapa kau diam saja?" tanya Vincent dengan ekspresi serius di wajahnya.


"Saat itu tepat di malam bulan purnama, aku sedang menggambar. Tiba-tiba aku mendengar suara raungan ribuan binatang buas dari luar vila ini." terang Lili sambil mengingat kembali memori di masa lalu saat ia berada di zaman modern.


"Aku mencoba membuka jendela kamarku. Dan betapa terkejutnya aku, saat aku melihat ada seekor elang hitam raksasa muncul tepat di hadapanku."


Mendengar Lili bercerita bahwa ia pernah berjumpa dengan seekor elang hitam raksasa di dunia ini. Terlebih ia bertemu tepat di vilanya, membuat Vincent dan Elsa merinding ketakutan. Beruntungnya, keduanya bersyukur tidak bertemu dengan elang hitam raksasa itu.


"Lalu, apa selanjutnya yang terjadi?" tanya Vincent kepada Lili.


"Elang itu berkata kepadaku."


"Berkata apa?!" tanya Elsa dengan wajah penasaran.


"Dia berkata..."


Ratu... bangunlah. Pulanglah ke Istana. Kami membutuhkanmu. (Ucap Lili menirukan perkataan yang diucapkan oleh elang hitam raksasa itu.)


"Lalu?" tanya Elsa


"Dia menghilang."


"Apa elang hitam raksasa itu makhluk iblis?"


"Hahhh??!!! Seperti yang ada di film, komik dan novel saja."


"Jika kau melihat wujud manusianya, kau pasti jatuh cinta kepadanya." goda Lili.


"Tidak mungkin. Sekalipun dia tampan, dia itu makhluk jelmaan. Aku tidak mau."


Mendengar Elsa mengatakan hal itu, Lili dan Vincent tersenyum bersamaan.


"Lalu, bagaimana kau bisa menghilang secara tiba-tiba? Katakan?!" tanya Vincent dengan ekspresi serius di wajahnya.


"Setelah kejadian itu, aku selalu bermimpi hal yang sama. Dan aku merasa, mimpi itu kenyataan. Seperti..."


"Seperti kau pernah mengalaminya?" sahut Vincent


"Iya."


"Itu mimpi masa lalumu, Lili. Dokter Cole mengatakan, ingatanmu hanya hilang sementara." terang Vincent.


"Aku pikir begitu. Berulang kali aku bermimpi hal itu, aku merasakan ada sesuatu aneh yang mengalir dari dalam tubuhku. Dan itu adalah kekuatan sihirku."


"Wahhh... kau seorang penyihir Lili?!" kagum Elsa.


"Tidak. Aku adalah Ratu Iblis."


Bagai disambar petir di siang bolong, Vincent dan Elsa kaget bukan main. Keduanya saling bertukar pandang satu sama lain dalam waktu yang cukup lama. Kemudian keduanya mengalihkan pandangannya ke arah Lili. Melihat tatapan aneh di wajah kedua orang itu, Lili hanya tersenyum.


"Mungkin kalian bertanya kenapa aku bisa menjadi Ratu Iblis. Itu karena aku mempelajari sihir hitam. Aku terpaksa mempelajarinya, karena meridianku dihancurkan oleh guruku sendiri." terang Lili sambil mengepalkan kedua tangannya di atas pahanya.


"Kejam sekali!" geram Elsa


"Apa kau tidak apa-apa?" cemas Vincent.


"Ya. Itu karena ada seseorang yang datang menyelematkan aku."


"Syukurlah."


"Karena kekuatan sihirku telah kembali bersamaan dengan ingatanku yang telah hilang. Aku merasakan duniaku dan dunia kalian berdampingan."


"Apa maksudnya?" tanya Vincent dan Elsa secara bersamaan.


"Duniaku terhubung dengan dunia kalian ini."


"Semacam portal?"


"Ya. Karena itu, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian jadi aku merahasiakannya dari kalian berdua. Aku membuat boneka manna yang sama persis dengan diriku. Aku menambahkan sedikit kekuatan sihir di dalamnya. Agar ia tidak terlihat seperti boneka manna, dan aku bisa menggerakkan boneka itu dimanapun kapanpun, sesuka hatiku."


"Bukannya kau bilang, kekuatanmu melemah. Bagaimana kau bisa melakukannya?" tanya Vincent.


"Humph. Sangat sulit untuk dijelaskan. Karena aku adalah Ratu Iblis." jawab Lili dengan senyum menyeringai di wajahnya.


Mendengar hal itu keduanya langsung terdiam tanpa kata.


"Jadi, yang berbicara kepadaku terakhir kali saat itu, bukan kau... tapi boneka?" tanya Elsa.


"Tidak. Itu aku sendiri. Setelah kau keluar dari kamarku, aku langsung menggunakan mantra teleportasiku. Memperbaiki duniaku dan duniamu agar tidak terhubung dengan sendirinya."


"Jadi, kau memutuskan portal itu?"


"Ya. Karena saat pelarianku, kekuatanku melemah. Hingga mantra teleportasiku bisa membuka portal antara duniaku dan duniamu tanpa aku sadari. Itu akan berbahaya jika ada yang menyadarinya. Aku tidak ingin menyeret kalian berdua dan orang-orang yang tidak bersalah di dunia ini."


"Karena itu, kau melakukan ini semua?"


"Ya."


"Jadi, kau datang kemari untuk mengucapkan salam perpisahan?"


"Ya. Dan juga, rasa terima kasihku kepada kalian berdua. Jika bukan karena kalian berdua yang menolongku, aku tidak tahu apakah aku masih hidup atau tidak."


"Jangan berkata seperti itu Lili. Kami berdua menolongmu dengan ikhlas, benar kan kak?"


"Mmm."


"Sebagai rasa terima kasihku kepada kalian, tolong kalian berdua terima hadiah dariku ini." ucap Lili sambil mengeluarkan dua mantel berbulu yang sangat indah dari dalam ruang penyimpanan miliknya.


Vincent dan Elsa takjub melihat sihir yang dimiliki oleh Lili. Keduanya menerima masing-masing mantel berbulu itu di tangan mereka. Mantel berbulu milik Vincent berwarna biru muda sedangkan mantel berbulu milik Elsa berwarna merah muda. Keduanya menyentuh mantel itu dan rasanya sangat halus, seperti kapas.


"Mantel itu bukan mantel biasa. Ia bisa melindungimu dari aura jahat dan senjata apapun. Saat kalian kenakan mantel itu, ia akan terlihat transparan, menyatu dengan pakaian yang kalian kenakan. Dan hanya bisa dilihat dan dilepas oleh pemiliknya."


"Benarkah?! Itu berarti, orang lain tidak bisa mencurinya dari kita?!"


"Ya."


"Jika ada orang yang ingin membunuhku atau menembakku, aku tidak akan mati bukan?!"


"Ya."


"Lili, hadiah ini terlalu luar biasa dan hebat untuk kami berdua. Kami..."


"Itu tidak sebanding dengan bantuan dan keihklasan kalian berdua. Juga pengorbanan kalian berdua untukku. Kak Vincent, Elsa, terima kasih. Aku bersyukur bisa bertemu dan mengenal kalian."


"Aku juga Lili." ucap Elsa sambil memeluk Lili.


Lili pun membalas pelukannya. Vincent tersenyum melihatnya.


"Baik, aku pamit undur diri dulu. Jaga diri kalian baik-baik."


"Lili, aku ada satu permintaan padamu, sebelum kau pergi. Apa boleh?" tanya Elsa kepada Lili.


"Apa itu?!"


"Lili, bolehkah aku dan kakakku melihat wujud aslimu sebagai seorang Ratu Iblis?!"


"Tentu saja."


Lili pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menjauh dari mereka. Ia pun berbalik menghadap ke arah Vincent dan Elsa. Dengan senyum manis di wajahnya, Lili menunjukkan wujud aslinya di depan mereka berdua. Angin kencang berhembus di sekitar Lili, namun tidak menerbangkan benda-benda yang ada di dalam rumah. Betapa terkejutnya Vincent dan Elsa melihat wujud Lili yang sebenarnya. Sangat cantik dengan balutan gaun berwarna kuning keemasan.



"Cantik. Apa itu benar-benar kau, Lili?" tanya Elsa dengan kedua mata berbinar-binar.


"Ya."


"Kau cantik sekali." puji Vincent sambil tersenyum kagum kepadanya.


"Terima kasih atas pujianmu, kak Vincent. Tapi ada sesuatu yang harus kalian tahu. Bahwa iblis selalu bersembunyi di balik keindahan."


"Hahaha... tapi bagi kami berdua, kau bukan iblis. Kau adalah wanita yang baik, lemah lembut dan baik hati. Sebutan Ratu Iblis sangatlah tidak cocok untukmu."


"Apa yang dikatakan oleh kakakku benar. Lili... ah ratu, kau harus hidup bahagia dan damai disana. Temui cinta sejatimu yang sebenarnya." tambah Elsa.


"Terima kasih. Kalian juga harus hidup damai dan bahagia. Selamat tinggal." ucap Lili sambil melambaikan tangan kanannya ke arah mereka sebagai ucapan perpisahan yang terakhir kepada sahabat sekaligus keluarga di dunia ini.


Vincent dan Elsa membalas lambaian tangan Lili sambil tersenyum. Terlihat sangat jelas raut di wajah mereka sangat bahagia. Orang yang selama ini mereka cari selama bertahun-tahun, kini muncul kembali dan mengucapkan salam perpisahan kepada mereka. Tidak hanya itu, ia juga meninggalkan sejuta kenangan yang selalu membekas di kehidupan dan hati mereka berdua. Perlahan-lahan tubuh Lili mulai memudar dan menghilang. Tinggallah Vincent dan Elsa disana.


"Kakak, apakah Lili akan bahagia disana?"


"KIta do'akan saja yang terbaik untuknya."


Keduanya menggenggam erat mantel berbulu, hadiah dari Lili... sang Ratu Iblis.