PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
200 Tahun (Pengemis Tampan)


Dibohongi oleh orang yang sangat dekat dengannya. Yang sangat dia percaya. Membuat dirinya mengalami kekecewaan yang luar biasa. Namun, dia menyadari kenapa orang tuanya menyembunyikan ini kepadanya. Kemungkinan besar, mereka takut anaknya di hukum atau segala sesuatu yang mengancam masa depannya. Namun hal yang begitu sangat menyakitkan adalah, ketika kau melihat kesedihan yang mendalam dibalik senyum kedua orang tuamu. Di dalam kamar yang sunyi, di bawah sinar bulan purnama, jutaan bintang-bintang yang membentuk sungai di langit, menambah kesan indah di balik kesunyian malam. Lili duduk di samping jendela kamarnya. Ia memandangi kedua tangannya sambil berpikir, kekuatan macam apa yang tersembunyi di dalam dirinya. Tiba-tiba terdengar suara dari balik semak. Ia pun menoleh dan dilihatnya semak-semak bergerak seolah ada seseorang bersembunyi di sana. Lili segera melompat turun dari atas jendela. Ia berjalan menghampiri semak-semak yang masih bergerak. Dengan menggunakan kekuatan sihirnya yang kecil, Lili menyentil tangannya seolah melempar sesuatu ke arah semak-semak yang masih bergerak. Semak-semak yang tadinya bergerak, langsung berhenti karena lemparan Lili. Melihat semak itu berhenti, Lili pun tersenyum dingin.


"Jangan sembunyi. Keluarlah. Atau aku akan bersikap kasar!"


"Plok...Plok...Plok..." (suara tepuk tangan seseorang yang bersembunyi di balik heningnya malam)


"Hebat! Luar biasa!"


"Sudahlah jangan main petak umpet. Apa kau masih anak-anak?"


"Tepat."


"Anak ayam yang kehilangan induknya?"


"Benar."


"Atau kucing liar yang tinggal di jalanan mencari seseorang untuk mengadopsinya?"


"Benar sekali."


"Sudahlah, aku tidak punya waktu menemai bermain. Aku mau tidur."


"Tunggu!"


"Untuk apa menunggu seseorang yang wujudnya ghaib?" Konyol!"


Saat Lili membalikkan badannya dan hendak melompat naik ke atas jendela kamarnya, tiba-tiba dari belakang, ia merasakan energi sihir mengarah kepadanya. Ia pun segera menghindar. Dan benar saja, sebuah sihir yang bisa membuat seseorang menjadi kaku, tak bisa bergerak. Ia pun menoleh ke arah sumber energi itu. Dan dilihatnya seorang pria tampan dengan pakaiannya yang sangat mewah. Bukannya terpesona melihat penampilan pria itu, Lili malah tersenyum masam. Melihat gadis di depannya tersenyum masam, pria itu menyipitkan matanya.


Dengan angkuhnya, dia bertanya kepada Lili, "Kenapa kau senyam-senyum? Belum pernah melihat pria tampan yah?"


Mendengar perkataan itu, Lili tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha... lucu. Lucu sekali. Hei brow, bukannya aku tidak pernah melihat wajah pria tampan sepertimu. Ada banyak pria di luar sana yang jauh lebih tampan, gagah, kuat darimu. Lihatlah dirimu ini. Apa kau mau pergi ke pesta? Atau ke acara karnaval? Ini sudah malam. Sudah jamnya orang tidur."


"Mulutmu pedas juga!"


"Oh, maaf...maaf. Kalau begitu, aku pamit dulu ya."


"Kau mau pergi kemana?"


"Tentu saja pergi tidur. Untuk apa aku di sini malam-malam berduaan dengan pria yang tidak aku kenal. Yang menerobos masuk di rumahku diam-diam di tengah malam. Tidakkah kau takut jika kita berdua ketahuan oleh penjaga istana yang berpatroli tengah malam?!"


"Untuk apa takut?! Kita kan tidak melakukan hal yang mencurigakan?"


"Justru ini sudah termasuk mencurigakan!"


"Ah... salah lagi! Memang pria itu selalu salah. Dan wanita selalu benar!"


"Kau! Ahh sudahlah... terserah kau saja."


"Ahh... senjata pamungkasnya akhirnya dikeluarkan juga."


"Apa kau bilang?!"


"Aku hanya bilang, terima kasih sudah menolongku."


"Heh? Menolongmu? Sejak kapan? Aku baru saja bertemu denganmu, dasar pria aneh!"


"Kata siapa kau baru saja bertemu denganku? Kita sudah bertemu dua kali."


"Iya. Sore tadi, dipasar."


"???"


"Kau menggandeng seorang anak kecil, kira-kira berumur tujuh tahun. Dan dia memanggilmu kakak? Apa aku benar?"


"Siapa kau?"


"Kau tidak mengenaliku?"


"Kalau kenal untuk apa bertanya?"


"Coba perhatikan lagi."


Dengan bangganya, pria itu memamerkan wajah tampannya sambil tersenyum kepada Lili. Melihat sorot matanya, Lili mulai menggali ingatan tentang kejadian yang terjadi di pasar sore ini. Ia mengingat kembali urutan kejadian tersebut. Tiba-tiba ia menyadari bahwa pengemis yang ia jumpai dan ia tolong bersama adik kesayangannya, sama persis dengan pria tampan yang berdiri di depannya.


"Kau..."


"Ya. Kenapa?"


"Penampilanmu jauh lebih baik saat kau menjadi pengemis."


"Apa?!!!"


"Hehehe... kau sangat tampan kok. Sudah ya, aku pergi tidur dulu. Tak perlu berterima kasih padaku. Jika kau butuh bantuan, datanglah kemari. Tapi jangan malam-malam ya. Dan, pintu rumahku ada di sebelah sana." Kata Lili sambil menunjuk ke arah pintu rumahnya.


"Lalu bagaimana kalau kau butuh bantuanku?"


"Aku tidak akan merepotkan orang lain."


"Tidak boleh! Utang harus dibayar!"


"Terserah kau saja! Dadahhh ganteng!"


Lili melompat terbang ke atas jendela kamarnya. Sesampainya dia diatas, ia membalikkan badannya dan melambaikan tangannya ke arah pria yang berada di bawahnya. Melihat pria itu membalasnya dengan senyum dan lambaian tangan, Lili pun masuk dan menutup jendela kamarnya beserta gordennya.


"Gadis ini, bahkan belum menanyakan namaku. Sangat keterlaluan!"


Tiba-tiba muncul sosok bayangan dari belakang punggung pria itu. Bayangan itu ternyata adalah salah satu anak buah dari pria itu. Dia berjongkok sambil memberi hormat.


"Yang Mulia, apa anda mempunyai perintah?"


"Ya. Pergi cari tahu siapa nama gadis yang tinggal di rumah ini dan laporkan semua hal yang berkaitan dengan dia."


"Baik. Hamba mengerti."


"Ayo kita kembali."


Kedua pria itu pun menghilang seperti kilatan bayangan di tengah keheningan malam.


...***...


Di Sekolah


Di dalam kelas A, semua siswa-siswi sedang berbincang-bincang satu sama lain. Ada yang tertawa, ada yang makan, ada yang berdandan bahkan ada yang suka bergosip. Terdengar suara derap langkah kaki seseorang di lorong kelas. Siswa-siswi yang sedang duduk-duduk di lorong kelas, langsung terkejut mendengar ada suara langkah kaki seseorang yang datang mendekat. Dan orang itu adalah Lili. Ia berjalan tanpa melewati lorong-lorong di setiap kelas dengan tatapan aneh kepadanya. Ketika masuk di dalam kelas, Lili merasakan ada sebuah benda terbang yang mendekat ke arahnya. Itu adalah serangan botol saos sambal. Tutup botol itu terbuka sehingga isi di dalamnya tumpah ke luar. Secara refleks, Lili menghindarinya. Saos sambal itu tumpah di lantai dan berceceran dimana-mana. Lantai yang bersih kini menjadi kotor, berwarna merah darah. Lili pun mengamati semua teman-teman sekelasnya yang terdiam. Lili pun berjalan menuju tempat duduknya. Tiba-tiba dari belakang, dia mendengar suara seorang wanita yang juga menjadi teman sekelasnya, sedang mencoba memprovokasinya.


"Kalian semua, lihatlah teman kita yang satu ini! Dia sok pandai, sok cantik, sok ramah, padahal dia sangat miskin sekali!"