
Di sebuah taman yang luas dan indah, didalam pavillun berwarna merah, duduklah Lili yang senang minum teh hijau ditemani oleh Hana yang sedang berdiri di sampingnya. Tiba-tiba seekor elang raksasa terbang dari atas langit dan mendarat tepat di depan pavillun merah. Kepakkan dari kedua sayapnya membuat hembusan angin yang cukup besar, sehingga mampu menggoyangkan pepohonan dan tanaman di sekitarnya. Hana pun menoleh ke arah belakang. Ia melihat elang raksasa itu tiba-tiba berubah wujud menjadi seorang pria muda yang tampan dengan rambut hitam pendek lurusnya, matanya tajam dengan alis mata tebal di atasnya. Ia pun berjalan mendekati Lili dan memberi hormat kepadanya.
"Salam Yang Mulia ratu."
"Bagaimana hasil investigasimu hari ini Blackie?!" tanya Lili sambil meneguk secangkir teh hijau hangat di tangannya.
"Oh jadi pria yang mengantarkan makanan ke istana saat ratu sedang kultivasi tertutup namanya Blackie?!" batin Hana sambil melihat ke arah Blackie.
Ia mengamati Blackie dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sangat sempurna, sebuah kalimat yang memang pantas disematkan oleh pria yang sedang berdiri di depannya.
"Menjawab Yang Mulia Ratu. Hamba menemukan sebuah informasi yang mungkin sangat menarik untuk kau dengar."
"Apa itu?! Coba katakan kepadaku." ucap Lili sambil meletakkan cangkir tehnya di atas meja.
Lili pun mengalihkan pandangannya ke arah Blackie. Ia melihat Blackie merasa bingung dengan apa yang ingin ia katakan. Lili memperhatikan gerak gerik Blackie yang sesekali melirik ke arah Hana. Lili pun menyadari apa yang tengah di pikirkan oleh Blackie saat ini.
"Blackie, katakan saja. Kau tidak perlu khawatir dengan Hana. Dia adalah orang kepercayaanku." terang Lili kepada Blackie.
Blackie pun menghela nafas. Ia kembali menatap ke arah Lili dan sesekali mengalihkan pandangannya ke arah Hana.
"Kenapa kau diam saja? Katakan, apa yang telah kau temukan hari ini?!"
"Orang yang telah membunuh kedua orang tua Ratu adalah... Raja penguasa Zwart Land. Yang tak lain adalah mertua Ratu dan ayahanda dari suami Ratu."
Jederrrr!!! (suara petir menyambar dari atas langit.)
Mendengar perkataan Blackie, baik Hana dan Lili sangat terkejut bukan main. Mereka berdua tidak menyangka, bahwa dalang pembunuh keluarganya adalah ayah mertuanya sendiri. Hana mengalihkan pandangannya ke arah Lili. Ia melihat ekspresi di wajah Lili yang sangat tenang begitu mendengar hal ini.
"Apa kau yakin dengan kata-katamu, Blackie?!"
"Ya, Yang Mulia Ratu. Hamba mendengarnya sendiri. Saat Raja sedang berbincang-bincang dengan putra mahkota Feng, suami ratu."
"Dia bukan suamiku!"
"Maaf Yang Mulia."
"Tidak apa. Terima kasih. Kau boleh pergi beristirahat sekarang."
"Baik Ratu. Hamba mohon undur diri dulu." ucap Blackie dan dibalas oleh anggukkan pelan Lili.
Blackie pergi meninggalkan mereka berdua seperti siluet bayangan hitam. Hana ingin bertanya bagaimana perasaan Ratu saat ini. Tapi ia takut, hal ini akan menambah luka di hatinya. Lili melirik ke arah Hana. Ia melihat ada ekspresi gelisah di wajahnya.
"Hana, apa yang sedang kau pikirkan?!" tanya Lili sambil menatap ke arah Hana yang sedang melamun.
"Ratu, apa yang dikatakan oleh Blackie itu benar? Jika benar, itu berarti..."
"Tapi Ratu, kekuatanmu. Kekuatanmu saat ini sangatlah lemah. Jika kau memaksa menerobos masuk ke dalam istana, itu akan sangat membahayakan nyawamu."
"Kau tidak perlu khawatir. Sudah saatnya untuk menjalankan sebuah rencana."
"Rencana apa itu Ratu?!" tanya Hana dengan wajah penuh tanya.
Lili pun menoleh ke arahnya dan tersenyum dingin.
...****************...
Malam Hari, Di Istana Raja
Angin bertiup sepoi-sepoi masuk ke dalam jendela kamar Raja, meniupkan korden-korden tipis di sisi jendela kamarnya. Raja sedang tertidur pulas di atas kasurnya. Terdengar derap langkah kaki seorang wanita yang berjalan mendekat ke arahnya. Wanita itu menggunakan sepatu berhak tinggi dengan balutan gaun berwarna hitam dengan potongan-potongan yang memperlihatkan belahan dadanya dan kedua pahanya. Rambutnya yang hitam lurus dibiarkan tergerai begitu saja, hingga membiarkan angin meniup sebagian rambut indahnya. Ia juga menggenakan cadar hitam yang menutupi hidungnya. Ia terlihat sangat seksi di tengah remang-remang cahaya lampu kamar tidur Raja. Wanita itu berhenti tepat di samping Raja yang masih tertidur pulas. Ia meletakkan tangan kanannya di atas dahi Raja. Sebuah cahaya merah bersinar dari tangan kanan wanita itu.
"Selamat tidur Yang Mulia Raja. Aku harap kau bermimpi indah." ucap wanita misterius itu.
Wanita itu pun pergi meninggalkan Raja yang masih tertidur pulas. Beberapa saat kemudian, Raja bermimpi. Ia berada di sebuah tempat yang gelap gulita, tak ada satupun cahaya. Ia mengamati seluruh tempat itu.
" Dimana aku? Tempat apa ini?" gumam Raja sambil mengamati seluruh tempat itu.
Ia pun memutuskan untuk berjalan lurus ke depan. Berharap bisa menemukan ujung jalan agar bisa keluar. Namun, semakin ia berjalan lurus ke depan, semakin tak terlihat ujung jalan. Ia pun berhenti sejenak. Tiba-tiba ia mendengar suara teriakan seseorang meminta tolong dari arah belakang. Ia pun menoleh ke belakang, ke arah sumber suara. Tiba-tiba kedua matanya terbelalak. Ia melihat bangunan rumah yang terbakar hebat. Ia merasa bangunan rumah yang terbakar itu sangat familiar. Tiba-tiba ia mendengar suara anak kecil yang sedang berlari ke arahnya, untuk meminta pertolongan. Anak kecil itu tubuhnya penuh berlumuran darah segar dengan luka dibagian sekujur tubuhnya. Anak kecil itu mendekat dan hendak memeluknya, namun dengan cepat ia menendang anak itu untuk menjauh darinya. Anak itu pun terbang di udara akibat tendangan keras oleh Raja, namun menghilang di tengah-tengah kegelapan. Raja pun kaget melihat anak kecil itu tiba-tiba menghilang. Tak lama kemudian, ia mendengar suara teriakan minta tolong dari seorang laki-laki dan perempuan yang sangat familiar di telinganya. Raja pun menoleh dan mencari arah sumber suara tersebut. Betapa terkejutnya ia saat melihat ada sepasang suami istri yang tak lain adalah kedua orang tua Lili. Keduanya dalam kondisi tubuh yang sangat menyedihkan. Sekujur tubuhnya berlumuran darah dengan luka yang cukup parah di sekitar area kepala, dan dada. Kedua pasangan suami istri merangkak, menyeret kedua kakinya dengan tumpuan kedua tangannya, mendekati Raja. Terdengar suara meminta tolong dari mereka berdua. Raja pun berjalan mundur beberapa langkah.
"To... tolong... Yang... Mu... Mulia! " teriak Tuan Lee (ayah Lili) sambil mengangkat tangannya secara bergantian yang penuh luka dan darah di sekitarnya.
"Tolong! Tolong kami! Selamatkan kami!" teriak ibu Lili.
"Pergi! Pergi! Jangan mendekat!" teriak Raja dengan panik.
Kedua orang tua Lili terus merangkak mendekati Raja. Raja pun menendang kedua orang tua Lili. Bukannya berhenti, kedua orang tua Lili semakin cepat merangkaknya. Raja pun menggunakan kekuatan sihirnya. Ia pun mengeluarkan cambuk petir listrik dari tangan kanannya, dan mencambuk keduanya. Kedua orang tua Lili hanya menyeringai lalu menghilang saat cambuk petir listrik di arahkan kepada meraka. Raja pun kaget dan segera berteriak memanggil seseorang untuk keluar dari persembunyiannya.
"Hei kau! Aku tahu kau sedang bersembunyi! Keluar jangan jadi pengecut!!!" teriak Raja dengan emosi yang sangat memuncak.
Di balik kegelapan, senyum bibir tipis berwarna merah mulai mengambang di balik cadar hitam. Perlahan-lahan, Raja mulai mendengar suara derap langkah kaki seseorang yang berjalan mendekat. Ada sebuah cahaya dari arah dimana sumber langkah kaki itu berasal. Perlahan-lahan ia dapat melihat dengan jelas, bayangan seseorang yang berjalan mendekat ke arahnya. Ia melihat sosok wanita yang sangat cantik, dengan balutan gaun berwarna hitam dengan potongan-potongan yang memperlihatkan belahan dadanya dan kedua pahanya. Rambutnya yang hitam lurus dibiarkan tergerai indah di punggungnya. Wajah cantiknya tertutupi oleh cadar hitam yang menutupi hidung dan mulutnya. Ia berjalan mengenakan sepatu high heels berwarna hitam. Sosok bayangan itu berhenti tepat di hadapannya. Betapa terkejutnya Raja melihat sosok bayangan itu dengan sangat jelas. Tangan kanannya yang memegang cambuk petir listrik mulai gemetaran.
"Kau!!!" ucap Raja sambil menunjuk jari telunjuk kirinya ke arah wanita yang berdiri dihadapannya dengan gemetar.
"Sudah lama kita tidak bertemu, ayah mertua." ucap Lili sambil melepas cadar hitam yang menutupi sebagian wajahnya.
Senyum dingin mengambang di wajah cantiknya disertai tatapan kebencian di kedua matanya.