PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Love Vs Betrayal (4)


"Ahh!" teriak Lili yang terbangun dari tempat tidurnya.


"Yang Mulia."


"Hana? Apa yang sebenarnya terjadi?!"


"Eh Yang Mulia, kau sudah tidur selama seharian ini. Aku takut terjadi sesuatu kepadamu, karena kau tidak kunjung bangun." terang Hana yang masih duduk di sampingnya.


"Tidur? Seharian?"


"Iya Yang Mulia. Saat kau tiba di istana, kau langsung menuju kamarmu untuk tidur. Kau berpesan kepadaku untuk tidak menggangu tidurmu. Tapi, kau sudah seharian tidak kunjung bangun. Jadi, aku masuk ke dalam kamarmu untuk memeriksa keadaanmu dan menjagamu, Yang Mulia. Ternyata kau masih tertidur. Maafkan aku Yang Mulia. Aku telah bersikap lancang." terang Hana sambil beranjak dari tempat duduknya dan membungkukkan sedikit badannya.


"Tidak apa-apa. Ini bukan salahmu. Duduklah!" perintah Lili.


Hana pun duduk setelah mendengar perintah Lili.


"Aku hanya bermimpi tentang masa lalu."


"Mimpi?"


"Ya. Sudah saatnya aku akan pergi untuk menemui teman lama."


"Teman lama? Apakah itu pangeran Sirzechs, Yang Mulia?!"


"Bukan."


"Lalu siapa?!"


"Teman lama yang berada di dunia lain. Hana, maaf merepotkanmu beberapa hari ke depan. Tolong kau jaga tempat ini. Jangan sampai ada penyusup masuk dan mengacau di istana kita."


"Baik Yang Mulia."


"Besok pagi, tolong bantu aku menyiapkan segalanya. Karena aku akan melakukan perjalanan teleportasi besok pagi."


"Apa?! Yang Mulia, saat ini kekuatanmu sedang melemah. Menggunakan mantra teleportasi membutuhkan kekuatan sihir yang sangat besar. Dan itu hanya akan melemahkan dirimu." cemas Hana.


"Hana, aku baik-baik. Aku hanya butuh istirahat beberapa hari saja untuk memulihkan kekuatanku."


"Tapi Yang Mulia..."


"Ssttt... terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Sekarang kau pergilah beristirahat. Terima kasih sudah menjagaku."


"Sama-sama Yang Mulia. Kalau begitu, aku pamit undur diri dulu." ucap Hana sambil beranjak dari tempat duduknya dan membungkukkan sedikit badannya, untuk memberi hormat kepada Lili.


Lili pun membalasnya dengan anggukan pelan. Hana pun segera meninggalkan kamar Lili dan tak lupa untuk menutupnya kembali.


...****************...


Keesokan harinya, Lili berjalan ke luar istana ditemani oleh Hana. Mereka berjalan menuju taman istana yang sangat luas. Lili memberi isyarat tangan kepada Hana untuk berhenti , sementara dirinya terus melangkah dan berhenti tepat di tengah-tengah taman istana yang penuh dengan hamparan rumput hijau yang segar. Di setiap sudut taman istana terdapat banyak bunga aneka macam warna dan jenis. Siapa sangka jika di dalam hutan yang terkenal misterius, menelan banyak korban, di dalamnya terdapat keindahan yang luar biasa, yang sulit untuk digambarkan oleh kata-kata. Lili pun memejamkan kedua matanya dengan kedua tangan yang bertemu menjadi satu, sambil merapalkan mantra teleportasi. Hembusan angin membentuk sebuah lingkaran, keluar dari sekitar area tempat Lili berdiri.


Blarrrrr!!!


Suara cahaya terang yang menyilaukan mata keluar dari dalam tubuh Lili, membuat Hana menutup kedua matanya. Tak lama kemudian, suasana menjadi hening. Perlahan-lahan, Hana membuka kedua matanya. Ia melihat tidak ada siapapun disana. Bahkan Lili pun menghilang. Ia pun menghela nafas lega.


"Huff, syukurlah. Yang Mulia telah berhasil melakukan teleportasi. Akan tetapi, bagaimana dengan kondisinya sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Ya Tuhan, tolong lindungi Ratu." harap Hana.


Teleportasi Lili telah berhasil dan membawanya ke sebuah zaman modern. Dimana tempat itulah yang menjadi tempat tinggalnya sementara, atau lebih tepatnya tempat pelarian sementara baginya. Ia telah sampai di tempat yang tak asing baginya. Tempat dimana terlihat tenang, tidak ada peperangan. Ia berdiri tepat di depan pintu vila yang tidak besar, namun terlihat sederhana dan bersih.


"Sama sekali tidak berubah." gumam Lili.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang membuka pintu dari dalam.


Krekkk!!!


Dilihatnya Elsa keluar dari dalam vila dan betapa terkejutnya ia ketika melihat ada seorang wanita yang berdiri tepat di depan vilanya sambil tersenyum. Wanita itu sangat familiar baginya. Bibirnya bergetar tak mampu berbicara. Tiba-tiba dari arah belakang Elsa, keluarlah seorang pria muda tampan dengan mengenakan kaos berwarna putih dengan celana jeans berwarna biru muda.


"Kenapa masih berdiri di sini?!" tanya pria itu kepada Elsa.


Namun, Elsa tak bergeming. Pandangan matanya tertuju kepada Lili yang masih berdiri menatapnya dengan senyuman manis di wajahnya. Pria itu mengikuti arah pandangan Elsa dan kedua matanya terbelalak. Seolah ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Lili?" ucap pria itu.


Tiba-tiba Elsa berlari menuju ke arah Lili dan memeluknya sambil menangis.


"Lili... kemana saja kau? Aku dan kakakku pergi mencarimu selama lima tahun terakhir, tapi kami tidak dapat menemukanmu... huuuhuuuhuuu...." isak tangis Elsa sambil memeluk Lili.


"Aku..."


Tiba-tiba dari arah belakang, pria itu menepuk lembut bahu Elsa. Elsa pun melepaskan pelukannya sambil perlahan berhenti menangis. Ia menangis karena orang yang selama ini ia cari dengan kakaknya, akhirnya muncul kembali setelah lima tahun lamanya.


"Ayo kita bicara di dalam." ajak pria itu kepada Lili dan Elsa.


"Kak Vincent." sapa Lili.


"Lili, kemana saja kau selama lima tahun ini? Apa kau tahu, betapa susahnya kami berdua mencarimu selama lima tahun?! Tidakkah kau tahu apa yang kami khawatirkan padamu?!" tanya Vincent dengan nada kesal.


"Kakak, tolong tahan amarahmu. Biarkan Lili menjelaskannya terlebih dahulu." sahut Elsa.


"Aku... aku minta maaf Kak Vincent dan kau, Elsa."


"Tidak apa-apa Lili. Aku senang sekali bisa bertemu denganmu kembali. Begitu pula dengan kakakku, benarkan kak?!" tanya Elsa sambil melirik ke arah kakaknya.


Vincent yang melihat tingkah laku adiknya, hanya bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tak lama kemudian pandangannya teralihkan kepada Lili yang masih menatapnya.


"Kenapa kau menatapku?!"


"Kau masih sama seperti dulu."


"Apa maksudmu?"


"Dingin dan tampan." goda Lili sambil tersenyum nakal ke arahnya.


"Kau!" ucap Vincent dengan wajah yang memerah.


"Kak Vincent, Elsa... aku minta maaf kepada kalian berdua. Aku pergi tidak berpamitan kepada kalian, sehingga membuat kalian berdua mengkhawatirkan aku."


"Tidak apa-apa. Coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau tiba-tiba menghilang begitu saja?!"


"Sebelum aku bercerita, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian berdua yang telah merawat dan menerimaku menjadi bagian dari keluarga kalian. Terutama kau, Kak Vincent. Jika bukan karena kebaikan hatimu.... aku..."


"Tidak perlu dibahas lagi hal semacam itu. Itu sudah menjadi bagian masa lalu."


"Memang benar. Itu adalah masa lalu. Tapi, jika bukan karena kau, aku tidak akan bisa berdiri di hadapan kalian. Jadi, terimalah rasa terima kasihku kepada kalian berdua."


"Lili, kau tidak perlu melakukan hal itu. Kami sudah menganggapmu menjadi bagian dari keluarga kami. Meskipun saat itu, aku kasih kecil. Tidak tahu apa-apa. Yang aku tahu, kakakku melakukan kebaikan, yaitu menolong seorang gadis yang terluka parah dan itu kau."


"Ya. Terima kasih."


"Sama-sama."


"Lili, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kau tiba-tiba menghilang? Tolong kau jawab jujur pertanyaanku?!" tanya Vincent dengan ekspresi serius di wajahnya.


"Kak Vincent, kau pasti tidak akan melupakan pertemuan pertama kita, bukan?"


"Tentu saja. Aku tidak akan pernah melupakannya. Saat itu, aku menemukan kau sedang jatuh pingsan di tepi danau dengan luka di sekujur tubuh. Dan aku membawamu kemari, ke dalam vilaku. Aku meminta tolong kepada Elsa untuk menelepon dokter pribadiku, untuk memeriksa keadaanmu. Dan saat itu, dokter mengatakan kau mengalami pendarahan dan mengeluarkan banyak darah. Saat itu aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Kau... hilang ingatan." terang Vincent.


"Kau benar. Saat itu aku mengalami pendarahan dan kehilangan ingatanku. Bahkan, aku sendiri, tidak tahu apa yang terjadi pada diriku saat itu."


"Jadi, kau mengalami pendarahan saat kakakku menolongmu? Itu berarti kau pernah hamil?"


"Ya Elsa. Saat itu aku hamil dan mengalami keguguran."


"Apa?! Bagaimana mungkin? Kenapa hal itu bisa terjadi?! Siapa yang tega menghamilimu dan tidak bertanggung jawab?! Cepat katakan! Akan aku buat ia tidak bisa mendapatkan keturunan!" ucap Elsa dengan nada penuh amarah.


"Itu... bukan seperti yang kau pikirkan. Aku memiliki suami. Dan dia adalah seorang putra mahkota."


"Apa??!" teriak Vincent dan Elsa dengan wajah kaget secara bersamaan.


Lili pun menatap keduanya yang juga menatap dirinya dengan ekspresi serius di wajah mereka. Seolah keduanya sudah menanti jawaban dari Lili. Lili pun menghela nafas. Ia pun mulai bercerita awal mula pertemuannya dengan Vincent dan Elsa di zaman modern ini, saat ia dalam pelarian.


"Saat itu, aku tidak tahu jika aku hamil. Aku bertarung hebat dengan mantan suamiku, hingga tanpa aku sadari, aku mengalami pendarahan yang cukup serius."


"Mantan suami?!" tanya Elsa dengan wajah penasaran.


"Aku yang memutuskan untuk meminta cerai kepadanya. Namun, ia menolak. Hingga aku memutuskan untuk pergi meninggalkannya. Dan saat itu, aku sudah hamil anaknya."


"Itu artinya, kau masih berstatus sebagai istrinya sekalipun kau pergi meninggalkannya."


"Ya. Itu benar. Aku meninggalkannya karena... dia telah membohongiku selama ini."


"Apa dia selingkuh dengan wanita lain?! Apa dia punya banyak selir?!"


"Elsa, jaga bicaramu!"


"Maaf kak."


"Tidak apa-apa kak Vincent. Aku pergi meninggalkannya karena ayahnya telah membunuh seluruh anggota keluargaku. Tidak hanya itu, aku juga membunuh ayahnya, yang seorang raja waktu itu, demi membalas dendam atas kematian keluargaku! Karena itu, aku bertarung dengannya!"


"Apa?!" teriak Vincent dan Elsa secara bersamaan dengan ekspresi kaget di wajahnya. Seolah keduanya tidak mempercayai hal ini.


Wanita pendiam dengan senyum ceria di wajahnya, yang duduk di antara mereka berdua, membunuh seorang raja. Ayah dari suaminya yang sekaligus menjadi mertuanya, hanya demi balas dendam.