
"Sirzechs."
"Nama yang bagus. Akhh...Ouh..."
"Kau kenapa? Bagian mana yang sakit?"
"Tidak ada. Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."
"Jelas-jelas meridiannya rusak dan dia masih bilang baik-baik saja?!"
"Kau punya obat penghilang rasa sakit?"
"Aku tidak punya obat semacam itu. Jika kau mau, kau boleh ikut ke rumahku. Aku punya dokter pribadi keluarga. Kau bisa dirawat di sana sementara waktu sampai lukamu sembuh."
"Terima kasih atas tawarannya. Aku hanya ingin pulang. Ada yang harus aku selesaikan besok."
"Tapi lukamu?"
"Aku baik-baik saja, terima kasih sudah menolongku. Dan terima kasih atas kejujuranmu."
"Apa maksudnya? Apa dia tahu, kalau aku berbohong tentang obat penghilang rasa sakit?"
"Sirzechs, kau tidak apa-apa?"
"Aku antar kau pulang sekarang?"
"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri."
"Bagaimana jika di tengah jalan, kau menemui bahaya seperti tadi? Ditambah dengan kondisimu sekarang ini."
"Katakan saja, apa maumu?"
"Aku antar kau pulang ya. Tolong jangan tolak aku."
"Baiklah."
"Jika kau tak keberatan, aku akan menggendongmu?"
"Tidak perlu. Aku tidak terbiasa digendong oleh pria...tampan sepertimu." goda Lili dengan wajah memerah.
Dengan cekatan, Sirzechs menggendong Lili di atas punggungnya. Lili kaget sekaligus terkejut melihat reaksi pria ini. Ia bisa merasakan kehangatan dari punggungnya yang kekar itu. Dengan cepat, Sirzechs berlari sambil melompat dari pohon satu ke pohon lainnya. Ia bisa merasakan gendongannya terasa berat. Sambil berlari dan melompat, ia melirik ke belakang. Dilihatnya, Lili sedang menyandarkan kepalanya di punggungnya. Kedua matanya terpejam. Badannya semakin panas. Karena tidak tega melihat kondisi Lili yang semakin memburuk, Sirzechs akhirnya berhenti di bawah pohon yang sangat besar dan rimbun. Ia menurunkan Lili dari gendongannya dan menyandarkan tubuhnya di batang pohon. Ia memeriksa dahi Lili yang semakin panas.
"Dasar keras kepala!" ejek Sirzechs sambil mengeluarkan kantung obat yang ia sembunyikan di balik saku jubahnya.
Ia mengambil sebutir pil dan saat hendak memberikannya kepada Lili, Lili terbatuk dan muntah darah. Hal itu membuatnya tersadar. Ia melihat Sirzechs memegang sebutir pil obat di tangan kanannya.
"Apa yang kau pegang itu?"
"Ini. Obat untuk menurunkan panasmu."
"Hanya itu?"
"Tidak. Ini..."
"Sini, berikan padaku!" pinta Lili sambil melihat ekspresi di wajah Sirzechs yang masih bengong.
"Aihh, malah melamun!" ejek Lili sambil merampas sebutir pil obat yang masih digenggam Sirzechs.
Tanpa banyak pikiran, Lili langsung menelan obat itu. Alhasil bukannya tertelan, ia malah memuntahkannya.
"Oeeekkk...obat apa ini?! Pahit sekali?!"
"Ini obat ajaib dari keluargaku. Kau tahu, sebutir pil obat ini sangat langka dan mahal. Ini Dan kau menyia-nyiakannya sebutir."
"Mana ku tahu kalau obat itu langka."
"Obat ini direbus dulu baru diminum."
"Kenapa kau tidak bilang dari awal?"
"Kau yang merebutnya."
"Maaf."
"Kau tunggu di sini. Aku akan merebus obatnya."
"Berapa lama?"
"Hanya sebentar. Kau bisa menahannya kan?"
"Aku takut aku tidak bisa menahannya bahkan sebelum obat itu selesai dimasak."
"Diam dan tunggu disini! Jangan mengoceh yang tidak-tidak!"
Sirzechs pergi meninggalkan Lili yang sedang tertidur setelah mendengar makian darinya. Ia memilih tempat yang tak jauh dari tempat Lili berada, agar ia bisa mengawasi keadaannya. Sambil memasak obat, sesekali ia mengamati Lili di seberang. Ia melihat Lili mengerang kesakitan. Suaranya tidak terdengar keras dan jelas. Mungkin, ia tidak ingin membuat Sirzechs khawatir dengannya. Obat selesai dimasak. Sirzechs berjalan menghampirinya sambil membawakan semangkuk obat yang telah ia masak sebelumnya. Melihat Sirzechs membawakan semangkuk obat ditangannya, Lilia berusaha duduk bersandar di batang pohon.
"Minumlah selagi hangat." kata Sirzechs sambil menyodorkan semangkuk obat kepada Lili.
Lili pun menerimanya. Dari jauh sudah tercium baunya yang tidak enak. Lili hanya memandangi mangkuk yang berisi obat di tangannya.
"Kenapa tidak diminum?"
"Baunya tidak enak."
"Siapa suruh menciumnya, aku menyuruh kau meminumnya."
"Aku tidak menciumnya, tapi baunya menyengat sampai masuk ke hidungku."
"Apa perlu aku bantu kau meminumnya?"
"Dengan cara apa?"
Sirzechs mengambil kembali mangkuk obat yang masih dipegang Lili dan meminumnya. Kemudian melemparkan mangkuk itu di sebelahnya dan memegang pipi Lili dengan kedua tangannya, sambil memasukkan obat ke dalam mulut Lili dengan mulutnya. Rasa pahit mengalir di lidah Lili dan membuatnya terpaksa menelannya karena bibirnya tertutup oleh bibir Sirzechs. Jantung Lili berdegup kencang melihat Sirzechs menciumnya dengan begitu lembut. Melihat Lili sudah menelan obatnya, Sirzechs perlahan melepaskan ciumannya. Lili pun terbatuk perlahan.
"Seperti ini." goda Sirzechs sambil menyeringai.
"Uhuk... uhuk... kau... uhuk!"
"Kenapa? Baru pertama kali ciuman? Aku juga."
"Memangnya aku peduli. Kau ciuman dengan siapa kek, apa urusannya denganku?!"
"Tentu saja ada. Kau mengambil ciuman pertamaku!"
"Aku tidak mengambilnya! Kau yang langsung nyosor kepadaku! Aku belum meminta ganti rugi padamu karena kau merebut ciuman pertamaku? Malah kau menuduhku seenak jidatmu!"
"Jadi kita impas sekarang!"
"Terserah kau!"
"Eh, mau kemana kau?!"
"Pulang! Akan jauh lebih menakutkan berduaan dengan pria sepertimu!"
"Kau pikir aku tertarik dengan gadis kecil sepertimu?!"
"Kau! Sudahlah, aku mau tidak mau berdebat denganmu. Terima kasih untuk bantuanmu malam ini. Aku berhutang budi padamu. Kelak jika kau membutuhkan aku, kau pergilah ke rumahku. Temui aku disana!"
"Bagaimana jika aku datang melamarmu? Apa kau akan menerimanya?"
"Akan ku pertimbangkan!"
Lili pun melempar kertas origami burung miliknya ke udara dan menaikkinya. Ia pun terbang dengan kertas origami burung raksasanya, pergi meninggalkan Sirzechs yang masih berdiri di sana. Melihat punggung Lili yang sudah menghilang tertelan langit, Sirzechs mengalihkan pandangannya ke tempat dimana Lili duduk bersandar di batang pohon dengan tubuh lemahnya. Ia mengingat kejadian saat ia membantu Lili meminum obatnya dengan mulutnya. Sirzechs menyentuh bibirnya dengan kedua jarinya secara lembut. Ia melihat masih ada bekas obat menempel di sana. Ia tersenyum lembut. In baru pertama kalinya ia mencium bibir seorang gadis. Sangat lembut, kenyal dan pahit akibat obat yang ia masukkan ke dalam mulutnya. Jantungnya berdegup kencang, wajahnya memerah mengingat kejadian itu.
"Konyol!"
Sirzechs pun pergi menghilang seperti bayangan.
Di kamar Lili
Setelah mengingat kejadian itu, wajah Lili berubah menjadi merah. Sambil terbaring di atas kasurnya, ia menyentuh bibirnya perlahan sambil bergumam, "Sirzechs. Terima kasih."
Ia pun tertidur di atas kasurnya. Obat yang diberikan Sirzechs akhirnya bereaksi. Meski bisa menghilangkan rasa sakit, setidaknya tubuhnya bisa bergerak sampai besok pagi.