
"Aku adalah sahabat dari almarhumah nenekmu."
"Bohong!!! Mana mungkin kau adalah sahabat almarhumah nenekku?! Kau hanyalah pembohong besar yang berpura-pura menyamar sebagai teman dari almarhumah nenekku!" teriak Lili
"Tidak mungkin almarhumah nenek mempunyai teman pria yang awet muda seperti dia?! Dia hanyalah salah satu dari buaya jantan yang sedang mencari mangsa!" batin Lili.
Mendengar Lili meneriakkinya sebagai pembohong besar, pria itu langsung tertawa terbahak-bahak. Tidak ada yang salah, jika Lili mengatakan dirinya adalah seorang pembohong. Wajah dan tubuhnya yang terlihat awet muda, jelas membuat semua gadis yang melihatnya tidak akan percaya jika dirinya adalah seorang kakek berusia ratusan tahun. Tak terkecuali dengan gadis yang berdiri di depannya sekarang ini.
"Kenapa kau tertawa?!"
"Tidak salah jika kau mengatakan aku sebagai seorang pembohong besar. Kau mungkin tidak mempercayainya karena ragaku tidak terlihat seperti seorang kakek tua. Apa yang aku katakan benar?!"
Betapa terkejutnya Lili saat mendengar apa yang diucapkan oleh pria tua itu benar adanya. Tanpa sepengetahuan Lili, pria yang berdiri di depannya itu, mampu membaca isi hati dan pikirannya.
"Sial! Apa jangan-jangan... dia bisa membaca isi hati dan pikiranku?! Ini gawat! Aku belum pernah menemui lawan sekuat ini!!!"
"Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak tertarik dengan anak-anak." ejek pria itu.
"Apa?! Kau mengataiku anak-anak?!"
"Ya! Kau memang seorang anak perempuan yang bertubuh kecil, dengan wajah dan suara imutmu yang seperti anak kecil. Apa aku salah menyebutmu sebagai anak-anak?!"
"Nenek, bagaimana mungkin kau bisa mempunyai teman seperti dia?!" gumam Lili.
"Kau tahu, siapa aku sebenernya?!"
"Bukankah barusan kau mengatakan, kalau kau adalah sahabat dari almarhumah nenekku?!"
"Tidak hanya itu. Aku adalah kakek dari sahabatmu dan mantan suamimu yang sudah meninggal itu. Dua pria yang sama-sama mencintai gadis yang sama. Menyedihkan."
"Apa?!"
"Apa kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?!"
"Huff, lupakan hal itu. Yang Mulia, aku tidak peduli kau adalah sahabat dari almarhumah nenekku atau kakek dari kedua pria itu. Yang ingin aku tanyakan darimu, kenapa kau merasukki tubuh sahabatku?!"
"Aku tidak merasukkinya. Ini adalah konsekuensi yang harus ia terima, karena telah mematahkan segel yang dibuat oleh adiknya, untuk menyegel kekuatanmu."
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti?!"
"Seseorang yang menggunakan sihir untuk menyegel kekuatan orang lain, harus ada yang dikorbankan. Sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya, yaitu hatinya. Dan jika ia memaksakan untuk mematahkan segel yang dibuat oleh orang lain, maka ia harus menerima konsekuensinya. Tidak hanya kehilangan hatinya, tapi juga segala bentuk emosi di dalam dirinya."
"Itu berarti, apa dia akan menjadi bonekamu?!"
"Seseorang yang hanya memiliki raga tapi jiwanya kosong, menurutmu?!"
"Apa itu semacam... kutukan?!"
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Lili, pria itu hanya membalasnya dengan senyum dingin di wajahnya.
"Yang Mulia, aku memohon kepadamu... untuk menarik kembali kutukan yang ada dalam diri sahabatku." ucap Lili memohon sambil berlutut di hadapan pria itu.
"Jika kau menginginkan aku untuk menarik kutukan yang ada dalam dirinya, ada harga yang harus kau bayar." jawab pria itu dengan nada tegas sambil menatap tajam ke arah Lili.
"Apa itu Yang Mulia?!"
"Menjadi wanita biasa seutuhnya!"
"Apa?! Itu berarti... aku akan kehilangan semua kemampuan dan kekuatan sihirku?!"
"Ya!"
"Yang Mulia, apa tidak ada cara yang lain... selain itu?!"
"Tidak ada!"
"Tidak mungkin! Tidak mungkin! Setiap segel yang diciptakan pasti ada kelemahannya. Termasuk kutukan." sahut Lili dengan wajah tidak percaya.
"Humph, Yang Mulia. Kau pikir aku tidak tahu siapa yang membuat segel dan kutukan semacam itu?!"
"Hahaha, sesuai dengan yang diharapkan dari cucu Alviercha."
"Apa maksudmu, Yang Mulia?!"
"Kau sama persis dengannya saat dia masih muda dulu."
"Benarkah?"
"Ya. Dulu, dia dipandang sebelah mata hanya karena kemampuan sihirnya yang di bawah rata-rata dari teman-temannya. Hanya saja, dia jauh lebih cantik dari kau, cucunya!" sindir pria itu.
"Apa?! Kakek ini sedang menyindirku?!" batin Lili.
"Yang Mulia, katakan saja jika kau sebenarnya menyukai almarhumah nenekku, bukan?!"
"Memang benar. Tidak hanya menyukainya sebagai teman, tapi lebih dari itu. Aku ingin menjadikan dia sebagai permaisuriku. Sayangnya, semuanya hanyalah khayalan semu."
Melihat ekspresi muram di wajah pria yang berdiri di depannya, membuat Lili sedikit merasa iba di dalam hatinya. Pria yang seharusnya dipanggil kakek org dirinya, namun karena penampilannya yang menyerupai Pangeran Sirzechs dan Raja Feng (mantan suaminya), tidak mungkin bagi Lili untuk memanggilnya dengan sebutan kakek. Panggilan Yang Mulia, dirasa dirinya sangatlah pantas, untuk menghormati tetua seniornya. Melihat dirinya ditatap iba oleh gadis yang merupakan cucu dari almarhumah teman perempuannya, pria itu menatap balik ke arah Lili.
"Kau pasti bertanya-tanya, kenapa aku tidak bisa mempersunting almarhumah nenekmu, yang tak lain adalah teman perempuanku?!"
"Itu urusan Yang Mulia. Aku tidak berani ikut campur."
"Kau memang tidak ingin ikut campur permasalahan orang lain. Tapi, apa kau tidak penasaran siapa orang yang membuat segel dan kutukan ini?!"
"Apa benar, orang itu adalah kau?!"
Mendengar pertanyaan Lili, pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Melihat hal itu, Lili semakin yakin bahwa pria yang berdiri di depannya sekarang ini adalah orang yang menciptakan segel dan kutukan itu. Karena sudah mengetahui jawaban dari pertanyaannya, Lili pun tidak bertanya untuk ketiga kalinya. Ia memilih untuk menjadi pendengar.
"Kenapa diam saja? Apa kau memilih untuk menjadi pendengar sekarang?!"
"Yang Mulia, aku hanya ingin kau mematahkan segel dan menarik kutukanmu kepada sahabatku. Hanya itu saja keinginanku."
"Dan karena itu, kau memilih menjadi pendengar setia?! Hahaha... gadis yang sangat naif. Kau pikir, aku akan dengan mudahnya mematahkan segel dan kutukan yang telah lama aku kuasai?! Apa kau tahu, penderitaan macam apa yang telah aku lalui untuk menciptakan segel dan kutukan ini secara bersamaan?!"
"Aku tidak tahu, Yang Mulia. Tapi, dia adalah cucumu sendiri. Apa kau tega melakukan hal itu kepadanya?! Aku yakin, jika dia terbangun nanti... dia pasti menyesal. Mempunyai kakek yang jahat seperti kau!"
"Menyesal?! Kau tahu apa tentang dia?!"
"Hah?!"
"Demi menyelamatkanmu, dia mengorbankan dirinya. Sedangkan kau, malah memilih membela pria yang telah menyakitimu. Dasar anak yang bodoh. Sudah sepantasnya dia mendapatkan pelajaran yang berharga ini dariku, kakeknya!"
"Yang Mulia, apa kau sedang melampiaskan amarahmu kepada cucumu sendiri. Hanya karena... cintamu bertepuk sebelah tangan?! Atau... kau merasa kesepian?!"
Mendengar hal itu, jantung pria itu berdegup dengan kencang. Mungkinkah benar yang dikatakan oleh Lili, bahwa ia merasa kesepian? Lalu melampiaskannya kepada orang lain? Atau mencoba untuk lari dari kenyataan?
"Aku, kesepian? Konyol!"
"Jika kau tidak merasa kesepian, kenapa kau menciptakan segel dan kutukan dalam waktu secara bersamaan, yang justru hanya akan membuatmu tersiksa, Yang Mulia?!"
"Kau mencoba untuk merayuku?! Kau berpikir, aku akan mudah tergoda dengan bujuk rayumu. Sama halnya dengan kedua cucuku yang bodoh itu?! Kau terlalu meninggikan dirimu gadis kecil!"
"Aku tidak merayumu, Yang Mulia. Aku hanya kasihan denganmu."
"Apa maksudmu?!"
"Kau tidak jujur pada dirimu sendiri, Yang Mulia. Kau berjuang untuk terlihat tegar, namun sebenarnya... kau terlihat jauh lebih rapuh dariku ini. Yang Mulia, kita adalah orang yang sama. Sama-sama merasa sakit karena diabaikan dan dikhianati."
"Kau?!"