
Wajah cantik yang terbungkus dibalik cadar hitam dengan tatapan mata yang tajam, membuat siapa saja yang memandang akan terpikat dengan pesonanya.
"Kakak ini pasti cantik sekali." batin Krisan
Merasa dirinya di tatap oleh seseorang, wanita berjubah itu berbalik menatapnya.
"Krisan... Krisan... hei..." kata Lili sambil menggoncangkan tubuh Krisan.
Krisan pun tersadar dari lamunannya.
"Kau melamun ya?"
"Tidak. Hanya teringat kenangan masa lalu saja."
"..."
"Oh ya Lili, sudah waktunya aku untuk pamit." kata Krisan sambil berdiri dan berjalan menuju pintu. Lili mengikutnya.
"Kok buru-buru sih? Padahal ada banyak yang ingin aku tanyakan kepadamu."
"Tentang Hutan Kematian?"
"Iya."
"Minggu depan saat kita ujian, kau akan melihatnya sendiri. Sekarang sebaiknya kita istirahat, oke."
"Baiklah. Kau juga ya."
"Oke. Aku pamit, dadahh!"
"Dahh."
Lili pun menutup pintunya. Ia pun menghela nafas.
"Hutan Kematian? Tempat apa itu?!"
Lili pun berjalan menuju jendela kamar dan menutupnya. Dari balik jendela, ia melihat langit sudah mulai gelap. Bintang dan bulan mulai menampakkan dirinya.
"Hari sudah gelap, aku akan beristirahat lebih awal." Kata Lili sambil menutup korden jendela kamarnya.
Lili tidak menyadari bahwa dia sedang diawasi oleh seseorang berjubah hitam yang bersembunyi di balik dahan pohon yang berada di samping kamarnya. Melihat Lili menurunkan korden jendelanya, orang itu pun menghilang seperti bayangan.
BLOODY CASTLE
Evil membaca sepucuk kertas yang dibawa oleh Buto. Ia melemparkan kertas itu di atas meja kerjanya. Ia pun beranjak dari kursi megahnya yang berwarna merah, dengan ukiran abstrak di sisinya dengan warna emas.
"Jadi ini hasil penyelidikanmu?!"
"Ya Yang Mulia."
"Berani sekali mereka tidak memberitahukan hal ini kepadaku!"
"Lalu, apa yang harus kita lakukan Yang Mulia?"
"Kau masih berani bertanya apa yang harus kita lakukan?! Tentu saja pergi ke sekolah untuk bernostalgia!" bentak Evil
"Baik, Yang Mulia."
"Pergilah dan persiapkan segalanya. Malam ini kita berangkat sekarang juga!"
"Baik, Yang Mulia!"
Semua pasukan elit yang terpilih sudah bersiap. Mereka menunggu Raja mereka keluar dan memberinya perintah. Pasukan elit ini bukan pasukan biasa. Mereka terdiri dari sepuluh orang dan mereka adalah pasukan yang dipilih oleh Raja. Tidak hanya jago dalam bela diri saja, mereka juga sangat mahir menggunakan ilmu sihirnya. Bahkan pakaian mereka pun sangatlah berbeda dengan pakaian yang dikenakan Blackie, Darkie dan Buto. Mereka memakai jubah berwarna navy dengan corak abstrak di belakangnya. Raja pun keluar dari istana dengan jubah mewahnya berwarna merah keemasan. Jubah itu terlihat mewah namun elegan. Konon, jubah itu dibuat oleh Ratu Iblis, permaisuri Raja Iblis dengan tangannya sendiri saat upacara penobatan Raja Iblis dua ratus tahun yang lalu. Buto yang memimpin pasukan segera maju ke depan sambil membungkuk memberi hormat.
"Yang Mulia, semua sudah siap."
"Bagus. Buto, kau tetap pada tugasmu. Sementara Darkie!"
"Ya, Yang Mulia hamba di sini." jawab Darkie.
"Kau pimpin pasukan untuk pergi ke Zwart School, sementara Buto tetap mengawasi Nona Lili."
"Hamba mengerti." kata Darkie dan Buto secara bersamaan.
"Ayo pergi ke Zwart School!" perintah Raja Evil
"Baik, Yang Mulia!" semua pasukan menjawab serentak.
Semua pasukan Raja berangkat dengan membawa kuda terbang. Tinggallah Buto yang masih berada di luar istana memandang mereka yang terbang dengan cepat.
"Kau tidak ikut mereka, Blackie?!" tanya Buto kepada Blackie yang muncul dari belakang punggungnya.
"Tidak. Raja memerintahkan aku untuk menjaga istana."
"Kau memang setia pada Raja."
"Tidak. Kau salah."
"..."
"Kenapa kau malah memilih di sisi Raja, jika kau tidak setia?!"
Pertanyaan Buto membuat Blackie teringat akan kenangan masa lalunya. Kenangan itu terlintas di pikirannya. Saat dimana dia melihat sosok Ratu pergi meninggalkannya tanpa menoleh kepadanya. Dia pun menghela nafas.
"Itu bukan urusanmu." Jawab Blackie sambil berbalik badan dan menghilang.
"Humph, dasar muna!" umpat Buto dan dirinya pun menghilang seperti bayangan.
...***...
Di depan halaman sekolah Zwart School, terdengar derap ribuan langkah kuda dan berhenti. Semua pasukan turun dari punggung kuda terbang milik mereka. Kuda putih kekar dengan sayapnya yang indah mendarat dan berjalan pelan. Di atas punggung kuda, turunlah Raja Evil. Jubahnya berkibar ditiup angin. Wajahnya yang putih seputih batu giok dengan bibir berwarna merah muda alami. Tatapan matanya yang dingin sedingin salju, mampu membuat nyali lawannya menciut. Evil melihat ke sekeliling halaman sekolah yang sepi tidak ada aktivitas murid-murid yang berlalu lalang di malam hari. Di sebelah sekolah terdapat asrama murid dan terlihat sepi. Semua lampu di beberapa kamar asrama itu mati kecuali beberapa lampu yang sedikit menyala. Dan itu hanya menerangi beberapa area sekitar asrama, sama seperti di sekolah. Hanya terlihat lampu-lampu yang sedikit menerangi sekitar area sekolah. Karena ia tidak menemukan tanda-tanda kehidupan baik di sekolah maupun di asrama, ia pun mengangkat tangan kanannya seperti memberi isyarat kepada salah satu pasukannya untuk bersiap menembakkan salah satu anak panah yang dia bawa di punggungnya. Isyarat tubuh itu dimengerti oleh salah satu pasukannya dan dia bersiap mengambil anak panahnya. Anak panah itu kemudian di ditempelkan dekat benang busurnya dan siap untuk ditembakkan.
"Tembak!"
Salah satu pasukan yang bersiap langsung menembakkan anak panah itu ke langit dan terdengar suara anak panah melesat cepat di udara dan berubah menjadi kembang api berwarna merah diiringi dengan suara ledakan yang keras. Langit gelap yang hanya dihiasi bulan dan bintang menjadi meriah karena anak panah yang melesat dan berubah menjadi kembang api yang sangat indah. Mungkin sebagian orang menganggap itu seperti kembang api biasa, namun sebenarnya itu adalah sinyal. Karena suara ledakan itu sangat keras, mengakibatkan beberapa guru termasuk kepala sekolah, Tuan Leaf terbangun dari tidurnya. Meski suara ledakan itu sangat keras, namun hanya bisa di dengar oleh mereka yang memiliki kekuatan sihir diatas tingkat. Bahkan seluruh murid di asrama itu pun masih tertidur pulas kecuali, salah satu murid yang terbangun mendengar suara ledakan itu. Murid itu adalah Lili. Ia terbangun dari tidurnya karena suara ledakan keras itu. Ia pun beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendela dimana suara ledakan itu berasal dari luar jendela. Lili saat tidur mematikan semua lampu kamarnya kecuali lampu kamar mandi yang selalu menyala dan lampu tidur di berada di sebelah kasurnya yang dibiarkan menyala sepanjang malam.
" Suara apa itu?" kata Lili sambil membuka sedikit korden jendela kamarnya. Dilihatnya sosok yang dikenalnya berdiri paling depan dengan jubahnya yang mewah namun elegan. Ia mengucek kedua matanya dan kembali mengintipnya sedikit dari jendela. Tidak salah lagi, sosok itu adalah Evil, Raja Iblis.
"Itu kan Evil. Kenapa dia ada di sini malam-malam begini? Tidak, sepertinya ada sesuatu yang penting. Tapi kenapa dia berdiri di luar sekolah?!"
Tiba-tiba kedua mata Lili membelak seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Ia melihat kepala sekolah Zwart School, Tuan Leaf keluar dari arah yang berbeda dan diikuti beberapa guru lain dari belakang. Arah itu adalah arah ke asrama pengurus sekolah. Ya, selain asrama murid, yang berada tepat di sebelah sekolah, ada asrama pengurus yang ada di sekolah ini. Hanya saja jika asrama murid berada di samping sekolah, asrama pengurus sekolah ini berada di belakang sekolah dekat dengan taman sekolah.
"Bukankah itu Tuan Leaf, kepala sekolah di sini? Apa dia terbangun gara-gara suara ledakan keras itu? Tapi suara ledakan itu darimana asalnya?"
Lili pun mengamati pasukan yang dibawa oleh Evil yang hanya berjumlah 30 orang. Ia mengamati satu persatu pasukan tersebut. Pakaian dan jubah yang mereka kenakan sangat berbeda dengan yang dikenakan Darkie. Namun, jubah dan pakaian yang mereka kenakan meskipun berbeda tetap terkesan mewah dan elegan. Tapi jika kau membandingkannya dengan milik Raja Iblis, itu tak semewah dan seelegan milik Raja. Tentu saja Raja harus terlihat mewah, megah dan elegan. Dilihatnya salah satu pasukan yang menarik hatinya. Pasukan itu membawa anak panah dan busur di belakang punggungnya. Anak panah yang berada di punggungnya itu mengeluarkan cahaya merah.
"Jangan-jangan itu anak panah yang bisa membuat ledakan keras semacam itu." batin Lili.
Pandangannya pun beralih ke Evil. Pria yang dijulukki sebagai Raja Iblis ini, mau dilihat dari sisi manapun, dia tetap tampan dan gagah. Ia meliha Tuan Leaf berjalan mendekati Evil dan memberi salam sambil membungkuk kepadanya.
"Selamat malam Yang Mulia Raja. Maaf jika hamba lancang bertanya. Ada apa gerangan Yang Mulia malam-malam datang ke sekolah ini?"
"Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa sekolah ini akan mengadakan ujian kepada seluruh murid tahun ini?!"
"Maaf Yang Mulia, bukan maksud kami tidak memberitahukan kepada Yang Mulia perihal hal ini. Hanya saja kami sedang sibuk mempersiapkan ujian untuk para murid. Tentu saja kami akan memberitahukan hal ini kepada Yang Mulia."
"Lalu kenapa tempat ujiannya harus di Hutan Kematian?! Bisa kau jelaskan itu?!"
"Yang Mulia, seperti Yang Mulia ketahui bahwa tiap tahun sekolah kami selalu mengadakan ujian seleksi penyihir berbakat untuk para murid di sekolah ini."
"Tapi kenapa harus di Hutan Kematian?! Jawab!!! Dan kenapa juga ada nama Lili dalam daftar ujian seleksi itu?!!! Bukankah kau tahu bahwa dia belajar di sekolah ini belum ada satu tahun! Kenapa?!!!"
"Brengsek!!! Ini semua gara-gara Putri Cariz. Sekarang Raja sudah marah besar. Apa yang harus aku lakukan?! Leaf...Leaf... ayo cepat berpikirlah!!!" batin Tuan Leaf.
Tuan Leaf berpikir sambil melihat ke arah Raja Iblis yang sedang menatapnya dengan curiga. Melihat Tuan Leaf belum menjawab pertanyaannya, Evil mulai geram. Kedua sorot matanya mulai memerah.
"Kenapa diam seribu bahasa?! Kau tidak sempat mengarang?!!"
"Ampun Yang Mulia. Menurut hamba, hutan ini sangat cocok untuk mencari murid penyihir berbakat di sekolah kita."
"Heh, kau pikir aku Raja Bodoh yang bisa kau bodohi dengan mudah?!!"
"Hamba tidak berani Yang Mulia."
"Bukankah jika kau jujur, mungkin aku bisa meringankan hukumanmu!"
"Gawat dia mulai merah!" batin Tuan Leaf.
"Apa yang mereka bicarakan? Kenapa Evil terlihat sangat marah pada Tuan Leaf? Apa Tuan Leaf menyinggung dia? Wah... Pak tua ini patut diacungi jempol karena dia berani memprovokasi Raja Iblis ini. Aku penasaran apa Evil akan menghukum Tuan Leaf yang menyinggung dirinya." kata Lili sambil mengamati dari jendela kamarnya.
" Ampun Yang Mulia, hamba sudah berkata jujur."
Melihat Tuan Leaf berkali-kali membungkuk di depan Evil, seolah ia sedang meminta maaf, Lili pun berpikir bahwa Tuan Leaf benar-benar cari mati dengan Raja Iblis. Merasa dirinya diawasi oleh seseorang, Evil pun menoleh ke arah kamar Lili. Dan, kedua sepasang bola mata yang berbeda saling bertemu satu sama lain. Jantung Lili pun berdetak kencang seolah ingin lepas dari tubuh pemiliknya. Ia terkejut Evil sudah memergokki dirinya yang sedari tadi mengawasinya dari balik jendela. Menyadari bahwa Lili sedang memperhatikannya dari balik jendela kamarnya, Evil tersenyum hangat kepadanya. Melihat Evil melontarkan senyum manis kepadanya, detak jantung Lili semakin kencang tak beraturan, wajah Lili pun merona dan langsung buru-buru menutup korden jendelanya dan berlari ke tempat tidurnya. Melihat Lili sudah menutup korden jendelanya, Evil pun tersenyum dingin dan mengalihkan pandangannya ke arah Tuan Leaf. Ia menatap tajam ke arah Tuan Leaf yang masih tertunduk malu tak berkata sepatah kata pun. Merasa dirinya ditatap tajam oleh Raja Iblis, Tuan Leaf tidak berani mengangkat kepalanya.
"Baiklah. Hari ini kau beruntung. Suasana hatiku sedang baik. Tapi tidak di lain hari!"
"Eh?"
"Kau ingat ini. Jika terjadi sesuatu pada Lili, kau akan menanggung akibatnya. Sebagai contoh bagi semuanya, aku akan menghukummu untuk tidak bertindak seenaknya!!!"
"Baik Yang Mulia, hamba mengerti."
"Apa ini sebuah ancaman untukku?! Ini semua gara-gara Putri Cariz yang memaksanya untuk melakukan hal yang senekat ini." batin Tuan Leaf.
Evil pun berbalik dan memberi isyarat kepada para pasukan untuk mundur dan kembali ke istana. Baik Evil dan pasukannya terbang menjauh dari sekolah itu sambil menaikki kuda terbang. Melihat semuanya sudah pergi, Tuan Leaf memerintahkan semua guru yang mengikutinya dari belakang untuk kembali ke kamar dan beristirahat. Suasana kembali menjadi sunyi sepi. Di kamar lain, Lili yang gelisah mencoba memejamkan kedua matanya. Ia teringat kejadian yang baru saja terjadi. Evil memergokkinya dan melemparkan senyum ke arah. Entah senang atau takut, semua bercampur menjadi satu. Saat Lili gelisah dalam tidurnya sebuah lengan besar dan kekar memeluknya dari belakang. Hembusan nafas seseorang terasa di sebelah telinga Lili. Itu cukup membuktikan bahwa ada orang lain yang tidur di sebelahnya.
"Kau belum tidur sayang? Apa kau merindukanku?" bisik di telinga Lili
Lili sengaja diam dan berpura-pura tidak mendengarnya. Melihat Lili yang berpura-pura tidak mendengarnya, Evil meraba-raba tubuhnya dengan tangan kirinya. Merasa geli,
Lili pun menoleh ke belakang dan tak sengaja bibirnya menempel di bibir Evil. Sangat dingin dan lembut.