
Betapa terkejutnya Lili mendengar roh itu menyebutkan nama istrinya, yang tak lain adalah permaisuri raja yang sekarang ini. Melihat ekspresi Lili yang sedang kebingungan, roh itu pun mulai bertanya kepadanya.
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa. Hanya saja..."
"Hanya saja apa?"
"Hanya saja, aku merasa sangat familiar dengan nama itu."
"Benarkah?"
"Yang Mulia..."
"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi di tahun-tahun ini?"
Melihat roh itu bertanya kepadanya dengan wajah serius, Lili pun ragu-ragu ingin mengatakannya atau tidak. Dalam hatinya, ia takut jika ia berkata jujur, itu akan menimbulkan perselisihan. Jika ia berbohong dengan mengatakan tidak tahu, hati kecilnya akan merasa bersalah dan tidak tenang selama hidupnya. Belum pernah ia merasakan kegalauan yang melanda dalam benaknya. Jika para pemuda pemudi yang seumuran dengannya galau akan kisah percintaan mereka, berbeda dengan Lili. Ia galau akan menjawab jujur atau tidak. Karena pada dasarnya, hanya akan berdampak yang sama. Bagai makan buah simalakama. Sungguh sangat berat baginya bertemu dengan roh yang terjebak di hutan kematian. Jika harus di suruh memilih, ia lebih baik memilih dicabik-cabik hantu gentayangan atau mati kelaparan di sini, daripada bertemu roh di masa lampau yang masih terjebak di hutan ini. Ia ingin roh ini segera tenang di alamnya, tapi bagaimana caranya? Haruskah ia jujur atau berbohong kepadanya?
"Kenapa diam saja? Apa kau mencoba menyembunyikan sesuatu padaku?!"
"Ah... tidak. A... aku tidak menyembunyikan apa-apa."
"Lalu kenapa kau diam saja? Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?"
"Aku sedang berpikir, apakah ini akan membuatmu tenang atau malah murka?"
"Kenapa kau berpikiran seperti itu? Apa aku terlihat seperti roh jahat?!"
"Sedikit."
"Apa?!!!"
"Ga... gawat. Dia mulai marah. Ba... bagaimana ini? Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?! "Aku masih muda. Aku ingin menikah dan punya keluarga yang bahagia. Haruskah hidupku akan berakhir sampai disini?!"
"Huff... berapa kali ku katakan padamu. Aku bukan roh jahat bukan hantu gentayangan!"
"Lalu kau apa?! Kau tidak mengatakan apa-apa tentang dirimu. Kau hanya bilang kalau kau adalah roh yang terjebak di hutan ini selama dua puluh tahun."
"Aishhh... wanita memang selalu benar!"
"Sudahlah. Sekarang bisakah kau menceritakan kepadaku apa yang telah terjadi dalam beberapa tahun ini."
"Dalam beberapa tahun ini, semuanya berubah sejak kepergian raja terdahulu."
"Jadi, ayahanda telah meninggal dunia?"
"Apa kau tahu, kapan raja terdahulu meninggal dunia?"
"Kalau aku tidak salah mengingat, sekitar tiga belas tahun yang lalu."
"Tiga belas tahun?"
"Iya."
"Lalu?"
"Lalu... itu..."
"Itu kenapa?"
"Itu... Yang Mulia maafkan aku. Istrimu itu sekarang... beliau adalah... permaisuri raja yang sekarang."
Bagai disambar petir di siang bolong. Roh pria itu kaget bukan main. Dari ekspresi bisa menunjukkan betapa kagetnya ia mendengar berita yang disampaikan oleh Lili. Lili sudah menduganya dari awal akan terjadi hal seperti ini. Namun, ia berusaha untuk tetap tenang. Sambil menghela nafas dalam-dalam, ia memberanikan diri untuk menatap roh itu. Dilihatnya, roh itu menunjukkan ekspresi wajah muram.
"Yang Mulia... Yang Mulia..."
"I... Iya. Maaf."
"Apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Teruskan ceritamu."
" Istrimu... beliau... ah maksudku permaisuri, setelah kau tinggal pergi..."
"Aku tidak meninggalkannya!!!" teriak roh itu.
Suara teriakannya sangatlah memecah telinga Lili. Dalam hatinya, seperti inikah seorang pria yang sedang emosi?
"Ah... maaf. Aku hanya..."
"Teruskan!"
"..."
"Kenapa diam saja?!!!"
"Ah... baik. Raja menikahi permaisuri dan mempunyai seorang anak laki-laki. Dan anak merekalah yang dikabarkan akan naik tahta menggantikan posisi raja yang sekarang."
"Kenapa bukan anak sulung mereka?"
"Yang Mulia, seharusnya kau tahu maksudku. Anak sulung Yang Mulia permaisuri adalah anak kandungnya dengan permaisuri. Sedangkan anak yang sekarang diangkat menjadi putra mahkota adalah anak dari raja yang sekarang dengan permaisuri, yang dulunya adalah istrimu."
"Jadi begitu."
"Iya. Yang Mulia, apa kau yakin... kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja. Jadi, bagaimana kabar tentang anakku?!"
"Kenapa?!" Kenapa anak itu bodoh sekali?!!"
"Aku tidak tahu Yang Mulia."
"Memangnya kau tidak pernah bertemu dengannya?!"
"Tidak."
"Apa??!"
"Kau sendiri juga tidak pernah bertemu dengannya, kan?"
Merasa dirinya mengucapkan kata-kata yang salah, Lili langsung menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
"Kau benar. Apa sekarang dia akan membenciku, karena aku telah meninggalkan dia dan ibunya?"
"Kenapa kau berpikir seperti itu Yang Mulia?!
"Aku merasa bersalah telah meninggalkan mereka bertahun-tahun. Sulit bagi mereka untuk menjalani beberapa tahun."
"Yang Mulia. Kau tidak meninggalkan mereka. Bukannya barusan kau berkata tidak meninggalkan mereka? Kau hanya menjalankan tugas. Dan aku rasa, baik permaisuri maupun anak laki-lakimu, akan mengerti."
"Aku harap begitu."
"Yang Mulia, apa kau tidak kesepian?"
Mendengar pertanyaan Lili, roh itu memasang wajah terkejut. Memang benar, selama bertahun-tahun bertahan dan akhirnya mati di sini, ia menyadari bahwa ia merasa kesepian yang teramat dalam. Disaat dia merasa sakit akibat terluka, dan dalam keadaan sekarat, ia berharap kehadiran istrinya di sisinya dan mendengar tangis tawa buah hatinya. Anak laki-laki semata wayangnya. Itu adalah obat paling mujarab yang membuatnya semakin tangguh untuk bertahan hidup. Sayangnya, bahkan sampai akhir hayat, ia tetap sendirian berkawan dengan sepi.
"Bagaimana menurutmu?"
"Aku mengerti bagaimana perasaanmu Yang Mulia. Aku juga merasa kesepian. Meski di sekitarku, ramai orang-orang... aku tetap merasa sepi."
"Kenapa? Aku melihat kau tidak terlalu menyedihkan."
"Itu karena aku menutupinya dengan sangat profesional. Aku tidak ingin orang di sekitarku tahu betapa sedihnya aku, betapa kesepiannya aku. Tidakkah menurutmu, kita adalah dua orang sial yang sama-sama terjebak di sini dan sama-sama kesepian. Tapi aku sekarang tidak merasa kesepian. Bahkan aku merasa jauh lebih baik dari sebelumnya."
"Kenapa?"
"Karena aku mempunyai keluarga di sini. Bagiku, meskipun kau adalah roh misterius, yang mungkin berusia ratusan tahun, aku menganggapmu sebagai ayahku."
"Jadi begitu."
"Ya. Apa kau tidak suka?!"
"Tidak. Aku menyukainya. Sudah lama aku tidak mendengar, seseorang memanggilku dengan sebutan ayah. Dan aku berharap orang itu adalah anak kandungku sendiri."
"Yang Mulia, jika kau membutuhkan bantuanku, aku siap membantumu."
"Benarkah? Aku sudah merepotkan kau?"
"Tidak. Bagiku, menolong orang tidak boleh setengah-setengah. Harus tulus ikhlas."
"Terima kasih. Sebagai gantinya, hutan ini akan menjadi milikmu."
"A... apa??!!!"
"Ya. Hutan Kematian ini menjadi milikmu."
"Tidak. Tidak mungkin. Aku pasti salah dengar."
"Kau tidak salah dengar, gadis kecil. Kalian semua, keluarlah! Mulai sekarang aku umumkan pada kalian semua, bahwa hutan kematian ini akan dipimpin oleh gadis kecil ini. Dan dia bernama Lili."
"Tu... Tunggu...!
"Ada apa?!"
Tiba-tiba Lili mendengar suara derap ribuan langkah kaki yang datang mendekat disertai dengan suara auman yang keras dan melengking. Perlahan Lili menoleh ke belakang. Betapa kagetnya dia dengan apa yang dilihatnya. Ribuan monster binatang buas dengan beraneka macam bentuk dengan rupa yang menakutkan, berlari ke arahnya. Seolah mendengar perintah dari pemimpinnya, ribuan monster itu berlari mendekat ke arah Lili dan berhenti tepat di hadapannya. Mereka semua bersujud kepada Lili, pemimpin baru mereka yang sekarang.
"I... Ini... Yang Mulia, sebenarnya jalan apa yang kau tempuh?"
"Kau tenang saja. Jalan yang aku tempuh, tidak akan merugikan orang lain."
"Lalu, ribuan binatang buas ini?"
"Mereka semua adalah peliharaanku sekaligus temanku. Merekalah yang menemaniku selama aku disini. Tidak hanya itu, mereka rela mengorbankan nyawanya demi majikannya."
"Binatang buas yang setia."
"Ya. Hutan ini beserta isinya adalah milikmu. Aku tidak bisa menjaga lebih lama lagi. Rohku sebentar lagi akan musnah."
"Terima kasih. Katakan, apa yang bisa aku bantu."
"Bawa aku ke istri dan anakku. Apa kau bisa?"
"Aku akan berusaha.Tapi, bagaimana caranya kita keluar dari sini?"
"Tenang saja."
"Kau... jangan-jangan... Ahhhhh!"
Lili menjerit kesakitan saat tubuhnya dirasukki oleh roh itu. Setelah berteriak, Lili mulai menutup matanya perlahan dengan wajah tertunduk lesu. Rambutnya tergerai lurus hitam menutupi wajahnya yang tertunduk lesu. Selang beberapa menit, Lili mengangkat wajahnya dan membuka kedua matanya secara perlahan. Sorot mata itu berbeda dari biasanya. Sangat tajam dan mengeluarkan percikan berwarna merah. Jika dilihat secara seksama dari luar, tubuh itu adalah milik Lili. Tapi, jika dilihat dari dalam, dia menjelma menjadi sosok roh pria itu. Tubuh Lili yang sekarang sedang dikendalikan oleh roh itu.
"Gadis kecil, kau tidak keberatan bukan? Kita akan segera keluar dari sini, dan paman akan mengajakmu jalan-jalan. Kita akan jalan-jalan untuk bertemu kenalan lama."
Roh yang masih berada di dalam tubuh Lili itu, berjalan lurus menuju ke arah yang lebih terang cahayanya. Perlahan, bayangan punggungnya pun tak terlihat. Seolah menghilang di telan kegelapan.