PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Kembalinya Sang Ratu Iblis 7 (Boneka Mana)


Sosok pria yang pernah ia jumpai dua ratus tahun yang lalu. Pria yang pernah dekat dengannya. Yang pernah membuat hatinya mati rasa. Pria yang tak pernah ingin ia temui, setelah kejadian berdarah itu. Pria yang selalu ingin ia bunuh dengan tangannya sendiri. Namun, ia tak sanggup melakukannya. Melihat wajah itu, membangkitkan kenangan masa lalu Lili dengan pria itu. Pertemuan mereka terjadi di musim gugur, di bawah ribuan pohon maple merah yang gugur berjatuhan tertiup angin. Kenangan itu membuat dada Lili terasa sakit. Tanpa sadar, bibirnya bergetar dan hampir menyebut nama seseorang .


"Fe..."


Belum sempat melanjutkan perkataannya, bibirnya terasa berat. Lili membalikkan badannya dan terbang meninggalkan tempat itu.


"Tunggu! Berhenti!" teriak pria itu.


Melihat Lili kabur saat melihat dirinya, pria itu langsung terbang mengejarnya. Sia-sia pengejaran yang ia lakukan. Lili menghilang bak ditelan bumi. Pria itu masih melayang di atas udara sambil menyusuri setiap sudut di bawahnya. Ia tak melihat tanda-tanda kehadirannya. Tiba-tiba dari belakang muncullah dua pria lain yang ternyata mereka adalah bawahan pria itu.


"Yang Mulia."


"Kejar dia!"


"Baik."


Kedua pria itu menghilang seperti bayangan.


"Sial!" teriak pria itu dengan nada kesal.


Dengan kemarahan yang meluap, pria itu menghancurkan seluruh pohon yang berdiri tegak di bawahnya dengan menggunakan kekuatannya, hingga roboh dan hancur berkeping-keping. Pria itu lalu menghilang seperti bayangan hitam. Suasana menjadi sunyi sepi. Di tempat lain, Krisan sedang gelisah menanti kepulangan Lili. Ia mondar-mandir berkali-kali sambil sesekali melihat ke atas langit. Tiba-tiba dari arah lain, terdengar suara langkah cepat seseorang. Krisan dan ribuan elf itu menjadi waspada. Semak belukar yang tadinya tenang, tiba-tiba bergoyang Dan dari balik pohon besar, muncullah Lili yang sedang terengah-engah. Ia berjalan tertatih-tatih sambil mencari pegangan dari batang pohon satu ke pohon lainnya untuk membantu menopang tubuhnya yang kelelahan. Melihat hal itu, Krisan langsung memapahnya ke tempat dia beristirahat dengan para Elf. Lili menempati duduk yang terbuat dari batang pohon yang sudah tua dan baru saja ditebang. Dengan terbatuk-batuk, ia berusaha mengatur nafasnya. Krisan mengambil sebotol air dari ruang penyimpanan miliknya dan memberikannya kepada Lili. Lili menerimanya dan meminum sedikit air yang ada di dalam botol Krisan.


"Kenapa sedikit? Minumlah sebanyak yang kau mau."


"Jika aku habiskan, kau akan minum apa?!"


"Kau tenang saja. Jika air di dalam botol ini habis, aku akan mengisinya kembali. Lagipula, disini... airnya sangat jernih dan segar."


"Apa kau tidak takut seseorang akan meracuninya?!"


"Tidak. Karena para elf ini akan memberitahu aku bahwa, air itu beracun apa tidak."


"Sejak kapan kau mempercayai mereka?! Bukannya kau menganggap mereka makhluk jahat?!"


"Awalnya aku berpikir seperti itu. Tapi, setelah bersama mereka, aku jadi tahu. Bahwa yang terlihat dari luar nampak buruk, tidak selamanya buruk."


"Jadi kau sudah mengerti?!"


"Sedikit. Tapi, ada satu hal yang tidak aku mengerti."


"Apa itu?!"


"Itu kau, Lili."


"Aku? Memangnya kenapa denganku?!"


"Kau sangat berbeda jauh dari dirimu yang dulu. Kau sudah banyak berubah."


"Bagian mana dari diriku yang berubah?"


"Semuanya. Lili, jawablah dengan jujur. Siapa kau sebenarnya?!"


"Siapa aku, itu tidak penting bagimu. Yang terpenting sekarang adalah, kau sebaiknya menjauh dariku!"


"Kenapa?"


"Jika kau berada di sisiku sepanjang waktu, itu hanya akan membahayakan nyawamu."


"Apa maksudmu? Apa kau punya musuh?!"


"Bagaimana jika aku menjawab iya, dan bagaimana jika aku menjawab tidak? Apa yang akan kau lakukan?!"


"Lili, aku mohon..."


"Cukup anak muda!"


"A... anak muda?!"


"Ya. Kau kan masih muda. Apa aku tidak boleh memanggilmu begitu?!"


"Bukan tidak boleh, tapi kenapa kau memanggilku dengan sebutan seperti itu? Bukankah kau tahu namaku? Bukankah kita ini adalah teman?!"


"Teman? Apa itu teman? Bagaimana rasanya?!"


"Lili, cukup. Hentikan omong kosongmu!"


"Lili? Makhluk apa itu?!"


"Kau... ahh, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu di masa lalu. Tolong, berhentilah becanda Lili."


Mendengar Krisan mengatakan hal itu, Lili pun beranjak dari tempat duduknya dan menatap Krisan dengan tatapan dingin dan menusuk hati.


"Kau bilang, kalau kau adalah temanku. Dengar ini baik-baik, selama aku hidup, aku tidak pernah punya satupun teman, terlebih teman sepertimu!"


"Apa kau yakin, kau tidak mempunyai satu orang teman?"


"Bukan urusanmu!"


"Lili, aku yakin kau mempunyai seorang teman. Meski itu hanya satu orang. Setidaknya, aku yakin... dia orang yang sangat peduli denganmu. Bahkan jauh lebih baik dariku."


...~Memori Lili~...


"Aku yakin, kau pasti akan datang kemari setiap malam."


"Bagaimana kau bisa yakin akan hal itu?!"


"Sederhana. Kau pasti kesepian bukan? Aku tebak, kau pasti tidak punya teman bukan?!"


"Humph, bagaimana jika tebakanmu salah? Apa kau siap menerima hukuman dariku?!"


"Heh, memangnya siapa kau?!"


"Pangeran."


"Jadi karena kau pangeran, kau bisa seenaknya menghukum orang?!"


"Ya. Karena aku ditakdirkan untuk menjadi raja."


"Apa?!"


"Jadi, kau bersiap-siap saja, jika sewaktu-waktu aku menginginkanmu, kau takkan bisa kabur dariku!"


"Kau raja yang kejam!"


"Aku hanya akan kejam terhadap orang lain. Tapi tidak dengan calon permaisuriku." goda pangeran Sirzechs sambil menarik dan mencium beberapa helai rambut Lili yang ada di tangan kanannya.


Wajah Lili berubah menjadi merah karena tingkah laku Pangeran Sirzechs yang sangat memalukan. Ia menarik rambutnya dari tangan pangeran Sirzechs.


"Dasar Playboy!"


"Aku bukan playboy."


"Buaya."


"Tidak."


"Garangan."


"Tidak."


"Lalu?"


"Aku teman hidupmu."


Mendengar pangeran Sirzechs mengatakan hal itu, membuat jantung Lili semakin berdegup kencang. Wajahnya semakin memerah seperti tomat merah.


"Kau pandai merayu. Belajar dari mana kau? "


"Hahaha... aku tidak pandai merayu dan aku tidak belajar dimana aku merayu. Hanya, apa yang kau katakan itu benar. Aku tidak mempunyai seorang teman. Bahkan, ibuku sendiri sudah tidak mempedulikan aku lagi."


"Mana ada orang tua tidak mempedulikan anaknya. Terutama seorang ibu."


"Kenyataan seperti itu. Lili, bukankah kita juga berada di kapal yang sama? Sama-sama tidak mempunyai seorang teman. Kenapa kita tidak mengikat janji saja. Menjadi teman hidup, selamanya."


"Aku tidak bisa."


"Kenapa?!"


"Jika hanya sebagai teman, aku bisa. Tapi, jika sebagai teman hidup selamanya, maaf aku tidak bisa. Karena kita tidak pernah tahu takdir kita seperti apa nanti. Aku takut mengingkari janjiku."


"Baiklah. Aku mengerti. Kita berteman."


Pangeran Sirzechs mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Lili. Lili melihatnya dan menerimanya. Diluar dugaan, Pangeran Sirzechs mencium punggung tangan Lili. Hal itu membuat Lili semakin malu dan semakin memerah. Ia menarik tangannya tanpa melihat ke arah pangeran. Hal memalukan ini membuat ia tak berani menatap Pangeran Sirzechs.


"Lili... Lili!" teriak Krisan sambil melambaikan tangannya tepat di wajah Lili yang sedang melamun.


Teriakan Krisan membuyarkan lamunan Lili akan kenangan di masa lalunya.


"Kau benar. Aku memang mempunyai teman. Dan itu kau."


"Apa?! Aku??! Hanya aku saja?!"


"Terserah kau saja. Mulai sekarang, kita akan berpisah. Kita bukan teman lagi. Dan Kita mulai menjalani kehidupan kita masing-masing."


"Aku tidak mau! Katakan alasannya, kenapa kau memutuskan persahabatan kita?!"


"Bukankah sudah jelas, akan sangat berbahaya jika kau tetap bersamaku."


"Kenapa?! Bukankah kita selalu bersama menghadapi hal apapun? Lalu kenapa kau harus melakukan ini padaku?!"


"Karena aku dan kau sangat berbeda."


Krisan kaget melihat perubahan penampilan Lili di hadapannya. Ia sangat mengenal sosok yang sudah melegenda yang sangat ia sukai. Sosok wanita yang dingin, namun hangat di dalam. Dengan kekuatan yang sangat luar biasa, yang ditakutti oleh semua orang.


"Tidak... tidak mungkin! Kau..."


"Benar. Ini aku. Yang kau lihat dan kau temui sehari-hari, yang selama ini menghabiskan waktu bersamamu, dia adalah boneka mana buatanku. Bagaimana pendapatmu tentang boneka milikku? Apa kau menyukainya"