
"Anak iblis? Siapa yang dimaksud mereka?!" batin Lili
Lili mengamati keempat anak yang seumuran dengannya sedang menghadang mereka.
"Minggir!" kata Krisan kepada keempat anak laki-laki yang menghadangnya.
Lili memperhatikan keempat anak laki-laki. Ia baru teringat akan sesuatu. Benar, keempat anak itu terasa sangat familiar baginya. Keempat anak itu yang bertarung dan melukai Krisan. Lili pun maju mendekati salah satu anak yang berada di posisi paling depan.
"Ho...mulutmu belum pernah disekolahkan ya?!" ejek Lili
"Hei gadis kecil, kau ini siapa?!"
"Kau tidak layak untuk tau siapa aku?!"
"Oh ya?! Aku ingin lihat seberapa layaknya dirimu?!"
"Apa yang kalian semua lakukan disini?!"
"Guru?!" teriak Krisan dan keempat anak laki-laki itu.
"Guru? Apa itu salah satu guru yang mengajar di sini?!" batin Lili
"Kenapa diam saja?!"
"Maaf guru Rey. Kami hanya menyapa teman kami." jawab salah satu dari keempat anak laki-laki itu kepada pria setengah baya yang berdiri di depannya.
"Bubar dan kembali ke kelas!"
"Baik guru."
Keempat anak laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan mereka bertiga. Pria separuh baya itu memandangi Krisan dan Lili. Pandangan pria separuh baya ini jatuh pada Lili. Ia mengamati Lili mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala. Melihat pria itu memandangi dirinya dari bawah ke atas, Lili hanya tersenyum.
"Nak, siapa namamu? Kenapa aku baru tidak pernah bertemu denganmu?"
"Maaf guru, namaku Lili. Aku murid baru di sini. Mohon bimbingannya guru."
"Jadi namanya Lili." batin Krisan
"Oh, pantas saja aku tidak pernah melihat kau di sini. Ternyata kau murid adalah murid baru. Ingat nasehatku. Hindari pertarungan di luar sekolah. Ingat dan laksanakan aturan yang ada. Apa kalian berdua mengerti?"
"Iya guru, kami mengerti." jawab Lili dan Krisan secara bersamaan
"Kalian berdua silahkan masuk ke kelas. Pelajaran akan segera dimulai."
"Baik. Terima kasih guru." jawab Lili dan Krisan secara bersamaan
Setelah berpamitan, Lili dan Krisan pergi meninggalkan guru Rey. Pandangan mata guru Rey tertuju pada punggung belakang Lili. Ia merasa ada perasaan yang sangat familiar terhadap gadis yang bernama Lili. Sesaat ia menghela nafasnya.
"Anak itu...sangat mirip dengannya saat dia masih muda. Aku penasaran, apa dia memiliki bakat sepertinya. Jika iya, itu bisa menjadi obat kerinduanku kepadanya." lirih Rey.
...***...
Saat Lili dan Krisan memasuki kelas, ribuan sepasang mata menatap ke arah mereka berdua. Melihat ada banyak sepasang mata menatap ke arah dirinya dan Krisan, Lili mengalihkan pandangannya. Krisan memandu Lili untuk mencari kursi yang masih kosong. Kebetulan di samping tempat duduk Krisan ada kursi yang masih kosong.
"Kau duduk di sini. Di sampingku masih ada kursi kosong. Jika kau tidak mengerti, kau bisa bertanya kepadaku."
"Terima kasih Krisan." kata Lili sambil tersenyum.
"Hei bukankah itu anak iblis dan teman barunya?!" teriak salah satu murid dengan rambut cepak berdiri seperti duri landak.
"Bos...bos coba kau lihat di sana?!"
"Hoo...kebetulan sekali. Aku belum memberi mereka berdua pelajaran yang paling berharga. Apa kalian mau ikut bersenang-senang, hehehe?!"
"Tentu saja bos. Tanganku juga gatal ingin menghancurkan wanita itu!"
"Jangan kasar. Tidakkah kau lihat gadis kecil yang duduk disampingnya?!"
"Kenapa bos?!"
"Wajahnya sangat familiar. Tapi dimana aku pernah melihatnya?!"
"Gres, apa kau pernah mendengar sebuah pepatah mulutmu harimaumu?!"
"Ups!"
"Berhenti bercanda Tuan Muda Shen. Gres tidak akan mengerti pepatah itu, hahaha!" ejek Adam
"Hentikan omong kosong kalian berdua. Ayo ikuti aku!" ajak Sean kepada ketiga temannya.
"Hei wanita iblis, siapa sangka kau punya teman juga ya?! Aku pikir kau selamanya tidak akan mempunyai teman! Hahaha!" teriak salah satu murid laki-laki.
"Sudah kau pikirkan kata-katamu itu, Shen?!" sindir Krisan
"Hmph, kau meremehkanku?!" tanya Shen kepada Krisan
"Aku hanya mengingatkan suatu hal padamu. Jika kau mengatakan aku adalah wanita iblis, itu sama halnya kau juga menyinggung Raja Iblis!" tegas Krisan
"Kau?!" bentak Shen sambil menunjuk jari telunjuknya ke arah Krisan
Tiba-tiba Adam membisikkan sesuatu ke telinga Shen. Shen pun mengangguk.
"Kau beruntung hari ini! Tapi tidak untuk hari lain!" kata Shen sambil pergi meninggalkan keduanya diikuti ketiga temannya dibelakang. Mereka berempat kembali ke tempat duduknya masing-masing.
"Keberuntunganku tidak seburuk itu kan? Satu kelas dengan empat pria bringas ini!" batin Lili
"Krisan, mereka itu siapa?!"
"Berandalan."
"Pantas saja."
"Kenapa?!"
"Watak mereka tidak sebagus penampilannya. Bahkan berandalan pun lebih bagus seperti mereka."
"Mereka berempat adalah anak bangsawan. Selain itu, kekuatan dan kelicikan mereka tidak bisa diremehkan. Mereka suka menindas yang lemah. Kau bisa lihat murid-murid yang ada disini. Semuanya takut pada mereka. Terutama pada Shane."
"Shane?!"
"Pria yang mengatakan aku wanita iblis."
"Jadi itu namanya Shane. Cih, cuman bermodal tampang dan kekuasaan saja sudah mendongakkan kepalanya. Tak takut jatuh apa ya?!"
"Sst..kecilkan suaramu. Ingat jangan membuat onar. Oke?!"
"Tenang saja."
Terdengar suara langkah kaki seseorang dari luar. Mendengar ada suara langkah kaki, semua murid yang tadinya ribut sendiri, akhirnya membubarkan diri dan duduk di tempatnya masing-masing. Lili yang melihat pemandangan ini hanya bisa tersenyum. Masuklah seorang pria setengah baya dengan rambut memutih di kepalanya. Jubah mewah berwarna putih dengan bordiran abstrak yang menggunakan benang emas, menunjukkan status orang ini tidaklah biasa saja. Ia meletakkan buku yang dibawanya di atas meja. Dia dipanggil guru besar. Ia sangat terkenal tidak hanya disekolah, tapi diluar kerajaan. Pria ini bernama Master Ares. Shane memimpin berdiri dan menyiapkan salam kepada guru besar, diikuti murid-murid lainnya.
"Selamat pagi Guru besar!" teriak semua murid didalam kelas secara bersamaan.
"Duduk."
Semua murid pun duduk kembali. Master Ares pun berjalan maju ke depan. Ia memandangi semua murid yang duduk menghadap dirinya. Satu persatu, ia memperhatikan semua murid yang ada di dalam kelas. Pandangan matanya tertuju pada satu murid yang asing baginya, yaitu Lili.
"Kau, siapa namamu?!" tanya Ares sambil menunjuk jari telunjuknya ke arah Lili.
Melihat dirinya ditunjuk, Lili pun beranjak dari tempat duduknya dan memberi salam kepada guru besar, Ares.
"Salam guru besar, namaku Lili. Aku murid baru di sini. Mohon bimbingannya."
"Dimana rumahmu?"
"Eh..."
"Tidak mungkin aku memberitahunya bukan?."batin Lili
Melihat Lili bingung tidak tau harus menjawabnya, Krisan pun berdiri dan memberi hormat.
"Maaf guru, dia tetanggaku."