
"Kau adalah orang kedua yang bertanya tentang hal ini kepadaku."
"Benarkah, Yang Mulia?!"
"Ya."
"Kalau boleh aku bertanya, siapa orang pertama yang menanyakan hal ini kepadamu Yang Mulia?"
"Ehem. Kau seharusnya memanggil dia dengan sebutan kakak ipar."
"Tapi, Yang Mulia tidak keberatan dengan caraku memanggil dia. Kenapa malah jadi kau yang keberatan?"
"Itu tidak sopan!"
"Sudah... sudah. Kalian berdua tidak perlu bertengkar hanya karena masalah sepele seperti ini. Jika ada hal lain yang ingin dibicarakan, sebaiknya kalian diskusikan hal itu di istana kalian. Aku tidak ingin seseorang membuat keributan di istanaku."
Mendengar Pangeran Sirzechs menegur mereka, keduanya terdiam sesaat. Bahkan Putri Cariz merasa canggung untuk bertanya tentang Ratu Iblis kepada Pangeran Sirzechs. Bagaimana tidak, ia pernah membatalkan pertunangannya sendiri dengan Pangeran Sirzechs yang sekarang menjadi kakak iparnya. Ditambah dengan sikap suaminya yang terus menatap tajam ke arahnya saat ia bertanya perihal Ratu Iblis kepada kakak iparnya. Seolah ia merasa bahwa telah diintimidasi oleh suaminya sendiri. Rasa kesal, sakit hati hanya bisa ia pendam di dalam hatinya. Ia tak mau hanya gara-gara sikapnya yang kurang sopan terhadap kakak iparnya, membuat suaminya bersikap dingin terhadapnya. Ditambah dengan perilakunya di masa lalu yang menyebabkan hubungan kakak beradik ini menjadi renggang. Ia takut jika sikapnya ini membuat suaminya benar-benar meninggalkannya. Segala usaha yang ia lakukan dan rencanakan selama bertahun-tahun akan sia-sia hanya gara-gara kesalahan kecil yang ia perbuat. Jadi ia memilih untuk diam, tidak mengungkit perihal Ratu Iblis di depan suaminya lagi. Ia akan bersabar dan mencari cara, bagaimana ia bisa berbicara berdua dengan Pangeran Sirzechs.
"Tenang saja kakak. Aku tidak akan membuat keributan di istanamu. Lagipula kau sendiri tidak takut jika ada seseorang yang menyusup ke dalam istanamu ini?!"
"Kenapa aku harus takut?"
"Lihatlah kakak istanamu yang megah ini. Ribuan pilar putih berdiri kokoh dimana-mana tanpa jendela di setiap sisinya. Hanya ada kain putih panjang sebagai gordennya. Di setiap sudut istana tidak ada penjagaan yang ketat."
"Setidaknya istanaku jauh lebih tenang dan tidak seseram istanamu."
"Hahaha... aku adalah Raja Iblis. Jika istanaku indah, tenang seperti istana milikmu. Itu hanya akan menjadi bahan lelucon semua orang, bahwa istana Raja Iblis sangat indah tidak sesuai dengan nama pimpinannya."
"Hmm, masuk akal juga. Tapi setidaknya aku kagum kepadamu. Istanamu yang terlihat seram dan misterius itu, ternyata ada banyak keindahan yang menyejukkan mata."
"Kau terlalu memuji kakak. Jika kau mau, aku bisa mengirimnya beberapa untuk kau pilih dan tentu saja untuk menemanimu, agar kau tak merasa kesepian."
"Kau belum melihat dan mencobanya sendiri."
"Aku sudah pernah melihatnya. Bahkan aku sudah lama tertarik kepadanya. Tapi, aku tidak tahu... apakah kau akan memberikannya kepadaku atau tidak?!"
Mendengar Pangeran Sirzechs mengatakan hal itu di depan suaminya, jantung Putri Cariz berdegup kencang. Ia meremas kedua tangannya yang berada di atas pahanya. Raja Iblis Feng yang berada di sebelahnya, melihat tingkah laku selirnya yang aneh. Ia menebak bahwa selirnya masih menyimpan perasaan kepada kakaknya, meski tebakannya itu salah. Putri Cariz merasa gugup dan salah tingkah, lantaran ia pernah membatalkan pertunangannya dengan Pangeran Sirzechs dengan alasan yang tidak masuk akal yang tidak bisa diterima oleh logika. Jadi, Putri Cariz berpikir, bahwa Pangeran Sirzechs sengaja balas dendam atas perbuatannya di masa lalu dengan mengatakan hal itu di depan suaminya. Namun, ia tak berani buka suara, mengingat suaminya yang terus melirik dan menatap tajam ke arahnya. Seolah ada kemarahan yang tertahan di balik tatapannya itu.
"Selama kakak menyukainya, aku dengan senang hati akan memberikannya kepadamu. Biar bagaimanapun, kita adalah saudara seibu bukan?!"
"Baiklah. Aku pegang kata-katamu. Kuharap kau tidak menyesal dan menariknya suatu hari nanti."
Mendengar perkataan yang diucapkan kakaknya itu, membuat Raja Iblis Feng merasa ada yang salah dengan perkataannya. Nampaknya, ia merasa menyesal telah mengatakan hal semacam itu kepada kakaknya. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Ia merasa gengsi untuk menarik kembali ucapannya. Ia hanya berharap, bahwa keindahan yang dimaksud oleh kakaknya hanyalah sebuah candaan semata, bukan sesuatu yang serius.
"Baiklah kakak, hari sudah sangat larut. Aku dan selirku undur diri dulu."
"Maaf, aku tidak bisa mengantar kalian sampai ke depan."
"Tidak apa-apa. Kau beristirahatlah malam ini dengan nyenyak kakak. Aku berharap kau tidak akan mimpi buruk lagi."
"Terima kasih atas perhatianmu."
"Sama-sama."
Keduanya beranjak dari tempat duduknya dan pamit undur diri sambil membungkuk memberi hormat kepada Pangeran Sirzechs. Pangeran Sirzechs membalasnya hanya dengan menganggukkan kepalanya. Keduanya pun berjalan dengan didampingi oleh Shion sampai ke depan dan meninggalkan Pangeran Sirzechs sendirian. Pangeran Sirzechs mengamati seisi aula perjamuan. Ribuan pilar putih berdiri kokoh dengan korden kain putih panjang yang tertiup angin ditambah dengan karpet merah di tengah-tengah tempat ia berdiri sekarang. Kursi mewah berwarna putih dengan ukiran naga di sekelilingnya, yang berada di tengah paling atas dari kursi dan meja yang berada di sisi kanan dan di sisi kiri. Ia memandang kursi berwarna putih yang tadi ia dudukki. Dalam benaknya, kursi itu sekarang hanya ada satu. Tapi akan lebih baik jika suatu hari nanti, akan ada satu kursi di sebelahnya. Kursi yang hanya diduduki oleh calon permaisurinya, istrinya, dan cinta terakhirnya. Membayangkan hal itu membuat dirinya tersenyum sendiri. Ia membayangkan jika suatu hari nanti, ia duduk di atas sana dan ditemani oleh wanita yang sangat ia cintai. Wanita yang selama ini mampu menarik perhatiannya, membuat dirinya mengalihkan dunianya, membuat dirinya menjadi gila, bahkan membuat dia rela menunggunya sampai ia menoleh ke belakang dan berkata "Aku mau menjadi permaisurimu yang akan melahirkan anak-anakmu dan mencintaimu seumur hidupku."
Siapa lagi jika bukan Ratu Iblis yang selama ini ia inginkan. Memikirkannya saja sudah membuat dia menjadi gila. Terasa konyol, tapi itu yang ia harapkan. Hasrat dan mimpi yang sudah lama ia pendam. Sebuah cinta yang mungkin tak terbalaskan atau cinta yang terpendam jauh di dalam lubuk hatinya, hanya dia yang tahu. Pangeran Sirzechs memandang langit yang saat itu sangat cerah dipenuhi lautan bintang dengan bulan purnama yang besar dan bercahaya terang. Ia bergumam pada dirinya.
"Lili, tahukan kau... untuk apa aku membangun istana ini? Untuk apa aku masih setia sendiri? Itu karena kau yang sudah mencuri separuh hatiku. Tidak, semuanya. Kau mencuri hatiku semuanya. Bahkan bertahun-tahun lamanya... aku menyimpan perasaan ini. Dulu, aku berharap bahwa yang akan menikah denganmu... adalah aku. Tapi takdir berkata lain. Dan sekarang, apa kau belum bisa mengubah hatimu?! Lili, aku berharap suatu hari nanti... kau bisa melihatku. Bahkan semesta juga tahu, bahwa tidak ada yang tulus kepadamu... selain aku."