
Baru beberapa langkah ia memasukki hutan kematian, Lili menoleh ke belakang. Dilihatnya tidak ada siapa-siapa. Ia merasa sangat aneh. Ini hanyalah sebuah hutan biasa. Tak ada bedanya dengan hutan belantara lainnya. Tapi mengapa ia tidak melihat satu seorang di belakangnya. Padahal, ia baru beberapa langkah saja memasukki hutan ini. Lili pun berbalik dan berjalan ke belakang, ke tempat semula ia memasukki hutan ini. Dan benar saja, saat hendak melangkah ia terbentur sesuatu yang tak terlihat. Seperti sebuah dinding tak kasat mata. Ia meraba-raba di udara dan merasakan ada sebuah dinding yang tak kasat mata. Jadi, inilah yang membuat dia tak melihat seorangpun di belakangnya. Lili menghela nafas. Entah harus senang, tertawa atau menangis. Ia sama sekali tak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Dia memasukki hutan kematian ini hanya dengan tangan kosong. Meridiannya rusak, jelas jika ada mara bahaya datang menghampirinya, ia sama sekali tak bisa menggunakan kekuatan sihirnya. Jangankan menggunakan kekuatan sihir, menggunakan ilmu bela diri saja ia tak mampu dengan kondisinya yang sekarang ini. Secara fisik ia nampak baik-baik saja. Karena yang terluka adalah bagian dalam dari dirinya. Sangat mustahil baginya untuk bisa menghancurkan dinding pembatas yang tak kasat mata ini. Tiba-tiba Lili merasakan ada sebuah bayangan hitam melintas dari arah belakang. Ia pun menoleh. Dilihatnya tak ada siapapun. Lili pun mengamati sekitarnya. Sambil berjalan, ia melihat kanan kiri setiap area yang ia lewati. Suara ribuan burung gagak yang terbang di atas langit memecahkan keheningan di hutan ini. Di luar hutan kematian ini masih terlihat sinar matahari yang cerah. Namun, berbeda dengan hutan kematian ini. Semakin kau berjalan ke dalam area hutan ini, semakin kau tak menemukan seberkas sinar cahaya matahari. Hanya akan menemui kegelapan layaknya seperti malam hari. Ribuan burung gagak bertengger di sepanjang pohon yang dilewati oleh Lili. Suara kicauan ribuan burung gagak, menambah suasana di hutan ini menjadi semakin mencekam. Lili merasakan ribuan mata tak terlihat sedang mengawasi gerak-geriknya. Ribuan pasang mata yang merah menyala seperti api yang membara dengan tatapannya yang mengerikan, membuat bulu kuduk Lili berdiri.
Semakin Lili melangkah ke dalam hutan ini, semakin ia merasa merinding di sekujur tubuhnya. Hawa dingin mulai menyebar ke seluruh area hutan ini. Angin mulai bertiup kencang menerbangkan dedaunan yang kering di atas tanah. Suara dahan dan ranting pepohonan yang saling beradu menambah kesan mencekam. Karena tak kuat dengan hawa dingin yang menyelimuti area sekitar hutan, Lili pun mulai membuka kantong penyimpanan miliknya dari balik saku jubahnya. Kantong kain berwarna ungu bermotif bunga teratai putih terbuka dan mengeluarkan cahaya putih yang menyilaukan mata. Lili pun mengambil jubah mantel hangat berbulu berwarna putih miliknya dan menggantinya dengan jubah yang ia kenakan sekarang. Setelah berganti jubah dan melipatnya, Lili kembali memasukkan jubah miliknya ke dalam kantong penyimpanan dan memasukkannya kembali ke saku jubah mantel hangetnya. Kantong penyimpanan ini tak perlu kekuatan sihir untuk membukanya. Karena kantong ini secara otomatis bisa mengambil dan menyimpan benda apapun dan dalam jumlah tak terbatas sesuai keinginan si pemilik. Kantong ini juga tidak bisa berpindah tangan ke pemilik lain. Kecuali sang pemilik memberikannya dengan ikhlas, maka itu bisa digunakan oleh orang lain. Jadi tidak perlu khawatir jika kantong penyimpananmu hilang atau di curi orang lain. Karena siapapun yang berani mencuri tanpa sepengetahuan pemiliknya, ia akan mengalami luka bakar di tangannya. Karena kantong penyimpanan ini di desain sendiri oleh Lili. Dan tak ada satupun orang di negeri ini yang bisa membuatnya kecuali dirinya sendiri. Penemuan ini hanya ia simpan dan ia rahasiakan sendiri secara rapat-rapat. Bahkan keluarganya sendiri tidak tahu siapa yang menciptakan kantong penyimpanan yang ajaib dan langka ini. Karena Lili memberikan kepada mereka dengan alasan, ia diberikan oleh seseorang yang ia tolong di tengah jalan dan sampai sekarang orang itu tak bisa ia jumpai lagi. Sungguh, pembohong kecil yang sangat handal. Bahkan jika kau ingin membohonginya, mungkin kau yang akan dibohongi olehnya. Karena dia berbeda dengan gadis seumuran dirinya. Tak hanya jago dalam ilmu sihir, ia juga jago dalam hal berbicara. Baik itu berbohong, menipu, bahkan menggoda. Tapi, ia melakukan hal itu bukan tanpa alasan. Jika itu adalah hal yang baik menurutnya, ia akan melakukan apapun caranya untuk mempertahankan hal baik itu. Ia juga memandang tinggi sebuah keadilan, kejujuran, harga diri dan kehormatan. Tak ayal, ia bahkan berani menentang Tetua Menzy yang bersikap tidak adil kepadanya. Sayangnya, gadis seperti dia tidak memiliki teman satu pun. Itu karena setiap orang yang dekat dengannya, akan mati secara misterius. Kadang mengalami sakit yang parah dan tak ada satupun orang yang mampu menyembuhkannya dengan dalih, tidak ada obatnya, dan lain-lain.
Hal semacam itulah yang selalu mengganggu pikiran dan batinnya. Ia kehilangan beberapa orang yang pernah dekat dan hadir dalam hidupnya. Entah karena tidak suka dengan dia, atau hal lain yang bertentangan dengan mereka. Mengingat sahabatnya satu per satu mati secara mendadak dan misterius, membuat hatinya sakit. Ia pernah mengutuk dirinya sendiri. Ia pernah merasa putus asa dan ingin bunuh diri. Tapi, ia teringat akan kata-kata sahabat terbaiknya sebelum meninggal.
"Ini semua bukan salahmu. Kau tak perlu menyalahkan dirimu hanya karena kematian beberapa sahabat kita. Tetaplah menjadi dirimu sendirimu. Tak perlu mendengarkan orang lain. Kau adalah kau. Mereka adalah mereka. Kau layak menjalani kehidupan yang lebih baik. Kau layak mendapatkan cinta, kasih sayang. Jika hanya satu atau ribuan bahkan jutaan penduduk bumi menganggapmu sampah. Ingatlah, kau tidak sendiri. Akan selalu ada tempat untukmu pulang dan berbagi. Akan selalu ada yang menemanimu menjalani kehidupan yang keras ini. Dia tak lain dan tak bukan adalah TUHAN mu. Serahkan semuanya kepadanya. Ia akan memberikan segala yang tak pernah kau duga. Ingatlah, untuk lebih menghargai dan mencintai dirimu sendiri."
"Ya. Kau benar. Aku di dunia ini tidak sendiri. Bahkan di hutan ini, aku juga tidak sendirian. Karena itu, keluarlah kalian semua. Jangan sembunyi. Tidakkah kalian ingin berkenalan denganku? Apa kalian memang suka bersembunyi di balik kegelapan lalu menyerang musuh kalian?"
Mendengar perkataan Lili, suasana hutan menjadi hening, tak lagi mencekam seperti saat pertama kali ia memasukki hutan ini. Hanya terdengar suara kicauan ribuan burung gagak yang masih bertengger di pepohonan maupun yang terbang melintas di udara. Terdengar suara dari balik semak belukar. Lili pun menoleh ke arah semak belukar. Dilihatnya semak belukar itu tak bergerak lagi. Lili pun berjalan mendekatinya, tiba-tiba sebuah bayangan hitam melintasi di belakangnya. Lili pun menoleh tidak ada siapapun. Hanya sebuah angin sepoi-sepoi meniup menerbangkan rambut yang terlihat di balik topi mantel jubahnya.
"Siapa itu? Keluar! Jangan sembunyi!"
"Sialan! Aku tidak punya kekuatan sekarang. Apa aku akan mati konyol di sini?!"
Lili mengamati sekitar area hutan tempat ia berdiri sekarang. Dilihatnya tak ada siapapun. Bahkan ribuan gagak yang bertengger di pepohonan, terbang ke udara. Lili merasakan hutan ini semakin lama semakin seram. Hanya keberanian yang masih menemaninya sekarang. Lili pun berjalan maju menyusuri hutan ini. Tiba-tiba ia mencium bau anyir darah dari kejauhan. Ia pun berjalan perlahan menuju bau darah tersebut. Betapa terkejutnya ia melihat pemandangan di depan matanya. Ribuan tulang belulang manusia tumpuk berserakan di sana. Tepat di depannya mengalir darah deras dari balik dahan pohon besar yang berada di sampingnya. Lili pun mendongak ke atas dan dilihatnya sebuah mayat bergelantung di dahan pohon itu dengan bersimbah darah. Kondisinya sangat mengenaskan. Nyaris tak terlihat dengan jelas mayat ini laki-laki atau perempuan. Dilihat dari bentuk pakaiannya, mayat ini adalah perempuan. Tak hanya satu mayat yang ia temukan. Ia juga melihat ada ribuan mayat dengan posisi yang tak kalah mengenaskan dari mayat sebelumnya. Ada yang mati tertusuk dahan pohon yang telah kering, ada yang masih segar bergelantung di dahan dan tergeletak di atas tanah. Parahnya, semua mayat itu ia temukan di semua sisi area tempat bertumpuknya tulang belulang manusia yang berserakan. Lili pun mulai merasakan mual dan muntah di perutnya. Ia pun berlari ke menjauh dari area tersebut. Lalu bersandar di bawah pohon besar dan rindang. Nafasnya tersengal-sengal. Rasa mual di perutnya belum juga mereda. Bau anyir darah itu masih tercium di hidungnya karena terbawa arus angin yang melintas.
Lili pun mengangkat tangan kanannya dan memandangnya.
"Seandainya meridianku tidak dirusak oleh si tua bangka itu!"
Ia pun menarik tangannya kembali sambil memandang langit yang kelam. Sekelam hatinya sekarang. Lili pun memejamkan matanya. Ia sangat kelelahan dan menemukan hal yang sangat menarik sampai membuat perutnya mual sampai sekarang. Tak banyak orang yang bisa memasukki hutan ini. Jika ia menceritakan hal ini kepada orang lain, ia hanya akan dijadikan bahan tertawaan. Karena tak satupun dari mereka yang masuk dan keluar hidup-hidup dari hutan ini. Bahkan untuk masuk saja, sebagian orang tidak bisa. Hanya akan terpental menjauh dari hutan ini. Beruntungnya sebagian orang yang mencoba memasukki hutan ini hanya terpental saja dan mengalami cedera patah tulang atau luka dalam. Naasnya, ada yang terpental dan mati begitu saja. Sangat menyedihkan dan mengerikan. Karena itu hutan ini disebut sebagai hutan kematian. Sebuah aura jahat melintas mendekatinya. Lili yang merasakan ada aura jahat melintas dan mendekatinya, ia pun membuka kedua matanya. Dilihatnya ada banyak aura jahat mengelilingi tempat di sekitarnya. Aura jahat yang penuh dengan kebencian yang sangat mendalam melintas dan mengitari sekujur tubuhnya. Lili yang tak punya kekuatan sihir sekarang, hanya bisa pasrah apabila aura kejahatan itu membunuhnya. Diselimuti rasa takut dalam dirinya, Lili hanya bisa memejamkan kedua matanya. Anehnya, ia yang diselimuti oleh aura kejahatan di sekujur tubuhnya tidak merasakan sakit. Perlahan ia membuka kedua matanya dan dilihatnya aura hitam itu masih menyelimuti dirinya.
"Apa aku harus berkultivasi di jalan iblis? Menggunakan sihir hitam? Jika aku ketahuan menggunakan sihir hitam, itu artinya aku harus mengasingkan diri? Lalu bagaimana dengan keluargaku?"
Ia bertanya dalam dirinya. Dan pertanyaan itu berkecamuk di pikiran dan hatinya. Seluruh dunia jelas akan menentangnya. Bahkan jika dia gagal, dia juga akan menerima hukuman dari Raja. Mengasingkan diri, dikeluarkan dari sekolah, dan dilarang menginjakkan kakinya kembali ke negeri tempat di mana keluarganya tinggal. Pilihan ini membuatnya seperti memakan buah simalakama. Dengan berat hati, ia memutuskan untuk berkultivasi di jalan iblis. Menggunakan sihir hitam untuk bertahan hidup. Melindungi diri sendiri dan orang lain. Selama pedang di gunakan dengan baik dan berada di tangan yang benar, ia tidak akan melukai orang lain. Malah justru melindungi diri dan melindungi orang lain. Aura hitam ini sangat kuat menyelimuti tubuhnya. Bahkan Lili kesulitan mengangkat tangannya agar terlepas dari jeratan aura kejahatan ini. Dengan sekuat tenaga, Lili berusaha melepaskan diri dan berhasil. Ia bisa mengangkat kedua tangannya, sayangnya itu tidak berangsur lama. Aura jahat itu mulai menyebar keluar dari tubuhnya dan mulai murka dengan tindakan Lili. Mereka semua berkumpul menjadi sebuah pusaran hitam raksasa dan menyerang Lili. Lili hanya diam di tempat menerima serangan dari aura kejahatan itu. Aura hitam itu membesar, menutupi seluruh tubuh Lili membentuk pusaran lingkaran raksasa. Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari dalam pusaran lingkaran aura hitam itu. Pusaran lingkaran aura hitam itu mulai menyebar ke semua arah. Terlihat Lili yang sedang duduk bersilah dengan kedua matanya yang masih terpejam. Ia sedang berkonsentrasi memulai kultivasi jalan iblisnya. Tiba-tiba ia mendengar ada sesuatu yang bergerak sangat cepat melesat mendekat ke arahnya. Saat ia membuka kedua matanya, dilihatnya sebuah tangan raksasa dengan jari kukunya yang sangat tajam dan panjang. Tangan raksasa itu berhenti tepat di depan wajahnya. Lili melihat tangan itu bukanlah tangan biasa. Itu adalah sepotong sebelah tangan manusia yang berubah menjadi iblis.
"Hampir saja celaka. Baru berkultivasi sudah bertemu hal jahat lagi. Apa aku tidak diperbolehkan mempelajari sihir hitam? Tapi, aku tidak punya pilihan lain. Pada dasarnya, aku adalah bagian dari hal jahat seperti iblis. Jadi, mulai sekarang aku harus terbiasa dengan ini." batin Lili
"Maaf jika kedatanganku, menganggu tuan. Tapi, kedatanganku ini tidak ada maksud tertentu."
Lili mengatakan hal itu kepada tangan iblis yang hendak mencakar wajah polosnya yang manis. Perlahan sepotong sebelah tangan iblis ini mengendurkan cakarnya, lalu perlahan menghilang seperti butiran pasir yang tertiup angin. Lili pun menghela nafas lega. Aura jahat mulai berkumpul dalam satu titik.