
Angin berhembus sepoi-sepoi meniupkan rambut Lili yang tergerai. Ia sedang duduk di depan jendela yang terbuka sambil memandang langit yang sangat cerah. Tiba-tiba sebuah daun kering terbang dan jatuh di atas pangkuannya. Ia mengambil daun yang berwarna coklat yang sudah mengering.
"Hana, apa sekarang sudah memasuki musim gugur?"
"Iya nona." jawab Hana sambil meletakkan segelas teh hijau hangat di atas meja yang berada di sebelah kasurnya.
Hana adalah seorang gadis yang usianya lebih muda tujuh tahun dari Lili. Saat Lili sedang berjalan-jalan di pasar, ia bertemu dengan seorang gadis remaja kira-kira umurnya sebelah tahun. Ia berjualan sayur-sayuran di pasar demi menghidupi dirinya sendiri yang hidup sebatang kara. Saat itu, sayur-sayuran yang ia bawa hancur karena ulah tiga gadis remaja lainnya yang menghancurkan barang dagangannya.
"Tsk, sayuranmu itu layu semua. Untuk apa kau menjualnya? Ini tidak lebih seperti sampah yang harus dibuang!" kata gadis pertama sambil mengambil dan menginjak sayur-sayuran yang dibawa oleh Hana.
"Jangan! Aku mohon jangan diinjak!" teriak Hana sambil menyelamatkan sayur-sayuran lainnya."
"Benar! Kau pikir wajahmu cantik?! Menjijikkan sekali!" cibir gadis kedua.
"Penjual jelek sepertimu, lebih baik enyah saja dari sini!" teriak gadis ketiga sambil menendang keranjang sayur yang satunya.
Melihat ada seorang pedagang sayur yang di barang dagangannya dihancurkan dan berlutut memohon ampun agar barang dagangannya tidak dihancurkan, membuat Lili tergerak. Ia berjalan mendekati pedagang sayur itu.
"Ada apa ini? Kenapa kalian merusak barang dagangannya?!"
Mendengar ada seseorang berkata kepada mereka, ketiganya langsung menoleh ke arah sumber suara. Betapa kagetnya mereka bertiga saat melihat bahwa suara itu berada dari Lili yang terkenal sebagai Ratu Iblis. Ketiganya mengambil langkah mundur secara perlahan. Melihat ketiga gadis itu hendak melarikan diri, Lili langsung bertanya kepada mereka bertiga.
"Kenapa kalian bertiga diam saja. Sebenarnya, apa yang terjadi?!"
Ketiganya saling berpandangan satu sama lain dan mengangguk secara bersamaan. Seolah mereka sudah mengerti dengan apa yang mereka inginkan meski tak terucap. Ketiganya langsung mengambil langkah mundur dan lari dari tempat itu. Melihat ketiga gadis itu kabur setelah menghancurkan barang dagangan orang lain, Lili tidak bisa diam begitu saja. Seolah-olah ia tak peduli dengan keadaan sekitar. Tiba-tiba ketiga gadis itu mengambil langkah seribu. Melihat ketiga gadis itu mencoba kabur, Lili hanya menyeringai. Ia menghentakkan kaki kanannya di atas tanah, dan dari dalam tanah keluarlah sebuah bayangan hitam yang menyerupai tangan dan mencengkeram kaki ketiga gadis itu. Ketiga gadis itu kaget bukan main. Mereka bertiga berteriak histerisnya begitu melihat kakinya dicengkeram sesuatu berwarna hitam menyerupai tangan manusia. Semua orang disana tiba-tiba berubah menjadi diam tak bergerak sedikitpun, kecuali Lili, Hana (pedagang sayur) dan ketiga gadis nakal itu. Mendengar mereka bertiga berteriak meminta tolong, Lili pun berjalan mendekatinya. Melihat Lili berdiri di hadapan mereka bertiga, semakin keras teriakan mereka. Sayangnya tak satupun yang mendengar teriakan mereka.
"Tolong... tolong... tolong kami! Ada Iblis! Tolong!"
"Iblis? Dimana ada iblis?" tanya Hana sambil memegang sayur ditangannya.
"Dasar bodoh! Kau tak tahu siapa iblis itu! Iblis itu dia adalah..."
Belum sempat melanjutkan perkataannya, gadis pertama sudah merasa bergidik karena ditatap oleh Lili. Melihat gadis yang mengejeknya berhenti berbicara, Hana mengamati mereka bertiga yang sedari tadi berteriak. Ia melihat ada sesuatu yang menyerupai bayangan hitam berbentuk tangan yang mencengkram kedua kaki mereka. Melihat hal itu, wajah Hana menjadi pucat. Ia gemetar ketakutan. Tanpa sepengetahuan Hana, Lili diam-diam menatap dirinya. Ia tahu bahwa Hana ketakutan karena melihat sesuatu seperti itu.
"Kenapa? Apa kau takut?" tanya Lili kepada Hana yang masih gemetaran.
"Ti... tidak."
"Bagus. Apa kau tidak ingin tahu, siapa iblis yang mereka katakan?!" tanya Lili sekali lagi kepadanya.
Hana hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Aku akan tunjukkan padamu siapa iblis yang mereka maksud. Aku berharap, kau tidak akan melewatkan satu pun dari adegan pertunjukkan itu."
"Hah?!"
Lili pun mengalihkan pandangannya ke arah mereka yang masih gemetar ketakutan.
"Bisakah kalian mengatakan, iblis mana yang kalian maksud?"
"Kau!" jawab ketiganya secata bersamaan.
"Bagus!" puji Lili sambil bertepuk tangan.
"Kenapa kau tertawa?! Kau itu iblis! Mempelajari ilmu sesat untuk mencelakakan semua orang!" ejek gadis pertama.
"Tidak hanya memperlakukan kami bertiga seperti ini. Kau ini penjahat yang menyamar menjadi orang baik!"
"Benar! Kau Ratu Iblis yang sesat! Jelek!"
Ketiganya langsung berteriak kesakitan hingga akhirnya jatuh pingsan. Melihat ketiganya jatuh pingsan, Lli tersenyum dingin.
"Aku ingin tahu wajah kalian setelah bangun. Apa masih tetap congkak!"
Hana tanpa sengaja mendengar perkataan Lili. Ia mendekati Lili dan bertanya.
"Maaf jika aku lancang bertanya. Apa yang mereka katakan itu benar?"
"Bagian mana?!"
"Kalau kau adalah Ratu Iblis?!"
"Hahahaha, apa aku terlihat seperti itu?"
"Tidak. Tapi jika kau adalah benar Ratu Iblis, jelas penyamaranmu sangat sempurna."
"Tidak juga. Ada beberapa iblis yang tak bisa melakukan hal itu?!"
"Karena kita mempunyai tingkatan masing-masing. Baiklah, hari sudah siang. Lebih baik aku membantumu, agar pekerjaanmu cepat selesai."
"Tidak perlu Yang Mulia. Aku bisa melakukannya sendiri. Kau adalah seorang Ratu, sangat tiidak pantas jika melakukan pekerjaan kasar seperti ini."
"Itu hanya panggilan dari mereka saja. Aku sendiri bahkan tidak mengetahuinya."
"Setidaknya kau adalah seorang Ratu."
"Baiklah. Dimana kau tinggal?"
"Menjawab Yang Mulia. Rumahku tidak jauh dari sini. Hamba hanya hidup sebatang kara."
"Apa yang terjadi dengan keluargamu?!"
"Keluargaku mengalami ketidakadilan. Mereka semua dihukum mati karena melakukan praktek ilmu hitam. Padahal kami tidak pernah melakukan hal seperti itu."
Lili pun berjongkok dan menepuk bahunya lembut.
"Kalau kau tidak keberatan, tinggalah denganku."
"Benarkah?"
"Ya."
"Terima kasih Yang Mulia." kata Hana sambil bersujud di depan Lili.
"Sudah-sudah tak perlu seperti ini. Ayo bereskan barang daganganmu dan ikuti aku."
"Baik."
...***...
Ribuan pohon maple merah berjejeran di sepanjang perjalanan. Banyak pasangan muda mudi yang berjalan berdua menikmati pemandangan ini. Bahkan ada yang bersembunyi di balik pohon maple besar, sedang berciuman. Lili melihat adegan semacam ini hanya bisa mengalihkan pandangannya.
"Musim gugur kali ini benar-benar indah. Nona, coba kau lihat ribuan pohon maple merah di sepanjang jalan ini." kata Hana yang berjalan di samping Lili.
"Ya. Sangat indah. Pantas saja banyak pasangan muda datang kemari hanya untuk memadu kasih."
"Hihihi, nona tidak punya kekasih?!"