PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
200 Tahun (Kekuatan Misterius)


"Kakak, kenapa dia diam saja? Malah melototti aku?!"


Karena ketakutan, Lexi menarik tangannya yang masih memegang uang kertas dari kakaknya. Lili langsung menyambar uang kertas yang masih di pegang adiknya.


"Lihat ini!"


Lili memberikan uang kertas itu kepada pengemis itu sambil berkata, "Pak, ini ada sedekah dari kami. Mohon diterima ya.'


Mendengar hal itu, pengemis itu menerima uangnya sambil memandang Lili dan membalasnya dengan anggukan kepala. Melihat hal itu, Lili pun tersenyum dan menggandeng tangan adiknya untuk segera pergi dari tempat itu.


"Sudah mengerti?"


"Iya."


"Ayo pulang sudah sore, sebentar lagi malam."


Keduanya pun pergi meninggalkan pengemis itu. Bayangan mereka pun berangsur menghilang dari kejauhan. Pengemis itu memandang uang kertas yang diberikan Lili kepadanya. Tiba-tiba uang kertas itu berubah menjadi kantong obat. Kantong itu terbuat dari kain berwarna ungu dengan motif bunga Lili. Bau ramuan obat tercium dari luar kantong itu. Pengemis itu membukanya dan melihat isinya. Dan benar saja, isinya adalah beberapa pil obat. Dan pil obat itulah yang dia cari selama ini. Pengemis itu pun tersenyum, lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia membuka topi jubahnya. Wajah putih tampan, hidung mancung, sorot mata yang tajam, bibir kecil merah alami, terlihat sangat jelas saat ia membuka topi jubah yang menutupinya.



"Menarik!"


Kemudian pengemis itu menghilang.


Sementara di tempat lain, Lili sedang merenung tentang kejadian saat di pasar. Ia bertanya-tanya, makhluk apa yang tadi ia lihat. Dan bagaimana makhluk seperti itu bisa mengeluarkan aura kebencian. Karena penasaran, ia memutuskan untuk bertanya kepada ayahnya. Kemudian ia turun dari lantai kamar atasnya menuju ruang tamu. Dilihatnya ayahnya sedang duduk sambil membaca buku. Lili pun duduk di sofa yang berhadapan tepat dengan ayahnya.


"Ada apa? Tidak biasanya kau duduk disini."


"Ayah, aku mau bertanya sesuatu."


"Katakan."


"Ayah, apa kau pernah melihat aura kebencian pada suatu tempat atau pada makhluk tertentu?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Saat aku mengantar Lexi ke pasar, semuanya terasa baik-baik saja. Tidak ada hal yang aneh. Tapi, saat Lexi hendak menyeberang, tanpa sengaja aku melihat ada sebuah pusaran aura kebencian datang menuju ke arah Lexi."


Mendengar anak gadisnya bercerita tentang kejadian yang dialaminya, ayahnya kemudian meletakkan buku disampingnya yang telah ia baca. Ia memperhatikan anak gadisnya yang ada di hadapannya sekarang.


"Lalu, apa yang terjadi?"


"Pusaran aura kebencian itu lalu lenyap begitu saja saat aku memeluk Lexi. Tidak hanya itu, setelah aku memeluk Lexi, aku melihat ada ribuan orang menatapku dengan tatapan kosong. Tidak hanya itu, mereka diselimuti aura kebencian dalam tubuhnya. Ayah, tidakkah kau berpikir ini adalah hal yang aneh?"


"Syukurlah kalian berdua baik-baik saja."


"Eh? Ayah mengapa kau mengatakan hal seperti itu? Harusnya kau menjawab pertanyaanku?"


"Lili, kau tahu sendiri kan. Di negeri ini, hal semacam itu dilarang mempelajarinya. Ada Dan kau malah membahas hal itu. Kau tahu bukan, apa konsekuensinya?"


"Tapi, ayah..."


"Cukup! Ini sudah larut malam, kau segeralah tidur. Bukannya kau besok ada ujian di sekolah?"


"Iya."


"Cepat pergi tidur."


"Ayah, apa boleh aku tidak pergi ke sekolah saja?"


"Kenapa?"


"Aku tidak nyaman ke sekolah."


"..."


"Lili, setiap orang mempunyai bakat, kemampuan, hati dan pikiran yang berbeda-beda."


"Seperti contohnya, aku dan adikku?"


"Kenapa kau berkata begitu?"


"Semua orang tahu, adikku sangat cerdas di usia muda. Dan kau tahu akan hal itu. Tidak hanya kau, tapi juga ibu. Lalu bagaimana denganku? Semua orang membandingkan aku dengan adikku. Tidakkah kau tahu perasaanku ayah?"


"Jadi hanya karena mereka semua membandingkan kau dengan adikmu, lantas kau tidak mau sekolah."


"Bukan aku tidak mau sekolah. Aku hanya tidak nyaman pergi ke sekolah."


"Lili, jangan dengarkan orang lain. Jadilah dirimu sendiri."


"Ibu?! Sejak kapan kau ada di sini?"


Ibunya berjalan menghampiri ayahnya dan duduk di sebelah ayahnya.


"Sejak kau mengatakan tidak ingin pergi ke sekolah."


"..."


"Sudah... sudah hari sudah larut. Kau pergilah tidur. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Tidur yang nyenyak. Hilangkan beban yang ada di pikiranmu."


"Baik. Aku pergi dulu, ayah ibu... selamat malam."


"Selamat malam." ucap ayah dan ibu secara bersamaan.


Lili pun menaikki anak tangga satu persatu menuju kamarnya. Melihat bayangan punggung Lili sudah menghilang, ibu menatap ayah.


"Ayah, tidakkah kau merasa ini aneh?"


"Ya. Tapi apa yang bisa kita lakukan?"


"Dari awal aku sudah menduganya. Tidak seharusnya kita membiarkan dia keluar."


"Sekalipun kita mengurungnya, dia pasti curiga. Lagipula lambat laun dia akan menyadarinya kekuatannya sendiri. Dan jika saat itu telah tiba, kita sebagai orang tua tidak bisa melakukan apa-apa. Kecuali melindunginya semampu kita."


"Tapi aku takut, kalau orang lain tahu kekuatan dia yang sesungguhnya."


"Tidak akan ada yang tahu, kecuali kita."


"Tapi..."


"Istriku, tenanglah. Aku tahu, kau khawatir padanya. Tapi kita tidak boleh mengekangnya. Mau itu hitam atau putih, asal pisau itu digunakan dengan tepat. Tidak akan melukai orang lain. Malah melindungi diri sendiri juga orang lain."


"Itu pemikiranmu saja. Bagaimana dengan orang lain? Aku...aku..."


"Berhenti berpikir negatif. Aku tahu, kau tidak menginginkan ini. Aku juga. Bahkan dia juga sama seperti kita. Tidak menginginkan hal ini. Sebaiknya kita berdo'a, semoga Tuhan melindunginya.Melindungi keluarga kita."


"Iya."


"Ayo, kita juga harus istirahat."


"Ehm."


Keduanya berjalan beriringan menuju kamar mereka. Terdengar suara pintu kamar ditutup. Rumah itu kembali menjadi sunyi. Tapi siapa sangka, Lili yang tadinya pergi menaikki anak tangga menuju kamarnya ternyata tiba-tiba muncul dan berdiri di anak tangga itu. Ternyata sedari tadi, Lili tidak masuk ke dalam kamarnya. Saat hendak mau masuk ke kamarnya, ia merasa haus dan hendak turun untuk minum. Namun hal yang tak terduga terjadi. Lili tanpa sengaja mendengar percakapan kedua orang tuanya tentang dirinya. Karena penasaran dengan apa yang dibicarakan, Lili menggunakan sihir menghilang. Betapa kagetnya ia mendengar kenyataan bahwa, ia memiliki kekuatan yang tersembunyi yang sengaja di tutup-tutupi oelh kedua orang tuanya. Dan dia tahu, kekuatan macam apa yang dimilikinya. Sejak kecil, dia selalu bisa merasakan hawa jahat di sekitarnya. Namun ketika hawa itu mendekatinya, hawa itu seolah lenyap menghilang begitu saja. Saat dia menceritakan hal ini kepada ibunya, ibunya tidak mempercayainya bahkan sampai sekarang. Tapi ternyata itu semua adalah kebohongan. Selama ini kedua orang tuanya mengetahui kekuatan tersembunyi miliknya. Kecewa, sakit, itu yang ia rasakan di dalam hatinya sekarang.