
Di Hutan Kematian
Lili berjalan menyusuri seluruh area hutan itu. Hutan yang dulu sangat terkenal dan ditakutti oleh banyak penyihir dan kultivator di negerinya, kini mampu ia taklukkan. Karena lelah berjalan, ia berhenti di depan danau yang sangat jernih airnya. Ia duduk bersandar di bawah pohon maple merah besar. Dulunya hutan itu tidaklah seindah seperti sekarang. Dari luar memang tampak seperti hutan biasa, tapi dalamnya jauh dari kata biasa. Tak ada tumbuhan dan pohon yang bisa hidup di hutan ini. Ribuan mayat bergelantungan di pohon dan berserakan di tanah, dengan kematian yang berbeda-beda. Di hutan ini hanya ada ribuan hewan buas yang kini telah menjadi piaraannya sekaligus temannya. Semenjak Lili berhasil menaklukkan hutan ini, ia menghidupkan kembali hutan yang telah mati itu. Hutan yang dulunya sangat menakutkan, dingin, tak ada tanda-tanda kehidupan, kini berubah drastis. Di tempat inilah, Lili bisa beristirahat sejenak melepaskan penat. Dalam benaknya, jika ia membangun istananya sendiri, itu akan menjadi tempat yang sepi dan tenang. Dan kapan pun ia mau berisitirahat menenangkan diri, ia hanya perlu pergi dan masuk ke dalam hutan ini tanpa ada satupun orang yang mengetahuinya. Dengan penuh semangat, ia beranjak dari tempat duduknya dan mencari tempat yang pas menurut hatinya.
Setelah berhasil menemukan tempat yang ia inginkan, Lili mulai memejamkan kedua matanya sambil merapalkan mantra di mulutnya. Setelah mantra selesai diucapkan, ia membuat gerakan mengunci dengan kedua tangannya di udara. Keluarlah aura energi berwarna merah dan hitam dari kedua tangannya dan berkumpul menjadi satu. Aura energi itu semakin membesar membentuk sebuah pusaran energi di sekeliling Lili. Kemudian Lili melempar pusaran itu ke tempat kosong yang ada di hadapannya.
Boooommm... Boooommm... Boooommm...
Suara ledakan itu terdengar dari semua arah. Tiba-tiba diatas tanah, terdengar suara retakan dan muncullah es yang membekukan area kosong itu. Lili mengangkat kedua tangannya dan mulai menyerap intisari alam yang ada di hutan ini. Setelah berhasil menyerap intisari alam yang ada di hutan inj, Lili mulai melepaskannya di area yang sudah tertutupi oleh es yang membeku. Perlahan area yang tertutupi oleh es yang membeku itu, muncullah sebuah gumpalan es batu yang tersusun rapi membentuk anak tangga dan lantai.
*Kratakkkk... Kratakkkk... Kratakkkk...
Whuuushhh... Whuuushhh... Whuuushhh*...
Kemudian berlanjut terus menjadi sebuah bangunan yang sangat tinggi dan megah. Setelah dirasa cukup bagus, Lili mulai menarik tangannya. Sebuah bangunan istana es yang sangat megah berdiri di sana. Tidak hanya itu, ia juga membekukan pepohonan di sekitar area itu. Melihat istana yang telah ia inginkan selesai berdiri, Lili pun mulai melangkahkan kakinya.
Tap... Tap... Tap... (suara langkah kaki di atas es)
Sambil berjalan, ia melihat kanan dan kiri. Semuanya sesuai dengan yang ia inginkan. Pintu gerbang yang terbuat dari es dengan ukiran yang sangat indah dan elegan, terbuka dengan sendirinya. Lili memasukki istana yang telah ia buat sendiri. Sangat luas dengan ribuan anak tangga melingkar seperti ular yang sedang meliukkan tubuhnya. Ia berjalan menaikki anak tangga dan mulai berjalan menyusuri setiap lorong ruangan. Tiba-tiba ia berhenti tepat di depan pintu sebuah ruangan. Pintu yang berwarna putih dengan ukiran yang sangat indah, juga terbuat dari es. Ia perlahan membukanya dan melihat isi kamarnya. Sangat jauh berbeda dari yang terlihat di luar. Jika dari luar, kita bisa melihat tampilan istana yang terbuat dari es, namun ketika kita memasukki istana tersebut, kita tidak akan merasa kedinginan. Justru kita masih tetap merasa hangat meski terbuat dari es. Istana ini sangat persis dengan pemiliknya. Dari luar terlihat dingin, namun hangat di dalam. Karena energinya terkuras habis untuk membangun sebuah istananya sendiri, Lili memutuskan untuk tidur di kamarnya. Ranjang kasur ini bukan terbuat dari es. Ranjang kasur tempat ia tidur, berwarna putih dan sangat hangat dan ditambah dengan selimut tebal berwarna putih di atasnya. Ia membuatnya sendiri sesuai imajinasinya. Perlahan ia memejamkan kedua matanya dan tertidur disana.
Di Istana Pangeran Sirzechs
Di pavillun taman, terlihat tiga orang yang sedang menikmati hidangan yang telah disajikan oleh tuan rumah. Ditambah dengan seorang pengawal pribadi Pangeran Sirzechs yang berdiri tak jauh dari pangeran Sirzechs berada.
"Yang Mulia, terima kasih atas jamuan makanannya." ucap Putri Cariz sambil mengusap mulutnya dengan saputangan yang ia bawa sendiri.
Putra mahkota Feng juga selesai makan dan meletakkan pisau dan garpunya di sisi piring. Lalu ia menatap ke arah kakak tirinya yang sedang minum air putih. Merasa dirinya ditatap oleh adik tirinya, Pangeran Sirzechs meletakkan gelas yang ada di tangannya. Ia berbalik menatap adiknya.
"Ada apa kau menatapku seperti itu?!"
"Tidak ada apa-apa kak. Aku hanya merasa kau semakin tampan saja."
"Kau juga."
"Ehem, aku pamit pulang terlebih dahulu Yang Mulia."
"Untuk apa tergesa-gesa, tinggallah disini sebentar lagi."
"Terima kasih Yang Mulia. Tapi, aku harus segera kembali ke rumah."
"Terima kasih atas perhatian Yang Mulia."
"Kenapa Feng tidak menawarkan diri untuk mengantarku pulang? Apa itu karena gadis sialan itu!" batin Putri Cariz.
"He'em."
Pangeran Sirzechs melirik ke arah Shion yang sedang berdiri tak jauh darinya. Shion yang mengetahui maksud tuannya, segera berjalan mendekat ke arahnya.
"Ada apa Yang Mulia?"
"Tolong kau antar putri Cariz kembali ke rumahnya sekarang."
"Tapi, Bagaimana dengan Yang Mulia?"
"Jangan khawatir. Aku bisa melakukannya sendiri. Kau segeralah pergi dan jangan lupa untuk segera kembali kesini."
"Baik Yang Mulia."
Shion berpamitan kepada tuannya dan mempersilahkan putri Cariz untuk berjalan terlebih dahulu. Putri Cariz membalasanya dengan anggukan dan Shion tanpa sengaja melihat ekspresi marah di wajahnya. Keduanya pergi meninggalkan mereka di paviliun itu. Setelah keduanya pergi, baik putra mahkota Feng dan pangeran Sirzechs saling bertatapan satu sama lain.
"Apa yang ingin kau katakan dan apa yang ingin kau ketahui? Aku akan menjawabnya semampuku."
"Tidak banyak kak. Hanya, tentang pernikahanmu saja."
"Ada apa dengan pernikahanku?
"Katakan padaku kak. Apa alasanmu yang sebenarnya, membatalkan pernikahanmu dengan Putri Cariz?!"
"Kenapa kau menanyakan hal ini lagi?!"
"Karena ini tidak seperti kau yang biasanya. Kau dengan berani menemui ayahanda dan berencana membatalkan pernikahanmu dengan Putri Cariz?!"
"Kau tahu sendiri seperti apa ayahanda kita? Tidak. Dia bukan ayahku. Tapi ayahmu! Dengan karakternya yang seperti itu, apa dia terlihat seperti orang yang akan mengabulkan keinginanku?!"
"Jadi kau..."
"Ya. Ada harga yang harus dibayar, jika aku menginginkan keinginanku dikabulkan olehnya."