PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Rahasia Tersembunyi (4)


"Feng... Feng!"


"Ahh... maaf. Ayo pergi."


Feng mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Lili. Dengan ragu-ragu, Lili menerima uluran tangannya. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan.


"Tangannya terasa hangat." batin Lili.


Ia melirik ke arah Feng. Dilihatnya dari dekat, pria itu tak kalah tampannya dengan pangeran Sirzechs. Hanya sedikit yang membedakan dari keduanya, yaitu sifatnya. Jika pangeran Sirzechs dimata Lili, adalah sosok yang dingin, angkuh dan tertutup kepada semua orang. Lain halnya dengan putra mahkota Feng. Dimatanya ia sangat terbuka dengan semua orang, tegas namun dingin dengannya saat pertama kali mereka bertemu. Bahkan Lili sempat sedikit membenci sifatnya yang dingin, angkuh dan merendahkan dirinya. Tapi siapa sangka, jika sekarang sifatnya berubah menjadi hangat. Apa pria yang sudah menikah, mudah sekali untuk berubah? Jika memang seperti itu, lalu bagaimana dengan perasaannya? Apakah mudah berubah juga? Pikiran-pikiran semacam itu mulai menghantui dirinya. Entah ini takdir atau nasib buruk, Lili hanya bisa menerima dan menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Melihat Lili terus menatapnya, Feng mendehem.


"Ehem. Kenapa kau menatapku terus?"


"Karena kau tampan."


"Uhuk... uhuk... uhuk... Apa maksudmu?!"


"Kau tampan sekali. Sebagai istrimu, aku bangga sekali mempunyai suami yang tampan dan gagah sepertimu meskipun..."


"Meskipun apa?"


"Meskipun kau dingin kepadaku. Setidaknya aku anggap kita sedang berakting, memainkan peran pasangan suami istri yang saling mencintai di depan semua orang. Meski kenyataannya tidak seperti itu."


Mendengar Lili mengatakan hal itu, Feng mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tahu, jika tindakannya itu sangat terlalu berlebihan. Ia bisa bersikap hangat kepada semua orang, tapi kepada istrinya (Lili) ia malah bersikap dingin sedingin es. Padahal ia sadar, bahwa Lili tak pernah sekalipun menyakitinya. Malahan dia yang menyakitinya di malam pertamanya. Melemahkan kekuatan sihirnya tanpa diketahui oleh Lili. Keduanya lalu menaikki kereta kuda yang sudah terparkir di depan gerbang istana. Kereta kuda itu mulai berjalan meninggalkan istana menuju ke rumah Lili. Selama perjalanan keduanya saling terdiam satu sama lain. Tak lama kemudian mereka sampai di depan gerbang pintu rumah Lili. Putra mahkota Feng turun terlebih dahulu, lalu diikuti Lili dari belakang. Lili melihat bangunan rumahnya yang masih sama seperti dulu. Rasa rindu yang selama ini membelenggu dirinya, kini sudah terobati.


"Tunggu apa lagi. Ayo masuk."


Kedua pengawal membukakan pintu gerbang untuk putra mahkota dan Lili agar bisa masuk ke dalam. Saat gerbang pintu dibuka, Lili disambut suara teriakan yang sangat familiar baginya. Ia melihat adiknya Lexi sedang berlari menuju ke arahnya sambil berteriak memanggil namanya. Dibelakang adiknya, ada kedua orangtuanya yang berdiri siap menyambut kepulangannya.


"Kakak!"


"Lexi."


Keduanya saling berpelukan.


"Lexi, bagaimana kabarmu?"


"Aku baik-baik saja. Kakak sendiri bagaimana keadaannya disana? Apa kau bahagia? Apa kau makan banyak disana? Apa kau sudah hamil?"


Pertanyaan polos yang diucapkan oleh adiknya, membuat Lili tak bisa berkata-kata. Ditambah dengan suaranya yang khas, polos seperti anak-anak. Ia hanya bisa tersenyum mendengar adiknya yang terus berbicara tanpa henti. Tiba-tiba dari belakang suara ayahnya menegur Lexi yang masih berbicara.


"Lexi, kakakmu baru saja sampai. Setidaknya, antarkan dia beristirahat."


"Oh iya, Lexi lupa ayah. Hehehe."


"Salam hormat kami Yang Mulia putra mahkota Feng. Semoga Yang Mulia sehat selalu dan dilimpahkan rejeki dan kesehatan." ucap ayah Lili sambil memberi hormat kepada Putra mahkota Feng dan diikuti dengan ibu dan adiknya.


"Tidak perlu formalitas ayah." ucap Lili.


"Mana boleh begitu. Kau sekarang adalah istri dari putra mahkota. Kami semua sudah seharusnya menghormatimu."


"Tidak. Aku tidak menginginkan ini." batin Lili.


"Maaf ayah, kami datang kemari tidak memberitahumu. Kedatangan kami kemari karena Lili merindukan kalian. Sekalian ingin mengemasi barang-barangnya yang ada disini."


"Tidak apa-apa ayah. Ayah, aku dan su...amiku akan menginap tiga hari disini."


"Semalam." ucap putra mahkota Feng secara tiba-tiba.


"Kalian berdua jadi menginap berapa hari disini?"


"Tiga hari." jawab Lili.


"Semalam." jawab putra mahkota Feng.


Mendengar jawaban yang berbeda dari kedua pasangan pengantin itu, ayah Lili hanya bisa menghela nafas.


"Kalian berdua pasti lelah dalam perjalanan kemari. Masuk dan istrirahatlah." perintah ayah.


"Terima kasih ayah ibu."


"Terima kasih ayah dan ibu mertua."


Kelima orang itu masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba langkah kaki putra mahkota Feng terhenti di depan pintu. Ia menoleh ke belakang dan melambaikan tangannya ke arah salah satu pengawal. Ia membisikkan sesuatu ke telinga pengawal itu. Pengawal itu mengangguk-angguk seperti sudah mengerti maksud perkataan tuannya, ia segera pamit dari hadapannya. Kereta kuda yang mengantarkan mereka, segera kembali ke istana dengan para pengawal tadi. Merasa suaminya tidak ada disisinya, Lili pun menoleh ke kiri dan ke kanan. Akhirnya ia menemukan suaminya berada di belakang yang jaraknya tak jauh darinya. Ia melihat suaminya mengamati kereta kuda istana pergi meninggalkan tempat itu. Setelah selesai, ia segera kembali masuk ke dalam. Betapa terkejutnya Putra mahkota Feng melihat Lili menunggunya di depan pintu.


"Kau darimana saja?"


"Aku memerintahkan para pengawal yang mengantarkan kita untuk segera kembali ke istana."


"Masuklah."


"Kau tidak tanya kenapa aku memerintahkan mereka untuk kembali ke istana?"


"Aku tidak punya hak untuk mencampuri yang bukan menjadi urusanku."


Lili pun berbalik dan berjalan ke dalam, diikuti oleh suaminya. Tak lupa ia menutup dan mengunci pintunya. Lili berjalan menaiki anak tangga diikuti oleh putra mahkota Feng di belakang. Tiba-tiba langkah kakinya terhenti mendengar suara teriakan Lexi, adiknya.


"Kakak!"


"Ada apa?"


"Kau mau kemana?"


"Aku mau istirahat."


"Istirahat? Kalau istirahat, kenapa Yang Mulia mengikutimu?"


"Karena rumahmu kecil. Jadi tidak ada kamar untukku tidur. Jadi malam ini, aku akan tidur di kamar kakakmu."


"Yang Mulia, kau bisa tidur di kamarmu sendiri kan?! Kenapa ingin sekali tidur di kamar kakakku."


"Ah... Lexi. Dia sekarang adalah suami kakak."


"Oh suami."


"Kakak, apa kau bahagia menikah dengannya? Apa dia juga bahagia menikah denganmu?"


Mendengar pertanyaan yang diucapkan Lexi, yang terdengar cukup sulit untuk dijawab. Akhirnya keduanya memilih untuk diam tak menjawabnya.


"Kakak, kenapa kau diam saja?"


"Aku lelah Lexi, maaf. Kakak dan suami kakak mau ke atas untuk beristirahat. Lexi juga ya."


"Baiklah. Kakak istrirahat saja. Lexi tidak akan menggangu kakak."


"Anak pintar. Kakak mau masuk ke dalam kamar dulu. Ingat, kau tidak boleh menggangguku."


"Iya."


Lili dan Feng segera meninggalkan Lexi yang sedang sendirian di atas anak tangga. Melihat punggung kakaknya sudah tidak ada, Lexi segera menuruni anak tangga untuk menemui kedua orang tuanya. Sampai di depan pintu kamarnya, ia menghela nafas. Sudah berapa lama ia tak tidur di kamarnya ini. Dengan hati-hati ia memegang gagang pintunya dan dibuka.


Kreekk (suara pintu dibuka.)


Senyum mengambang di wajahnya. Kamarnya yang telah lama tidak ia tidurri, masih terlihat sama sebelum ia pergi. Tidak ada yang berubah disana. Semuanya terlihat sangat rapi dan bersih, karena dirawat. Lili pun masuk ke dalam kamarnya dan berlarian memeriksa seluruh isi kamar. Putra mahkota Feng sangat terkesan dengan kamar milik Lili. Terlihat sangat rapi bersih dan terawat. Tak lupa ia menutup pintu dan menguncinya. Putra mahkota Feng berjalan menuju kasur dan mulai melepas jubah yang ia kenakan dan melemparnya ke atas sofa yang tak jauh darinya. Ia berjalan menuju kasur dan mulai membaringkan tubuhnya di atas kasur Lili.


"Lili, kemarilah!"


"Ada apa?" tanya Lili berjalan mendekat ke arahnya.


Putra mahkota Feng seketika langsung bangun dan duduk bersila. Ia menatap ke arah Lili. Lili merasakan ada firasat buruk dihatinya. Dan benar saja, putra mahkota Feng mulai mendekatinya dan membisikkan sesuatu di telinganya.


"Lili, aku lapar. Kau mengerti maksudku kan?"