
Di Dalam Kamar Mandi
Di dalam kolam yang besar, dipenuhi dengan kelopak mawar merah, didalamnya terdapat dua orang yang sedang berendam disana. Lili sedang menggosok punggung kekar milik Feng (suaminya) dengan kedua tangannya menggunakan kain yang dipegangnya. Sekalipun dia adalah seorang pria dewasa, punggungnya sangat halus dan bercahaya. Tanpa sadar, Lili berhenti menggosoknya. Merasa Lili berhenti menggosok punggungnya, Feng melirik dan menegurnya.
"Lili, apa yang kau lakukan? Kenapa berhenti menggosok punggungku?!"
Lili yang tersadar mendengar teguran Feng, langsung menggosok punggungnya dengan wajah yang memerah. Feng yang meliriknya, tiba-tiba tersenyum melihat wajah Lili yang memerah. Lili yang merasa dirinya ditatap oleh Feng, langsung menunduk kebawah. Melihat Lili yang tertunduk malu, Feng lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Lili, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu?"
"Apa itu?"
"Aku penasaran, kau mempunyai hubungan apa dengan kakakku?" tanya Feng dengan nada dingin.
"Hubungan pertemanan."
"Hanya itu?!"
"Iya. Aku dan dia hanya berteman saja."
"Hubungan sebatas teman."
"Iya."
"Tapi, aku melihatnya tidak sesederhana itu."
"Apa maksudmu?"
Feng lalu memutar badannya dan menghadap ke belakang. Ia menatap Lili yang sedang memegang kain ditangan kanannya. Keduanya saling bertukar pandang dalam waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya, Feng mulai membuka suara.
"Seorang pria lajang bertemu dengan seorang gadis muda yang belum menikah, di tengah malam, melalui pintu jendela setiap hari, setiap malam. Menurutmu, apa itu hanya sebatas hubungan pertemanan saja?!"
Deggg
Jantung Lili berdegup kencang mendengar pernyataan Feng yang menusuk hatinya. Bagaimana mungkin Feng tahu perihal, pangeran Sirzechs (kakak tiri putra mahkota Feng), yang sering menemuinya di malam hari, melalui pintu jendela kamarnya. Selama ini, hanya dirinya dan pangeran Sirzechs yang tahu mengenai ini. Tapi, bagaimana bisa suaminya, putra mahkota Feng bisa mengetahui perihal pertemuannya dengan kakak tirinya, pangeran Sirzechs. Lili sangat gugup mendengar hal itu. Namun, ia berusaha untuk tetap bersikap tenang.
"Iya."
"Apa maksudmu?!" tanya Feng dengan alis yang mengernyit.
"Mana mungkin orang mempunyai hubungan khusus, hanya dengan bertemu di tengah malam, setiap hari?! Bisa saja mereka berdua saling berbagi informasi atau sekedar belajar bersama."
"Humph. Berbagi informasi? Belajar bersama?!" tanya Feng dengan ekspresi dingin diwajahnya.
"Iya. Apa ada yang salah dengan itu?"
"Bagaimana jika yang mereka pelajari adalah cara menjadi sepasang kekasih yang baik? Atau berbagi informasi mengenai, seseorang yang disukai misalnya?!"
"Orang ini, dia bertanya apa menginterogasi?! Entah kenapa, aku merasa... aku telah melakukan kesalahan kepadanya?!" batin Lili.
"Bukankah seorang teman sering membicarakan hal-hal semacam itu. Apa kau tidak pernah membicarakan sesuatu yang semacam itu kepada teman-temanmu, misalnya?!"
"Tidak."
"Kenapa?!"
"Karena aku tidak mempunyai teman."
"Kenapa kau tidak mempunyai teman? Apakah mereka semua membencimu?!"
"Tidak."
"Karena aku tidak membutuhkan mereka semua!"
"Sombong sekali dia!!!" umpat Lili dalam hati .
"Kenapa kau tidak membutuhkan mereka?!"
"Ada beberapa hal yang boleh kau ketahui dan tidak boleh kau ketahui. Ada yang boleh kau tanyakan dan ada yang tidak boleh kau tanyakan. Aku harap kau mengerti perkataanku!"
"Huh, angkuh sekali dia! Menyebalkan sekali harus hidup dengan pria iblis seperti dia. Tidak punya hati, sombong, angkuh, dingin. Tak ada hal baik dalam dirinya, kecuali wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang sangat memikat para wanita." pikir Lili.
"Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi."
Mendengar Lili meminta maaf kepadanya, Feng menarik Lili ke dalam pelukannya. Ia memeluk erat tubuh mungil istrinya itu. Seolah ia tidak ingin melepaskan pelukannya.
"Feng."
"Panggil aku suami."
"Su... suamiku. A... aku... kesakitan. Kau memelukku sangat kencang."
"Maaf. Apa masih sakit?" tanya Feng sambil melonggarkan pelukannya.
"Tidak."
"Lili, besok pagi... aku akan mengajakmu pergi berkeliling ke dalam istana."
"Kenapa?!"
Feng melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Lili dengan kedua tangannya.
"Aku tidak ingin kau tersesat dan bertemu orang lain."
"Kenapa? Bukankah sangat bagus jika aku bertemu orang lain? Aku bisa bertanya padanya jika aku tersesat."
"Tidak boleh!!!" bentak Feng dengan ekspresi wajah yang sangat menakutkan.
"Kenapa?!"
"Kenapa?!!! Karena kau adalah istriku! Permaisuriku! Calon ratu masa depan! Aku tidak ingin ada orang lain yang mencoba menyakitimu! Apalagi, merebutmu dariku?!"
Mendengar Feng mengatakan hal itu kepadanya, Lili hanya tersenyum dingin menanggapinya. Ia tidak percaya dengan apa yang dia katakan kepadanya. Seorang pria yang sekarang ada dihadapannya, yang telah menjadi suaminya, mengatakan sesuatu yang konyol di depannya. Lili tahu betul, pertemuan Pertama dirinya dengan putra mahkota Feng hingga malam pertamanya dan sekarang. Dimatanya, Lili hanyalah seorang gadis yang berkedudukan rendah, berparas jelek dengan tubuh yang mungil tak menarik hati. Namun, karena prestasi dia dalam mempelajari ilmu sihir hitam miliknya, untuk menaklukkan hutan misterius, membuat dirinya sangat menarik di mata raja. Membuat raja menikahkan dirinya dengan salah satu anaknya, yaitu putra mahkota Feng. Pria yang merendahkan dirinya, mengolok-olok dirinya, dan pria yang mengambil keperawanannya di malam pertamanya, yang tak lain adalah putra mahkota Feng, suaminya sendiri. Melihat Lili memandangnya dengan ekspresi dingin dan tidak percaya di wajahnya, membuat Feng hilang kendali. Ia menarik Lili ke dalam pelukannya dan mencium bibirnya. Ia mencengkram tubuh Lili dengan sangat kuat. Seolah ia sedang marah, karena kesayangannya tidak mempercayainya. Lili yang merasa kesakitan, meronta ke dalam pelukannya. Namun, semakin ia meronta, semakin Feng mencengkeram kuat. Hingga akhirnya Lili hanya bisa pasrah dirinya dikuasai oleh Feng, bukan oleh dirinya sendiri. Setelah puas menciumnya, Feng melepaskan ciumannya. Ia melihat Lili berlinang air mata.
Untuk pertama kalinya, ia melihat air mata seorang gadis di depannya. Dan air mata itu adalah air mata istrinya. Dengan lembut, ia menghapus air mata yang membasahi kedua pipi istrinya.
"Kenapa kau menangis?!" tanya Feng sambil mengusap air mata Lili dengan kedua tangannya.
"Hiks... hiks... kenapa? Kenapa kau jahat kepadaku? Kenapa kau bersikap kasar kepadaku? Apa salahku kepadamu? Jika kau memang tidak menyukaiku, kau bisa saja membatalkan pernikahan ini, seperti yang dilakukan oleh kakakmu. Itu jauh lebih baik, daripada menyiksaku pelan-pelan seperti ini." terang Lili sambil menangis.
Berapa kagetnya Feng mendengar Lili yang mencurahkan isi hatinya kepadanya. Terlebih istrinya menangis didepannya. Membuatnya semakin bingung untuk menenangkannya.
"Lili, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya...."
"Hanya apa? Yang Mulia, aku tidak tahu sebenarnya dimatamu, aku... kau anggap sebagai apa?"
"Aku tidak tahu."
Mendengar jawaban itu, Lili menundukkan kepalanya. Wajahnya berubah menjadi muram. Ia segera berbalik dan pergi keluar dari kolam, meninggalkan Feng yang masih didalam kolam. Feng tertegun melihat Lili pergi meninggalkannya.
"Apa aku telah menyakiti hatinya?!" gumam Feng.