
Di sebuah kedai teh, ada seorang pria bertubuh tinggi dengan tubuhnya yang kurus, kulitnya putih, wajahnya sangat tampan dengan hidungnya yang mancung, sedang duduk sambil meminum secangkir teh hijau hangat. Ia duduk tepat di sebelah jendela yang menampilkan pemandangan dibawah kedai yang tampak keramaian lalu lalang orang berjalan. Tiba-tiba Arches datang menghampiri pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Rickie, sahabatnya. Pukulan mendarat tepat di pipi kanan Rickie. Rickie pun terjungkal jatuh dari atas kursinya. Semua pelanggan yang ada di sana segera melihat ke arah mereka berdua, dengan tatapan penuh heran. Dengan tubuh sempoyongan, Rickie mencoba untuk berdiri. Ia melihat Arches, sahabatnya berdiri tepat di hadapannya dengan wajah penuh amarah. Pandangannya teralihkan ke arah semua pelanggan yang berada di dalam ruangan itu, sedang menatap ke arah mereka berdua. Pandangan Rickie mengarah ke bawah, tepatnya ia melihat tangan kanan Arches mulai mengepalkan tinju yang siap di layangkan ke arahnya. Tak lama kemudian, ia pun mengalihkan pandangannya ke arah Arches, sahabatnya. Dengan wajah tanpa dosa, Rickie mulai bertanya kepadanya.
"Apa yang kau lakukan?! Kenapa tiba-tiba datang memukulku?!"
"Tsk, kenapa?! Seharusnya aku yang bertanya kepadamu. Apa yang telah kau katakan kepada Alviercha?!"
"Alviercha?! Aku tidak mengatakan apa-apa kepadanya?!"
"Pengkhianat!"
"Hah?! Apa maksudmu dengan mengatakan aku pengkhianat?! Aku tidak mengerti?!"
"Cih, kau mengatakan kepada Alviercha, kalau aku sudah bertunangan dengan putri dari kerajaan lain! Apa maksudmu, kau mengatakan hal itu kepadanya?!"
"Memang benar bukan, kalau kau bertunangan dengan wanita lain?!"
"Darimana kau mendapatkan berita ini?!"
Tiba-tiba Rickie teringat tentang memori kenangan saat ia bertemu dengan seorang wanita muda yang sangat cantik, yang mengatakan kepadanya bahwa ia adalah tunangan dari Arches, sahabatnya. Wanita itu mengatakan kepada Rickie untuk tidak memberitahukan hal ini kepada siapapun, termasuk kepada Arches, sahabatnya sendiri.
Flashback Memori Rickie
"Tolong, jaga rahasia ini ya. Aku tidak mau semua orang tahu hal ini, termasuk dia (Arches)." pinta wanita muda itu.
"Kenapa kau melakukan hal ini?! Bukankah akan sangat bagus, jika seluruh dunia tahu... kalau kau adalah tunangannya?!" tanya Rickie.
"Pokoknya, aku mohon kepadamu... tolong jaga rahasia ini ya. Aku ingin, kau berjanji kepadaku, untuk merahasiakan ini kepada siapapun. Termasuk kepada Arches."
"Huff, baiklah. Aku janji."
"Terima kasih."
...****************...
Melihat temannya (Rickie) sedang melamun, Arches menjadi semakin geram.
"Kenapa kau diam saja?! Cepat katakan sesuatu, bajingan!"
"Siapa yang kau katakan bajingan?!"
"Menurutmu, siapa lagi?!"
"Humph, jika kau memang tidak merasa bertunangan dengan siapapun, kenapa kau harus marah?!"
"Brengsek!!!"
Keduanya pun terlibat perkelahian yang tak terelakkan. Semua barang-barang yang ada di tempat itu berantakan dan hancur berkeping-keping. Pemilik kedai yang mendengar kegaduhan dari laporan pegawainya, segera datang menghampiri untuk melihat keadaan yang sesungguhnya terjadi. Betapa kagetnya ia melihat bahwa seluruh meja, kursi dan barang-barang lainnya, hancur berkeping-keping. Tak kuasa menahan amarahnya, pemilik kedai itu berteriak ke arah mereka.
"Hei, kalian berdua!!! Hentikan!!!"
Mendengar teriakan pemilik kedai itu di tengah-tengah pertarungan mereka berdua, Arches segera menghindar dari pertarungannya dan terbang mendarat tepat di hadapan pemilik itu. Tatapan matanya sangat menakutkan, membuat pemilik kedai itu tak berkutik.
Mendengar ancaman itu, pemilik kedai itu hanay menganggukkan kepalanya karena ketakutan. Melihat pemilik kedai itu menganggukkan kepalanya, Arches pun berbalik dan kembali menyerang Rickie, sahabatnya. Keduanya pun melompat dan terbang dari dalam kedai itu dan turun ke tengah jalan. Orang-orang yang tadinya lalu lalang di jalan, langsung berhamburan menjauh dari mereka berdua. Keduanya saling berhadapan satu sama lain. Baik Arches maupun Rickie, keduanya sama-sama mengeluarkan sihir tingkat teratas, dengan mengeluarkan binatang sihir mereka.
Orang-orang yang berada di sekitar jalanan dan yang ada di atas kedai di sekitar pinggiran jalan itu, melihat pertarungan dua penyihir muda yang salah satunya adalah calon pewaris tahta di kerajaan mereka kelak. Keduanya sama-sama mengeluarkan binatang sihir tingkat teratas. Arches mengeluarkan naga api miliknya, sementara Rickie mengeluarkan serigala neraka miliknya. Kedua binatang itu meraung sangat keras dan menakutkan. Dengan perintah dari pemilik mereka, kedua binatang sihir itu saling bertarung di atas udara. Dan serigala neraka milik Rickie akhirnya dikalahkan oleh naga api milik Arches. Serigala neraka itu langsung menghilang dan Rickie pun jatuh duduk bersimpuh di atas tanah sambil muntah darah. Melihat kondisi sahabatnya yang melemah itu, Arches pun mengeluarkan pedang dari tangan kanannya dan diacungkan tepat di depan wajah Rickie sahabatnya. Rickie yang melihat bilah pedang yang bersinar tepat berada di depan wajahnya, hanya bisa menelan ludah.
"Apa aku akan dibunuh olehnya?!" batin Rickie.
"Katakan padaku, kenapa kau membohonginya?! Kenapa kau mengatakan padanya, bahwa kau yang telah mengirimkan dia surat dan hadiah setiap hari?! Kenapa?!! Jawab!!!" bentak Arches dengan wajah memerah karena amarahnya yang sangat memuncak saat itu.
"Aku tidak ingin melihat dia sakit hati. Putus asa, karena dia menaruh harapannya kepadamu. Itu sebabnya, aku membohonginya."
"Katakan kepadaku, apa kau mencintainya?!"
"Tidak!"
"Bohong! Jika kau memang tidak mencintainya, kenapa kau membohonginya?!"
"Tsk, kau sendiri... kenapa kau membohonginya?! Mengingkari janjimu sendiri?!"
"Apa maksudmu?!"
"Uhuk... uhuk... Arches, kenapa tidak kau tanyakan sendiri pada dirimu?!"
"Kau!!!"
"Arches, sudah kukatakan kepadamu. Aku tidak mencintainya. Aku hanya tidak ingin ia terluka, hanya karena harapan palsu yang kau berikan kepadanya. Sementara kau..."
"Aku salah telah mempercayaimu."
"Hah?!"
"Seharusnya, aku membunuhmu dari dulu!!" teriak Arches sambil mengayunkan pedangnya ke arah Rickie, berniat untuk menusuk jantungnya, namun ternyata ia salah.
Orang yang ia tusuk dengan pedang di tangannya adalah Alviercha, wanita yang ia sangat cintai. Betapa terkejutnya Arches melihat bahwa dirinya telah menusuk dan melukai orang yang ia cintai. Melihat Alviercha terluka di dadanya sambil memegang bilah pedang milik Arches, Rickie pun berteriak histeris.
"Alviercha!"
Mendengar teriakan Rickie, spontan Arches menarik pedangnya. Alviercha pun muntah darah dan kedua telapak tangannya mengeluarkan darah akibat menahan bilah pedang yang tertancap di dadanya, untuk menyelamatkan Rickie. Melihat kejadian ini, Arches menjatuhkan pedangnya di atas tanah. Ia pun berlutut dan segera menghampiri Alviercha, untuk ia bawa ke dokter kerajaan.
"Jangan sentuh aku! Uhuk... uhuk..." ucap Alviercha dengan menahan rasa sakit yang luar biasa di dadanya akibat tusukan dari Arches.
Mendengar hal itu, Arches pun terdiam tanpa kata dengan tatapan kosong. Hatinya hancur mendengar perkataan dari wanita yang ia cintai. Ia tidak menyangka, bahwa Alviercha akan bersikap dingin kepadanya. Arches hanya bisa melihat Rickie menggendong tubuh Alviercha dan membawanya pergi untuk menyelamatkan nyawa Alviercha.
"Berhenti! Mau kau bawa kemana dia?!" teriak Arches sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Tentu saja menyelamatkan nyawanya!"
"Bawa dia ke istanaku. Di sana ada dokter kerajaan yang sangat ahli untuk menangani lukanya."
Karena tidak ada pilihan lagi, Rickie pun akhirnya menuruti kata-kata Arches. Sambil menggendong Alviercha di kedua tangannya, ia pun melompat naik di atas kepala naga api dan berdiri di belakang Arches. Arches yang melihat pemandangan itu, hanya bisa menahan sakit di dalam hatinya. Keduanya pun naik di atas kepala naga api dan terbang menuju istana, tempat kediaman pangeran Arches.