
"Entahlah." kata salah satu murid kelas lain
"Kenapa burung itu ada di sini?"
"Apakah ada salah satu murid di sini yang berhasil mempraktekkan sihir?"
"Ini terlalu hebat."
Terdengar ribuan pertanyaan dari ribuan mulut dan ribuan sepasang mata yang melihat. Keributan tidak hanya di kelas Lili saja, melainkan di luar kelas. Lili berdiri mematung seolah tidak percaya dengan apa yang barusan ia lihat. Ia berhasil menciptakan sihir. Sihir kedua miliknya, burung api. Ia tersadar dari lamunannya, setelah bahunya ditepuk lembut oleh seseorang yang tak lain adalah guru Rey.
"Kendalikan sihirmu sekarang. Sebelum suatu hal yang buruk terjadi."
"Baik guru."
Baru beberapa langkah, Lili tiba-tiba berhenti. Ia sadar bagaimana caranya ia bisa terbang. Tiba-tiba Krisan muncul di sampingnya sambil menepuk bahu kirinya dengan lembut. Ia mengeluarkan burung origami kertas berwarna putih dari balik jubahnya sambil tersenyum ke arah Lili.
"Jangan khawatir, kau bisa memakai ini." kata Krisan sambil menyerahkan burung kertas itu kepada Lili
"Tapi..."
"Ambillah. Ini untukmu. Anggap saja ini hadiah rasa terima kasihku padamu karena sebelumnya kau sudah menyelamatkan aku."
"Baiklah." kata Lili sambil mengambil burung kertas yang ada di tangan Krisan.
Tanpa basa-basi, Lili melemparkan burung kertas itu di udara. Burung kertas yang semula kecil berubah menjadi raksasa dan mengepakkan sayapnya. Lili pun naik di atas punggung burung kertas itu. Setelah ia naik ke atas, burung itu pun terbang sesuai arahan Lili melalui jendela kelasnya yang terbuka lebar. Melihat Lili bisa mengendalikan burung kertas itu, Krisan tersenyum. Dalam hatinya ia berkata "Apa benar Lili tidak mempunyai sihir? Tapi, melihatnya bisa mengendalikan burung kertas, aku rasa dia bukan gadis biasa."
"Hei coba kalian lihat itu!" teriak salah satu murid pria dari kelas lain
"Mana-mana?!"
"Itu bukannya seorang gadis kecil?"
"Mana-mana?! Ah iya!"
"Apa gadis itu yang mengendalikan burung api itu?"
"Mungkin saja."
"Kalian diamlah. Lebih baiklah kita menontonnya. Jangan berkomentar dulu!"
Lili terbang mendekati burung api itu. Melihat Lili mendekatinya, burung api itu terbang perlahan ke arahnya. Tubuhnya perlahan-lahan menyusut menjadi ukuran yang lebih kecil, sangat imut. Lili mengulurkan tangan kanannya dan burung itu pun mendarat tepat di atas telapak tangannya. Dengan penuh kasih sayang, Lili pun mengelus kepala burung api kecil itu. Merasakan belaian lembut dari tangan mungil Lili, burung itu pun merasa nyaman.
"Waktunya kita untuk kembali." kata Lili kepada burung api itu.
Seolah burung api itu mengerti perkataan yang diucapkan Lili, ia pun menjawabnya dengan kicauan merdunya. Pertanda bahwa ia setuju akan ajakan Lili. Lili pun mulai terbang kembali menuju ke kelasnya.
"Hey lihat! Dia terbang menuju kesini!" teriak salah satu murid kelas lain
Lili pun mendarat tepat di dalam kelasnya sambil membawa burung api yang ada di genggamannya. Seketika itu semua murid yang berada didalam kelas berbondong-bondong menhampirinya. Mereka semua penasaran dengan apa yang ada didalam genggaman Lili.
"Lili apa yang kau pegang itu?" tanya salah satu murid perempuan kepadanya.
Lili pun perlahan membuka tangan kirinya. Ada seekor burung api kecil yang sedang berbaring dengan kedua matanya yang tertutup. Semua mata tertuju pada burung api kecil itu. Sangat imut ketika tubuhnya mengecil. Gres yang penasaran berjalan mendekat ke arah Lili dan menyentuh burung api yang sedang tertidur diatas tangan kanan Lili. Ketika tangan kanannya menyentuh badan burung api kecil itu, kobaran api besar menyambar tangan kanannya. Spontan Gres langsung berteriak kesakitan. Melihat tangan kanan Gres terbakar karena menyentuh burung itu, semua murid-murid yang tadinya bergerombol mengerumuni Lili langsung mundur menjauh dari Lili dan Gres. Lili sangat kaget melihat Gres yang berteriak kesakitan dengan tangan kanannya yang terbakar. Pandangannya menuduk ke bawah melihat burung api kecil yang semula berbaring dengan kedua mata yang tertutup kini burung itu berdiri tegak mengeluarkan aura api yang panas dari dalam tubuhnya. Dengan lembut, Lili membelai tubuhnya seolah menenangkannya dan membisikkan sesuatu pada burung api kecil itu.
"Bukan maksud dia menganggu istirahatmu. Padamkan api yang membakar tangannya dan sembuhkan dia." bisik Lili
Seketika api yang berkobar di tangan Gres perlahan padam. Tangan kanan Gres mulai menghitam seperti warna arang kayu yang terbakar oleh api. Semua orang yang melihat kejadian itu saling berpandangan dan berbisik. Melihat tangannya berwarna hitam, Gres pun mengalihkan pandangannya ke arah Lili dengan wajah penuh amarah. Melihat ekspresi di wajah Gres, Lili pun tersenyum dingin. Ia berjalan menghampiri Gres.
"Kenapa? Kau ingin membalasku? Lakukan saja, jangan ditahan. Tapi, jika kau masih menginginkan tanganmu, patuhi aku!" tegas Lili
"Aku? Kau buta ya?! Dia sendiri yang datang dan mengelus burung api milikku. Apa kau ingin menyangkalnya?!" sambar Lili kepada Sean
"Kau!" teriak Sean
"Cukup Sean!" bentak Gres
Sean terkejut melihat Gres mulai berani membentaknya didepan semua orang. Gres yang selama ini selalu patuh dan mengikutinya, dalam sekejap saja sudah berubah menjadi orang yang asing baginya.
"Gres, kau?!"
"Berhenti mencampuri urusanku Sean! Lili apa yang kau inginkan dariku?" tanya Sean
"Patuhi aku!" kata Lili sambil mengelus burung api ditangannya. Dan seketika burung api itu menghilang memancarkan percikan api dimana-mana.
"Ini, guru Rey?" tanya Gres kepada guru Rey. Ia berharap guru Rey akan membantunya.
"Aku rasa kita tidak perlu memperpanjang masalah ini Lili." terang guru Rey kepada Lili
"Tentu saja guru. Hanya saja, aku memberi peringatan kepada Gres. Jika dia tidak mengindahkannya, itu semua bukan salahku."
"Baik. Mulai hari ini aku akan patuh kepadamu. Tapi dengan syarat?!"
"Katakan."
"Sembuhkan tanganku. Ini ulahmu! Kau harus bertanggung jawab!"
"Siapa suruh kau mengelus burung api milikku? Dan kenapa juga aku harus bertanggung jawab atas kecerobohanmu?!"
"Kau?!"
"Humph, karena aku menghormati guru Rey, aku akan menyembuhkanmu. Tapi dengan satu syarat."
"Kau sengaja mempersulit Gres kan?!" bentak Sean
"Bagaimana Gres?"
"Baiklah. Katakan apa syaratmu?!
"Gres, kau serius?!"
"Diam!"
"Patuhi aku! Jika kau melanggarnya, aku tidak akan membuat tanganmu menghitam. Tapi akan memotongnya juga!" ancam Lili kepada Gres
"Kau keterlaluan! teriak Sean kepada Lili
"Gres, tampar Sean!" perintah Lili
"Apa?!" semua orang berkata secara bersamaan.
"Gres, kau bilang akan mematuhiku. Kenapa masih diam saja?"
Mendengar Lili memerintahkan Gres untuk menamparnya, Sean mengalihkan pandangannya ke arah Gres.
"Kenapa? Kau takut?"