
Sesampainya ia di istana, Pangeran Sirzechs memilih untuk beristirahat di paviliun taman. Sambil memandang langit malam ini, yang indah berhiaskan bulan dan bintang. Bayangan Lili mulai menghantui pikirannya. Pangeran Sirzechs seolah melihat Lili duduk berhadapan dengannya, sambil tersenyum kepadanya. Namun ia sadar, bahwa itu hanyalah ilusi hatinya.
"Sialan! Lama-lama aku bisa gila." human Pangeran Sirzechs sambil beranjak dari tempat duduknya.
Saat ia hendak berjalan menuju kamarnya, ia melihat ayah tirinya sedang berjalan menuju kamar Feng. Beliau berjalan dengan ditemani dua penjaga setianya.
"Itu... bukankah arah menuju kamar Feng. Kenapa ayahanda berjalan kesana?"
Karena penasaran, Pangeran Sirzechs mengikuti ayah tirinya dari belakang. Agar tidak ketahuan oleh ayahnya, Pangeran Sirzechs menggunakan sihir penghilang. Dirasa dirinya sudah tidak terlihat oleh siapapun. Ia berjalan mengikuti ayahnya masuk ke dalam kamar Feng.
Kreekkk (suara pintu dibuka dari dalam)
"Ayah?" kata Feng dengan ekspresi kaget di wajahnya.
Tanpa basa-basi, sang ayah masuk ke dalam kamarnya. Mengamati seluruh isi ruangan.
"Kalian berdua, tunggulah aku di depan dan berjagalah. Jangan biarkan orang lain masuk ke dalam!"
"Baik Yang Mulia." jawab dua pengawal pribadi itu secara bersamaan.
Mereka berdua berpamitan dan menutup pintu kamar tersebut. Dan mulai berjaga di depan pintu. Melihat kedua penjaganya sudah keluar dan berjaga di depan pintu kamar pangeran Feng, raja mulai berjalan mengambil tempat duduk. Ia duduk di sofa panjang berwarna putih. Jubahnya yang mewah ia bentangkan sehingga hampir menutupi badan sofa itu.
"Apa yang kau lakukan disana? Cepat duduk?!"
Feng yang masih berdiri di samping pintu kamarnya, langsung berjalan dan mengambil duduk di sofa yang berhadapan tepat di depan ayahnya.
"Kau pasti kaget, kenapa aku tiba-tiba datang kemari selarut ini?"
"Maaf ayahhanda, ananda tidak tahu jika ayahhanda datang ke kamar ananda."
"Aku memang sengaja tidak memberitahumu. Ada sesuatu yang penting, yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Apa itu ayah?"
"Mengenai pernikahanmu dengan Lili."
Mendengar ayah tirinya menyinggung soal pernikahan adik tirinya, jantung Pangeran Sirzechs berdegup kencang. Pangeran Sirzechs yang sedari tadi bersembunyi di balik sketsel bermotif bunga sakura, sangat kaget ketika mendengar ayah tirinya ingin membahas pernikahan adik tirinya itu. Merasa ada seseorang yang mengawasinya, raja menatap ke arah sketsel yang berada tak jauh dari tempat ia duduk. Melihat ayahnya menatap ke arah sketsel, Feng menegurnya.
"Ada apa ayah? Apa ada yang salah dengan kamarku?!"
"Tidak ada. Aku hanya merasa, pembatas ruanganmu sangat unik. Bunga sakura yang yang berguguran, sangat indah dinikmati ketika musim semi."
"Ayah benar. Jika ayahhanda menginginkannya, aku akan menyuruh orang untuk membuatkannya untukmu."
"Tidak perlu. Aku tidak menyukainya. Terlebih sesuatu yang tersembunyi berada di dalamnya." kata raja yang masih menatap ke arah sketsel itu.
"Hah?! Apa maksud perkataan ayahhanda?"
"Tidak ada." jawab raja sambil mengalihkan pandangannya ke arah putra mahkota Feng.
"Apa ayahhanda sedang menyindirku?" batin Pangeran Sirzechs.
"Mari kita kembali ke topik pembicaraan kita, tentang pernikahanmu."
"Memangnya ada apa dengan pernikahanku, ayah?"
"Apa kau tidak penasaran, kenapa aku menikahkanmu dengan Lili?"
"Tidak. Itu sudah jadi keputusan ayah. Aku hanya bisa menerimanya."
"Memang kau adalah anakku yang sangat pengertian."
"Terima kasih ayah, atas pujiannya."
"Dengar baik-baik. Aku ingin kau mengingat apa yang aku perintahkan kepadamu. Aku harap, kau tidak akan mengkhianatiku."
"Apa maksud ayah? Aku tidak mengerti?!"
Raja pun beranjak dari tempat duduknya. Ia melewati Feng dan berjalan menuju jendela kamar Feng, yang berada di samping sofa yang didudukki oleh Feng. Ia menatap ke luar jendela.
"Dua bulan lagi, kalian akan menikah. Sebelum kalian menikah, aku ingin kau menghabiskan waktumu dengannya. Dekati dia. Pikat dia. Ambil hatinya. Buat dia jatuh cinta padamu, hingga tak ingin berpisah denganmu!" pinta raja
"Kenapa ayah memintaku untuk melakukan hal itu? Apa sebenarnya yang kau inginkan, ayahanda?!" tanya putra mahkota Feng sambil beranjak dari tempat duduknya.
Ia berjalan menghampiri ayahnya, namun langkah kakinya berhenti. Jarak diantara mereka berdua hanya satu meter.
"Tidakkah kau ingin tahu, apa rahasia dia bisa keluar dengan selamat dari hutan kematian itu?!"
"Aku tidak tertarik."
"Dasar bodoh!!! Apa kau tidak tahu sejarah hutan kematian itu?!!"
"..."
"Bahkan kakakku sendiri yang terjebak di sana, tidak terdengar kabarnya selama bertahun-tahun. Sementara Lili?! Dia bisa keluar selamat hanya dalam waktu tiga hari?! tiga hari saja?!"
"Bukankah itu adalah suatu pencapaian yang luar biasa, yang hanya terjadi sekali dalam ribuan tahun di negeri kita, ayah. Bukankah seharusnya kita bangga kepadanya."
"Tsk. Kau tidak tahu, bahwa sihir hitam dilarang di negeri ini."
"Lalu, apa hubungannya dengan Lili?!"
"Saat aku masih muda, kakekmu memanggil seorang peramal. Beliau meminta peramal itu meramalkan nasib negerinya ini. Dan kau tahu apa yang dikatakan oleh peramal itu kepada kakekmu?!" tegas raja sambil berbalik menatap putra mahkota Feng dengan tajam.
"Apa?!"
"Peramal itu mengatakan bahwa, negeri ini kelak akan dikuasai oleh orang dengan ilmu sihir hitam yang luar biasa. Tak ada satupun orang yang berhasil menundukkannya. Tidak hanya itu, dia juga mempunyai daya pikat yang luar biasa."
"Apa peramal itu menyebutkan, siapa orangnya?"
"Peramal itu tidak menyebutkan siapa orangnya. Ia hanya menyebutkan ciri-cirinya saja."
"Bagaimana ciri-cirinya?!"
"Dia seorang gadis muda bertubuh kecil. Berambut hitam panjang lurus tergerai. Tidakkah kau melihat, bahwa ciri-ciri gadis itu ada pada Lili."
"Bagaimana bisa, ayahanda sangat yakin bahwa itu adalah Lili? Ada banyak gadis yang menyerupai ciri-ciri tersebut. Apa kau mempunyai bukti?"
"Bukti tidak ada. Tapi, aku tidak akan salah!"
"Maaf jika aku lancang ayahanda. Tanpa bukti, kita tidak bisa menuduh seseorang seenaknya."
"Diam!!! Kau masih awam untuk bisa mengerti hal ini. Untuk itu serahkan sisanya kepadaku. Kau hanya perlu melakukan hal ini."
"Hal apa itu, ayahanda?!"
"Saat malam pertamamu, aku ingin kau menyerap kekuatannya. Jika kau tidak berhasil menyerap kekuatannya, kau bisa melemahkan kekuatannya. Aku akan mempersiapkannya. Bagaimana? Apa kau mampu melakukannya?!" tanya raja dengan senyum menyeringai.
"Apa?!" batin Putra mahkota Feng dan Pangeran Sirzechs secara bersamaan.