PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Hutan Kematian 6


Di dalam air, Lili berusaha melepaskan diri dari jeratan pusaran air. Dengan sekuat tenaga, ia mengerahkan seluruh kekuatan sihirnya. Ia mencoba membekukan seluruh air di dalam danau abadi, tapi tidak berhasil. Akhirnya ia memutuskan untuk membekukan pusaran air yang berbentuk tangan manusia raksasa dengan sihir esnya. Usaha tidak mengkhianati hasil. Pusaran air yang menarik kakinya itu akhirnya membeku. Perlahan ia menghancurkan pusaran air di sekitar kakinya. Terdengar bunyi retakan es di sekitar kakinya. Akhirnya ia terbebas dari jeratan pusaran air tersebut. Ia mencoba berenang ke atas, tapi semua sia-sia. Dia baru sadar bahwa dirinya tidak bisa berenang. Lagi-lagi dia menggunakan sihir agar bisa sampai naik ke atas. Lili menggunakan sihir angin yang membawanya naik ke atas danau dan mendarat di atas danau di tepian Danau Abadi. Ia terbatuk-batuk akibat menahan nafas terlalu lama di air. Dengan sempoyongan ia berdiri dan berjalan menyusuri hutan. Semakin ia melangkah menjauh dari Danau Abadi, ia merasakan bahwa hutan ini semakin menyempit. Ia berjalan sambil mengamati kanan kiri. Kemudian ia berhenti dan mengamati sekitarnya.


"Keluarlah! Tak perlu bersembunyi!"


"Plok...Plok...Plok..." suara tepuk tangan


"Siapa kau?!"


Lili bertanya kepada seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari belakang punggungnya. Ia menggunakan cadar berwarna hitam dan jubah hitam. Tubuhnya tinggi semampai, kulitnya putih mulus. Rambutnya panjang tersembunyi di dalam topi jubahnya. Jubah yang ia kenakan memperlihatkan sebagian bentuk tubuh indahnya. Bagian atas terdapat potongan di sekitar leher yang memperlihatkan dua gunung kembar yang tersembunyi menonjol di dalamnya. Jubah bagian bawah, memperlihatkan kedua pahanya yang putih mulus. Tidak hanya itu, sepatunya yang berhak tinggi berwarna hitam memperjelas kecantikan yang indah yang hanya ada seribu tahun. Mungkin jika cadarnya yang menutupi wajahnya dibuka, akan terlihat betapa cantiknya wanita ini.


"Siapa aku tidaklah penting! Yang penting, kau harus mati disini?!"


"Hah?! Apa kau tidak salah orang?! Ini adalah tempat ujian para murid, kau pasti tersesat!"


"Buuaahahahahaha... dasar bodoh!"


"Kau itu yang bodoh dan sinting! Berpakaian seksi di hutan seperti ini. Apa kau ingin menarik perhatian binatang-binatang di hutan ini?! Segitu jomblonya kah wanita ini?!!" batin Lili.


"Kau tidak tahu siapa aku?!"


"Kau ini stres ya?! Aku tadi bertanya kau tidak menjawab?!"


"Keparat! Berani sekali kau menghina aku!"


"Ini masih level 0 aku menghinamu. Berapa level yang kau inginkan?!"


"Gadis sialan, matilah kau!!!" teriak wanita itu sambil mengeluarkan cambuk listrik dari tangannya dan mulai mencambuk Lili.


"Wow... wanita ini lagi PMS ya?!!" ejek Lili sambil menghindar dari serangan cambuk listrik yang mematikan.


CTARRRRRR....BOOMMMM!!!!


Suara cambuk listrik yang mengenai beberapa pohon dan semak belukar mampu meledakkan segala yang disentuhnya. Suaranya yang seperti petir dan bom meledak apabila tersentuh olehnya, membuat Lili semakin bergidik.


"Sialan! Cambuk jelek seperti itu mampu meledakkan apa yang ada di sekitarnya yang tersentuh olehnya. Sialan... sialan!!! Mimpi apa aku semalam, bertemu wanita gila seperti dia! Tunggu, aku juga kan wanita?!!" umpat Lili sambil melompat menghindar dari cambukan tak beraturan yang ditujukan kepadanya.


"Jangan menghindar terus, gadis sialan!!"


"Kau itu yang sialan! Kurang belaian!"


"Apa?!"


"Grrrr...bangsattt!!!" teriak wanita itu dengan penuh amarah dan melesatkan cambukan tepat di lengan kiri Lili.


Lili pun berteriak kesakitan dan terlempar di atas tanah. Ia meringis kesakitan sambil memegang lengan kirinya yang terkena cambuk listrik. Jubah kirinya robek karena terkena cambuk listrik. Dilihatnya lengan kirinya terluka dan mengeluarkan darah. Lili berusaha untuk berdiri, tapi rasa sakit pada lengannya, memaksa lututnya bersimpuh di atas tanah.


"Sialan! Wanita ini semakin gila, jika aku semakin menyinggungnya, aku khawatir... aku akan tamat dan tidak bisa kembali ke duniaku!" batin Lili


"Hmph, jika bukan karena jubah yang kau kenakan itu, kau sudah mati di tanganku!"


"Jubah?! Apa maksudmu jubah yang aku kenakan ini?!"


"Ya! Tidak aku sangka jubah yang di desain dan dibuat oleh si j*lang itu, masih digunakan di sekolah ini! Sepertinya, pesonanya masih belum hilang dari hati semua orang!"


"Apa maksudmu?!"


"Sudah waktunya mengakhiri ini semua!! Hiyaattt!!" teriak wanita itu sambil mengarahkan cambuk listriknya ke tubuh Lili.


Lili pun terpental jauh dan masuk ke dalam jurang sambil berteriak. Wanita bercadar hitam itu berjalan dan melihat Lili yang berteriak meminta tolong. Teriakannya tak terdengar seperti tertelan oleh jurang hitam dan perlahan tubuh Lili menghilang di telan olehnya. Senyum puas mengambang di balik cadar hitamnya.


"Sampaikan salamku pada Raja Neraka!" ucap


wanita itu sambil berbalik meninggalkan Lili yang terjatuh ke dalam jurang.


Angin berhembus menyapu debu, kerikil kecil berjatuhan ke dalam jurang. Tak terdengar suara kerikil jatuh ke dalamnya. Jurang itu jelas sangat dalam. Di dasar jurang tak terlihat siapapun. Tak ada jejak darah atau jejak kaki. Sangat bersih seolah tidak ada sesuatu yang jatuh dari atas. Di sisi lain, ada dua ekor kelinci sedang bermain bersenda gurau dengan sesamanya. Ada banyak rerumputan segar dan bunga-bunga bermekaran di sekitarnya yang tertiup angin. Samar-samar cahaya matahari terlihat mengintip di sana. Ada sebuah istana besar dan megah yang tersembunyi di dalam gua kecil. Gua itu terlihat dari depan seperti gua biasa. Namun, jika seseorang yang mempunyai kekuatan sihir yang tinggi, bisa melihat ada sebuah istana besar dan megah yang tersembunyi di dalamnya. Di dalam ruangan, ada sebuah gorden berwarna putih yang tertiup angin dari luar jendela. Ruangan yang sangat elegan dengan semua perabotannya tertata rapi di dalamnya. Di atas tempat tidur, tidurlah seorang gadis muda yang seluruh tubuhnya tertutupi oleh selimut tebal berwarna putih kecuali area dada dan kedua lengannya. Di sebelah kanan tempat tidur, ada seorang pria yang duduk sambil mengamati seluruh tubuh gadis itu yang tertutupi selimut. Di sebelah pria yang duduk diatas kursi, berdirilah pria lain di sisinya. Pria itu adalah dokter pribadi keluarga kerajaan. Suasana di dalam ruangan itu sunyi sepi.


"Bagaimana keadaannya?"


"Menjawab Yang Mulia. Gadis ini terkena cambukan dari cambuk listrik yang mengenai lengan kirinya."


"Apa itu parah?"


"Ini..."


"Katakan saja."


"Seperti yang kita ketahui Yang Mulia. Cambuk listrik itu sekali mengenai orang, bisa membuatnya mati dalam sekejap. Jika beruntung, itu hanya akan meninggalkan bekas luka cambuk yang tak bisa hilang seumur hidup."


"Kapan dia bangun?"


"Hamba tidak tahu."