
Lili pun berusaha berdiri dan berjalan meninggalkan mereka berdua. Ia berjalan melewati pangeran Sirzechs yang masih mengulurkan tangan kepadanya. Melihat Lili pergi meninggalkannya dengan mayat adik tirinya (Feng), yang terbujur kaku di atas tanah, Pangeran Sirzechs hanya melirik sambil menarik tangannya kembali. Ia pun mengepalkan kedua tangannya sangat erat.
"Lili!" teriak pangeran Sirzechs
Mendengar namanya dipanggil, Lili pun segera menghentikan langkah kakinya. Tak sedikit pun ia menoleh ke belakang. Pangeran Sirzechs membalikkan badannya dan melihat Lili yang masih memunggunginya.
"Apa benar, kau membenciku?!" tanya Pangeran Sirzechs dengan ekspresi sedih di wajahnya.
"Aku tidak perlu mengulanginya kembali."
"Jadi begitu. Baiklah." ucap pangeran Sirzechs dengan senyum menyeringai di wajahnya.
Mendengar nada bicara pangeran Sirzechs yang terdengar sangat sinis, Lili pun menoleh ke belakang. Dilihatnya Pangeran Sirzechs sedang menutup kedua matanya sambil merapalkan mantra. Melihat hal itu, Lili segera mengambil langkah mundur. Sayangnya, Lili terlambat menyadarinya. Seluruh istana telah disegel oleh Pangeran Sirzechs. Kini ia tidak bisa melarikan diri. Tak lama kemudian, Pangeran Sirzechs membuka kedua matanya. Ia melihat Lili yang berdiri di depannya dengan ekspresi marah diwajahnya.
"Ada apa dengan wajah cantikmu itu?! Kau terlihat sangat marah. Apa aku benar?!"
"Apa yang kau inginkan?!"
Mendengar Lili bertanya hal itu kepadanya, Pangeran Sirzechs langsung tertawa terbahak-bahak. Ia tak menyangka akan mendengar pertanyaan yang sangat konyol. Melihat Pangeran Sirzechs menertawakannya, Lili hanya terdiam sambil memperhatikannya. Merasa dirinya telah diperhatikan oleh Lili, pangeran Sirzechs langsung menoleh ke arahnya. Ia menatap tajam ke arah Lili. Perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Lili. Lili yang melihat Pangeran Sirzechs berjalan mendekat ke arahnya, hanya bisa diam tak bergerak sedikit pun. Pangeran Sirzechs berhenti tepat di hadapan Lili. Ia melihat wanita yang berdiri di depannya dari bawah ke atas. Wajah yang sangat cantik tersembunyi di balik keangkuhan dirinya.
"Katakan, siapa kau yang sebenarnya?!" tanya Lili dengan nada yang sangat tegas.
Mendengar pertanyaan Lili, Pangeran Sirzechs langsung terkejut. Ia hanya membalas pertanyaan Lili hanya dengan senyum seringai di wajahnya.
"Kenapa kau tertawa?! Apa yang menurutmu lucu?!"
"Apa yang menurutku lucu?! Menurutmu apa?!"
Mendengar pangeran Sirzechs bertanya balik kepadanya, Lili hanya tertawa kecil. Melihat Lili menertawainya, Pangeran Sirzechs sedikit geram kepadanya.
"Apa yang kau tertawakan?!"
"Tidak ada. Yang Mulia, maafkan atas kelancangan hamba ini." jawab Lili sambil berlutut kepadanya.
Melihat hal itu, Pangeran Sirzechs terkejut. Ia tak menyangka, wanita yang berdiri di depannya, tiba-tiba berlutut kepadanya sambil meminta maaf.
"Konyol! Siapa yang menyuruhmu berlutut?! Berdirilah!!!" bentak pangeran Sirzechs.
Lili pun berdiri dan menatap ke arah pangeran Sirzechs. Keduanya saling bertatapan satu sama lain. Tiba-tiba, kedua mata Pangeran Sirzechs terbelalak. Seolah ia tak percaya dengan apa yang barusan ia lihat. Ia melihat wanita yang berdiri di depannya bukanlah Lili, melainkan sosok wanita lain, yang sangat ia kenal. Melihat Pangeran Sirzechs yang menatapnya dengan wajah kebingungan, Lili pun tersenyum. Ia pun menyapa pangeran Sirzechs.
"Yang Mulia, apa kau baik-baik saja?!"
Mendengar Lili bertanya tentang keadaannya, tiba-tiba pangeran Sirzechs tersadar dari lamunannya. Sosok wanita yang ia kenal, tiba-tiba menghilang dan berubah menjadi Lili.
"Apa yang terjadi barusan?! Apa yang telah kau lakukan padaku?!"
"Aku? Aku tidak melakukan hal apapun?!"
"Bohong!!! Jelas-jelas kau melakukan sesuatu padaku?!"
"Yang Mulia, kau lucu sekali. Kau telah menyegel kekuatanku. Tidak hanya itu, kau juga telah menyegel seluruh istana ini. Kau pikir, dengan kemampuanku yang rendah ini, apa yang bisa aku lakukan terhadapmu?!"
"Hahaha... kau memang pandai bersilat lidah! Wanita memang ular!"
"Humph, apa kau ingin mati? Apa kau ingin menyusul priamu ke alam baka, hah?!" bentak pangeran Sirzechs sambil mengeluarkan pedang di tangan kanannya.
"Kalaupun aku mati, setidaknya katakan sejujurnya kepadaku. Siapa kau sebenarnya?!"
Mendengar hal itu, pangeran Sirzechs langsung mengacungkan pedangnya tepat ke arah leher Lili. Lili pun terkejut melihatnya. Namun, ia melihat ujung bilah pedang itu bergetar. Lili pun mengalihkan pandangannya ke arah pangeran Sirzechs yang sedang gemetaran memegang pedang ditangan kanannya. Pedang yang ia acungkan tepat di depan leher Lili, bergetar sangat keras.
"Cih, sialan! Kau tidak ingin aku membunuhnya, kan?!"
"Yang Mulia, apa kau baik-baik saja?!"
Mendengar Lili bertanya tentang keadaannya, Pangerang Sirzechs langsung menarik pedangnya kembali. Pedang yang ia genggam, perlahan menghilang. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Lili yang masih menatapnya dengan wajah polosnya.
"Bagaimana kau tahu, kalau aku bukan temanmu?!"
"Jadi, siapa kau sebenarnya?! Kenapa kau menyamar menjadi temanku?! Lalu, dimana temanku?! Kau apakan dia?! Jawab?!!"
"Berisik!!! Jika kau ingin tahu, dimana temanmu sekarang, jawab pertanyaanku?! Bagaimana kau tahu, kalau aku bukan temanmu?!!"
"Sederhana saja. Dia tidak akan membiarkanku sedih apalagi tega menyakitiku. Sementara kau? Kau tidak segan-segan membunuh orang lain. Aku tidak tahu apakah kau masih mempunyai hati atau tidak?!"
"Tsk, aku membunuhnya karena aku tahu apa yang ia rasakan. Sementara kau? Apa kau tahu apa yang ia rasakan?! Tentu saja tidak!"
"Yang Mulia, aku tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi padamu. Tapi mengapa kau setega itu?!"
Melihat wajah Lili yang tak berdaya, mengingatkan dirinya kepada seseorang yang pernah ada di kehidupannya. Ia pun menghela nafasnya dengan sangat berat.
"Anak ini, wajahnya mirip sekali dengannya."
"Katakan, siapa nama ibumu?!"
"Navier."
"Navier?! Apa jangan-jangan dia..."
"Apa kau tahu, siapa nenekmu?!"
"Tentu saja. Almarhumah ibuku yang bercerita bahwa nenekku bernama Alviercha. Dulu saat ibuku masih bayi, ia dibawa oleh seorang pria yang mengaku teman nenekku. Dan ia dititipkan di sebuah panti asuhan. Pria itu berkata kepada ibu panti, bahwa ia tidak bisa merawat ibu, karena ada sesuatu hal yang tidak bisa ia tinggalkan. Ia juga berkata, bahwa setiap bulan akan ada seseorang yang ia perintahkan untuk mengirimkan semua kebutuhan ibu selama ibu dirawat dan dibesarkan di sana." terang Lili.
Mendengar Lili bercerita hal itu, pria itu merenung. Ia mencoba mengingat kembali memori masa lalunya saat ia masih muda. Ia teringat bahwa ia pernah menitipkan bayi perempuan dari sahabatnya ke panti asuhan. Dan tak lupa ia selalu menyuruh seseorang yang ia perintahkan untuk mengirimkan semua kebutuhannya. Mengingat hal itu, membuatnya tersenyum kecil. Bahwa ternyata gadis yang berdiri di depannya sekarang adalah cucu dari sahabat perempuannya.
"Apa kau tahu siapa pria yang menitipkan ibumu di panti asuhan saat ia masih bayi?!"
"Tidak. Almarhumah ibu hanya berkata bahwa ia dititipkan oleh seorang pria yang mengaku sebagai sahabatnya nenek. Dan, pria itu tidak memberitahukan siapa namanya."
"Ya, itu benar. Pria yang mengaku sebagai sahabat nenekmu adalah aku."
"Apa?!"
Bagai disambar petir di siang bolong. Lili tidak mempercayai apa yang barusan ia dengar. Bahwa pria yang berdiri di hadapannya dengan wajah pangeran Sirzechs (sahabatnya), adalah seorang pria yang mengaku sebagai sahabat neneknya, yang telah menitipkan almarhumah ibunya saat masih bayi di panti asuhan. Lili semakin terkejut dibuatnya. Pria itu memperlihatkan wajah aslinya di depan Lili. Wajahnya jauh lebih tampan dari pangeran Sirzechs dan Raja Feng (mantan suaminya). Tubuhnya tinggi kekar dengan kulit yang putih, seputih salju. Kedua bola matanya hitam, dengan alis mata yang sangat tebal. Bibirnya yang berwarna alami, terlihat sangat lembut menggoda untuk disentuh. Pria itu tersenyum kepadanya.
"Siapa kau?!" tanya Lili kepada pria itu.