
Di sebuah taman Istana yang dipenuhi dengan aneka macam bunga dan tanaman, Raja Arches sedang terlihat bersantai di atas kasur berwarna putih yang berada di tengah-tengah taman yang dipenuhi aneka bunga mawar warna warni yang tumbuh mengelilinginya. Kedua matanya terpejam sambil wajahnya disandarkan pada tumpuan tangan kirinya. Alisnya yang hitam tebal dengan bulu mata yang sedikit lentik, hidungnya mancung ditambah dengan warna bibirnya yang merah alami, jelas menggambarkan dirinya yang sangat tampan rupawan. Tiba-tiba sebuah bayangan hitam muncul dari belakang dan berlutut seraya memberi hormat kepadanya. Bayangan hitam itu tidak lain adalah pengawal bayangan miliknya yang mengenakan jubah hitam dengan masker penutup di wajahnya.
"Salam Yang Mulia."
"Bagaimana dengan tugas yang aku berikan kepadamu?!" tanya Raja Arches dengan kedua mata yang masih terpejam.
Pengawal bayangan itu berdiri dan berjalan mendekat ke arah Raja Arches. Ia membisikkan sesuatu ke telinga kanan Raja Arches sambil menutupnya dengan salah satu tangan kanannya. Raja Arches yang tadinya masih dengan kedua matanya yang terpejam, seketika membuka kedua matanya setelah mendengar sesuatu yang telah dibisikkan oleh pengawal bayangannya. Setelah membisikkan sesuatu ke telinga Raja Arches, pengawal bayangan itu segera mundur ke belakang. Raja Arches pun bangkit dari tempat duduknya.
"Segera ambilkan jubah penyamaran milikku! Kita pergi sekarang!" perintah Raja Arches.
Hutan Kematian
Di dalam hutan itu, di sebuah pohon besar yang rimbun daunnya, bersembunyilah seorang wanita di balik pohon itu. Ia bersembunyi sambil menggendong seorang bayi perempuan yang sedang tidur di pelukannya. Darah membasahi gaunnya yang berwarna putih. Sepertinya ia baru saja melahirkan. Nafasnya terengah-engah dan wajahnya pucat pasi. Wanita itu adalah Alviercha. Ia sedang bersembunyi dari kejaran para pembunuh bayaran. Tiba-tiba dari kejauhan ia mendengar langkah kaki seseorang yang berjalan mendekat sambil membawa pedang yang berlumuran darah di tangannya. Orang itu terus berjalan sambil mengamati seluruh hutan bersama anak buahnya. Ia memberikan perintah untuk berpencar mencari wanita itu. Anak buahnya pun menuruti perintahnya dan segera berpencar.
Tiba-tiba salah satu dari anak buah pembunuh bayaran itu, menemukan Alviercha yang sedang bersembunyi dibalik pohon besar itu. Mereka segera terlibat pertarungan. Mendengar suara keributan, segera mereka berlari ke arah sumber keributan itu. Ketua dari pembunuh bayaran itu kaget melihat salah satu anak buahnya mati dibunuh oleh wanita itu. Wajahnya terlihat sangat marah dan ingin segera menghabisi wanita itu beserta anaknya yang ada dalam pelukannya. Bayi perempuan itu yang sedari tadi tertidur pulas, tiba-tiba terbangun dan menangis dengan sangat keras. Hal itu semakin membuat ketua pembunuh bayaran itu menjadi semakin murka.
Alviercha merasa terpojokkan dengan suasana ini. Ia merasa kekuatannya semakin melemah setelah melawan salah satu dari anak buah pembunuh bayaran itu. Ditambah sekarang, ia harus mengahadapi ketua dari pembunuh bayaran itu dengan anak buahnya yang masih tersisa. Alviercha menghela nafasnya dengan sangat berat. Ia berpikir akankah ia mati di tempat ini bersama buah hatinya yang baru saja ia lahirkan.
"Maju dan habisi wanita itu dan bayi yang ada dalam pelukannya!!!" perintah sang ketua.
Mendengar perintah yang diberikan, tanpa banyak basa-basi mereka semua maju secara bersamaan untuk menyerang dan membunuh wanita beserta bayi yang ada dalam pelukannya. Melihat semua anak buah dari pembunuh itu secara bersamaan menyerang dirinya, Alviercha mengambil satu langkah mundur ke belakang. Bersiap untuk melancarkan aksinya. Namun betapa terkejutnya ia saat melihat seluruh anak buah dari pembunuh bayaran itu, langsung terjatuh dan mati bersimbah darah. Tidak hanya Alviercha yang dibuat terkejut oleh kejadian ini, bahkan ketua dari pembunuh bayaran itu juga ikut terkejut melihat pemandangan ini. Ia segera mengamati seluruh area hutan itu. Pandangan matanya teralihkan kepada Alviercha yang masih berdiri di hadapannya dengan jarak sekitar sepuluh meter darinya.
"Wanita j*lang! Trik kotor apa yang kau mainkan untuk membunuh seluruh anak buahku!"
Alviercha yang mendengar hal itu, menjadi bingung. Karena yang membunuh seluruh anak buah dari pembunuh bayaran itu bukanlah dia.
"Percaya atau tidak, bukan aku yang membunuh mereka semua."
"Jika itu bukan ulahmu, lalu ulah siapa lagi?! Di hutan ini hanya ada kita berdua! Jangan mempermainkan aku!"
"Awalnya aku berpikir seperti itu. Tapi melihat kejadian ini, aku tidak yakin jika di dalam hutan ini hanya ada kita berdua?!"
"Bedebah!!! Matilah kau!!!" teriak ketua pembunuh bayaran itu sambil terbang dan hendak menusuk Alviercha dengan pedang yang baru saja ia keluarkan dari balik telapak tangan kanannya.
Naasnya, belum sempat membunuh targetnya, ketua dari pembunuh bayaran itu langsung terjatuh dan bersimbah darah. Alviercha pun kaget dan segera mengambil langkah mundur ke belakang. Bayi perempuan yang ada di dalam pelukannya masih terus menangis, seolah ia merasa takut dengan sesuatu yang tak terlihat.
"Siapa kau?! Keluar!!! Jangan hanya berani bersembunyi!!!" teriak Alviercha sambil menenangkan bayinya yang masih menangis di pelukannya.
Angin pun berhembus sangat kencang. Pohon-pohon di sekitar hutan bergoyang diikuti oleh semak belukar yang ikut bergoyang, seolah menyambut kedatangan seseorang yang sangat kuat tak tertandingi. Alviercha merasa ada sesuatu yang berjalan mendekat ke arahnya. Sesuatu yang sangat kuat, tapi ia tidak tahu pasti apa itu. Ia pun berjalan mundur sambil memperhatikan ke segala arah di sekitar hutan. Angin kencang terus bertiup dan menerbangkan beberapa dedaunan kering yang berguguran. Seluruh binatang yang ada di dalam hutan itu, segera kabur melarikan diri. Alviercha mengambil langkah mundur ke belakang sambil menenangkan bayinya agar berhenti menangis. Hingga tanpa ia sadari, ia menabrak sesuatu di belakang.
Ia merasakan bahwa ia menabrak seseorang yang mempunyai kekuatan yang sangat besar. Anehnya, bayi perempuannya yang sedari tadi menangis di dalam pelukannya, langsung berhenti dan tersenyum. Alviercha yang melihat bayi perempuannya tersenyum, menjadi heran. Sebenarnya apa yang ia tabrak, hingga membuat bayinya tersenyum. Pikirannya saat ini sangat kacau. Antara takut, penasaran menjadi satu. Hingga ia memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.
Dan betapa kagetnya ia saat yang ia tabrak adalah seseorang yang sangat ia kenal. Bahkan pernah bersama meski hanya sebentar, bukan untuk selamanya. Ia segera membalikkan badannya namun, tubuhnya tidak bisa berkompromi dengan pikirannya. Ia hendak terjatuh namun segera ditangkap oleh Raja Arches yang saat itu mengenakan jubah penyamarannya. Melihat tubuh Alviercha yang lemah, Raja Arches hendak menggendongnya namun ditahan oleh Alviercha. Dengan sisa tenaga yang ada, Alviercha berjalan menuju pohon besar dan duduk bersandar di batangnya sambil menggendong bayinya.
"Apa yang kau lakukan disini?!"
"Terima kasih sudah menolongku, Arches. Ahh maaf, terima kasih Yang Mulia."
"Tsk." ucap Raja Arches sambil melirik bayi yang ada dalam pelukan Alviercha.
Tidak hanya itu, pandangan matanya teralihkan kepada gaun putih yang dikenakan oleh Alviercha, penuh dengan noda darah.
"Kau baru saja melahirkan?!"
"Iya."
"Dimana suamimu?"
"Dia meninggal saat melindungiku setelah aku melahirkan anaknya."
"Itu artinya, dia tidak sempat melihat anaknya?!"
"Untukku?!"
"Ya. Dia bilang... maaf sudah merebutku darimu."
"Itu masa lalu. Aku sudah ikhlas kau menikah dengannya."
"Begitu ya. Dia juga bilang, dia terpaksa menyembunyikan hal ini darimu. Karena ia terikat janji dengan seseorang. Dia berharap, kau mau memaafkannya."
"Terikat janji dengan seseorang? Siapa dia?"
"Dia tidak mengatakannya. Hanya saja, dia berharap kau bisa bahagia setelah ini."
Raja Arches hanya terdiam mendengar hal itu. Baginya, kebahagiaan itu adalah ketika dia bertemu dan melihat wanita yang ia cintai hidup bahagia, meski tidak bersamanya. Namun kenyataannya, ia bertemu dengan wanita yang ia cintai dalam kondisi yang sangat menyedihkan.
"Yang Mulia, bolehkah aku meminta bantuan kepadamu?"
"Katakan, bantuan apa yang kau inginkan dariku?" tanya Raja Arches dengan nada sedikit berat.
Raja Arches dan Alviercha saling bertukar pandang satu sama lain.
"Tolong kau bawa bayiku ini ke panti asuhan, agar ia dirawat di sana." pinta Alviercha sambil memberikan bayi perempuannya kepada Raja Arches.
Raja Arches menerima bayi itu dan menggendongnya ke dalam pelukannya. Ia melihat bayi perempuan itu tersenyum kepadanya dengan kedua matanya yang terbuka lebar. Melihat bayi lucu itu menatapnya sambil tersenyum, Raja Arches tidak tahan untuk melihatnya. Ia segera memanggil pengawal pribadinya. Pengawal pribadinya tiba-tiba muncul seperti bayangan hitam.
"Yang Mulia, ada apa Yang Mulia memanggil hamba?!"
"Kau gendong sebentar bayi ini!"
"Eh... eee...." ucap pengawal pribadinya dengan gelagapan sambil menggendong bayi perempuan itu.
Raja Arches pun menunduk dan mendekat ke wajah Alviercha. Keduanya saling bertukar pandang satu sama lain dalam waktu yang cukup lama.
"Ehem... Alviercha, apa kau baik-baik saja?!"
"Aku baik-baik saja Yang Mulia. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."
"Bolehkah aku menggendongmu?! Kau terlihat tidak sedang baik-baik saja. Jadi izinkan aku membawamu ke Istanaku, agar kau segera mendapatkan pertolongan."
"Tidak perlu Yang Mulia. Lagipula, waktuku tidak akan lama."
"Apa maksudmu?! Apa kau akan pergi meninggalkan anakmu begitu saja?! Apa kau tidak kasihan kepadanya?! Dia masih bayi dan dia masih membutuhkanmu sebagai ibunya."
"Aku tahu. Aku juga ingin menghabiskan seluruh hidupku untuk membesarkan dan merawat anakku. Tapi, aku tidak bisa Yang Mulia. Yang Mulia, kau jauh lebih mengerti kondisiku saat ini. Sangat kecil untukku bisa bertahan hidup dengan kondisiku saat ini."
"Kau?!"
"Ssttt... Yang Mulia. Kumohon kabulkan permintaanku. Tolong titipkan anakku di panti asuhan dan tolong sesekali, kau datang untuk melihatnya. Aku ingin tahu, apakah dia tumbuh sehat dan bahagia di sana."
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan mengabulkan permintaanmu. Aku akan menganggap dia sebagai anakku sendiri. Dan, aku akan mampir ke rumahmu untuk memberikan kabar tentang perkembangan anakmu."
"Terima kasih Yang Mulia. Dan maafkan aku, Arches. Aku... aku mencintaimu." ucap Alviercha sambil berlinang air mata.
Ia pun mendekatkan wajahnya ke arah Raja Arches dan mencium bibirnya. Melihat Alviercha mencium bibirnya, Raja Arches membalasnya sambil memeluk erat tubuhnya yang lemah. Melihat pemandangan itu, pengawal pribadi Raja Arches segera membalikkan badannya, memunggungi dua orang yang sedang berciuman. Tak lama kemudian keduanya melepaskan ciuman mereka.
"Arches, bayiku perempuan. Tolong jaga dan rawat dia ya." ucap Alviercha sambil memegang lembut kedua pipi Raja Arches dengan kedua tangannya. Air matanya berlinang dari kedua matanya.
Perlahan-lahan, Alviercha menutup kedua matanya. Tubuhnya pun jatuh tak sadarkan diri ke dalam pelukan Raja Arches. Nafasnya perlahan melemah dan berhenti. Tubuhnya mulai terasa dingin. Raja Arches memeluk erat tubuh wanita yang ia cintai. Perlahan air matanya mengalir deras dari kedua pipinya. Wanita yang ia cintai telah pergi meninggalkan dirinya di dunia ini, untuk selama-lamanya.
"Aku... juga mencintaimu selamanya." batin Raja Arches.