
Putri Cariz pun kaget dan tertegun mendengar putra mahkota Feng berkata kasar kepadanya.
"Yang Mulia, kenapa kau mengatakan hal itu kepadaku?!" tanya Putri Cariz dengan ekspresi memelas di wajahnya.
"Kenapa?! Kenapa tidak kau tanyakan pada dirimu sendiri?!"
Pandangan putra mahkota Feng teralihkan ke arah Lili. Ia melihat penampilan Lili hari ini sangatlah berbeda dari biasanya. Hari ini, ia terlihat sangat cantik dari biasanya. Dengan menggenakan gaun berwarna kuning keemasan dengan rambutnya yang tergerai panjang di punggungnya.
"Sudah lama tidak bertemu dengannya. Dia... cantik sekali." puji putra mahkota Feng dalam hati.
"Kau sudah kembali?!"
"Bukan urusanmu!"
"Memang benar bukan urusanku, tapi pelaku pembunuhan harus segera diadili."
"Humph, apa kau hanya ingin mengadili diriku saja?! Bagaimana dengan dalang yang sebenarnya?! Apa dia lolos begitu saja?! Itu sangat tidak adil bukan?!" sindir Lili dengan ekspresi sinis di wajahnya.
"Semua akan diadili sesuai hukum yang berlaku."
"Oh benarkah?! Sayangnya aku tidak merasa melakukan kejahatan?!"
"Humph!"
Tiba-tiba Feng melompat dan menyerang Lili dengan menggunakan tangan kanannya yang mengeluarkan kain berwarna putih panjang, untuk menangkap Lili. Lili yang mengetahui Feng menggunakan sihir untuk menangkapnya, segera mundur dan menghindar. Terjadilah kejar-kejaran diantara mereka berdua.
"Sial! Aku lupa untuk mengganti gaunku!" umpat Lili sambil melompat dan terbang ke sana kemari untuk menghindar dari kejaran kain putih milik Feng. Feng yang terus mengejarnya, akhirnya menyadari bahwa ia melupakan Putri Cariz yang berada di bawah. Segera ia melepaskan sihirnya.
"Kejar dia!" ucap Feng sambil melepaskan sihir kain putih miliknya.
Kain putih itu memisahkan dirinya dari tangan sang pemilik dan mulai mengejar Lili. Feng segera terbang mendarat ke bawah menuju ke arah Putri Cariz.
"Feng."
"Ada sesuatu yang ingin kau katakan?!"
"Apa kau masih tidak mempercayaiku?!"
"Percaya?! Konyol!"
Tiba-tiba terdengar suara gedebuk yang sangat keras di atas tanah. Feng dan Putri Cariz segera menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya, Lili terlilit oleh kain putih milik Feng dan terjatuh di atas tanah. Ia berusaha untuk meronta, melepaskan diri dari lilitan kain itu. Lili menyadari bahwa kekuatan sihirnya sekarang ini sangat lemah dan telah mencapai batasnya. Jadi, sangat sulit baginya untuk melepaskan diri dari sihir lilitan kain putih ini. Feng yang melihatnya, segara berbalik dan berjalan menghampirinya. Ia berjongkok dan menatap Lili yang sedang berusaha untuk melepaskan diri dari jerat sihir kainnya.
"Berhenti berjuang. Kekuatan sihirmu sudah mencapai batas."
"Humph!"
Feng segera berdiri dan berbalik menatap putri Cariz.
"Kenapa kau tidak membawanya untuk diadili?! Bukankah kau sudah lama mencarinya dan ingin menangkapnya?! Setelah berhasil menangkapnya, kenapa kau diam saja?!"
"Kau ingin aku apakan dia?!"
"Tentu saja membunuhnya!"
Lili yang mendengar Putri Cariz ingin Feng membunuhnya, terlihat sangat tenang. Tak ada ekspresi kaget di wajahnya.
"Kenapa kau ingin membunuhnya?!" tanya Feng sambil mengernyitkan dahinya.
"Kenapa?! Tentu saja karena dia yang merebutmu dariku!"
"Bagaimana bisa kau mengatakan kalau dia yang merebutmu dariku?! Tidakkah kau tahu bahwa itu adalah keputusan dari ayahandaku?!"
"Ya. Memang."
"Lalu, kenapa kau harus membuat skenario semacam itu?!"
"Karena kau sendiri tahu, bahwa perintah raja tidak bisa ditentang! Lagipula siapa yang menyegel kekuatannya?! Bukankah itu adalah kau?!"
"Kau!" bentak Feng sambil melirik ke arah Lili.
Lili yang mendengar perkataan putri Cariz sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Wajahnya berubah menjadi muram. Selama ini ia mencoba menyakinkan dirinya sendiri, bahwa orang yang telah menyegel kekuatan sihirnya adalah orang lain. Namun, mengingat kembali kejadian dua ratus tahun yang lalu, saat ia masih menjadi permaisuri putra mahkota Feng, ia mendengar bahwa raja (ayah mertuanya) memuji Feng (putranya) karena melakukan perintahnya dengan sangat baik. Yaitu menyegel kekuatan sihirnya tanpa sepengetahuan Lili. Berkali-kali ia menyakinkan dirinya, bahwa apa yang ia dengar selama ini adalah salah. Tapi siapa sangka jika ia akan mendengar hal ini sekali lagi, dari orang lain. Putri Cariz memperhatikan Feng melirik ke arah Lili.
"Ada apa Feng? Apakah sekarang, kau menyesalinya?!"
"Tutup mulutmu!"
"Hahahaha! Feng oh Feng, kenapa kau tidak jujur saja pada Lili, mantan permaisurimu, istrimu?!"
"Kau!" teriak Feng dan Putri Cariz secara bersamaan.
Keduanya kaget melihat Lili yang berdiri tegak dan berhasil melepaskan dirinya dari lilitan sihir kain putih milik Feng. Tak lama kemudian ia muntah darah. Feng yang khawatir melihat keadaannya, spontan mendekatinya namun langkah kakinya terhenti. Ia melihat Lili mengacungkan duri hitam yang panjang tepat ke arah lehernya.
"Jangan mendekat! Atau kepalamu akan terpisah dengan tubuhmu!"
"Memangnya kau berani?!"
Lili yang merasa Feng sedang mencoba memprovokasinya, hanya tersenyum dingin kepadanya. Ia menggoreskan duri itu ke leher Feng dan keluarlah darah di lehernya. Feng yang merasa sakit di lehernya karena telah disayat oleh Lili, hanya bisa memegang lehernya dengan tangan kirinya. Ia melihat ada darah di tangan kirinya. Feng mengalihkan pandangannya ke arah Lili.
"Kau pikir aku tidak berani melakukannya?!"
Prok... Prok... Prok...
"Hebat... sangat hebat! Memang pantas jika kau bergelar ratu iblis!" teriak Putri Cariz sambil bertepuk tangan.
"Aku tidak menyangka kalau ternyata, kau sehebat ini?! Dengan kekuatan sihir yang tersegel, kau mampu melepaskan diri dari jerat sihir mantan suamimu?!"
"Jika hanya membunuh serangga kecil seperti kalian, aku tak perlu menggunakan kekuatan sihir yang besar!"
"Humph, ilmu sesat yang kau pelajari sangat luar biasa. Pantas saja sepeninggalan kau, murid-murid disini sangat kehilangan sosok penyihir terkuat di negeri ini?!"
"Dan karena itu, kau ingin membunuhku dengan meminjam pisau orang lain?!"
"Benar!"
"Kalian berdua memang pasnagan yang sangat serasi!"
"Apa maksudmu?!"
"Apa maksudku?! Tidakkah sudah jelas Yang Mulia. Kalian berdua adalah pasangan kekasih ahhh tidak. Pasangan suami istri yang sama-sama licik."
"Terima kasih atas pujianmu!" sahut putri Cariz.
"Suami istri?! Heh, dia adalah selirku dulu. Tidak sekarang. Satu-satunya istriku dan permaisuriku, hanya kau seorang."
"Feng! Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu kepadanya?! Kau anggap aku ini apa?!" teriak Putri Cariz dengan wajah yang penuh amarah.
"Apa kau tidak mendengarnya? Kau hanyalah seorang selir bagiku! Dan aku sudah lama mengatakan ini kepadamu, bahwa selamanya, permaisuriku hanya satu seorang. Dia adalah kau Lili." ucap Feng sambil menoleh ke arah Lili.
"Heh, jika kau benar-benar menganggapku istrimu. Orang yang kau cintai, kenapa kau tega menyakitiku?! Dan kau Putri Cariz, apakah kau sadar jika selama ini kau terobsesi kepada Yang Mulia Raja Feng bukan cinta?! Kau bilang aku yang merebutnya darimu?! Konyol! Jika bukan karena perintah dari raja, aku tidak akan menikah dengannya!"
"Kau bilang aku terobsesi padanya?! Hahaha, dasar bodoh! Aku mencintainya! Sangat mencintai dia! Tapi apa?! Dia lebih memilih untuk menikah denganmu daripada memilih menikah dengan aku, teman kecilnya dulu?!"
"Lalu kenapa kau melampiaskan amarahmu kepada orang lain?! Putri Cariz, jika kau memang benar-benar mencintainya, kau pasti akan bahagia melihat dia juga bahagia, sekalipun dia tidak memilihmu. Itulah yang dinamakan cinta. Mengikhlaskan dia bahagia dengan pilihannya."
"Tsk! Kau berbicara seperti itu karena kau tidak pernah merasa jatuh cinta?!"
"Benar! Aku tidak pernah jatuh cinta!"
"Apa?!"
"Kau tahu bukan, jika aku dijodohkan oleh Raja. Dan keluargaku tidak bisa menentangnya. Dan apa kau pikir, aku mencintai Feng, kekasih obsesimu?! Hahaha... kau salah! Dari dulu, aku tidak pernah merasa jatuh cinta."
"Kau bohong! Mana mungkin kau tidak pernah jatuh cinta?! Kau hanya tidak mau mengakuinya, kalau kau pernah jatuh cinta dan merasakan sakit hati bukan?!"
"Terserah kau!" ucap Lili sambil melemparkan duri hitam di tangannya ke arah putri Cariz, namun dihadang oleh Feng.
Klang!!!!
"Kau!" geram Lili saat melihat Feng menangkis serangannya untuk putri Cariz.
"Jangan mengotori tanganmu untuk dia!"
"Diam!"
"Lili, apa kau benar-benar tidak pernah jatuh cinta kepada seseorang?!" tanya Feng dengan ekspresi muram di wajahnya.
Mendengar pertanyaan Feng, Lili termenung sejenak. Ia mengingat kembali kenangan dirinya saat masih muda. Kenangan dirinya dengan pangeran Sirzechs dan kenangan dirinya dengan Raja Feng, mantan suaminya. Tak dapat dipungkiri lagi, bahwa Lili memang tidak mau mengakuinya. Bahwa ia telah jatuh cinta kepada Raja Feng. Dengan pangeran Sirzechs, perasaannya hanya sebatas teman. Tapi sangat berbeda dengan perasaannya terhadap Raja Feng. Namun, setelah ia tahu bahwa kebenaran tentang siapa yang telah menyegel kekuatannya dan siapa saja yang terlibat penyebab kematian kelurganya.Seketika itu, hati Lili hancur berkeping-keping. Hatinya sudah mati rasa saat itu. Orang yang ia cintai, ternyata telah mengkhianati dan menyakitinya terlalu dalam.
"Benar apa yang dikatakan oleh putri Cariz. Aku tidak mau mengakuinya. Aku memang pernah jatuh cinta, tapi sekarang tidak. Yang ada sekarang, hanyalah kebencian dan keinginan untuk membunuh mereka yang telah menyakitiku dan keluargaku!" ancam Lili dengan kedua mata yang merah menyala, ditambah dengan aura hitam pekat yang menyebar di seluruh tubuhnya.
Raja Feng dan Putri Cariz kaget melihat sosok penampilan Lili saat ini. Gaun yang berwarna kuning keemasan yang ia kenakan sebelumnya. Tiba-tiba berubah menjadi gaun berwarna hitam dengan model potongan yang memperlihatkan tubuhnya yang sangat seksi. Wajahnya putih dengan bibir berwarna merah menyala, ditambah dengan rambut hitam lurus panjang yang tergerai di punggungnya. Tatapan matanya sangat tajam dan ada kilatan merah di keduanya, seolah menyimpan kebencian dan amarah yang dalam. Ia menggunakan sepatu high heels berwarna hitam, berdiri di hadapan mereka berdua dengan senyum iblis di wajah cantiknya.