PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Hilangnya Segel Kutukan Cinta 1


Kedua mata pria itu melotot ke arah Lili. Namun Lili hanya menanggapinya dengan tersenyum. Melihat senyum.yang mengambang di wajah Lili, pria itu pun menghela nafasnya dengan berat. Ia pun membalikkan badannya, memunggungi Lili.


"Tsk, menyebalkan!"


"Yang Mulia..."


"Kau tahu, kenapa aku bisa menjadi seperti ini?!"


"Tidak!" jawab Lili sambil menggelengkan kepalanya.


"Dulu, aku berpikir hidupku akan bahagia jika aku menikahi wanita yang aku cintai. Tapi, semuanya sia-sia. Dia memilih menikah dengan sahabatku yang seorang bajingan! Dan kau tahu siapa wanita itu?!" terang pria itu sambil menggertakkan giginya.


"Siapa?!"


"Dia adalah almarhumah nenekmu."


Deg (Jantung Lili berdegup kencang mendengar bahwa wanita yang dimaksud oleh pria itu adalah mendiang neneknya.)


"Kenapa dia memilih sahabatmu? Kenapa bukan dirimu?!"


"Itu semua salahku."


"Apa?!"


"Seharusnya dari awal, aku jujur padanya. Bahwa selama ini pria misterius yang diam-diam mengaguminya, adalah aku."


"..."


Lili dengan seksama memperhatikan dan mendengarkan cerita tentang masa lalu pria itu. Lili sangat yakin, ada kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka berdua. Seolah terbawa oleh suasana cerita masa lalu yang diceritakan oleh pria itu, Lili seolah masuk dan melihat satu persatu kejadian yang terjadi pada masa lalu pria itu.


Flashback Memori Kakek Pangeran Sirzechs


"Arches!" teriak Alviercha sambil berlari mendekat ke arah Arches.


"Jadi pria ini, kakek dari Pangeran Sirzechs dan Feng, bernama Arches?!" batin Lili dalam hati.


Arches pun menoleh ke arah sumber suara dan dilihatnya, Alviercha berlari mendekat ke arahnya.


Arches adalah sosok pria yang sangat tampan di masa mudanya. Dia adalah kakek dari pangeran Sirzechs dan Raja Feng. Tidak diragukan lagi, ketampanannya saat itu mengalahkan kedua cucunya. Lili yang menyaksikan ketampanan kakek dari pangeran Sirzechs dan mantan suaminya (Feng), harus mengakui bahwa ia terpesona dengan ketampanannya saat itu. Terlebih untuk pertama kalinya, ia tertegun saat melihat wajah almarhumah neneknya yang saat itu sama-sama muda dengan kakek dari dua orang pria yang pernah dekat dengannya. Ia melihat wajah almarhumah neneknya yang sangat mirip dengannya saat itu.


Dengan ragu-ragu, Lili bertanya kepada Pria yang berdiri di sampingnya itu, yang tak lain adalah kakek dari pangeran Sirzechs dan Raja Feng (mantan suaminya).


"Yang Mulia... apakah mereka berdua itu..."


"Ya. Itu adalah aku dan almarhumah nenekmu. Saat itu, kami berdua sama-sama berumur lima belas tahun." jawab pria itu sambil tersenyum lembut.


Lili bisa melihat dan merasakannya, bahwa pria yang berdiri disampingnya saat ini, benar-benar terlihat bahagia mengingat memori kejadian di masa lalunya. Lili pun mengalihkan pandangannya ke arah mereka berdua. Dilihatnya kedua pasangan sahabat itu tertawa bersama.


"Arches, coba kau lihat ini?!" ucap Alviercha sambil menunjukkan sepucuk surat cinta kepada sahabatnya itu.


"Apa itu?!"


"Surat cinta."


"Dari siapa?!"


"Tidak tahu. Tidak ada nama pengirimnya."


"Mungkin dari penggemarmu."


"Benarkah? Aku tidak mempunyai satu penggemar pun. Itu sangat jauh berbeda denganmu!" sindir Alviercha.


"Beda apanya?!"


"Kau sangat tampan, cerdas, kekuatan sihirmu diatas rata-rata dari murid yang lainnya. Terlebih, kau dari keluarga kerajaan, pewaris tahta raja."


"Lalu?!"


"Tentu saja, kau punya banyak penggemar. Semua gadis muda yang ada di negeri ini, pasti terpesona denganmu. Tidak hanya di negeri ini saja, mungkin ketampanan dan ketenaranmu sudah terdengar di seluruh pelosok negara manapun. Akan ada banyak gadis-gadis dari kerajaan yang terpesona dan jatuh cinta padamu." terang Alviercha


Melihat neneknya yang sangat cerewet saat masih muda, sama sepertinya, Lili hanya tersenyum dan berbicara dalam hati.


"Ternyata, nenek saat muda jauh lebih cerewet dariku." batin Lili


"Apa kau juga terpesona dan jatuh cinta kepadaku?!" tanya Arches.


"Tidak." jawab Alviercha dengan wajah yang memerah.


"Benarkah?!"


"Tentu saja."


"Lalu, kenapa wajahmu memerah?!"


"Aku hanya kepanasan."


"Oh."


Mendengar Arches mengatakan hal itu, Alviercha berbalik menatapnya. Tanpa sengaja, keduanya bertemu saling bertatapan satu sama lain. Tiba-tiba Arches mendekatkan wajahnya ke wajah Alviercha, hendak menciumnya. Namun, Alviercha menyadari akan dicium oleh sahabatnya, ia segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Merasa Alviercha menghindarinya, Alrches hanya tersenyum.


"Kau menyukai surat cinta itu?!"


"Hah?!"


"Maksudku, orang misterius yang diam-diam mengirimmu surat cinta itu?!


"Tidak."


"Kenapa?!"


"Karena dia orang yang tidak jelas. Dia hanya berani mengirimiku surat, tapi tidak berani bertemu denganku. Memangnya aku hantu?!"


"Ya. Kau hantu wanita yang sangat cantik." ejek Arches dengan senyum menggoda di wajahnya.


"Kau?!"


Kedua pasangan sahabat itu saling kejar-kejaran satu sama lain dan sesekali terlihat saling memukul sebagai candaan. Tiba-tiba kaki Alviercha tersandung batu kecil yang membuat tubuhnya tidak seimbang dan hampir jatuh di tanah, namun dengan sigap, Arches menariknya ke dalam pelukannya. Alviercha memeluk erat tubuh Arches. Tak lama kemudian, keduanya bertatapan satu sama lain.


"Iya."


"Ini untukmu." ucap Arches sambil mengambil kain berwarna hitam dari balik jubahnya dan menyerahkannya kepada Alviercha.


Alviercha pun menerimanya dan membentangkan kain berwarna hitam yang panjang itu. Ia pun menoleh ke arah Arches.


"Apa ini?!"


"Ini untukmu. Saat aku berpergian dengan ayahandaku, aku melihat ada sebuah kain yang sangat indah. Sayangnya, ia berwarna hitam. Jadi, aku menjahitnya sendiri untukmu. Seperti ini cara memakainya." terang Arches sambil memakaikan kain hitam panjang itu, menutup kepala Alviercha, seperti sedang memakai kerudung.


Dan ajaibnya, kain itu tiba-tiba berubah menjadi cadar yang menutupi kepala dan wajah Alviercha, sehingga tidak terlihat wajah cantiknya. Tidak hanya itu, kain hitam yang panjang itu merubah penampilan Alviercha menjadi sangat anggun dan seksi dengan gaun berwarna hitam dengan cadar di kepalanya. Melihat penampilannya berubah, Alviercha terlihat bingung. Untuk pertama kalinya, ia mendapatkan hadiah yang sangat istimewa dari sahabatnya.


"Bagaimana, apa kau menyukainya?!"


"Ya. Aku sangat menyukainya. Terima kasih Arches. Tapi kenapa model gaunnya seperti ini?!"


"Karena aku tidak ingin, orang lain melihat wajah cantikmu. Selamat ulang tahun Alviercha, calon permaisuriku."


"Apa? Apa yang kau katakan barusan? Calon permaisuriku? Siapa?!"


"Kau!"


"Apa aku salah dengar?!"


"Tidak. Kau tidak salah dengar. Saat aku berulang tahun yang kedua puluh tahun, aku ingin kau memberiku hadiah jubah yang kau jahit sendiri."


"Untuk apa kau menginginkan hadiah jubah yang aku jahit sendiri? Kau tahu kan, aku tidak pandai menjahit?!"


"Karena jubah itu nantinya, yang akan aku pakai saat aku melamar gadis yang aku cintai. Itu adalah kau!"


"Apa kau yakin ingin menikahiku?!"


"Ya. Kenapa? Apa kau jatuh cinta dengan pria misterius yang mengirimimu surat cinta itu?!"


"Tidak mungkin aku jatuh cinta dengan pria misterius semacam itu! Dia saja tidak berani bertemu denganku, hanya berani lewat surat saja!"


"Bagaimana jika pria misterius itu adalah aku?!"


"Emmm... aku akan memikirkannya jika memang itu adalah kau. Selama, kau tidak membohongiku dan mengkhianatiku."


"Kau bisa memegang perkataanku."


"Baiklah. Kita buktikan saja."


Arches membuka cadar yang menutupi kepala Alviercha, dan mulai mencium bibirnya yang mungil itu. Keduanya saling berciuman sambil berpelukan erat, ditemani bunga sakura yang saat itu sedang bermekaran dan berjatuhan tertiup angin.


...****************...


Setiap hari setiap waktu, Alviercha tidak hanya mendapatkan surat cinta, bahkan sebuah kotak hadiah yang berisikan macam-macam barang kesukaannya. Dan itu terjadi sampai ia berusia tujuh belas tahun. Hingga suatu hari, ia menemui Arches, sahabatnya untuk memberitahukan sesuatu yang sangat penting kepadanya.


"Ada apa kau memanggilku?!"


"Arches, apa kau tahu siapa yang mengirimiku surat cinta dan kado sampai sekarang?!"


Mendengar hal itu, jantung Arches berdegup kencang. Wajahnya mulai bersemu merah. Ia tidak menyangka akan tiba hari dimana, Alviercha, gadis yang ia cintai yang juga menjadi sahabatnya itu, akan menyatakan hal ini kepadanya.


"Tidak tahu." jawab Arches dengan nada sedikit gugup.


"Dia adalah Rickie, sahabatmu."


Bagai disambar petir di siang bolong. Mendengar Alviercha mengatakan bahwa orang yang selama ini diam-diam mengaguminya adalah Rickie (sahabatnya), membuat Arches menjadi geram. Ia mengepalkan kedua tangannya. Hatinya bergejolak penuh amarah, namun ia mencoba menahan amarahnya.


"Kau yakin, dia orangnya?!"


"Apa maksudmu?!"


"Aku bertanya, apa kau yakin dia adalah orangnya?! Maksudku, dia adalah orang yang setiap hari setiap waktu memberimu surat cinta dan kado kepadamu?!" tanya Arches dengan nada sedikit meninggi.


"Dia sendiri yang mengatakannya."


"Dan kau mempercayainya?! Kau tidak mencoba mencari tahu, apa benar yang dia katakan?! Bisa jadi dia membohongimu, dan mengaku padamu, agar kau tidak menaruh harapan kepada pria yang tidak kau kenal?!"


"Kau bicara apa Arches? Aku tidak mengerti. Jelas-jelas Rickie mengatakan kalau itu adalah dia. Lalu kenapa aku harus meragukan perkataannya?! Lalu, kenapa aku harus melakukan apa yang kau katakan?!"


"Kau itu sudah ditipu olehnya!!! Bukan dia yang mengirimu surat cinta dan kado itu!!!"


"Lalu siapa?! Kau?! Hahaha... Arches, hentikan omong kosongmu itu. Rickie adalah sahabatmu. Kenapa kau mengatakan dia menipuku?! Bukankah kita bertiga adalah sahabat?!"


"Alviercha, kau mengenalku lebih dulu dan lebih lama dari dia, bukan?!"


"Lalu?!"


"Apa aku terlihat seperti seorang pembohong besar dimatamu?!"


"Iya."


"Apa?!"


"Kau berbohong kepadaku. Kau bilang, saat kau berumur dua puluh tahun, kau akan menikahiku. Tapi ternyata, kau diam-diam telah bertunangan dengan seorang putri dari negara lain. Kau telah mengingkari janjimu sendiri."


"Apa?! Darimana kau mendengar berita itu?!"


"Kau tidak perlu tahu, darimana aku mendengar hal ini. Tapi kau tidak perlu khawatir. Aku akan menepati janjiku, untuk membuatkan jubah untukmu dengan tanganku sendiri saat ulang tahunmu yang kedua puluh."


Mendengar hal itu, Arches pun segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan Alviercha yang masih duduk di bawah pohon maple merah yang daunnya tengah berguguran ditiup angin.


"Arches, kau mau kemana?!"


Mendengar Alviercha memanggil namanya, Arches pun menghentikan langkah kakinya.


"Aku teringat ada sesuatu yang sangat penting yang harus aku selesaikan. Permisi!" jawab Arches tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.


"Arches, apa kau marah padaku?! Hei!!" teriak Alviercha.


Mendengar Alviercha berteriak memanggilnya, Arches tidak mempedulikannya. Ia terus berjalan mencari keberadaan Rickie, sahabatnya. Ia meminta penjelasan Rickie, apa benar yang dikatakan Alviercha kepadanya. Arches ingin membuktikan kebenaran itu dengan mata kepalanya sendiri.