
"Tidak."
"Lalu, kenapa kau diam saja tadi?"
"Aku..."
"Kalau ada sesuatu yang mengganjal, baik di pikiran atau hatimu, cerita saja."
"..."
"Baiklah. Jika kau tidak mau membagikannya denganku. Tak perlu memaksakan diri."
Tiba-tiba di tengah pembicaraan mereka yang serius, Lili merasa sangat lapar sehingga perutnya mengeluarkan suara berisik.
"Hahahaha, kau lapar ya istriku sayang. Tunggulah disini sebentar. Aku akan mencarikanmu makanan." ucap Feng sambil melepaskan Lili dari pelukannya. Ia segera beranjak dari tempat duduknya.
"Dimana kau akan mencari makanan? Pasar sangat jauh jika dari sini."
"Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Kau cukup tunggu aku disini. Jangan pergi kemana-mana."
"Baiklah. Hati-hati."
Mendengar istrinya mengatakan hal itu, Feng membalasanya dengan senyuman. Seketika ia menghilang seperti bayangan dalam sekejap mata. Melihat suaminya tidak ada, Lili duduk di atas batu besar, yang sebelumnya telah diduduki oleh Feng, suaminya. Ia mencoba sihir ditangannya. Di telapak tangannya mengalir sedikit sihir.
"Ternyata benar. Di dalam istana, kekuatanku ditekan oleh sesuatu. Tapi sekarang aku berada diluar bukan di dalam istana. Kenapa kekuatanku melemah?" gumam Lili.
"Tentu saja kekuatanmu melemah karena kau sering berhubungan dengan dia."
Mendengar suara yang sangat familiar, Lili menoleh ke belakang. Dilihatnya seseorang yang dikenalnya muncul dihadapannya, setelah sekian lama tak berjumpa. Lili segera beranjak dari tempat duduknya.
"Sirzechs? Kaukah itu?"
"Tentu saja, Lili. Ah maaf, adik ipar."
Mendengar Pangeran Sirzechs memanggilnya dengan sebutan adik ipar, entah kenapa hatinya terasa sakit. Hubungan persahabatan yang selama ini ia jalani dengan Pangeran Sirzechs terasa biasa saja. Tapi semenjak Pangeran Sirzechs berpamitan dengannya di malam itu, Lili merasakan ada sesuatu yang telah hilang dalam dirinya. Ia mencoba mencari-cari apa yang telah hilang dalam dirinya, namun ia tak menemukannya. Melihat Lili sedang melamun, Pangeran Sirzechs menegurnya.
"Lili, kau tidak apa-apa?"
"Ah maaf."
"Kau melamun?"
"Tidak."
"Kau memikirkan tentang kekuatanmu yang melemah?"
"Bagaimana kau bisa tahu?! Kau mengintipku ya?!"
"Hahaha, mana mungkin aku mengintipku? Lebih baik langsung menemuimu, bukan."
"Benar juga."
"Lili, kau sudah berubah."
"Hah? Berubah?"
"Ya."
"Itu hanya perasaanmu saja. Sirzechs, kau tahu darimana kalau kekuatanku melemah?!"
"Tentu saja aku tahu. Kekuatanmu melemah karena orang lain."
"Apa maksudmu? Apa ada orang yang berniat mencelakaiku?!
"Ya."
"Siapa dia?!"
"Orang terdekatmu."
"Orang terdekatku? Satu-satunya orang yang paling dekat denganku hanya kau seorang. Kau adalah orang yang paling dekat denganku."
"Itu dulu. Bagaimana sekarang? Apa aku masih menjadi orang yang dekat denganmu?"
"Itu..."
"Jelas bukan aku orangnya, kan?!"
"Jadi maksudmu, seseorang yang dekat denganku... dia berniat untuk menyakitiku?"
Mendengar Lili bertanya kepadanya, Pangeran Sirzechs tidak menjawabnya. Ia hanya menatap Lili dengan tatapan sendu di wajahnya.
"Tidak mungkin."
"Apanya yang tidak mungkin?!"
"Tidak mungkin. Tidak mungkin dia."
"Menurutmu?!"
"Kau! Kau pasti berbohong!"
"Kenapa tidak kau coba saja bertanya kepadanya? Apakah dia menjawabnya dengan jujur atau tidak, kau akan tahu sendiri."
"Tahu apa kak?" tanya Feng sambil berjalan menghampiri mereka.
Tiba-tiba Feng muncul diantara mereka, dari arah belakang. Melihat adik tirinya datang mendekat ke arahnya, Pangeran Sirzechs hanya tersenyum kepadanya. Ia terlihat sangat tenang dari sebelumnya.
"Kakak, lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu sekarang?!"
"Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja."
"Benarkah? Dari yang aku dengar, kakak tidak lagi kembali ke kediamanmu sendiri setelah lama berkultivasi? Kenapa? Apa kau benar-benar berkultivasi atau melarikan diri?!"
"Tapi aku yakin, tidak sesederhana itu."
"Apa maksudmu?!"
"Kakak, apa kau tidak mengerti maksudku?"
"Kau terlalu bertele-tele!"
"Baiklah, biar aku perjelas sekarang. Aku mendengar kalau kau..."
"Suamiku."
Mendengar Lili memanggilnya, Feng berjalan mendekati istrinya.
"Ada apa?"
"Ayo kita pulang."
"Bukankah kau lapar? Aku sudah membelikan kau makanan."
"Kita bisa memakannya di istana."
"Baiklah. Kakak, kami berdua pamit undur diri dulu. Jika ada yang ingin kau bicarakan denganku, jangan sungkan untuk menemuiku di istanaku."
Lili dan Feng pergi meninggalkan Pangeran Sirzechs sendirian di tepi danau itu. Pangeran Sirzechs melihat bayangan punggung Lili yang perlahan-lahan mulai menjauh lalu menghilang. Ia menghela nafas dan segera pergi meninggalkan tempat itu.
Di Istana Putra mahkota
"Lili, kau bilang setelah kita sampai di istana, kau akan memakannya. Kenapa kau tidak mau makan? Apa ini semua karena kakakku?! Apa saja yang ia katakan saat aku tidak ada?!"
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh suaminya, Lili tak menjawab sepatah katapun. Ia masih memikirkan tentang perkataan yang diucapkan oleh pangeran Sirzechs, sahabatnya sendiri. Melihat Lili tidak menjawab pertanyaannya, Feng pun menegurnya.
"Lili!"
"Iya."
"Apa kau dengar apa yang aku katakan padamu barusan?!"
"Tentang apa?!"
"Jangan pura-pura tidak tahu Lili. Jawab pertanyaanku dengan jujur. Katakan, apa yang dikatakan kakakku kepadamu, saat aku tidak ada?!"
"Dia hanya menanyakan bagaimana kabarku. Itu saja."
"Kau tidak pandai berbohong Lili. Cepat katakan kepadaku yang sebenarnya?!"
"Aku sudah mengatakannya dan kau tidak mempercayainya."
"Aku tahu, kau menyembunyikan sesuatu dariku, iya kan?!"
"Bagaimana denganmu?!"
"Apa maksudmu?!"
"Jangan pura-pura bodoh, seolah kau tak tahu apa-apa?! Kau jelas-jelas menyembunyikan sesuatu dariku!"
"Brengsek!!! Sepertinya dia sudah menyadari, kalau aku menyembunyikan sesuatu darinya. Bagaimana ini?!" batin Feng.
"Suamiku, kau kenapa? Apa yang kau pikirkan?! Apa itu benar?! Kau menyembunyikan sesuatu dariku?!"
"Tidak. Aku tidak menyembunyikan sesuatu padamu."
"Lalu, kenapa kau diam saja tadi?!"
"Aku sedang bersedih."
"Bersedih? Kenapa?!"
"Itu karena istriku bertemu dengan kekasih masa lalunya." jawab. Feng dengan wajah cemberut.
"Hah?? Kekasih masa lalu? Kau belajar darimana kata-kata seperti itu?!"
"Hanya asal bicara saja."
"Suamiku, aku akan katakan padamu. Aku dan pangeran Sirzechs hanya berteman. Tidak seperti yang kau pikirkan."
"Dalamnya hati seseorang, siapa yang tahu."
"Kau ada benarnya."
"Kalau begitu, makanlah. Setelah itu kita istirahat."
Lili segera membuka bungkusan itu. Ia segera memakannya dengan sangat lahap.
"Bagaimana, enak?" tanya Feng kepada Lili yang sedang asyik menikmati makanannya.
"Iya. Sangat enak. Kau tidak memakannya?!"
"Tidak. Aku tidak menyukai makanan rendahan seperti itu." ejek Feng sambil beranjak dari tempat duduknya.
Feng berjalan menuju kasurnya dan mulai membaringkan tubuhnya. Perlahan-lahan, ia menutup kedua matanya dan mulai tertidur. Di sisi lain, Lili memikirkan tentang perkataan Pangeran Sirzechs dimasa lalu. Ia meletakkan makanannya dan mengambil cangkir kosong di atas meja. Segera ia menuangkan teh ke dalam cangkir kosong itu. Ia meminum teh itu dalam sekali tegukan. Lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kasurnya. Ia duduk di sebelah suaminya yang sudah terlebih dahulu, tertidur. Ia menatap wajah suaminya yang sedang tertidur nyenyak.
"Aku merasa kau menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi apa itu, aku tidak tahu. Aku harap kau tidak menyakitiku." gumam Lili.
Lalu ia membaringkan dirinya di atas tempat tidurnya dan perlahan memejamkan kedua matanya. Feng yang menyadari istrinya sudah tidur disebelahnya, segera membuka kedua matanya. Dalam hatinya ia merasa sangat bersalah telah membohongi istrinya.
"Lili, maafkan aku." batin Feng.
Keduanya pun langsung tertidur pulas di atas kasur. Malam ini jauh lebih tenang dari malam-malam biasanya. Namun, ada satu hati yang berharap semaunya hanyalah mimpi belaka.