
Mendengar suara mangkuk pecah, Lili tersadar dan segera membungkuk membersihkan serpihan pecahan mangkuk yang mengotori lantai. Melihat Lili membersihkan serpihan pecahan mangkuk, Evil pun berjalan mendekatinya dan membungkuk.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Evil sambil mengulurkan tangannya
"Tidak. Aku baik-baik saja."
"Biar ku bantu." kata Evil sambil mengambil beberapa pecahan kaca, namun tangan kanannya ditahan oleh Lili.
"Tidak perlu. Kau adalah Raja, tidak pantas bagimu untuk melakukan pekerjaan ini."
"Jika aku duduk di kursi singgasana dan memakai mahkotaku, aku adalah seorang Raja. Tapi di depanmu sekarang, yang kau lihat adalah seorang pria biasa." kata Evil sambil menarik tangannya dan mengambil serpihan pecahan mangkuk yang berserakan dilantai dan meletakkannya di atas nampan.
"Lili, apa kau sedang tidak enak badan?"
"Tidak Yang Mulia. Aku baik-baik saja. Kau bisa melihatnya bukan?!"
"Fisikmu memang terlihat sehat dari luar. Tapi bagaimana dengan pikiran dan hatimu? Apa mereka sehat? Aku rasa besok kau harus istrahat tidak perlu pergi ke sekolah."
"Tidak! Aku baik-baik saja."
"Ya sudah, malam ini istirahatlah. Kau tidak perlu membersihkan kekacauan ini. Aku akan meminta orang untuk membersihkan kamarmu. Dan kau tidak perlu memasak. Mulai besok dan seterusnya, semua kebutuhanmu akan ada yang menyiapkan. Jadi, kau tidak perlu khawatir."
"Maaf merepotkan Yang Mulia. Tapi, untuk membersihkan kamar ini, cukup aku saja Yang Mulia. Tidak perlu orang lain yang mengerjakan."
"Terserah kau saja."
"Terima kasih Yang Mulia."
"Sudah larut. Aku akan kembali ke kastil."
"Hati-hati Yang Mulia. Semoga tidurmu nyenyak malam ini."
"Hanya itu?" tanya Evil sambil berjalan mendekati Lili.
Wajah keduanya terlihat sangat dekat hanya berjarak tiga centi saja. Sepasang kedua bola mata itu bertemu satu sama lain pada satu titik.
"Hah?"
"Lupakan saja. Sampai ketemu besok." pamit Evil sambil berjalan keluar menuju pintu diikuti Lili dibelakangnya.
"Yang Mulia!"
Mendengar teriakan Lili, langkah Evil pun terhenti. Ia menoleh ke belakang.
"Hati-hati. Jaga dirimu baik-baik!"
"Terima kasih." jawab Evil sambil tersenyum kepadanya.
Punggung lelaki itu perlahan-lahan menghilang dari hadapan Lili. Lili pun menutup dan mengunci pintu kamarnya. Ia membalikkan badannya dan bersandar di dibadan pintu. Lili pun menghela nafas sambil memejamkan kedua matanya. Perlahan-lahan ia membuka kedua matanya. Ia teringat kejadian yang menimpa dirinya dan Evil barusan. Ia mengingat saat dimana Evil berteriak membentaknya. Ia melihat sorot kedua mata Evil yang merah menyala seperti ada api yang berkobar di dalam kedua bola matanya disertai tatapan tajam sedingin es. Dalam hatinya, ia berkata "Kedua sorot mata Evil saat itu, benar-benar menakutkan. Seperti...seperti ingin membunuh mangsa di depannya."
Lili pun berjalan menuju jendela kamarnya yang masih terbuka. Ia memandang langit yang cerah malam ini. Ada bulan purnama yang besar dengan cahayanya yang menyinari langit yang di penuhi kegelapan. Seolah tak mau kalah dengan kekasihnya, jutaan bintang membuat aliran sungai bintang yang sangat indah. Fenomena sungai bintang hanya bisa terjadi dalam beberapa ratus tahun.
"Dalamnya lautan bisa diukur, namun dalamnya hati seseorang, siapa yang tahu." batin Lili
Di tempat lain, di sebuah kamar yang megah dan luas. Dihiasi dengan warna yang sangat elegan. Baik korden, dinding, sofa, kasur, semua furniture didalamnya berwarna sangat mewah, elegan dan bergaya klasik. Sudah jelas pemiliknya bukan sembarang orang. Sebuah kursi mewah dilapisi warna emas dengan ukiran bunga, menghadap di depan jendela. Dilihat dari belakang, sosoknya seorang wanita muda dengan rambut lurus hitam terurai sedang memegang segelas wine merah di tangan kanannya. Ia menggoyangkan perlahan gelas yang berisi wine merah di dalamnya. Bibirnya lembut berwarna merah merona, kedua matanya sangat jernih dan indah. Kedua pipinya putih tirus, kulit tubuhnya putih seperti salju.
"Apa yang kau temukan?" tanya wanita muda yang duduk di atas kursi mewah menghadap ke arah jendela.
"Menjawab putri. Hamba menemukan Yang Mulia Raja Iblis datang berkunjung ke kamar seorang gadis kecil." jawab laki-laki berjubah putih polos panjang.
"Untuk apa dia mengunjungi gadis itu?"
"Bodoh!" bentak wanita itu sambil melempar gelas di atas lantai dengan penuh amarah.
"Segera selidiki siapa gadis itu, darimana dia berasal! Dan, cari tahu apa hubungan dia dengan Raja!"
"Dimengerti Putri."
Pagi hari di Zwart School
Hari yang dinantikan Lili, akhirnya telah tiba. Ia berangkat ke sekolah lebih awal dari yang dijadwalkan. Suara kicauan burung, ******* angin yang lembut mengiringi perjalanannya. Di depan pintu gerbang yang megah dilapisi emas dengan ukiran abstrak di setiap sisinya, terdapat sebuah tulisan di atasnya "Zwart School".
"Zwart School? Nama yang tidak buruk." lirih Lili
Ia pun berjalan memasukki gerbang itu. Setelah melewati gerbang sekolah, kedua mata Lili membelak. Ia tidak tahu harus berkata apa. Bangunan sekolahnya melayang di atas awan. Ia berpikir bagaimana caranya ia bisa sampai di atas. Terbang? Tidak mungkin, karena dia bukan seekor burung? Sapu sihir? Jelas tidak mungkin, karena dia belum menguasai ilmu sihir. Tiba-tiba terdengar suara yang sangat familiar memanggil namanya.
"Lili, kau belajar di sini juga?" tanya Krisan sambil berhenti di depan Lili.
Lili melihat Krisan duduk di atas punggung pegasus. Kuda berwarna putih dengan satu tanduk di atas kepalanya dengan kedua sayap kanan kiri di bagian tubuhnya.
"Kau? Krisan."
"Naiklah. Aku akan mengantarmu kesana juga."
"Kau juga belajar di sana."
"Ya.
"Aku berharap kita bisa satu kelas."
"Aku juga."
Lili pun naik dan duduk dibelakang Krisan.
"Pegangan. Jika tidak, kau akan jatuh kebawah!"
"Oke."
Kuda itu pun terbang menuju bangunan yang berada di atas awan. Keduanya pun sampai dan turun di depan sekolah. Lili terlebih dahulu turun, kemudian disusul Krisan. Krisan pun membelai lembut kepala kudanya, seolah menginsyaratkan kepada kudanya untuk pergi dan datang saat dia dipanggil. Kuda itu pun mengangguk pelan dan pergi berjalan terbang menjauh dari Lili dan Krisan.
"Kau menyuruhnya pergi?"
"Iya. Dia akan datang saat mendengar panggilanku."
"Oh...!"
"Ayo masuk, sebentar lagi kelas akan dimulai!"
"Anu..."
"Ada apa?"
"Apa kau tau ini?" kata Lili sambil menunjukkan sepucuk kertas yang ia simpan di dalam saku bajunya. Krisan pun mengambilnya dan membacanya.
"Ini sebuah kebetulan atau takdir? Kita ada di kelas yang sama."
"Benarkah? Itu bagus. Kalau begitu tunggu apa lagi ayo masuk ke dalam! ajak Lili sambil menarik tangan Krisan.
"Yo...anak iblis ini masih hidup rupanya?!"